
Cinta itu ada pengorbanan. Cinta itu saling melengkapi. Cinta itu saling memberi dan menerima. Cinta itu harus di perjuangkan. Cinta itu egois. Iya, bersama orang yang dicintai akan merasakan kedamaian. Bersama orang yang dicinta akan merasakan ketentraman.
Mata Hani masih terjaga. Disampingnya masih ada Monas yang menjaga dirinya. Sekarang yang dijaga siapa, yang tidur siapa? Sampai akhirnya suara azan subuh berkumandang. Hani dengan pelan, membangunkan Monas yang tidur dikursi disampingnya.
" O..bang! bang! bangun!" kata Hani.
" Hem,iya dek!"
" Sudah subuh bg, kata nya mau balik ke hotel!" kata Hani
" Eh iya!" sahut Monas sambil meng kucek matanya.
" Abang ke kamar mandi dulu!" kata Monas sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
" Kalau jodoh, kita akan bertemu lagi." gumam Hani.
" Dek, Abang kembali ke hotel yah!" kata Monas setelah keluar dari kamar mandi.
" Iya, sukses yah, terimakasih untuk semua nya." sahut Hani.
" Ayo Nas!" ajak Ridwan yang tiba- tiba datang dari luar.
" Han! kami balik dulu ke hotel ya!" sambung Ridwan.
" Oke, trimakasih banyak bg!" kata Hani dengan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan mereka.
" Cepet sembuh ya Han." kata Ridwan.
" Dek! gak papa kan Abang tinggal?" tanya Monas sambil memegang kepala Hani. Hani melirik ke arah Ridwan. Ridwan pun tersenyum.
" Gak papa, lagi pula sebentar lagi adek juga mau kabur dari sini kok." kata Hani sambil tersenyum.
" Arifah!, titip Hani yah!" kata Monas.
__ADS_1
" Fa, titip ini buat bayar administrasi disini, nanti malam aku sempatkan telp kamu yah."
" Oke!" sahut Arifah sambil menghantar Monas dan Ridwan keluar dari rumah sakit di Solo Baru itu.
Hani mulai memejamkan matanya. Rasa kantuknya mulai menyerangnya.
" Han!" panggil Arifah yang tiba - tiba masuk kembali ke kamar bilik.
" Yaelah, pura- pura tidur."
" Mau nomer abangmu gak?"
" Han?"
" Ini kesempatan kamu biar bisa bersama lagi dengan Bg Monas."
" Han?"
" Aku tahu,kamu belum tidur loh."
" Han?, kenapa kalian tidak mencoba memperbaiki semua nya kembali."
" Yah Hani, di panggil pura - pura tidur."
" Han, Bg Monas sudah melunasi administrasi rumah sakit ini." sambung Arifah. Hani langsung membuka matanya.
" Besok kembalikan!" sahut Hani pelan.
"Ih...sombong amat!"
"Bukan begitu, kita kan gak tahu, kebutuhan dia saat ini, aku gak mau merepotkan dia Fa! lagian aku punya tabungan juga!"
" Iya..iya...percaya."
__ADS_1
" Kecuali dia sudah menjadi suamiku itu lain cerita Fa."
" Ngomong - omong Suami dan anak mu kenapa gak kemari Fa?" sahut Arifah sambil tertawa.
" Sialan kalian semua!"
" Haha, kamu yang memulai itu semua kan Han."
" Aku masih takut untuk memulai lagi Fa, apalagi aku di Solo dia di Jakarta."
" Di Jakarta dia sudah dekat dengan cewek mana saja,aku pun tidak tahu."
" Cerita - cerita waktu dia menjauhiku pun itu benar apa tidak aku juga tidak tahu."
" Alasan- alasan kenapa kita sama sekali tidak ada komunikasi setelah KKN itu pun,benar atau tidak,aku juga gak tahu."
" Yang aku tahu, semua yang aku lihat,aku dengar, aku rasakan, itu nyata - nyata sangat menyakitkan buat ku." kata Hani panjang lebar.
" ih, kamu dendam yah Han?"
" Tidak! aku hanya tidak.mau berharap lagi, agar aku tidak sakit lagi"
" Tapi kamu masih menyayangi Bg Monas bukan?"
" Iya benar! justru itu yang membuat aku takut Fa."
" Rasa sayangku itu,menjadikan aku sanggup menerima rasa sakit itu."
" Sekarang ini aku lebih takut."sahut Hani.
" Kamu mikir nya terlalu jauh."
" Aku pasrah Fa, kalau jodoh pasti kami akan selalu di dekatkan,itu saja!"
__ADS_1
" Nah, itu sudah dapat kuncinya."
sahut Arifah sambil memeluk Hani perlahan.