
Kehidupan berjalan tidak semua sesuai dengan keinginan kita. Sesuatu yang menurut kita baik belum tentu itu terbaik menurut Tuhan. Tuhan telah merencanakan semua untuk kita, manusia hanya perlu berusaha,berdoa.
Demikian halnya,setiap ada pertemuan pasti ada juga perpisahan. Semuanya tidak ingin menghendaki perpisahan itu terjadi. Dalam kenyataan nya Hani selalu mengalami perpisahan yang menjadikan dirinya sakit yang tidak berdarah.Bukan dirinya yang memulai tapi pada akhirnya orang itupun yang mengakhirinya.
Sudah 5 tahun kejadian dan masalah yang bertubi-tubi itu, Hani hadapi. Dia mampu berdiri dengan tegar. Tetapi untuk memulai lagi dia perlu menyembuhkan beberapa luka yang tidak bisa diobati.
Hani duduk dikursi depan yang memang disiapkan untuk guru yang mengajar. Didepannya anak didiknya sedang sibuk mengerjakan tugas latihan yang Hani berikan. Membuat sinopsis dari buku sastra yang mereka pilih. Akhirnya bel tanda pulang berbunyi keras. Siswa- siswi bersorak- Sorai tanda kepulangan itu. Setelah berdoa, mereka berhamburan keluar kelas setelah mencium tangan Ibu guru yang ada didepannya.
Hani keluar dari kelas,menuju ruang guru dan membereskan buku- buku yang bertumpuk dari tugas- tugas anak didiknya. Setelah itu,Hani menuju ke parkiran lalu keluar dari bangunan itu. Hani bersemangat untuk kembali kerumah,pasalnya besok hari Sabtu dan tidak perlu lagi bangun pagi untuk menjalankan rutinitas mengajarnya.
Hani menghentikan mobil jazz nya ke tepi jalan yang lapang. Diambilnya ponsel didalam tas nya.
" Hallo Fa! aku di depan Rumah Makan kamu bisa kemari gak?" kata Hani kepada seseorang ternyata adalah sahabat dekatnya yaitu Arifah.
" Iya,sepuluh menit aku kesana!"
Hani memilih mengajar di kota Solo setelah wisudanya 4 tahun yang lalu. Selama empat tahun itu pula,dia mengkosongkan hatinya dan menutup pintu rapat- rapat untuk semua laki- laki yang berusaha mendekatinya.
Tentu saja Arifah paling tahu kisah percintaan sahabatnya ini. Dari waktu SMA percintaan nya yang sangat tragis, pacarnya meninggal dunia karena kecelakaan sampai dengan percintaan nya waktu kuliah yang membawa luka yang tak berdarah.
Hani masih menunggu didalam mobilnya. Menunggu sahabatnya sampai ia tertidur didalam mobil. Sampai akhirnya ada seorang laki- laki berkacamata hitam mengetuk- ngetuk kaca mobilnya.
Hani membukakan kaca mobilnya setengah malas karena terbangun dengan terpaksa dari tidurnya. Hani mengucek-- kucek matanya.
" Iya pak? ada apa ya pak?" kata Hani kepada seseorang itu dan laki- laki itu malah menatapnya tanpa mampu bersuara.
" Hallo pak, ada apa pak?" sahut Hani lagi sambil melambaikan tangannya ke depan wajah seseorang itu.
" Hani???" kata seseorang itu sambil membuka kacamata hitamnya.
" Ini aku Monas!" kata laki- laki itu sambil menunjuk ke dirinya sendiri.
" Eh Monas?? " kata Hani terkejut.
" Abang?" sahut Hani pelan dan jantungnya berdegup kencang dan kembali ia merasakan sesak dadanya.
" Eh iya, apa kabar nya?" kata Hani sambil mengulurkan tangan kanannya dan tangan itu disambut oleh pemuda itu.
" Tadi ...tadi...ada perlu apa bg?..eh pak?"
" Mobil saya mau masuk,saya perlu sedikit ruang Han, eh Bu!"
" Oh mau parkir di rumah makan itu yah?"
__ADS_1
" Iya dek!, Eh maaf Bu."
" Baiklah!" Kata Hani sambil menghidupkan mobilnya dan menjalankan mobil itu sampai menjauh dari rumah makan dan meninggalkan pemuda itu.
