Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
kejadian dimalam purnama


__ADS_3

"Hoam... Baiklah. Aku pasti akan mengingatnya. Sekarang jam berapa sih, kak?" tanya Vee yang masih duduk diatas ranjangnya dengan selimut sebatas paha.


Dengan bahasa isyarat, Hideo memerintahkan Ho untuk membuka tirai jendela kamar Vee.


Ho yang mengerti lantas membuka tirai itu dengan satu tarikan tangan dengan gerakan melayang di udara.


Sinar matahari langsung nampak sempurna. Memasuki ruang kamar dengan penuh.


"Hahaha, sudah siang ya kak" Vee menertawakan dirinya yang bangun kesiangan.


"Tapi nggak apa-apa deh. Kan sekolah juga lagi libur, jadi bisa santai" ujarnya.


"Kalau kamu hidup di zaman saya, sudah dipukuli dengan rotan kamu sama ibumu" ejek Hideo.


"Untung saja ya aku nggak hidup di zaman kakak. Apalagi punya bunda sebaik bundaku, uwah... Jauh dari kata pemukulan. Memarahiku saja bunda nggak pernah" Vee berujar sambil bersiap ke kamar mandi.


Melihat itu, Hideo segera keluar kamar bersama HoRoCi. Mereka akan menunggu dibawah sambil mengunjungi penghuni pohon di sebelah rumah Vee, siapa lagi kalau bukan para gendruwo.


Selang beberapa lama, Vee sudah siap dengan baju santainya. Dengan kamera yang audah terlampir di leher, Vee akan hunting foto lagi rupanya.


"Kamu nggak sarapan dulu, Vee?" tanya Hideo.


"Nggak deh kak, nyari makan diluar saja. Aku lihat ada pemandangan bagus diatas bukit kemarin. Aku pingin kesana lagi" kata Vee yang sudah dibuntuti oleh pasukan astralnya.


"Yeee, main" seru HoRoCi senang.


Hideo pun mau tak mau juga mengikuti arah langkah Vee kemanapun gadis itu pergi. Apalagi ini adalah hari terakhirnya, dia ingin wajah Vee yang menjadi wajah terakhir sebelum dia meninggalkan dunia ini.


Vee berjalan santai, sambil sesekali menyapa orang yang berpapasan dengannya. Dia memang se humble itu.


Dan Hideo bangga pada gadis kecil yang sudah sangat mandiri ini, tapi tak pernah lupa pada tata cara hidup bermasyarakat yang baik.


"Kita kesiangan ya kak. Sebenarnya aku penasaran bagaimana situasi disini kalau gelap. Paa pagi hari atau senja gitu. Pasti indah banget ya kak" Vee berkata sambil celingukan mencari warung.


"Kenapa kamu seperti orang bingung, Vee?" tanya Hideo.


"Hehe, lapar kak. Nyari warung makan" ucapnya sambil menyengir.


"Itu, disana ada warung. Kamu istirahat saja dulu untuk mengisi perut. Daritadi kami sudah berjalan cukup jauh" kata Hideo.


Vee mengangguk, mengikuti arah tangan Hideo yang menunjuk sebuah warung pecel yang kebetulan masih buka.


Selesai dengan urusan perutnya, Vee semakin bersemangat untuk mengeksplorasi keindahan bukit di dekat kawasan tempat tinggalnya.


Menjelang waktu ashar, gadis itu baru bisa sampai ke puncak bukit karena dia memilih untuk melintasi jalan yang memutar menghindari jalan raya demi mendapatkan foto-foto cantik yang diidamkannya.


Tak lupa kamera kecil yang dia letakkan di kepalanya untuk mengabadikan perjalan terbaik yang di klaimnya dilakukan seorang diri, padahal dia dikawal oleh empat pasukan astral yang selalu lengket dengannya.


"Huft, capek banget kak" kata Vee sambil mengibaskan topinya yang beralih fungsi menjadi kipas.


"Kamu berjalan terlalu jauh, apa kamu tidak membawa bekal?" tanya Hideo.


Vee hanya menggeleng, karena tepat setelah Hideo bertanya begitu, perutnya kembali bersuara.


"Hehehe, lapar kak" ucapnya sambil menutupi perut.


"Biar kami carikan ikan yang besar untukmu, Vee" kata HoRoCi dengan semangat langsung menceburkan diri ke sungai.


Mereka sedang beristirahat di sebuah sungai, sengaja Vee tidak ke puncak bukit karena tempat inilah yang dia lihat berkilau saat menapakkan kakinya diatas bukit kemarin.


