
Hari berganti hari. Waktu terus berlalu meninggalkan jejaknya. Jalanan tidak selamanya mulus. Jika tidak ber hati - hati akan mudah tersandung karena jalan yang berkerikil.
Seperti mentari yang tidak akan pernah letih menyinari. Seperti embun pagi yang kesucian nya tak tercemari. KasihNya tidak akan di pilih - pilih. Untuk semua makhlukNya yang mengabdi.
Hani berbaring santai di sofa ruang tamu. Bersama Arifah, sahabat dekatnya dari dulu. Sambil makan cemilan yang banyak di atas meja, mereka bercanda,tertawa menceritakan pengalaman yang lucu.
Sesekali Hani melihat potret indah bersama suaminya di dinding itu. Kelihatannya Hani sangat rindu dengan kehadiran suaminya itu. Pasalnya sudah dua bulan ini, suaminya padat jadwal kerjaan. Sehingga belum sempat pulang.
Kehamilan Hani sudah genap lima bulan. Perutnya sudah kelihatan membuncit. Adik bayi yang masih di dalam perut, selalu bergerak aktif.
" Bulan Juni ini, Monas ulang tahun."
" Oh ya?" sahut Arifah.
" Apa rencana mu selanjutnya?" sambung Arifah.
" Hem, aku mau ke Jakarta."
" Kamu yakin?" tanya Arifah.
" Heem." Hani menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! Aku akan mengantarmu." kata Arifah.
" Yang benar?" tanya Hani semangat.
" Tanggal berapa ke Jakarta nya?"
" Tanggal 16. Tanggal 17 hari ulang tahun nya." jawab Hani.
" Tetapi aku gak mau naik pesawat."sambung Hani
" Yaelah! Nyari susah nyoyah satu ini."
" Mau naik kereta api lagi."kata Hani.
"Oke! Oke! Siap nyonya besar."
" Buat rujak yuk!" kata Hani akhirnya.
" Ada bahan nya?"
" Ada di kulkas." jawab Hani.
" Oke! Biar aku buatkan untukmu." kata Arifah.
" Kita kupas bareng - bareng di sini saja."
__ADS_1
" Hadeuh! Repot amat ibu buncit ini."
" Hehehe." Hani tertawa ngerjain Arifah. Arifah ke dapur mengambil bahan - bahan untuk rujakan.
" Tumben suamimu sampai dua bulan tidak kemari Han?" tanya Arifah sambil mengupas bengkoang.
" Kata Monas, jadwal nya penuh. Jumat,Sabtu,Minggu mengisi seminar. Jadi payah kalau mau pulang."
" Kamu sudah nelpon suamimu?" tanya Arifah.
" Hari ini belum." jawab Hani.
Tidak lama kemudian ponsel Hani berbunyi. Panggilan masuk dari Monas.
" Ya assalammualaikummmm ayah!"
" Waalaikum salam. Hehehe ayah?"
" Sudah makan sayang?" tanya Monas di seberang.
" Sudah!" jawab Hani.
" Belum!" teriak Arifah dan bisa di pastikan suara nya masuk terdengar oleh Monas.
" Belum makan kan? Adek jaga kesehatan dong sayang!"
" Lagi bersama Arifah ya?"
" Iya!"
" Lagi ngapain?"
" Buat rujak buah."
" Abang mau!"
" Kemari dong!"
" Abang kapan pulang ke Solo?" sambung Hani.
" Masih padat jadwal sayang! Mungkin rejeki adek bayi. Abang sudah transfer ke rekening adek bukan yang punya Abang. Sudah di cek belum?"
" Belum! Tapi sudah ada pemberitahuan debit kok say."
" Oh. Jangan lupa beli susu dan buah - buah biar sehat bunda dan adek bayinya.
" Siap bos!"
__ADS_1
" Bos! lagi dimana?"
" Lagi di kampus!"
" Oh. Hem ada bang Ridwan tidak?" kata Hani sambil melirik Arifah.
" Tidak ada!"
" Oh!"
" Abang sehat kan?"
" Alhamdulillah sehat."
" Jaga kesehatan ya bang! Jadwal padat gitu harus makan banyak buah yang mengandung vitamin C. Susu sapi jangan lupa."
" Iya nyoyah Monas!"
" Lho? Sama kayak Arifah."
" Kenapa?"
" Bilang adek, nyoyah."
" Oh! Dek?"
" Ada apa sayang?"
" Kangen nya sudah menumpuk?"
" Sama! Adek juga."
" Dek! Abang tutup telepon nya ya. Abang mau masuk kelas."
" Oke. Selamat bekerja!"
" Iya terima kasih. Assalammualaikum."
" Waalaikum salam!"
" Cie..cie seneng yah?"goda Arifah.
" Iya!Jadi kangen banget."
" Sabar! Jumat ini kita berangkat ke Jakarta."
" Iya! Semangat!" kata Hani sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1