
Malam sudah semakin gelap,Hani masih mengurung diri dikamar. Ponsel nya sengaja ia matikan. Untuk saat ini dirinya ingin tenang. Kabar keberadaan Rohani dirawat juga belum ia ketahui nya. Hani memilih pasif,dan berusaha tidak mau tahu tentang semuanya.
Setelah kebersamaannya dengan Bg Monas saat itu,ia merasa tidak lagi pantas untuk bersama sama lagi dengan Rohani. Kesalahan yang ia buat,pengkhianatan yang ia lakukan,baginya adalah tamparan untuk menyadarkan dirinya atas tidak pantas nya dengan Rohani. Rohani yang begitu tulus menyayanginya dan memperhatikannya selama ini.
Dalam renungan nya itu,ia merasa bukanlah Hani seperti dulu. Hani sekarang super tega dan cuek sehingga dijauhi oleh kawan kawan dekatnya yaitu Agus dan Sofiana. Itu menurut pikirannya. Hani mengamati cincin di jari manisnya,pemberian Rohani waktu itu. Cukup mahal jika dibeli oleh dirinya yang masih berstatus mahasiswa yang mengandalkan kiriman orangtuanya. Honor honor yang ia dapatkan lewat tulisan tulisannya pun tidak akan cukup membeli cincin itu.
Dalam hatinya yang paling dalam,sebenarnya ingin mengetahui kabar dan keadaan Rohani sekarang. Tetapi kawan kawannya seolah tidak rela memberi tahu kondisi Rohani saat ini.
Dari siang,sesuap nasi dimulutnya pun tidak masuk. Lapar pun tidak dihiraukan Hani. Hani sedikit depresi mengenai situasi ini. Dia perlu kawan yang bisa memahami dirinya.
" Aku tidak meminta,mereka semua menyayangiku,aku juga tidak menginginkan mereka mencintaiku, aku hanya berusaha baik dengan semua yang dekat kepadaku, lalu ketika tujuan tujuan mereka tidak sesuai dengan keinginannya,kenapa mereka menyalahkan ku?" Hani berkata pelan,sambil memandang boneka boneka pemberian Agus.
"Kurasa didunia ini,kebaikan seseorang tidak ada yang tulus,semua ada pamrihnya, mungkin aku terlalu polos menanggapi semuanya." sambungnya lagi sambil mengambil ponsel yang ia letakkan diatas meja.
" Aku tidak mau berlarut larut,aku gak mau menyiksa diri, jalanku masih panjang, aku harus semangat melalui ini semua,masalah harus diselesaikan,jangan diam saja." pikir Hani.
Hani menghidupkan ponselnya,lampu layarnya sudah mulai menyala. Ia menimang nimang ponsel ditangannya itu. Hani melihat layar ponsel itu,ada banyak pesan masuk disana. Pesan dari Bg Monas,grup Wa,dan juga no wa Arjuna. Ia tidak tertarik oleh pesan dari Bg Monas dan grup grup Wa lainnya. Akhirnya dibiarkan pesan itu tidak di read nya. Hani mulai membuka pesan dari Arjuna.
14.00 Arjuna
"Sorry, aku tadi lagi emosi,
dan aku lagi sedih,kawan dekatku mengalami kecelakaan. Kamu tahu kan?"
23.00 Hani
"Iya."
.....
__ADS_1
.....
Hani menunggu,apakah Arjuna masih online dan membalas nya lagi.
Tidak berapa lama pesan wa dari Arjuna muncul.
23.01 Arjuna
"Kamu gak ingin tahu kondisi Rohani sekarang Han?"
23.02 Hani
"Aku ingin, cuma aku tidak punya hak untuk memaksakan diri tahu semua...."
23.03 Arjuna
"Kenapa?"
23.04 Hani
"Kamu pasti sudah tahu jawabannya, gosip tentang aku bukankah sudah tersebar dikelas kita tadi."
"Aku tidak ambil pusing tentang omongan Sofiana tadi pagi kok Han."
23.06 Hani
"Betul kan??"
23.07 Arjuna
"Betul apa?"
23.07 Hani
"Dari aku masuk kelas tadi, semua mata melihatku rendah,memandangku sebelah mata tak terkecuali Agus dan Sofiana yang menyalahkan aku."
__ADS_1
23.08. Arjuna
"Tapi aku tidak menyalahkan ku Han.
Aku hanya emosi sesaat."
23.09 Hani
"Aku tahu."
23.10 Arjuna
"Kamu mau tidak,besok kita menjenguk Rohani dirumah sakit?"
23.11 Hani
"Apakah aku masih layak?"
23.12 Arjuna
"Besok ku jemput kamu yah setelah kuliah. Sore kita jalan."
23.12 Hani
"Dirumah sakit mana?"
23.13 Arjuna
"Rumah sakit Demak."
23.13 Hani
"Kamu pikir perjalanan Semarang Demak tidak memakan waktu? sampai disana jam berapa? jam jenguknya jam berapa? tidak kau perhitungkan itu Jun?"
23.14 Arjuna
__ADS_1
" Iyah yah!
Okelah nanti aku hubungi keluarganya dulu, jam berapa kita bisa berkunjung."