"Uwah, makasih loh ya" ujar Vee girang.


Hideo menggerak-gerakkan jarinya untuk menggunakan kekuatannya agar bisa mengumpulkan banyak ranting untuk dibakar.


Sedangkan Vee tentu sibuk dengan kameranya, dan dia terlihat asyik melihat video perjalanan yang terekam oleh kamera di kepalanya tadi.

__ADS_1


Tak butuh banyak waktu, HoRoCi telah mendapatkan tiga ekor ikan yang berukuran cukup besar.


"Uwah, ikannya besar-besar ya" kata Vee senang.


"Tentu dong, kita kan pintar" ucap Ho membanggakan diri.


Dengan bantuan Hideo, Vee bisa membakar ikan-ikan itu untuk menjadi santapannya nanti.


Satu ikan sudah matang, Vee sudah tidak sabar untuk mencicipinya.


"Hengmh ... Rasanya enak meski tidak pakai bumbu ya kak. Manis dan segar" ucap Vee menilai makanannya.


"Ya, ikan segar seingat saya memang terasa enak" ucap Hideo tanpa ekspresi.


Vee terus saja mengunyah ikan malang itu sampai tak menyisakan dagingnya.


"Sepertinya aku masih kurang, kak. Hehehe" kata Vee yang sudah menghabiskan dua ekor ikan.


"Makanmu banyak ya" ejek Hideo.


"Ikan itu dagingnya sedikit, kak. Apalagi ini nggak pakai nasi, pasti lah aku masih lapar" rengek Vee.


"Iya, habiskan saja semuanya. Saya tidak suka" kata Hideo yang membantu Vee agar bara untuk membakar ikan tetap stabil.


Setelah menghabiskan tiga ekor ikan bakar dan meminum sebotol air, kini Vee merasakan kantuk.


Apalagi suasana sore dengan angin semilir membuat suasana bertambah syahdu.


"Hoam, kenyang jadi ngantuk kak" kata Vee.


Hideo hanya diam, tapi sudut matanya selalu memperhatikan gerakan Vee yang terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam tas ranselnya.


"Nah, ketemu" ujar Vee senang.


Rupanya dia sengaja membawa alas berupa karpet lipat kecil yang biasanya memang untuk piknik.


"Uwah, nyamannya" ucap Vee yang bersender pada sebayang pohon dan selonjoran kaki.


"Suasana begini membuatku jadi sangat ngantuk kak".


Setelah mengucapkan itu, Vee benar-benar menutup matanya. Rupanya dia benar-benar tertidur.


Hideo melayang mendekat pada Vee, melihat gadis itu tertidur pulas membuat tugasnya bertambah untuk menjaga tuan putri yang sedang tertidur.


"Kamu benar-benar melupakan hari ini ya, Vee" gumam Hideo tepat didepan wajah Vee yang terpejam.


"Malam ini purnama akan bersinar terang, Vee. Dan setelah malam berganti pagi, tepat di detik pertama setelah tengah malam, maka sudah bisa dipastikan jika Tuhan akan mengirim malaikat pencabut nyawanya untuk saya" kata Hideo lirih.


"Tapi tidak apa-apa Vee, karena saya sudah merelakan semuanya. Jiwa saya terlalu lelah setelah lebih dari seratus tahun melayang tak tentu arah".


"Dan hari ini adalah puncaknya. Jika manusia lain tak tahu kapan ajalnya akan menjemput, lain halnya dengan saya yang hanya dibatasi oleh empat purnama" Hideo melayang mendekat pada ketiga bocil setan untuk berpamitan.


"Hei kalian" ucap Hideo memanggil mereka.


"Ada apa pangeran?" tanya Ho yang sudah duduk bersila bersama kedua saudaranya untuk mendengar ucapan Hideo.


"Karena malam ini adalah malam terakhir saya di dunia ini, maka esok hari setelah saya pergi, saya mohon pada kalian untuk tetap setia menjaga Vee dari segala sesuatu yang akan membahayakannya. Dia gadis yang baik" kata Hideo sambil memperhatikan wajah tenang Vee yang tertidur.


"Tidak pangeran, yakinlah jika kau akan tetap ada disini bersama kita semua" ucap Ho yang tidak rela ditinggalkan oleh Hideo.


"Sudahlah, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Siap atau tidak siap, memang waktu saya hanya sebatas empat purnama. Dan jika nanti waktunya tiba, jangan pernah kalian pergi meninggalkan Vee" kata Hideo.


