Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Bogo, kiriman dari pria berkupluk hitam


__ADS_3

"Disini senang, disana senang


Dimana-mana hatiku senang"


Vee bernyanyi lirih sambil mengikuti arahan dari seniornya.


Bersama Rey dan James, gadis nakal itu rupanya berhasil pergi meski tanpa izin dari Seno dan orang tuanya.


Tanpa rasa bersalah, dengan hati yang sangat gembira Vee berjalan santai menuju lembah savana di suatu bukit yang dipilih untuk berkemah hingga hari Minggu nanti.


"Lo nggak takut dimarahi sama cowok lo ya Vee?" tanya Rey yang masih saja tak setuju dengan keputusan sepihak temannya ini.


"Tau nih bocah, nakal banget. Mana kelihatan girang banget lagi. Memangnya lo nggak pernah camping? Katro banget" giliran James yang merasa khawatir.


"Sudah, kalian tenang saja. Hape sudah aku tinggalin dirumah, jadi aman deh. Kak Seno nggak bakalan bisa nyari aku. Hehe" ujat Vee sangat semangat, seperti anak ayam yang baru keluar dari kandang.


"Kalau sampai ada apa-apa sama lo, pasti kita berdua yang disalahin deh, Vee. Males banget kita berteman sama anak nakal kayak lo" masih terdengar Rey yang menggerutu.


"Sudah deh, kalian berdua cerewet banget sih. Sudah terlanjur disini juga kan. Sebentar lagi pasti sampai. Sekarang kita cuma bisa berdoa semoga kita semua bisa selamat sampai kembali ke rumah nanti" kata Vee tanpa ragu.


Sambil tetap membidik obyek apapun yang menurutnya menarik.


Sedangkan kedua temannya sudah sangat jengkel karena berhasil ditipu oleh Vee yang katanya sudah diizinkan oleh keluarganya.


Bukan tanpa alasan Rey bersikap begitu, karena jika adik perempuannya belum juga kembali ke rumah di waktu yang tidak biasa, maka dia akan merasa sangat khawatir dan pasti akan kebingungan mencarinya.


Dan bisa dipastikan nanti Seno akan bersikap sepertinya jika tak mendapati Vee pulang. Dan melihat wajah tak berdosa milik Vee, rasanya pria itu ingin sekali menjewer telinganya.


"Kenapa lo? Berhenti tiba-tiba" kata Rey yang masih bermuka masam saat Vee menghentikan langkahnya.


"Nggak apa-apa sih Rey. Cuma rasanya kok kalung aku bergetar, ya" katanya sambil memegangi kalung kristal HoRoCi.


"Perasaan lo doang kali, ayo kita terusin jalannya. Kalau ketinggalan bisa bahaya" ajak Rey.


Vee mengangguk, dan berjalan kembali meski masih merasakan getaran dari kalungnya yang terasa cukup keras daripada sebelumnya.




"Aarghh.... Sialan!!" teriak pria berkupluk hitam yang tidak berhasil mencelakai papa Seno.



Bahkan dia memuntahkan darah segar dari mulutnya seiring lenyapnya kuntilanak yang dia kirimkan untuk menghabisi nyawa Papa Seno.



"Hahaha, menarik. Lumayan juga anak bau kencur ini" gumamnya sambil menyeka lelehan darah yang tersisa di sudut bibirnya.



"Baiklah, bagaimana kalau kita coba dengan ibumu saja dulu" kata si pria berkupluk hitam yang sudah ingin mencoba keberuntungan dari Mommy Seno.



Sebenarnya dadanya terasa sakit. Musnahnya si Kunti yang dia kirimkan tadi, membuat sebagian serangan jahatnya harus kembali padanya dan menyerangnya.



Seperti sebuah bumerang, jika si pengendali tak memiliki kemampuan untuk menangkap senjata itu, maka bisa dipastikan jika akan membuatnya terluka. Ibaratnya, senjata makan tuan.

__ADS_1



Dan begitulah kekuatan gaib jahat. Jika kirimannya gagal, maka akan mencelakai dirinya sendiri.



"Dimana wanita itu? Kenapa saya tidak bisa melihatnya dari sini?" gumam si pria berkupluk hitam, penerawangan yang dia lakukan tidak bisa melihat dengan jelas dimana sang Mommy berada.



"Baiklah, rupanya saya harus memerintahkan Bogo untuk menyerang dengan halus wanita itu" kata si pria berkupluk.



