
Gelap itu menjadi terang. Terangnya menyinari hati yang suci. Sucinya karna percikan wudlu. Wudlu nya dengan niat dari dalam hati.
Jiwa resah itu sudah tiada lagi. Kini hadir damai menyelimuti.
Pernikahan antara Monas dan Hani salah satu bukti,bahwa jodoh sudah disiapkan dan ditetapkan olehNya. Tentu saja dengan usaha dan doa manusia itu sendiri. Tanpa usaha,manusia itu sendiri dibilang malas. Usaha tanpa doa, manusia itu dibilang sombong.
Malam ini,Hani di kamar Monas. Kamar itu dihias bak pengantin baru. Dengan bunga sedap malam yang diletakkan didalam vas,menambah wangi ruangan di kamar itu.
Monas melepas jas dan pecinya yang mulai kegerahan. Hani melihat Monas sambil tersenyum.
" Kenapa di lepas?.Abang ganteng kalau pakai jas." kata Hani sambil tersenyum.
" Jadi,kalau gak pakai jas,gak ganteng?" tanya Monas sambil mendekati Hani.
" Bukan! Abang pakai apa saja tetap ganteng, cuma kalau pakai jas lebih lebih gantengnya, Mira - Mira seperti itu."
" Kira - kira,sayangku." sahut Monas sambil memeluk Hani.
" Dek?"
" Hem??"
"I love you." kata Monas sambil mengecup dahi Hani lalu turun kebawah mendarat di bibir nya.
Monas tersenyum melihat Hani yang diam terpaku.
"I Love you to!" jawab Hani sambil memejamkan matanya mendekati wajah Monas.
__ADS_1
Monas Tersenyum,teringat Hani selalu menggoda nya seperti ini dan pada akhirnya Hani tertawa terbahak-bahak. Tetapi ini lain,Hani dengan berani mendarat kan bibirnya ke bibir Monas. Jantungnya berdetak kencang, nafas nya sudah tak beraturan menikmati aroma nafas yang selalu sama. Monas membalas nya dengan hasrat yang tertumpah. Akhirnya Monas melepaskan nya.
" Kenapa?" tanya Hani.
" Mulai sekarang, adek adalah istri Abang, Abang sudah berhak melakukan apa saja." sambung Hani sambil melingkarkan tangannya ke leher Monas.
" Nanti saja, kalau kita sudah benar - benar sah secara hukum dan ayah ibu adek mengetahui dan merestui pernikahan ini." kata Monas sambil tersenyum.
" Abang,tidak akan pernah menyangka kalau akhir nya kita bisa menikah seperti sekarang, sudah sekian tahun terpisah dan dijumpakan lagi di kota Solo, adek sakit lalu mencairkan hati adek untuk membuka kembali lembaran lama yang pernah tertutup."
" Hem."
" Jadi adek paham bukan? kenapa dulu Abang membawa cewek di rapat itu? supaya adek membenci dan menjauhi abang. Kerena Abang harus memilih menikah atau melanjutkan kuliah S2, S3 di Jakarta."
" Waktu itu، Abah mengetahui kalau kita sering jalan berdua."
" Itulah Abah,selalu memantau kegiatan dan apa saja yang dilakukan anak nya."
" Jadi??"
" Akhirnya,kita sama - sama berhasil meniti karier bukan?"
" Iya, Alhamdulillah!"
" Maafkan adek, sudah pernah berprasangka buruk terhadap Abang."
" Tetapi, Abang juga salah."
__ADS_1
" Hem,apa rencana selanjutnya,setelah ini?"tanya Hani.
" Ke Solo,mengurus segala sesuatu nya agar kita bisa punya anak secepatnya." jawab Monas sambil tersenyum.
" Kenapa tidak dimulai saja dari sekarang?" sahut Hani sambil menatap wajah Monas tak berkedip. Monas tersenyum dan mencubit pipi Hani.
" Nanti nangis." jawab Monas sambil kembali mengecupnya.
" Menangis kenapa?"tanya Hani.
" Menangis kenapa gak dari dulu merasakan hal itu." sahut Monas dan hasilnya mendapat cubitan dari Hani.
" Aww sakit lah sayang!"
" Mira - Mira kita boleh keluar malam - malam gak?"
" Kira - kira,sayang." kata Monas sambil menarik hidung Hani.
" Memang nya adek ingin kemana?"
" Ingin jalan - jalan saja." jawab Hani.
" Besok juga jalan - jalan lagi dengan Abang, malam ini kita habis kan berdua di kamar saja." kata Monas sambil merebahkan kepalanya ke pangkuan Hani.
Hani membelai kepalanya dengan lembut.
" Kalau kesemutan bilang ya dek?"
__ADS_1
" Hihi." Hani tertawa.