Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
mantra pertama


__ADS_3

"Ini benar-benar tidak masuk akal" Varo menggumam dan masih serius dengan tampilan videonya.


"Kakak bisa lihat kan kalau Vee nggak bohong" kata Vee yang ikut mengamati kerja sang kakak


Video itu memperlihatkan Sri yang tubuhnya berpendar saat kepalanya menyatu dengan badannya.


Mungkin efek pendaran kekuatan mistis yang membuat sosoknya bisa terekam oleh kamera canggih milik Vee.


"Bagaimana ini bisa terjadi, sangat tidak masuk akal" kata Varo yang sudah mendapatkan potongan Video yang sangat menarik.


"Kamu tahu siapa namanya?" tanya Varo yang terlihat ikut penasaran pada cerita Sri.


"Yang Vee dengar dari para supir, wanita itu bernama Sri Prameswari, kak" kata Vee yang membuat Hideo melotot, karena dialah yang menceritakan tentang Sri. Bukannya para supir.


Tapi Vee tak memperdulikan Hideo, yang penting dia bisa mencari tahu tentang Sri dari kakaknya.


"Sri Prameswari?" gumam Varo yang mulai berselancar di dunia maya untuk mencari informasi sebanyak mungkin dari nama itu.


Ada satu artikel yang menarik perhatian Varo, meski hanya sedikit berita yang ditampilkan. Tapi tetap harus Varo baca karena bisa saja dari informasi yang sedikit ini, bisa mengungkap hal yang lebih banyak.


"Sri Prameswari, gadis yang dikucilkan karena dianggap titisan tukang teluh yang sakti" Varo membaca artikel itu.


"Di tahun 1895, Sri datang ke salah satu kawasan di Banyuwangi bersama orang tuanya yang berasal dari pulau garam. Ayah dan ibunya diyakini sebagai tukang teluh yang sangat sakti".


"Tapi naas nasibnya. Karena di usianya yang menginjak 28 tahun, para warga menghakimi keluarganya karena hasutan dari orang yang tak dikenal untuk melenyapkan keluarga yang dianggap membawa sial di kampungnya".


"Karena semenjak kedatangannya, beberapa tahun berselang di kampung itu kedatangan warga Jepang yang berniat untuk menjajah mereka dengan berkedok sebagai pedagang".


"Hal yang lebih mengerikan adalah, para warga menemukan Sri tengah menjadi sandaran bagi sesosok pria muda berkebangsaan Jepang yang sudah taj bernyawa tanpa adanya luka sedikitpun di tubuhnya".


"Warga beramai-ramai memenggal kepala Sri dan juga orang tuanya. Bahkan tubuh dan kepala Sri di buang ke hutan terlarang di belakang gudang penyimpanan beras yang membuat hutan itu menjadi terlarang untuk dimasuki hingga saat ini" berita yang sama seperti yang Vee dengar dari para supir.


"Beritanya nggak mendetail, Vee" kata Varo.


"Iya kak, semuanya sudah Vee dengar dari para supir" kata Vee.


"Dia kasih tahu kamu sesuatu?" tanya Varo penasaran, tidak mungkin hanya omong kosong belaka saat ada satu sosok yang menampakkan diri dan tertuju pada orang yang dipilihnya.


"Nggak ada sih kak. Cuma Vee penasaran saja, kenapa dia menakuti Vee. Padahal ada banyak orang disana" kata Vee setelah melihat Hideo melarangnya untuk bercerita tentangnya.


"Kamu yakin nggak ada yang kamu sembunyikan?" tanya Varo menelisik wajah Vee yang tak bisa berbohong pada kakanya.


Vee masih terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa pada kakaknya ini. Varo cukup mengerikan saat pertanyaannya tak terjawab sempurna.


"Hei, kalian lagi ngapain?" Kenzo datang mengagetkan kedua kakak beradik itu.


"Uwah, kak Kenzo datang. Ayo masuk kak. Sini, Vee dapat video penampakan lho kak" kata Vee senang, Kenzo telah menyelamatkannya.


"Beneran Vee? Wah, kamu bisa viral lagi pasti" kata Kenzo yang ikut bergabung untuk melihat video yang Vee maksud.


Varo menghela napas jengah, Kenzo telah membuyarkan sesi introgasinya.


"Mana videonya? Lihat dong" kata Kenzo dengan semangat.


Vee segera meminta memory cardnya dari tangan Varo, dan membiarkannya berdua saja bersama Kenzo di kamarnya.


