
Acara pernikahan Hani dan Monas sudah selesai di gelar. Masing-masing keluarga sudah kembali ke rumah. Keluarga Monas pun sudah pulang ke Rembang. Demikian juga keluarga Hani sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Tetapi Monas masih di rumah Hani. Menghabiskan masa cuti nya yang tinggal beberapa hari.
Mereka sedang duduk santai di kursi sofa. Bercengkrama mesra selayaknya pengantin baru yang masih di mabuk cinta. Rayuan - rayuan maut mengalir dari mulut mereka. Tertawa bercanda terdengar riuh diantara keduanya.
" Apa rencana Abang selanjutnya?" tanya Hani sambil membelai rambut suami nya yang di pangkuan.
" Rencana abang?"
" Iya!" jawab Hani singkat.
" Rencana Abang punya anak yang banyak."
" Selain itu?"
" Abang akan tetap bekerja keras di Jakarta untuk membahagiakan istri dan anak - anak Abang kelak."
" Haruskah adek pindah ke Jakarta." tanya Hani.
" Abang tidak bisa memberikan keputusan sendiri. Semua terserah adek saja. Abang tidak akan menghentikan karier adek untuk menjadi pengajar."
" Lalu?"
" Terus lah maju meraih kesuksesan! Sampai adek merasa cukup dan lelah. Saat itulah mendekat lah ke suamimu. Bahwasanya suami mu ini sangat sanggup mencukupi segala kebutuhan mu dan anak - anak ku kelak."
" Jadi?" tanya Hani.
" Biar lah adek tetap di Solo untuk mengemban tugas itu. Demikian juga Abang, akan tetap bekerja di Jakarta untuk memberi nafkah istriku yang cantik ini." kata Monas sambil tersenyum.
" Adek pasti akan selalu rindu dengan Abang."
" Abang juga demikian. Dua Minggu sekali Abang usahakan pulang ke Solo."
" Abang ridlo? Adek masih kerja di Solo? Atau ada rekomendasi pindah ke Jakarta, adek mau mengajar di sana."
" Insyaallah Abang ridlo." jawab Monas sambil memeluk Hani.
" Dek?"
__ADS_1
" Hem?"
" Jaga baik - baik anak yang masih di perut ini yah!" kata Monas sambil mengusap perut Hani yang belum membuncit.
" Insyaallah bang." sahut Hani sambil tersenyum.
" Abang ingin punya anak banyak."
" Berapa?"
" Hem lima eh tujuh."
" Hah?"
" Hehehe."
" Semoga Allah menghendaki." kata Hani.
Monas masih berbaring di pangkuan Hani. Menikmati kebersamaan mereka yang lagi hangat - hangatnya.
" Apa hadiah pernikahan dari Abah dek?"
" Kira - kira apa yah? Kita buka yuk sayang."
Hani membuka bingkisan kecil itu pelan - pelan. Akhirnya terbukalah bingkisan itu dan isi nya adalah kunci.
" Kunci? Ini kunci apa? Eh ada kertas kecil. Alamat rumah." kata Hani sambil bertanya - tanya.
" Ini kunci rumah sayang. Ini alamat rumah nya. Hem di Solo?"
" Abah memberikan hadiah rumah di Solo?"
" Berarti Abah menghendaki kita tinggal di Solo?" kata Monas bertanya sendiri.
"Bagaimana dengan kerjaan Abang?" tanya Hani.
" Hem? Kalau untuk meninggalkan kerjaan di Jakarta, bagi Abang itu sangat berat dek." kata Monas.
__ADS_1
" Adek tidak menyuruh Abang pindah di Solo kok." sahut Hani pelan.
" Biar Hani saja yang mencari kerja di Jakarta. Bukankah Hani bukan pegawai negri. Lagi pula banyak yayasan pendidikan di Jakarta bukan."
" Jangan! Karier adek di sini sudah bagus. Kita sepakati seperti awal saja. Dua Minggu sekali biar abang pulang ke Solo."
" Yang penting Abang sehat dan bahagia." kata Hani akhirnya.
"Tetapi kalau adek sudah merasa cukup. Merapat lah bersama Abang di Jakarta."
" Adek berhenti mengajar?"
" Iya!" jawab Monas singkat.
" Fokus jadi ibu rumah tangga, yang mengasuh dan mendidik anak - anak kita yang banyak."
" Kalau adek ingin mengajar di Jakarta dan tetap berusaha menjadi ibu rumahtangga yang baik, kira - kira bisa di terima Abang tidak?" tanya Hani.
" Hem bisa di pertimbangkan."
" Kalau begitu, bantulah istrimu ini mendapatkan tempat yang baru untuk mengajar."
" Insyaallah." sahut Monas sambil tersenyum.
" Kita lihat rumah pemberian Abah yuk!" ajak Hani.
" Nanti saja. Abang lagi ingin." kata Monas sambil tersenyum.
" Ingin apa?" tanya Hani sambil memeluk pundak Monas.
" Ingin ini." jawab Monas sambil mendaratkan bibirnya ke dahi Hani lalu turun...turun...turun...turun lagi.
Plakk!!
Ternyata ada nyamuk!
Di kaki Hani. ( hehehe)
__ADS_1
-----------------------------------------------------