TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Hari Yang di Nanti


__ADS_3

Awan hitam menyelimuti gelap. Kegelapan yang tampak indah dengan cahaya - cahaya bintang yang bertebaran. Bulan sabit yang mengintip malu - malu di balik Awan gelap, menambah sinarnya berkilau memantulkan cahaya terangnya.


Hari ini, Hani sudah berbaring di bangsal rumah sakit. Perutnya sesekali merasa mules seperti hendak ke belakang. Di sampingnya ada ibu nya yang setia mendampingi. Ayahnya dengan sabar menunggu di kursi depan rumah sakit. Arifah tampak mondar - mandir menelphon seseorang yang belum terangkat. Pasalnya hari ini, usia kandungan Hani sudah 9 bulan lewat 10 hari. Tanda - tanda bayi mungil yang masih di dalam perut itu, sudah tidak sabar ingin keluar menghirup udara di dunia ini.


" Ibu! Hari ini pertama kali Hani bisa merasakan sakitnya untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Aku minta maaf, segala kesalahan baik sengaja maupun tidak di sengaja yang aku lakukan kepada ibu dan ayah. Hani belum bisa membuat ayah dan ibu bahagia. Dengan kerendahan hati, Hani mohon doa restu dan doanya agar Hani lancar dalam persalinan ini." ucap Hani pelan.


Ibu Hani terdiam sambil memegang erat tangan Hani. Ayah Hani mulai bergabung mendekati anaknya yang berbaring merasakan kesakitan.


" Semoga lancar persalinan ini,Hani. Doa Ayah dan ibu selalu untukmu." kata ibu Hani pelan.


" Sebentar lagi, suamimu sampai Han. Kamu yang kuat ya!" kata Arifah yang tiba - tiba masuk ke kamar bilik.


" Tahan dulu yah! Dokter spesialis kandungan masih dalam perjalanan menuju rumah sakit." sambung Arifah.


" Di minum dulu madu nya biar tambah stamina." kata Ibu Hani sambil menyuapi sesendok madu ke mulut Hani.


" Assalammualaikum!" sapa Monas bersama Ridwan yang tiba - tiba muncul dari bilik kamar.


" Bagaimana sayang?" kata Monas sambil memegang erat tangan Hani dan mencium keningnya.


" Sabar yah, sebentar lagi masuk ruang persalinan." kata Monas yang mulai panik tapi berusaha di sembunyikan.


Tidak berapa lama, dua orang perawat yang berbaju putih - putih masuk ke kamar bilik Hani.


" Nyoya Hani?"


" Benar!" jawab Monas.


" Oke! Hanya suaminya saja yang bisa masuk ke ruangan persalinan. Mari!" kata perawat itu sambil mendorong tempat tidur besi yang di atasnya ada Hani yang terbaring menuju ruang bersalin.


Di ruang bersalin itu, sudah ada dokter spesialis dan tiga perawat yang membantu proses persalinan. Monas dengan paniknya berusaha menenangkan Hani dengan menggenggam tangan Hani kuat.


Hani mulai meringis kesakitan. Dokter dan suster itu mulai menginstruksikan kepada Hani.


" Tarik nafas pelan ..


keluarkan lewat mulut...ngeden!"


" Ayo terus Bu!"


" Semangat Bu! Ayo sekali lagi! Tarik nafas...keluarkan!"


" Alhamdulillah!" kata Monas pelan sambil terus menggenggam tangan Hani. Hani dan Monas tersenyum. Air mata haru keduanya mengalir tiba - tiba.


Dan Akhirnya suara tangisan anak bayi terdengar membahana di ruang bersalin itu. Salah satu suster itu membawa bayi itu untuk di bersihkan. Dokter spesialis dan salah satu suster yang lain menjahit tempat bayi itu keluar dan mulai membereskan darah - darah yang keluar.


Setelah beberapa menit kemudian, Hani di dorong kembali ke kamarnya. Monas mengikuti nya dari belakang.


" Alhamdulillah!" kata Ibu Hani,Arifah dan ayah Hani.


" Bagaimana anak Hani?"


" Alhamdulillah sehat Bu! Laki - laki. Sebentar lagi di antar kemari." kata Monas penuh semangat.


" Hani selamat ya! Sekarang sudah jadi ibu." teriak Arifah.


" Kamu juga sebentar lagi jadi ibu." sahut Ridwan.

__ADS_1


" Dengan siapa hamilnya?" kata Arifah dengan polosnya.


" Denganku lah nanti!" sahut Ridwan.


" Amin!' ucap Hani dan Monas bersamaan.


" Ayah ibu! Terimakasih untuk Semua nya. Hani sekarang sudah menjadi ibu." kata Hani dan tanpa sadar buliran air matanya terjatuh di pipi.