Sementara Vee harua segera kembali ke kamarnya sendiri dan segera bersiap untuk pulang ke rumahnya karena dia masih belum sempat membuka buku mantra milik Sri yang kata Hideo menyimpan banyak hal.


"Awas kamu, Vee" gumam Varo saat Vee meninggalkannya.


Setelah Vee selesai dengan barang-barangnya, segera dia mencari bundanya untuk berpamitan.


"Bunda, Vee mau pulang ya" pamit Vee saat melihat bundanya di teras, sedang sibuk dengan bunga-bunganya.


"Iya, kamu hati-hati ya" jawab Vani yang memang sudah hampir setahun ini Vee hidup mandiri.


"Bunda daritadi kok kayak bau pesing ya Vee. Apa ada kucing masuk dan kencing sembarangan?" tanya bunda Vani sambil menutup wajahnya dengan masker.


"Oh, pantesan pakai masker segala. Kok tumben sekali" kata Vee yang melihat bundanya.


Vee mengedarkan pandangan, dan segera dia tertawa saat melihat ketiga bocil nakal yang kepanasan terkena sinar matahari dan seolah sedang terikat oleh tali transparan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa Vee?" tanya bundanya heran.


"Oh, nggak apa-apa Bun. Mungkin memang ada kucing. Suruh kak Varo nyiramin halaman pakai selang aja bun. Biar ada kerjaannya, sekalian nyuruh kak Kenzo juga bun" kata Vee memprovokasi.


"Benar juga ya. Biar kakakmu itu nggak sibuk sama komputer terus" kata Vani yang setuju dengan saran Vee.


"Iya, betul. Ya sudah Vee pulang dulu ya bun, tugasnya sudah nungguin" kata Vee mencium punggung tangan bundanya setelah Vani melepas kaos tangan karetnya.


"Assalamualaikum, bunda" kata Vee mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" jawab Vani.


Vee segera menaiki motornya, memanaskan sebentar sambil mengamati ketiga bocil yang terduduk lemas dengan celana yang nampak basah. Mereka mengompol di halaman.


"Kasihan sih, di lepasin saja deh om" bisik Vee pada Hideo.


"Belum saatnya, mereka masih belum mau berubah" jawab Hideo dengan tampangnya yang selalu serius.


Vee hanya mengendikkan bahu, tak berniat ikut campur urusan pra hantu. Yang penting mereka tak mengganggu keluarganya.


"Dah, bunda" teriak Vee yang telah menjalankan sepeda motornya.


Dan Hideo masih saja melayang di dekatnya untuk ikut ke rumah Vee di bukit.


Tak lama berkendara, hanya lima belas menit dari rumah bundanya. Vee sudah sampai dirumahnya sendiri.


Kawasan ini selalu sepi, karena rata-rata pemiliknya tidak tinggal menetap disini. Hanya digunakan semacam villa yang akan didatangi saat liburan. Tapi ada satu pos pengamanan di setiap gang masuk.


Rumah Vee berada di tengah, tak terlalu naik ke atas bukit itu karena menurut Vee terlalu jauh. Yang penting dia bisa menikmati pemandangan kota di bawah bukit itu saat malam hari sambil bersantai di balkon. Menurut Vee itu sudah sangat menyenangkan.


Setelah membuka gerbang dan menaruh motornya di garasi, Vee masuk ke ruang tengah setelah mengunci gerbang depan.


"Rumah kamu sangat bagus, Vee" kata Hideo yang terpesona pada tempat tinggal Vee.


"Di zaman saya, semuanya terbuat dari kayu" kata Hideo yang masih menelisik isi bangunan.


"Tapi ukiran di zaman saya sangat indah, karena para pengukirnya membuat dengan sepenuh hati" kata Hideo membandingkan dengan rumah pada masanya dulu.


Diambilnya sebuah buku dan kembali dia membukanya.


Tetap, halaman pertama buku usang itu adalah tulisan nama Sri Prameswari dalam bahasa Jawa kuno, menggunakan aksara Jawa.


Halaman kedua bertuliskan nama Hideo Akihiro yang juga dalam Aksara Jawa.


Halaman ketiganya masih kosong, dan Vee menatap wajah Hideo setelah membuka halaman ketiga.


"Saya sudah bilang kalau ada mantranya untuk melihat tulisannya" kata Hideo.


"Apa mantranya?" tanya Vee penasaran.