Vee sudah punya tempat tersendiri rupanya.


"Tidak pangeran, kami yakin pasti akan ada jalan keluar. Pasti pangeran akan tetap ada bersama kami" kata Ro yang sudah berair mata.

__ADS_1


Hideo diam saja setelahnya, hanya memandangi wajah teduh seorang Veronica yang sedang tidur nyenyak.


Dan selalu saja kebiasaan Vee saat tidur adalah membuka baju atasannya hingga memperlihatkan perut rata dan mulusnya.


Beruntung jiwa tersesat semacam Hideo tidak punya hasrat pada lawan jenisnya. Kalau tidak, sudah dari awal pertemuan mereka mungkin Hideo akan kehilangan kendali untuk bertindak macam-macam pada Vee.


Hingga senja berganti malam, rupanya Vee masih betah untuk memejamkan matanya.


Sampai-sampai HoRoCi harus membuat penerangan dengan cara memanggil segerombolan kunang-kunang yang sedang beterbangan disepanjang sungai agar mau bersatu dan membuat cahaya hijau dari ekornya bisa menerangi sekelilingnya.


"Ehm, Hoam..." akhirnya Vee bangun dari hibernasinya.


Matanya sedikit memicing saat melihat pendaran cahaya hijau dari kunang-kunang.


"Hah? Sudah gelap sekali. Kenapa kamu nggak bangunin aku sih, kak?" tanya Vee gelagapan.


Bagaimanapun dia sendirian di hutan ini, dan itu membuatnya sedikit ngeri meski sudah ditemani oleh teman-teman gaibnya.


"Kamu tidur nyenyak sekali, saya tidak tega untuk membangunkanmu, Vee" kata Hideo.


"Tapi kan ini sudah malam sekali. Tuh lihat sudah jam sepuluh malam" kata Vee sambil memperlihatkan layar ponselnya.


"Yasudah, sekarang kamu siap-siap saja lalu kita pulang" kata Hideo santai.


Dan Vee menurut, segera merapikan tikar kecilnya dan memasukkan ke dalam tas ransel. Tak lupa dengan kameranya juga, harta paling berharga yang dia punya.


"Sudah kak, ayo pulang" ajak Vee.


Semuanya mengangguk, dengan langkah perlahan Vee menapaki permukaan tanah dengan penerangan bulan yang bersinar penuh.


"Malam ini bulannya bersinar terang ya, kak" kata Vee dengan ceria.


Tapi seketika raut wajahnya berubah setelah mengingat sesuatu. Sekarang dia fokus memandangi Hideo yang melayang di sisinya.


"Itu kan artinya, ini akan menjadi malam terakhir bagimu kan, kak?" tanya Vee setelah membalikkan badan dan menatap Hideo.


"Iya, anggap saja perjalanan ini adalah kenangan terakhir kita bersama. Saya pasti akan terus memantaumu dari atas sana, Vee" kata Hideo.


Vee menggeleng, tidak suka mendengar penuturan Hideo.


"Jangan kak, apakah mungkin ada jalan terakhir untuk memberimu kesempatan agar bisa tetap disini?" tanya Vee.


"Sayangnya tidak ada, Vee. Sudahlah, lagipula sangat tidak enak tersesat pada jiwa melayang seperti ini. Saya juga butuh kepastian untuk tetap hidup atau harus ikut malaikat maut yang akan tuhan kirimkan untuk saya nanti" ujar Hideo yang semakin membuat hati Vee terasa sesak.


Brugh!!!


Dalam keheningan malam diiringi jatuhnya air mata Veronica, terdengar suara aneh yang sepertinya tak jauh dari arah Vee berdiri.


"Kakak dengar suara itu?" tanya Vee berbisik.


Hideo mengangguk, diapun menajamkan telinganya sambil melayang mendekati sumber suara.


"Sepertinya berasal dari arah sana" kata Hideo menunjuk ke arah dekat jurang landai.


"Ayo kita periksa" ajak Hideo.


Vee mengangguk, dengan hati-hati dia melangkah dengan berusaha tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Begitu melihat pemandangan didepannya, Vee lantas melotot dan menutup mulutnya rapat.


Diapun seolah tak percaya dengan kejadian yang sedang terjadi dihadapannya.


Masih dalam keadaan syok, Vee reflek mengambil kameranya untuk merekam kejadian yang sedang dilihatnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2