TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Mencari Monas


__ADS_3

Setelah tiga Minggu dari acara reuni kampus dan tiga Minggu juga Monas tidak pernah memberi kabar. Hani mengambil ponselnya dan menghubungi suami tercinta nya. Beberapa kali Hani menghubungi tapi selalu tidak ada yang mengangkat. Akhirnya, Hani menuliskan sesuatu di Wa suaminya.


23.00 Hani.


" Abang, sudah tidur?"


23.05 Hani.


" Abang, kenapa tidak di angkat telepon nya."


23.10 Hani.


" Adek, mau cerita banyak dengan Abang."


00.30 Hani.


" Adek tidur dulu."


Hani akhirnya tidur. Dia cukup lelah dengan segala aktivitas nya hari ini. Belum lagi mempersiapkan segala acara pernikahan nya akhir bulan ini.


Ayah dan ibu nya Hani memang selalu menginap di rumah Mas Joko. Jadi Hani di rumah selalu sendiri. Mondar mandir ke rumah Mas Joko untuk mempersiapkan segalanya. Acara pernikahan ini memang Mas Joko yang menjadi penanggung jawab nya. Tentu saja, acara ijab kabul nya di rumah Mas Joko.


Hani terbangun, di lihatnya jam menunjukkan pukul 3 pagi. Ponsel yang tergeletak di sebelah nya di ambilnya dan membuka layar ponsel itu. Pesan Wa yang dikirim untuk suaminya sudah di baca tetapi tidak satu pun ada balasannya. Hani kembali menghubungi wa suaminya tersebut dan hasilnya masih tetap sama.


" Mungkin saja lagi sholat tahajud." pikir Hani.


Hani bangkit dari tempat tidur nya. Mulai mengambil air wudlu dan menjalankan sholat malam. Hani pasrah,dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.


Dia yakin, segala sesuatu nya pasti akan di beri jalan dan titik terang untuk menyelesaikan segala masalah.



Tuhan lihatlah diriku.....


Bersimbah penuh debu....


Diriku yang rapuh aku malu datang mengaduh...


Perjalanan tidak selamanya mulus. Kerikil-kerikil selalu ada ketika melewati jalan. Demikian juga perjalanan kisah cinta Hani bersama Monas. Dari hangat - hangatnya tiba - tiba menjauh tanpa kabar berita. Sekarang? Tinggal selangkah lagi untuk melangsung kan akad nikah suci secara resmi dan mengumumkan kepada seluruh dunia, masalah muncul tanpa di duga.


Semuanya bukan keinginan Hani. Juga bukan kehendak Monas. Hani dan Monas hanya perlu berbicara. Menyelesaikan segala kesalahpahaman ini agar hubungan mereka lebih kuat untuk ke depannya.


Setelah menunaikan sholat malam. Hani kembali menghubungi suaminya tetapi tetap saja Hani menelan pil kekecewaan. Akhirnya, Hani menghubungi Ridwan.

__ADS_1


" Halo! Ridwan! Maaf mengganggu kamu."


" Monas nya tidak ada Han!" kata Ridwan.


" Oh kemana?"


" Dia tidak kasih kabar."


" Hapenya?"


" Pasti di bawa orang nya Han. Nanti kalau pulang aku sampaikan saja Han,kalau tadi kamu telpon."


" Iya terimakasih."


Persiapan acara pernikahan Hani dengan Monas sudah 90 persen. Satu Minggu lagi acara itu akan di laksanakan. Undangan pernikahan sudah di sebar tetapi Hani dan Monas tidak lagi saling komunikasi. Iya, sejak acara reuni kampus di Semarang itu. Semuanya menjadi kacau.


" Arifah, aku harus bagaimana Fa?" tanya Hani melalui sambungan telephonnya.


" Kamu ada salah apa dengan Monas, bisa sampai seperti ini."


" Aku tidak tahu!"


" Kamu ke Jakarta Han, menyelesaikan semua nya. Satu Minggu lagi acara pernikahan mu dan Monas akan berlangsung. Kalau kalian seperti ini, yang akan dipermalukan siapa? Mungkin kamu juga keluarga mu."