Rawuhipun kabecikan soko angin


Guru Semar mugi angsal isun ngerteni


mugi pinaringan keikhlasan damel buka kawruhan saka alam, saka bayu, saka lemah, saka swara


Hideo melafalkan mantra utama yang dia hafal dari petunjuk yang Sri berikan padanya.


Vee telah mencatat ucapan mantra Hideo di buku nota kecil miliknya.


"Yakin ini mantranya, om?" tanya Vee memastikan.


"Ya, saya yakin. Kamu bisa mencobanya kalau tidak percaya" kata Hideo.


Vee tentu merasa tertarik, diapun duduk dengan tegak dan menaruh buku usang itu di telapak tangannya.


Sementara buku catatannya di meja agar bisa dibacanya dengan baik.


"Rawuhipun kabecikan soko angin


Guru Semar mugi angsal isun ngerteni

__ADS_1


mugi pinaringan keikhlasan damel buka kawruhan saka alam, saka bayu, saka lemah, saka swara"


Vee menggumamkan mantra sesuai petunjuk yang Hideo berikan.


"Tak terjadi apapun, Om. Kamu ngerjain aku ya?" keluh Vee yang tak mendapati perubahan apapun dari buku itu.


"Tunggu sebentar Vee. Buku itu sudah usang, sudah lama tak dibuka. Tentu saja perlu waktu untuk membukanya" kata Hideo yang melayang mendekati Vee yang memegang bukunya.


"Tuh lihat, tulisannya mulai terbaca" kata Hideo yang menunjukkan kemunculan tulisan di buku usang itu.


Vee takjub, terpana karena di masa lalu sudah ada teknologi semacam ini. Yang bahkan manusia di zaman ini belum bisa melakukannya tanpa bantuan elektronik.


Tapi orang di masa lalu, sudah bisa menyembunyikan rahasia semacam ini hanya menggunakan kekuatan sebuah mantra


Vee mencoba untuk membaca Aksara Jawa itu dengan sedikit terbata. Karena meskipun dia hafal pada setiap kata dalam Aksara Jawa, tapi untuk membacanya dalam sepenggal kalimat cukup membuatnya bingung.


"Sare ing wektu sore iku ala, mung luwih ala yen sare ing wektune bangsa alusan akeh lelunga"


"Tidur di sore hari itu buruk, tapi lebih buruk jika kamu tidur di saat para lelembut banyak berkeliaran ( maksudnya waktu dini hari/begadang)"


"Yen kapeksan, lan kowe pingin tangi ing wektu sing bener, wacanen tulisan iki"


"Jika terpaksa dan kamj harus bangun tepat waktu, bacalah tulisan ini"


"Marmati kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, sedulur papatku


Sing kalimo pancer


Reksanen jiwa ragaku


mengko jam ....


gugahen"


"Masak sih om, baca mantra ini bisa bikin kita bangun tepat waktu?" tanya Vee tak percaya


"Boleh kamu coba, Vee. Karena sayapun belum pernah mencobanya" jawab Hideo yang masih sibuk mengamati akuarium besar berisi aneka ikan hias yang berada dibawah tangga.


"Boleh deh, nanti kalau Vee sudah masuk sekolah akan Vee coba" gumam Vee yang kembali membuka halaman selanjutnya.


Dan Vee merasa cukup membosankan membaca halaman demi halaman yang semuanya bertuliskan aksara Jawa.


"Kenapa kamu tak melanjutkan membacanya, Vee?" tanya Hideo yang sudah masuk ke dalam akuarium itu, dan mengejar ikan-ikan yang berada di dalamnya. Tapi tentu asap itu tak terlihat basah.


"Om, ceritakan tentang Sri Prameswari dong" kata Vee yang malah membuat tampilan wajah hideo berubah masam.


"Kamu yakin mau mendengarkan kisah tentangnya?" tanya Hideo.


"Tentu, aku sangat tertarik padanya" jawab Vee yang sudah menampilkan wajah serius menatap Hideo.


"Baiklah, saya akan menceritakan tentangnya padamu" jawab Hideo yang tengah melayang mendekati Vee.


.


.


.


.


.


Buat kalian yang punya masalah dengan bangun pagi, coba saja mantra diatas.


Othor dapat mantra itu dulu waktu masih SMA, nggak sengaja nemu di salah satu koran dan saya coba.


Dan buat othor, mantra itu bekerja.


Othor bisa bangun tepat waktu jam berapapun yang othor mau meskipun malamnya begadang.


Selamat mencoba kalau kalian penasaran

__ADS_1


🤗🤗🤗


__ADS_2