Hani menepikan mobil jazz nya dan memakirkan ketempat yang lebih longgar. Jantungnya masih tidak beraturan,nafasnya seperti tidak berudara. Ia mengambil nafas panjang dan memejamkan matanya. Tiba- tiba ponselnya berbunyi dan membuat Hani tersentak.
" Astagfirullah!"
" Hallo Fa! aku dipinggir jalan depan butik Asyifa, sepertinya kita nyari tempat makan lain saja."
" Kamu gila! aku sudah didalam rumah makan aku hitung sampai 15 kalau kamu gak balik aku merajuk sampai dua bulan."
Kata Arifah dengan nada kesal.
Arifah menutup panggilan keluar itu,dan matanya tertuju pada pemuda yang dari tadi menatapnya ketika dia sedang menelepon sambil marah- marah. Arifah langsung mendekati pemuda itu.
" Maaf Bg! apa kita saling kenal? kenapa Abang nglihatin saya dari tadi?" kata Arifah dengan nada ketus.
Itulah Arifah, bukan Arifah kalau tidak gila seperti ini. Pemuda itu membuka kacamatanya dan mengulurkan tangannya kepada Arifah karena sudah tidak enak dengan kawan- kawan nya yang lain.
" Saya Monas! kamu pasti kawan Hani bukan?" kata Monas akhirnya.
" Hah???"
" Bukankah kota Solo juga tempat pariwisata?" sahut Monas
" Oh ya...ya selamat bersenang- senang!" kata Arifah akhirnya dan kembali ke tempat duduknya awal.
" Kamu dimana Han?" tanya Arifah lewat sambungan telepon.
" Iya ini aku sudah sampai kok, sabar dong!"
" Hai maaf" sahut Hani mendekati Arifah ditempat duduknya yang ponselnya masih menempel di dekat telinganya.
" Semprul!! kaget aku!" kata Arifah spontan.
" Sudah pesen?" kata Hani akhirnya yang matanya tiba- tiba bertemu pandang dengan Bg Monas.
Jantungnya masih tidak beraturan.
" Kenapa milih kursi disini sic?" tanya Hani pelan sambil mendudukkan pantatnya.
" Ahh...Hani! aku tahu kenapa kamu tiba- tiba tidak ingin makan disini"
__ADS_1
" Apa?"
" pemuda itu bukan?"
" Hahhh??"
" Aku tadi juga kaget, tapi dia lagi tamasya disini beserta rombongannya."
" Sudah enjoy saja kita makannya." sambung Arifah sambil bangkit dari kursinya memesan makanan.
" Dek!!!" kata Pemuda itu yang tiba- tiba datang dan duduk dikursi dekat Hani.
" Eh iya??"
" Boleh minta no wa nya gak?" kata Bg Monas hati- hati.
" Untuk apa?" tanya Hani pelan.
Tidak berapa lama kemudian Arifah kembali ketempat duduknya.
" Eh abang!!" sahut Arifah sambil duduk.
" Ada apa bg? bisa aku bantu Bg?"
" Arifah, Abang bisa minta no wa mu sekali lagi gak? dulu kamulah yang membantuku agar bisa ke Solo menemui Hani." kata Pemuda itu ke Arifah.
Hani yang didekatnya melotot tajam. Seolah tidak mengijinkan Arifah memberi no wa nya.
" Kamu tahu,lihatlah mata Hani! dia melotot tajam bak kuntilanak! aku seperti mau dimakannya, tapi aku ingin lihat, apa dia berani makan aku kalau aku kasih no wa ku." kata Arifah sambil terkekeh.
Pemuda itu mencuri pandang ke arah Hani.
Dan memang benar, Hani membulatkan matanya bulat-bulat yang membuat Pemuda itu geli cekikikan.
" Jadi berapa no nya?"
" 0854 789 xxxx."
jawab Arifah dan sebagai balasannya dia semakin mendapat mata Hani yang membulat bak kelereng.
" Terimakasih banyak Arifah, nanti malam aku hubungi kamu ya?" kata pemuda itu lalu berlalu, kembali duduk dikursinya bergabung dengan kawan- kawannya yang lain.
Hani jadi tidak selera dengan makanan yang sudah tersaji didepannya. Rasanya terasa hambar dan dia lebih sering mengaduk- aduknya saja. Arifah yang memperhatikan Hani seperti itu hanya menggeleng- gelengkan kepalanya dan tersenyum geli.
__ADS_1
" Rasain Lo, cinta lama bersemi kembali!" kata Arifah pelan.