
Nasib seseorang siapa yang tahu. Perjalanan takdir manusia tidak dapat di prediksi. Ketentuan Qadha dan qodar sudah di tetapkan. Manusia hanya menjalankan titahnya sebagai makhluk Tuhan. Makhluk Tuhan yang sudah berjanji waktu ruh di tiup kan dari jasad nya, akan selalu setia dan menyembahNya.
Hari ini, Monas dan Hani sudah bersiap untuk pergi. Mencari sesuatu yang sudah di rencanakan tadi malam. Di dalam mobil Fortuner, ada Ridwan,Nuria, Monas dan Hani.
" Ridwan! Kita mampir ke klinik sebentar!" kata Monas sambil tersenyum.
" Kenapa Nas? Kamu sakit?"
" Tidak juga! Ingin nge - cek saja."
" Oh!"
" Ngomong - omong, itu tangan lengket saja yah!" sahut Ridwan sambil tersenyum karena sejak dari masuk mobil tangan Monas menggenggam tangan Hani erat.
" Kenapa sih bang? Kamu kepingin?" goda Nuria.
" Kepingin juga sic."
" Sini aku pegang tangannya." goda Nuria lagi.
" Terus aku nyetir nya gimana?"
" Hehehe."
" Hani! Bagaimana kabar Arifah?" tanya Ridwan.
" Dia sehat!" jawab Hani sambil tersenyum melihat Nuria yang mulai manyun bibirnya.
" Jangan bikin cemburu, orang di sebelah mu ,Ridwan."
" Hah?? Aku cemburu? Mana ada?" sahut Nuria.
" Kalau tidak cemburu terus apa? Bibir nya manyun gitu." kata Ridwan.
" Ini sariawan."
" Oh ho.. sariawan!...hahaha." ledek Ridwan.
" Di Tempat Tiara saja ya Nas? Itu klinik nya!" kata Ridwan sambil mengarahkan mobilnya di tempat klinik itu.
" Sudah sampai! Siapa yang mau medical check up?"
__ADS_1
" Artinya apa itu bang?"
" Artinya jangan suka cek Cok, sayang." jawab Ridwan.
" Ayo dek!" ajak Monas.
Monas keluar dari mobil itu dan menggandeng Hani menuju klinik itu.
Setelah beberapa lama, giliran nama mereka di panggil.
" Lho! kok nama ku bang?"
" Iya dong! Abang ingin memastikan, adek benar - benar hamil apa tidak. Supaya kita bisa lebih hati - hati nanti." kata Monas.
" Ayo Abang antar ke dalam." kata Monas.
Sesampainya di dalam ruangan.
" Eh. Bang Monas!" kata dokter jaga itu.
" Eh ?? kamu Tiara?" Praktek di sini?" tanya Monas sambil menjabat tangan Tiara.
"Iya, baru satu tahun ini."
" Ini siapa yang akan di periksa?"
" Ini istri aku." jawab Monas.
" Oh mari mbk."
Hani dan dokter Tiara masuk di bilik kamar. Monas masih duduk dengan tenang di kursi nya. Bagi Hani ini terlalu terburu - buru untuk melakukan pengecekan. Tetapi apa boleh buat. Kalau Monas sudah membuat keputusan,tidak ada yang berani menolaknya.
Selang berapa lama, Hani dan dokter cantik itu keluar.
" Selamat Bang! Istri Abang positif dan masa janin dalam kandungan sudah tiga Minggu."
" Alhamdulillah, Terimakasih dokter Tiara."
" Iya sama-sama bang. Selama tiga bulan ini harus di jaga dan lebih hati - hati, agar tidak ada masalah dengan janin nya."
" Oh iya! Terimakasih banyak."
__ADS_1
Mereka meninggalkan klinik itu dan masuk ke dalam mobil Fortuner.
" Bagaimana Nas? Kamu baik- baik saja kan?" tanya Ridwan yang sejak dari tadi menunggu di dalam mobil."
" Aku baik - baik saja." jawab Monas.
" Iya lah, dokter nya cantik begitu. Pura - pura sakit saja." sahut Ridwan.
" Han, dokter itu dulu naksir berat sama Monas."
" Jadi jangan percaya kalau, ada maksud lain selain periksa saja."
" Oh ngono ya." jawab Hani pakai bahasa Jawa. Monas tersenyum dan tangannya mengusap perut Hani pelan.
" Kita kemana lagi Nas?"
" Ke Studio foto, habis itu nyari jas, dan makan."
" Gak makan dulu?" tanya Ridwan sambil tertawa.
" Terserah kamu saja!"
" Bagaimana Bu Monas?"
" Hah??"
" Makan dulu kita?" tanya Ridwan.
" Makan sekarang!"
" Oke siap ibu bos! Mau makan apa?"
" Nasi kucing ada?" tanya Hani.
" Ya ampun, nasi kucing kalau pulang ke Solo saja Bu Bos." sahut Monas.
" Oh Iyah. Gado - gado boleh?"
" Boleh?" jawab Monas.
"Monas! Jangan - jangan Hani lagi ngidam lho. Masak dia kepingin nasi kucing di Jakarta."
__ADS_1
Monas dan Hani yang mendengar omongan Ridwan jadi tersenyum dan saling pandang.
" Amin!" sahut Monas sambil merangkul Hani yang ada di sampingnya.