Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Panik


__ADS_3

"Hai, nona Veronica! Ssttt!! Jangan berbicara terlalu keras" ucap sesosok makhluk cantik yang sudah mulai terlihat wujudnya. Makhluk yang tadi keluar dari arah belakang Vee.


"Belum juga ngomong" bisik Vee lebih pada dirinya sendiri.


"Apa kau masih ingat denganku, nona Veronica?" tanya Makhluk cantik yang berdandan seperti seorang putri itu.


Vee masih memandangi wajahnya dengan seksama. Wajah yang terpahat sangat sempurna. Dengan senyum mengembang yang membuatnya tampak lebih menawan.


"Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi...."


"Oh iya, kau yang menyelamatkan aku saat Sri ingin mencelakaiku, bukan? Kau datang dari lionti yang aku dapatkan dari toko benda antik milik Arfi, benar kan?" tanya Vee dengan mata berbinar, akankah ada sedikit harapan untuknya bisa lepas dari tempat ini.


"Iya, kau benar sayang. Aku yang dulu menyelamatkanmu. Sekarang, ada apa lagi ini?" tanya Si putri cantik.


"Aku tidak percaya kalau temanku mengkhianatiku. Ternyata dia diam-diam memang menginginkan agar aku celaka. Bahkan dia mengikatku seperti ini, putri" ucap Vee memelas.


"Oh, sungguh kasihan. Sebenarnya aku sudah mendengar semuanya. Tentang percakapanmu dengan temanmu yang bernama Daren itu kan?" tanya Putri itu dengan santai, sambil mengecek kukunya yang mungin sedang kotor.


"Sudah tahu kenapa masih bertanya?" gumam Vee.


"Tapi tenang, aku akan melepaskan ikatanmu" ucap Putri itu sambil menjentikkan jarinya.


Dan seperti sulap, ikatan di tangan dan kaki Vee melonggar dan lama-kelamaan terlepas dengan sendirinya.


"Ah!! Sakit sekali" ucap Vee setelah ikatannya terlepas.


Melihat pergelangan tangannya sedikit memar karena kencangnya ikatan, Vee pun memastikan kondisi pergelangan kakinya yang juga nampak memerah.


Belum lama dia merasakan kebebasan, rupanya sudah ada yang membuka pintu dari luar.


Tentu hal itu membuat Vee terkejut dan bersama dengan sang putri, mereka kompak menoleh ke arah pintu yang terbuka.


Nampak Helen, Daren dan si raja ular datang dengan nampan berisi makanan yang Daren bawa. Sepertinya pria itu sudah terbebas dari hipnotis yang raja ular berikan padanya.


"Hei, lihatlah. Sepertinya kita kedatangan tamu istimewa" ucap raja ular sambil mengamati wajah cantik sang putri.


Dasar raja player, matanya tak bisa melihat wanita yang nampak sedikit lebih cantik daripada pasangannya. Mata raja ular seolah terkunci pada wajah cantik sang putri.


"Tamu siapa? Memangnya ada orang lain disini?" tanya Helen dengan ketusnya, karena melihat rupa sang raja yang seperti sedang memuji seseorang.


"Oh, rupanya kau tak bisa melihatnya ya" kata sang raja yang kemudian mengusap pelan wajah Helen.


Dan tampillah oleh pandangan matanya apa yang sedang raja Anantaboga pandangi. Memang sang putri nampak sangat cantik dalam balutan gaun berwarna putih seperti gaun yang dipakai oleh para pemain barbie fi televisi .


Sementara Vee yang nampak sangat panik hingga bola matanya membola, tidak dengan sang putri yang tetap menampilkan senyum mautnya terhadap semua lelaki.


Senyuman mistis yang membuat semua lelaki akan langsung tergila-gila terhadapnya, bukan hanya lelaki dari alam gaib saja, lelaki dari alam nyata pun akan merasakan hal yang sama saat melihat senyum indahnya.


"Ternyata kau masih memiliki pasukan untuk memberimu pertolongan ya, Vee?" tanya Daren santai, sambil berjalan mendekati Vee yang masih duduk di lantai dengan senampan makanan di tangannya.


"Putri, bagaimana ini?" tanya Vee lirih, melirik ke arah putri yang saling bertatapan dengan raja Anantaboga.




Rombongan Seno semakin kelabakan mencari Vee yabg seolah hilang ditelan bumi. Bahkan Ci, makhluk terbontot dari grup HoRoCi sudah menangis karena tak mendapat sedikitpun signal untuk mendeteksi keberadaan Vee kali ini.


__ADS_1


"Diamlah Ci. Sudah, hentikan tangisanmu itu. Kita harus yakin kalau kita visa menemukan keberadaan Vee" hibur Ro yang tak tahan mendengar tangisan adiknya.



