
Mereka kembali ke lokasi Latihan Kader 1 dilaksanakan. Monas bahagia bisa mendapatkan Hani malam ini demikian juga Hani malam ini perasaan nya lega karena perasaan yang ia miliki tidak bertepuk sebelah tangan. Walaupun tidak ada kesepakatan jadian untuk pacaran,tetapi ini sudah lebih dari cukup untuk masing masing dari mereka. Perasaan mereka lega.
Sesampainya mereka di Ngijo, tampak Agus dengan Sofiana sedang duduk di depan balai desa dan beberapa panitia yang lain mendampingi peserta mengikuti sesi evaluasi untuk materi malam ini.
" Oh ya bg,setelah evaluasi ini Abang ngisi materi nilai nilai Islam bg."
" Oh..oke." jawab Monas singkat sambil masuk keruang panitia mempersiapkan materi yang akan disampaikan ke peserta LK. Hani melangkah ke ruangan peserta LK dan sebelum Hani melangkah masuk Agus bertanya.
" Dari mana Han?"
Hani gelagapan,dengan pertanyaan tiba tiba Agus, sedangkan Sofiana diam saja mematung.
" Tadi,..em..em keluar bentar Gus."
" Jadi cewek itu,jangan gampangan Han..mau diajak sana sini sama cowok, lagipula bukankah kamu sudah punya Rohani,ini yah...ibarat barang,kamu harus jual mahal,jangan diobral Han."
Hani terkejut,dan memilih diam seribu bahasa dengan kalimat kalimat yang dilontarkan Agus kepadanya. Sofiana masih terdiam dan tidak berusaha membela. Sofiana lah yang paham perasaan ku selama ini terhadap Bg Monas. Mungkin saja,Sofiana menyampaikan hal itu ke Agus dengan maksud mematahkan Agus lebih dalam. Hubungan ini akan semakin memburuk dengan info sesungguhnya tentang perasaan Hani terhadap Bg Monas.
Hani memilih melangkah pergi,niatnya keruangan balai desa ia urungkan dan melangkah masuk ke ruang istirahat panitia.
__ADS_1
Hani menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar itu, dada nya sesak dan sakit dengan kata kata yang disampaikan Agus terhadap dirinya. Mungkin Agus benar, ia terlalu serakah tentang perasaan ini. Air matanya tidak bisa dibendungnya,padahal ia sudah berusaha menahannya agar tidak sampai terjatuh.
Diambilnya ponsel didalam tasnya.
Tidak ada pesan wa dari Rohani. Kemudian Hani mulai mengetikkan sesuatu di no wa Rohani.
22.10 Hani
"OHan, sudah sampai belum?"
22.11 Hani
"OHan sayang,sudah sampai dirumah belum?"
"OHan,...OHan...sayang...LG dimana?"
Belum ada balasan dari ponsel Rohani. Hani kemudian menekan tombol panggilan suara di no itu. Alhasil,no itu lagi tidak aktif.
Hani semakin kacau,dia butuh teman untuk menumpahkan rasa sedihnya. Hani perlu Rohani yang memberi perhatian setiap waktu.
__ADS_1
Hani melangkahkan kaki keluar, kembali menuju ruangan balai desa setelah melewati Agus dan Sofiana yang masih duduk di depan balai desa. Hani tidak perduli,ia tetap masuk keruangan dan kembali mengambil kursi duduk pojok belakang. Disana sudah ada mbk Fatimah,Ratna,Sinta,suci,Bg Kabul,bg Slamet duduk paling belakang peserta.
Hani duduk menghampiri rombongan mbk Fatimah dan mendudukkan pantatnya disebelahnya.
" Sudah makan Han?" tanya mbk Fatimah kepada Hani.
" sudah mbk."
" Kamu habis nagis yah? tanya mbk Fatimah pelan.
" Enggak mbk."
" Huff, gak perlu bohong dek."
Hani menunduk,menutupi matanya yang masih panas dan nanar. Hani takut air mata itu kembali tertumpah karena dia belum puas untuk menangis dan meratapi kesedihannya.
Mbk Fatimah mengambil satu botol air mineral dan diberikannya ke Hani.
" Nic minum dulu,biar tenang dek."
__ADS_1
" Trimakasih mbk." Hani menerima botol air mineral itu sambil jauh melihat Bg Monas memberikan materi agar kawan kawan disekelilingnya tidak menyadari kegalauan pikirannya. Biar saja mbk Fatimah yang tahu,pikirnya.
Hani,menatap lekat Bg Monas memberikan materi,setidaknya dada sesaknya terobati dengan menatap sosok Bg Monas itu dihadapannya. Ada kesejukan dan kedamaian seketika ketika senyum Abang itu terlempar untuk dirinya.