Bogo adalah jin jahat yang berhasil dilumpuhkan oleh pria itu, dan memaksanya untuk melakukan perjanjian agar bisa menjadi budak baginya.



"Hamba hadir, tuan. Apa yang harus hamba lakukan?" tanya Bogo dengan sangat patuh.



"Pergi ke rumah wanita ini, dan bermainlah dengannya sesuai keinginanmu. Setelah dia merasa takut, serang dia dari dalam. Dan biarkan dia merasakan sakit hingga ajal menjemputnya, hahaha" rupanya si pria sangat marah pada Seno yang sudah berhasil mengalahkannya.



Dan Mommy nya, yang tak bersalah malah menjadi target kemarahannya.



"Sendiko dawuh, tuanku. Hamba segera melaksanakan perintah tuanku" jawab Bogo yang segera menghilang.




Sedangkan kedatangan Bogo di rumah Seno rupanya bukan disaat yang tepat. Karena Mommy Seno dan Aish sedang melakukan solat berjamaah dan meneruskan dengan dzikir. Bahkan keduanya melakukan solat Maghrib berjamaah di mushola di dekat rumah Seno.



"Aaarggh. Kurang ajar! para manusia itu sedang memuji Tuhannya. Hamba belum bisa melaksanakan tugas darimu, tuanku" gerutu Bogo yang tengah menunggu Mommy Seno di luar musholla.



Hingga setelah ibadah sholat isya selesai, terlihat Mommy Seno dan Aish keluar dari mushola bersama jamaah yang lain.



Rupanya mereka baru saja selesai mengikuti acara tausiah tiap Jum'at malam yang rutin diadakan di mushola itu.



"Mommy senang sekali karena kamu mau menemani Mommy, princess. Sudah lama sekali kan kita tidak pernah beribadah bersama" ujar Mommy Seno bahagia mengenang kebersamaan mereka dahulu.



"Iya mom, kebetulan Richard juga sedang ke luar kota. Dia lagi ngecek lokasi untuk rencana pembukaan cabang cafe Destinasi, mom" kata Aish bangga dengan hasil kerja suaminya.



"Uwah, kalian hebat banget. Tapi Alhamdulillah lho, Seno sekarang sudah mau fokus ke perusahaan. Sekarang dia lagi ikut papinya ke Bandung buat meeting sama klien" kata Mommy Seno.

__ADS_1



"Iya, Aish juga senang melihat perubahan Seno sekarang, mom. Dia jadi lebih dewasa dan nggak se resek dulu kan ya" kata Aish mengutarakan pendapatnya.



"Iya, princess. Tapi mommy agak heran sedikit sih sama sikap dia semenjak ditemukan kembali dari hilangnya dia dulu" kata Mommy Seno mengeluhkan sikap anaknya.



"Kenapa memangnya, Mom? Aish rasa, dia jadi lebih baik daripada sebelumnya. Dia terlihat semakin dewasa" ujar Aish yang tak pernah negatif thinking.



"Semenjak kejadian itu, dia panggil Mommy tuh ibu, dan papi dipanggil ayah. Terus juga, dia jadi sedikit pendiam. Ehm, sikapnya jadi sedikit mirip sama Richard" kata Mommy Seno.



"Bahkan waktu kita di Malang dulu, dia sempat gulat sama kakak laki-lakinya Vee yang namanya Varo. Yang mommy herankan, dia jadi jago silat gitu" kata Mommy Seno.



"Masak sih, mom?" heran Aish.



"Iya, benar. Makanya mommy jadi sedikit merasa aneh gitu sama perubahannya si Seno" tegas Mommy Seno.



Keduanya terlibat obrolan santai yang seru. Tanpa mereka sadari jika bahaya tengah mengintai.



Karena Bogo telah siap untuk melancarkan aksinya untuk mencelakai Mommy Seno malam ini juga.



Sampai di rumahnya, Mommy yang meneruskan langkahnya hingga ke kamarnya untuk meletakkan mukena, dengan santainya langsung masuk ke dalam kamar yang tak terkunci.



Sementara Aish pun yang sengaja Mommy Seno undang untuk menginap di rumahnya juga tengah memasuki kamarnya sendiri.



"Aaaahhhhhh" Aish terjingkat kaget karena mendengar teriakan Mommy Seno yang sepertinya berasal dari kamarnya.



Segera Aish berlari menuju kamar mommy untuk mengetahui keadaan wanita yang sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri.



"Mommy kenapa?" tanya Aish panik, rupanya sudah ada bibik juga yang juga merasa terkejut dan segera datang ke kamar mommy.



.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2