"Ini semua tidak akan terjadi kalau salah satu diantara kita ada yang menjaganya. Tidak semua harus maju melawan satu makhluk yang sudah jelas hanya digunakan untuk mengecoh kita" kata Ci yang merasa sangat menyesali perbuatannya.



"Bisakah kalian diam? Sepertinya ada sesuatu yang sedang mencoba untuk memberi kita petunjuk tentang keberadaan Vee" ucap Seno sambil terpejam, merasakan getaran lirih dari angin sore yang membelai rambutnya.



Semuanya terdiam dan memandangi Seno yang berdiri terpejam.



HoRoCi, Hendra, Aish, Rey dan James yang sebelumnya duduk melingkar karena membahas rencana yang akan mereka lakukan menjadi sedikit terkejut. Semuanya melihat ke arah Seno kali ini.



"Apa yang kau lihat, Sen?" tanya Hendra.



"Sesuatu sedang mengirimkan kabar tentang keberadaan Vee melalui bisikan angin" ucap Seno yang masih memejamkan matanya.



Yang nampak oleh Seno adalah sebuah rumah dua lantai yang cukup megah dengan nuansa minimalis dan sepi.



Sekitaran tempat itu hanyalah pepohonan rindang yang tumbuh di sekitar jalan komplek yang tertuju ke rumah itu.




"Ah sial! Kita harus cepat ke tempat itu. Karena bukan hanya nyawanya saja yang berada dalam bahaya, kondisi sebelum orang-orang yang menginginkan kematian Vee adalah sebuah kondisi yang mengenaskan. Aku yakin jika sampai hal itu terjadi dan Vee masih ditakdirkan selamat, maka rasa trauma akan membuatnya gila" kata Seno dengan wajah penuh amarah.



Tidak ada waktu yang cukup untuk menjelaskan pada semuanya, yang pasti mereka harus segera menemukan keberadaan Vee dan menyelamatkannya sebelum hal yang sangat buruk benar-benar terjadi padanya.



"Ayo cepat kita pergi" ajak Seno sambil meraih kunci mobilnya diatas meja.



Dan segera beranjak ke tempat mobilnya yang terparkir du tempat yang cukup jauh dari area camping.



"Sebenarnya ada apa, Sen? Beri kami penjelasan sedikit saja" tanya Aish yang mengikuti pergerakan sahabatnya itu.



"Tidak ada waktu, yang jelas Vee sedang dalam bahaya besar. Kita harus segera ke tempatnya dan menolongnya" kata Seno masih dengan langkah terburu-buru.

__ADS_1



"Ah sial! Pasti mereka sudah menyiapkan semuanya berawal dari tempat ini" keluh Seno, memang jarak dan medan yang harus mereka lalui untuk sampai ke parkiran sedikit sulit dan juga cukup jauh.



Sambil berlari, Seno melakukan telepati terhadap HoRoCi agar makhluk itu bisa segera mendahului untuk segera ke tempat dimana Vee disekap.



"Oh tidak, kita memang harus cepat. Ayo kita segera kesana, Ro, Ci" teriak Ho yang kini sudah sama-sama menghilang dari tempat itu.



"Apa tempatnya jauh, Sen?" tanya Aish.



"Lumayan. Semoga kita bisa sampai di waktu yang tepat" kata Seno dengan sorot mata penuh kekhawatiran.



Sedikit berlarian, akhirnya mereka bisa masuk ke dalam mobil Seno dan membiarkan Hendra untuk menyupir karena kondisi emosional Seno yang tak memungkinkan untuk membawa rombongan dalam satu mobil dalam keadaan panik.



"Bisa beritahu gue dimana alamatnya, Sen? Biar gue minta bantuan sama orang-orang yang mungkin dekat dengan lokasi" ucapan Aish sepertinya benar, oh Tuhan... Sang princess memang selalu berfikir jernih.



Seno memberikan alamat yang dia tahu, tapi rupanya tidak ada pertolongan yang sepertinya akan datang lebih cepat untuk menolong Vee.



"Sepertinya tempat itu terlalu terpencil. Tak ada yang cukup dekat dari sana" kata Aish mulai panik.



"Oh, ada. Tolong kau hubungi orang ini, Aishyah" ucap Seno sambil memberikan secarik kertas pada Aish.



"Baiklah, segera gue hubungi" ucap Aish yang sudah disibukkan dengan ponselnya untuk menghubungi orang yang Seno maksud.



Apakah mereka akan datang tepat pada waktunya?



Bisakah Vee selamat dari para penyekapnya?



Cukupkah kekuatan Putri untuk melawan raja Anantaboga hingga tak membutuhkan bantuan dari rombongan Seno?



.

__ADS_1


.


.


__ADS_2