" Iya anakku! Jadi ibu yang baik untuk anak - anakmu ya sayang dan tetap menjadi istri yang Sholeh ya!" ucap ibu Hani dan ayah pun ikut mengangguk pelan.


" Abang! Terimakasih untuk semua doa dan ridlo nya. Semua jadi di permudah." kata Hani sambil tersenyum.


" Iya sayang! Terimakasih sudah memberikan anak bayi yang lucu untuk Abang dan kami semua." ucap Monas.


" Besok Abah dan Ummi akan ke Solo." sahut Ridwan.


" Oh ya? Besan kita datang Yah!" kata Ibu Hani.


" Alhamdulillah." sahut Arifah.


" Kamu ingin makan apa biar cepat pulih tenaga mu?" tanya Arifah.


" Minta juz alpokat boleh?" tanya Hani.


" Boleh!" jawab Monas. Arifah pun tersenyum.


" Senengnya punya suami yang perhatian." kata Arifah sambil melirik Ridwan yang ada di dekatnya.


" Ridwan! Kode itu!" kata Monas sambil menyiku Ridwan.


" Ibu Hani?" panggil suster yang menggendong bayi mungil masuk ke bilik Hani.


" Selamat datang di dunia anakku! kata Monas.


---------------------------------------------------+++-------------------++--------------------------


Di rumah baru Hani dan Monas, semua sedang berkumpul termasuk Abah dan Ummi yang datang dari Rembang.


Duduk di ruang tengah, orang tua Hani dan orang tua Monas berbincang - bincang. Di teras depan rumah sedang duduk Ridwan dan Arifah.


"Jadi kapan kita menikah?" tanya Ridwan. Arifah yang di tanya cengar - cengir.


" Kapan sayang?" Ridwan bertanya lagi.


" Terserah Abang saja lah." jawab Arifah.


" Tapi aku gak mau ya, kalau nikah siri!" ucap Arifah.


" Hahahaha, tidak lah!"


Di ruang tamu, di bawah karpet berbulu, Hani dan Monas duduk bersandar di dinding. Di sampingnya si bayi yang mungil dan lucu itu tertidur pulas.


" Jadi, setelah acara ini kelar, kita siap - siap pindahan ke Jakarta ya sayang." kata Monas.


" Iya!" jawab Hani sambil menatap wajah suaminya dengan manja.


" Abah sudah memberi nama anak kita, sayang." cerita Monas.

__ADS_1


" Oh ya?" sahut Hani tersenyum sambil melihat anaknya yang matanya masih terpejam.


" Muhammad Malik." kata Monas.


" Bagus. Muma! Muma!" panggil Hani untuk bayi mungil yang ada di depannya.


" Muma? kenapa Muma?" tanya Monas.


" Muhamad Malik! Di singkat Muma." kata Hani sambil tersenyum.


" Hehehe." Monas tersenyum sambil merengkuh tubuh istrinya.


" Terimakasih sayang! Engkau sudah memberi jagoan yang gagah untuk Abang." kata Monas sambil mengecup dahi Hani.


" Heem!" sahut Hani pelan.


" Tapi kita belum punya anak perempuan yang cantik Lo sayang." bisik Monas pelan.


Hani mencubit pinggang Monas dengan gemas. Dan mereka pun akhirnya tertawa karena kebahagiaan hati ini tidak bisa terlukis kan.


Setiap manusia punya masalah. Setiap manusia punya cara untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Setiap manusia berhak bahagia. Setiap manusia bisa memulai kebahagian itu dengan pilihannya. Karena setiap manusia punya pilihan. Pilihan itulah yang akan menentukan kebahagiaan nya. Seperti halnya Hani dan Monas. Jalan yang di pilihnya menghantarkan mereka pada satu tujuan. Tujuan indah untuk dunia dan akhirat.


Bersama mereka. Target Indah Bersamamu, sudah sampai di sini. Mereka akhirnya bisa melewati setiap permasalahan untuk bisa hidup bersama.


Terimakasih untuk semua pembaca yang mengikuti jalannya cerita novel ini.


Tidak lupa, terimakasih banyak untuk pembaca yang hanya mengintip doang ( hehehe).


Karena dukungan kalian, novel ini tidak akan kelar. Karena


LIKE DAN KOMENTAR KALIAN SANGAT MEMOTIVASI SAYA UNTUK LEBIH BANYAK BERKARYA.


Mohon Maaf Lahir Batin Dari Saya Naim Nurbanah.


Dan Terimakasih sebanyak - banyaknya untuk Abangda


Usman Syahrata.


I love you...


T


A


M


A


T


Baca novel aku yang lain yah!!




__ADS_1




__ADS_2