TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Masih Di sembunyikan


__ADS_3

Hari Jumat tiba. Betapa bahagianya Monas hari ini. Pasalnya hari ini dia pulang ke Solo ikut penerbangan Jakarta Jogja. Lalu di lanjutkan naik trevel ke Solo.


Pagi ini, Monas mulai terbang ke Jogjakarta. Jarak yang di tempuh sekitar 1 jam lebih 15 menit dengan tujuan Jogjakarta. Akhirnya sampai juga di bandara yang di tuju. Monas melanjutkan perjalanan ke Solo dengan naik trevel. Kurang lebih hampir dua jam, akhir nya sampai juga di Solo. Monas sudah di depan rumahnya. Lalu duduk di teras depan rumah.


Rumah masih tampak kosong dan sepi.


" Hani pasti masih di Sekolah. Jam 10.00. masih pagi. " gumam Monas sambil tiduran di serambi itu


Sudah beberapa jam Monas menunggu. Hari sudah sore tetapi Hani masih juga belum pulang. Di ambil nya ponsel yang masih di dalam tas. Monas lalu berusaha menghubungi istrinya.


Sudah beberapa kali Monas menghubungi Hani tetapi tidak di angkat nya. Monas mencoba menghubungi Arifah. Siapa tahu, Arifah tahu kemana Hani pergi.


" Fa! Kamu lagi ngapain?" tanya Monas.


" Lagi santai di rumah. Ada apa Bang?" tanya Arifah.


" Aku di Solo nih. Dari pagi sampai sekarang kenapa Hani tidak pulang - pulang yah?" tanya Monas.


" Oh Hani. Dia di rumah baru." kata Arifah.


" Rumah baru?" Monas bertanya.


" Hadiah pernikahan kalian dari Abah." jawab Arifah.


" Oh! Sekarang tinggal di sana?"


" Beberapa bulan ini, Hani lebih sering pulang di rumah itu. Selain dekat dengan Sekolah,tempat ia mengajar. Dia juga ingin melupakan...." cerita Arifah terputus...


" Melupakan apa Fa?" tanya Monas.


" Eh tidak! Aku sudah salah bicara Nas. Kamu sudah menghubungi Hani?"


" Sudah! Tetapi tidak di angkat nya." jawab Monas.


" Lagi ngapain ya Hani. Kok tumben tidak mengangkat panggilan mu."


" Abang ke rumah baru saja. Biar ku kirim lokasinya. Abang pesan taksi atau grab saja dulu."


" Baiklah! Aku tunggu!" kata Monas.


" Di tunggu sampai besok gak akan datang - datang dong. Ternyata ada di rumah baru." gumam Monas.


Tidak berapa lama mobil grab yang di nanti sudah tiba. Mobil itu berjalan menuju rumah baru pemberian Abah di pernikahan Hani dan Monas.


Rumah yang tidak begitu besar tapi tampak elegan.



Akhirnya Monas tiba di depan rumah itu. Dari luar cahaya lampu sudah terang benderang. Tampak ada penghuni di dalamnya. Monas mengetuk pintu dan salam.


" Waalaikum salam!" ucap wanita yang masih muda dengan perut yang sudah membuncit.


" Adek?" panggil Monas sambil memeluk Hani erat.


" Abang!" panggil Hani dengan haru.


" Kenapa tidak mengangkat telepon dari Abang?" tanya Monas sambil menutup pintu depan kembali.


"Tadi..tadi adek bersih - bersih rumah." kata Hani beralasan.


" Lalu kenapa tidak menelpon Abang kembali?" tanya Monas sambil menatap wajah Hani yang penuh kesedihan.

__ADS_1


Wajah nya memucat karena keletihan. Bola matanya membentuk lingkaran hitam di kelopaknya. Kelihatan sekali kalau kurang tidur dan beristirahat.


" Adek? Apa ada masalah yang adek sembunyikan?" tanya Monas.


" Hah?" Hani terkejut.


"Dek?" panggil Monas sambil matanya menatap tajam ke Hani. Ada iba ketika melihat wajah wanita di depannya.


" Masalah yang di sembunyikan?" tanya Hani sambil tersenyum sinis.


" Hah? Bukankah pertanyaan itu seharusnya keluar dari mulutku bang?" sambung Hani sambil tertawa kecil.


Monas memegang kedua pipi Hani. Mencari sesuatu yang di sembunyikan terhadapnya.


" Dek?" panggil Monas pelan.


" Aku hanya wanita biasa bang, maaf jika tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Abang. Aku pun juga tidak ingin mengganggu aktivitas Abang di Jakarta. Aku berusaha memahami,dan mengerti keberadaan Abang dengannya di Jakarta."


" Dek?"


" Sudah lah! Aku disini hanya bisa menunggu dan tidak akan menuntut abang terlalu banyak."


