
Pembukaan LK 1 yang berlokasi di Ngijo GunungPati Ungaran sudah dilalui,kini masuk ke materi berikutnya pengenalan organisasi islam oleh pemateri. Pemateri ini diisi oleh Bg Mukid..Para peserta Latihan Kader menyimak dan mencatat dengan seksama sambil dilalui dengan sesi tanya jawab dengan peserta.
Sampai pukul 21.00 masih di lalui materi materi tentang keorganisasian diisi oleh Bg Slamet setelah makan malam dan sholat magrib. Hani duduk dikursi belakang paling pojok menyaksikan dan mengamati jalannya acara. Disana ada beberapa pengurus komisariat dan cabang yang terpencar sekedar mengisi waktu longgar bercengkrama menikmati kebersamaan.
Agus diruang Kepanitian mempersiapkan lembar evaluasi yang nanti akan dibagikan ke peserta LK untuk sesi hari ini sedangkan Sofiana ikut duduk mendampingi Agus yang sedang mengetik didepan laptop. Sebenarnya ini tugas Hani tetapi Agus cuek dan acuh terhadap Hani. Sangat miris bukan? Kawan yang dulunya akrap dan sering bersama sama jadi seperti terasingkan seperti ini.
Tampak Monas berjalan mendekati Hani yang sedang duduk ikut menyimak Bg Slamet memberikan materi keorganisasian ke peserta. Monas melempar senyum ke Hani dan mengambil satu kursi lipat merah mendekati tempat duduk Hani berada.
" Hemm, jangan melamun dik."
"Huuf,eh...enggak melamun kok Bg, itu menyimak Bg Slamet memberikan materi,awak jadi tertarik mendengarkan."
" Oh...Hemm,jadi itu cewek Agus yang baru yah dek?"
"Oh...Sofiana? gak tahu bg."
"Itu yang namanya Sofiana? kawan dekat adek itu kan?"
" Iya." jawab Hani singkat ,tatapannya masih jauh melihat Bg Slamet memberi materi padahal pikirannya nun jauh dimana.
" Lalu?"
" lalu kenapa bg?"
" Hem,kita jalan jalan saja yuk dek."
"Kemana bg?"
"Ayolah ikut!"
"Tapi..." Hani ragu ragu tapi bg Monas menarik tangan Hani kearah parkiran motor Monas.
__ADS_1
Motor Monas melaju, dibelakangnya Hani ragu ragu untuk berpegangan. Hani tidak tahu,akan dibawa kemana dirinya sama Monas. Paling tidak,ini mungkin akan mengurangi rasa sesak di dadanya karena didiamkan, dicuekin oleh Agus.
" Kita nyari tempat tongkrongan dek."
"Apa?" tanya Hani keras dan berusaha mendekati samping telinga Monas sebelah kanan.
" Wow...pelan pelan dong,ini telinga masih dipakai dek."
" Hehehe maaf bg."
Motor berhenti disebuah kafe kecil dengan lampu lampu kelap kelip yang berwarna warni . Dibuat seperti kafe kecil agar terkesan meriah,padahal ini bisa dibilang warung minuman juz gitu. Di gunung Pati mana ada kafe besar ,namanya juga didalam kampung.
Mereka duduk di kursi kayu yang sudah disiapkan di kafe itu. Seorang pelayan datang sekadar bertanya akan pesan apa.
" Jadi gimana crita dong." Monas memulai pembicaraan.
"Sepertinya tidak perlu dibahas deh bg, kita cerita lain saja bg."
" Oh begitu, ya sudah...ngapain adek sedih gitu,cuek saja."
Hani terdiam,menikmati getirnya perasaannya. Agus yang biasanya ramah terhadapnya jadi berbalik arah mendiamkannya. Mungkin saja ini salah satu cara untuk menjauhi Hani. Tetapi tidak harus seperti ini.
" Senyum dong." sahut Monas akhirnya,sambil menikmati wajah ayu Hani yang terkena sinar lampu warna warni di kafe itu.
"Kita Selfi yuk!" ajak Monas sambil membuka layar di ponselnya dan mencari kamera depan.
Monas mendekat ke samping Hani,bahkan jaraknya lebih dekat beberapa inci. Monas sedikit merangkul pundak Hani dan kembali ber selfy.
__ADS_1
" Senyum donk." ajak Monas sambil menarik pipi chubby Hani.
Hani tersenyum,sesaat ia melupakan perlakuan Agus terhadapnya. Malam ini,Hani tidak pernah menduga akan lebih dekat dengan orang yang selalu Hani dambakan.
Bukan sebulan,dua bulan Hani menaruh rasa pada Monas melainkan sudah bertahun tahun sejak Hani mengikuti LK1 sampai menjadi pengurus.
" Hape adek mana?"
"Adek tinggal bg."
" Oh..biar abang kirim,entar kalau adek kangen bisa lihat foto kita berdua ini."
" Hemmm...hehehe."
" Memang Abang,akan kangen Hani?"
"Tentu saja." jawab Monas singkat,sambil mendekat ke wajah Hani dan memberanikan diri mengecupnya.
Hani terbelalak dan terkejut dengan sikap Monas terhadap dirinya. Hani tidak menyangka,kalau Monas berani mengambil tindakan seperti itu terhadap dirinya. Tubuhnya terasa bergetar hebat,ada perasaan hangat mengalir dari aliran darahnya.
Hani terdiam menunduk merasakan malu yang hebat karena Monas tidak melepas tatapannya menikmati keayuan Hani dimalam ini.
" Abang tidak peduli,adek sudah punya pacar atau tidak,selagi adek belum nikah Abang akan kejar terus."
Hani membelalak matanya, antara percaya dan tidak. Orang yang selama ini Hani dambakan,Hani sukai ternyata juga menyukai dia. Tetapi bagaimana dengan Rohani. Perasaan ini tidak bisa dibohongi.
Rohani...oh Rohani... Hani jadi teringat,apakah Rohani sudah sampai dirumahnya? sedang ponselnya sedari sore tidak ia pegang dan disimpannya di tas kecilnya.
"Maaf kan aku OHan! semoga kau disana baik baik saja." gumam Hani.
__ADS_1