
" Di tempat ini lah kita di pertemukan lagi oleh gadisku. Dengan kece nya naik mobil merah jazz. Waktu itu,Abang sampai tidak percaya. Sudah hampir 5 tahun kita tidak pernah berjumpa dan komunikasi,kita bisa di pertemukan di sini."
" Hehe. Abang! Kamulah dulu targetku! Kamu yang ganteng dan sangat berkharisma. Punya kemampuan yang lebih." kata Hani.
" Abang mencintai mu Hani. Terget Terindah bersama mu, dari.awal melihatmu di depan podium melantunkan ayat - ayat suci Al-Quran yang merdu."
" Oh ya! Dari awal adek ikut Latihan Kader?" tanya Hani.
" Iya! Sudah lama bukan?"
" Aku pikir, hanya Hani yang naksir duluan." kata Hani.
" Adek ingat tidak? waktu kita terjebak hujan dari nonton film?"
tanya Monas.
" Iya. Kita akhirnya bermalam di penginapan bukan? Lalu Abang dengan beraninya mengambil ciuman pertama Hani." cerita Hani.
" Hahahaha. Abang merasa menang saat itu." kata Monas.
" Hem. Ingat tidak waktu di kost Hani Abang menunggu lama sampai hujan turun itu?" tanya Hani.
" Abang ingat! Itu adek benar - benar jahat dan super tega. Dari pagi sampai malam Abang menunggu di teras. Adik tidak mau jumpai dengan Abang. Alasannya lagi ada kegiatan di luar."
" Hehe. Namanya lagi marah." sahut Hani.
" Sudah habis belum timlo nya. Mau di bungkus lagi tidak?" tanya Monas.
" Sudah!" jawab Hani singkat.
" Kalau sudah, Abang ingin cepat - cepat pulang." kata Monas.
" Kenapa ingin cepat - cepat pulang?"tanya Hani.
Monas tersenyum nakal. Di gandeng nya ibu hamil itu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
" Adek mau buah kiwi." kata Hani.
" Siap Nyonya!" sahut Monas.
Monas menghidupkan mobilnya dan menjalankan nya dengan pelan - pelan.
" Bagaimana kalau besok kita ke Rembang saja Bang!" kata Hani.
" Enggak mau. Kenapa harus ke sana?" kata Monas.
" Abang harus menyelesaikan masalah kemarin."
" Tidak perlu! Abah dan Ummi sudah paham, kalau Abang tidak menginginkan pernikahan itu." kata Monas.
" Ya sudahlah!" sahut Hani.
" Minggu depan usia kehamilan ini sudah 7 bulan. Ayah ibu akan datang dari Palembang." kata Hani.
" Syukurlah! Abang bisa lebih tenang." kata Monas Akhirnya.
Monas mulai menemukan banyak buah - buahan yang di inginkan Hani.
" Dek!"panggil Monas.
"Hem?"
" Kita cari perlengkapan bayi yuk!" kata Monas dengan mata berbinar.
" Boleh!" jawab Hani.
" Mumpung Abang di Solo." Kata Monas sambil menggandeng istrinya.
" Adek bayi kita cowok apa cewek sayang?" tanya Monas.
" Sengaja tidak adek USG." kata Hani.
__ADS_1
" Bukankah ini anak pertama kita? Laki - laki dan perempuan sama saja." sambung Hani.
" Iya! yang penting anak kita sehat, bunda nya juga sehat." kata Monas.
" Kalau di tempat ini, adek jadi khilaf bang." kata Hani.
" Kenapa?"
" Baju adek bayi nya lucu - lucu. Padahal ini untuk satu tahun ke atas tapi rasa nya sudah ingin membeli nya." kata Hani.
" Tidak apa - apa dong!" kata Monas.
" Yang penting - penting dulu. Masih banyak kebutuhan untuk yang lain." kata Hani.
" Cukup dulu Abang sayang! Jangan semua di masukkan keranjang." kata Hani sambil mengambil dan meletakkan kembali ke rak.
Tetapi Monas tetap dengan cepat mengambil barang yang di letakkan ke rak oleh Hani dan si masukkan ke keranjang kembali.
" Ya ampun!" keluh Hani.
Monas tersenyum.
" Cukup! Ayo kita cepat pulang!" kata Hani akhir nya.
" Kenapa buru - buru? Kengen Abang ya? Bawaannya ingin cepat pulang." sahut Monas.
" Kalau lama - lama di sini uang Abang akan habis."
" Duit Abang tidak akan habis sayang!"
" Ais! Sombong nya" sahut Hani.
" Biar Abang yang antri di kasir. Adek duduklah di depan sana." kata Monas sambil menunjukkan tempat duduk yang kosong.
Hani tersenyum dan melangkah kan kakinya mendekati bangku kosong itu. Sesekali melihat suaminya yang masih antri di depan kasir. Mereka saling melempar senyuman seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.
__ADS_1