" Dek? Adek ngomong apa?" tanya Monas dengan suara keras.


Hani terdiam dan terkejut dengan bentakan Monas.


" Maaf!" kata Monas pelan.


" Sudahlah! Maaf adek terbawa emosi. Biar adek buatkan minum dulu untuk Abang." kata Hani sambil melangkah ke belakang ke arah dapur rumah itu.


" Tidak perlu!" sahut Monas sambil menahan lengan Hani.


" Dek! Abang minta maaf. Tiga bulan ini, Abang benar - benar jadwalnya padat sekali."


" Abang kangennnn sekali dengan adek.. dan juga si kecil ini." kata Monas sambil sambil mengusap perut Hani yang membuncit itu.


Hani tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca. Hani berusaha menutupi kesedihannya. Kesedihan karena tiga bulan ini, dirinya seperti tidak di anggap sebagai istri. Dan ada wanita lain yang masuk dalam rumah tangga nya.


" Abang sudah mandi?" tanya Hani.


" Belum!"


" Mandilah! Biar adek masakan makanan kesukaan Abang" kata Hani berusaha menghindari Monas.


" Tidak usah! Nanti kita bisa beli makanan di luar." sahut Monas.


" Oke! Tapi mandilah terlebih dahulu dan sholat magrib berjamaah." kata Hani.


" Oh iya! Baiklah sayang!" kata Monas Akhirnya sambil melepas pelukannya.


Setelah mandi dan mengambil air wudlu, mereka menjalankan sholat magrib berjamaah.


Seperti biasanya, setelah sholat magrib itu Monas mengerjakan sholat taubat 100 reka'at. Dan setelah nya melanjutkan hafalannya satu juz berikutnya.


" Dek!" panggil Monas kepada Hani.


" Hem?" sahut Hani sambil mendekati suaminya.


" Adek, kenapa wajahmu tampak muram, kantung mata yang menghitam, adek kenapa? Bicara dan cerita lah pada Abang." kata Monas.


"Tidak apa - apa Abang. Mungkin sudah mulai tua masa kehamilan ini, jadi cepat letih." kata Hani pelan.

__ADS_1


" Oh!"


" Abang kapan kembali ke Jakarta?" tanya Hani.


" Ya Allah! Baru saja Abang datang,ini sudah di tanya kapan kembali ke Jakarta."


" Oh! Maaf!"


" Sebenarnya ada apa sih? Dari tadi adek omongan nya tidak jelas, melantur kesana kemari." kata Monas mulai gusar.


" Maaf!" sahut Hani pelan.


Monas tersenyum dan merengkuhnya dengan kelembutan. Hani menangis dan membenamkan kepalanya di dada suaminya itu. Semakin lama tangisan itu terdengar oleh Monas.


" Eh? Adek? Kenapa menangis sayang?" tanya Monas dengan ekspresi terkejut.


" Betulkan, ada yang di sembunyikan dari Abang." kata Monas mulai menyelidik.


" Adek hanya kangen saja. Adek pikir, Abang tidak akan pernah datang kembali menjumpai adek lagi." kata Hani pelan.


" Adek! Astagfirullah! Apa yang adek katakan. Mana mungkin Abang seperti itu." sahut Monas sambil membelai kepala Hani.


" Abang?"


" Iya sayang?"


" Apa rencana Abang setelah si kecil ini lahir?" tanya Hani.


" Rencananya Abang ingin membawa adek dan si bayi ini, tinggal di Jakarta."


" Hah?"


" Kenapa terkejut dek?" tanya Monas.


" Satu rumah?" tanya Hani. Maksud Hani serumah dengan istri yang kedua itu.


" Iyalah! Kita kan suami istri. Kenapa pertanyaan nya aneh gitu dek?"


" Iya maaf!" sahut Hani.


" Cari makan yuk!"


" Adek lagi mager banget!" jawab Hani.


" Kalau begitu delivery saja yah?" tanya Monas.


" Iya! Terserah Abang."


Malam itu, Hani masih belum bisa melupakan kesedihannya. Hani belum sanggup mencurahkan emosi yang di pendam nya. Hani belum bisa membicarakan kekecewaan nya terhadap Monas yang punya istri lagi selain dirinya.


Di pangkuan suaminya, matanya mengalir deras. Diam - diam menangis karena ke piluan nya.


" Dek?" Panggil Monas sambil mengangkat wajah Hani.


" Ya Allah! Nangis lagi! Kenapa sayang?" tanya Monas menyelidik.


" Tidak ada. Hani senang Abang pulang ke Solo" jawab Hani sambil terpaksa tersenyum.


" Tidak! Tidak! Ini sudah pasti ada yang di sembunyikan." kata Monas.


" Besok saja kita bicara lagi. Adek sudah mulai mengantuk." Kata Hani.

__ADS_1


" Janji ya! Besok harus cerita semua!"


__ADS_2