" Sudah jangan kamu tunda - tunda lagi. Segera lah ke Jakarta."


" Baiklah, aku akan pesan tiket pesawat hari ini."


" Hani! Semangat yah! Jangan mudah menyerah! Mungkin ini ujian kalian."


" Iya Fa, terimakasih banyak."


Akhirnya Hani mendapat kan tiket pesawat siang ini. Hani sudah berada di bandara. Wajah Hani masih muram. Semangat nya mengendor. Baginya ini adalah usaha Hani yang terakhir dan apa pun hasilnya Hani akan pasrah dengan segala keputusan.


Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakannya jalur udara. Hani telah sampai di Jakarta. Hani mencoba menghubungi lagi Monas dan Ridwan tetapi hasilnya nihil. Akhirnya Hani memilih naik grab. Hani berjalan keluar Bandara dan menanti mobil yang dipesannya sampai akhirnya mobil itu tiba.


Tidak banyak yang Hani tuntut dalam hubungan nya dengan Monas. Dan ini kali ke dua Monas pergi begitu saja tanpa kabar berita. Hani sekarang sudah menjadi istri Monas, seburuk apapun masalahnya Hani harus tahu dan harus di selesaikan secepatnya.


Akhirnya mobil grab yang di tumpangi Hani tiba di alamat yang di tuju. Hani tersenyum dan turun dari dalam mobil itu setelah memberikan bayaran yang sesuai dengan tarifnya.


Tampak rumah Monas dari luar sangat sepi tetapi semua lampu - lampu rumah terlihat menyala. Itu artinya rumah sudah ada penghuninya. Hani mengetuk. pintu itu pelan - pelan dan mengucapkan salam. Tiba - tiba pintu rumah itu di bukanya.


" Assalammualaikum." ucapan salam dari Hani.

__ADS_1


Bukan main terkejut nya Hani. Seseorang gadis cantik dan manis dengan anggunnya membukakan pintu.


"Mbk Hani yah?" tanya Gadis itu bersahabat.


" Saya Nuria! Masuk dulu mbk!"


" Eh?"


" Tas trevel nya di masukkan saja mbk."


" Duduk dulu mbk, saya buatin minum dulu yah."


" Mau kopi atau teh?"


" Kopi saja!" jawab Hani sambil melihat-lihat apakah ada sosok orang yang Hani cari.


" Bang Monas sama bang Ridwan masih di luar. Sebentar lagi juga pulang." kata Nuria sambil menyodorkan kopi hitam di atas meja.


" Bang Monas sudah tahu, kalau mbk datang kemari?" tanya Nuria menyelidik.


Hani hanya menggelengkan kepalanya.


" Oh kalau begitu aku telpon kan dulu yah?"


" Hah?" Hani terkejut bukan main. Selama tiga Minggu dia mencoba menghubungi Monas dan tidak pernah sekalipun di angkat. Tetapi gadis ini? Sekali menelphon langsung diangkatnya.


" Sebentar lagi bang Monas dan bang Ridwan sampai kok mbk."


" Mbk mau bersih - bersih dulu atau istirahat dulu di kamar bang Monas?" kata Nuria.


" Boleh istirahat di kamarnya Abang?" tanya Hani pelan.


" Lho? Silahkan mbk." kata Nuria sambil mengangkat kopernya Hani ke dalam kamar.


" Terimakasih Nuria!"


" Sama - sama mbk!" kata Nuria sambil menutup kembali kamar Bang Monas.


Hani sudah di dalam kamar Monas. Tidak ada yang berubah dari tata letak isi kamar ini. Apalagi foto mereka berdua masih terpampang di dinding kamar. Hani tersenyum melihat foto itu. Ingatannya kembali ke masa dulu waktu baru dekat dengan Bg Monas.


" Dia sudah menjadi suamiku, baik buruknya kamu akan selalu aku syukuri."


" Semoga aku bisa menjadi istrimu dunia dan akhirat."

__ADS_1


__ADS_2