
Empat bulan menjelang Ujian Nasional memang sangat melelahkan.
Setiap hari Vee yang pulang sekolahnya sudah sangat sore, yaitu jam empat, sekarang harus ditambah dengan pelajaran tambahan sampai jam lima sore.
Meski setiap hari Sabtu dan Minggu sudah diberikan waktu untuk libur, tapi tetap saja dia harus merasa kesulitan untuk menyiapkan bekalnya.
Jadilah Hideo, asap yang akhir-akhir ini selalu menemaninya bersedia membuatkan bekal makanan untuk Vee setiap harinya.
Dua minggu bersama, Hideo sudah cukup lihai menggunakan kekuatannya untuk melakukan sesuatu.
Seperti hari ini, Hideo dengan sengaja membuatkan menu masakan dengan resep baru yang Hideo lihat dari sebuah aku yutub yang memperlihatkan tutorial memasak.
"Kamu bawa bekal apa, Vee?" tanya teman sekelas Vee siang ini, saat dimana semua murid dipersilahkan untuk memakan bekalnya.
"Aku juga tidak tahu, Bin" jawab Vee sambil membuka kotak bekalnya.
Kotak bekal itu telah terisi nasi dan beberapa gurita berukuran sedang yang sudah dibumbui.
"Hiii, apaan tuh Vee?" tanya Bintang lagi.
"Aku juga nggak tahu, Bin. Kayaknya gurita, ya" jawab Vee sambil mengangkat lauk istimewa buatan Hideo.
Vee menoleh pada Hideo yang terlihat menyunggingkan senyumnya saat Vee menatapnya.
"Itu pasti terasa sangat lezat, Vee. Cobalah! Semalam aku menemukan resepnya melalui internet" kata Hideo yang sudah tidak asing lagi dengan dunia Maya.
Vee bergidik sebentar, tapi tetap saja dia mencoba satu gigitan kecil pada kaki gurita yang sengaja dipotong memanjang oleh Hideo.
"Rasanya lumayan juga" kata Vee setelah menelannya.
"Masak sih Vee, boleh aku coba?" tanya Bintang yang ikut penasaran.
"Hem.. Ternyata enak juga, Vee" komentar Bintang.
"Tukeran lauk, yuk" kata Bintang yang ternyata menyukai rasa gurita bumbu saos hitam buatan Hideo.
Vee setuju, memberikan sepotong lauknya dan Bintangpun juga menukar sepotong ayamnya.
Sampai dirumah, Hideo masih saja menyombongkan diri setelah makanannya disukai banyak orang.
"Sudahlah kak, telingaku sakit setiap kamu memuji masakanmu yang sudah habis itu" kata Vee yang merasa terganggu karena dirumahpun, dia masih harus mengerjakan banyak tugas demi kelancaran ujiannya.
"Oh maaf, aku mengganggu waktu belajarmu ya?" tanya Hideo.
Vee hanya mengangguk sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena soal yang terlalu rumit menurutnya.
"Soal ini sulit sekali sih" gumam Vee.
"Coba sini saya lihat" kata Hideo.
Vee mencebik, "Aku saja kesulitan, apalagi kamu yang tidak pernah sekolah, kak" kata Vee meremehkan Hideo.
__ADS_1
"Coba saja sini saya lihat" kata Hideo.
Vee menyodorkan kertas soalnya pada Hideo yang berada di hadapannya.
"Ini sangat mudah Vee, sini aku bantu" kata Hideo sambil menuliskan dengan ujung jari telunjuknya mengenai penyelesaian dari soal yang sedang Vee kerjakan.
Vee sangat takjub melihatnya, tak percaya jika sesosok asap didepannya ini ternyata sangat brilian.
"Uwah, cara mengerjakannya jadi semakin mudah kalau pakai rumus yang kakak ajarkan" kata Vee.
"Kau saja yang terlalu meremehkan saya, Vee. Sebenarnya saya adalah pria dengan otak yang sangat cerdas" kata Hideo menyombongkan dirinya.
"Pantas saja di zaman dulu, kamu jadi primadona para gadis di kampungmu ya kak" kata Vee yang memandangi wajah tampan Hideo.
Membuatnya jadi salah tingkah saja.
★★★★★
"Aaaahhhhh" Vee berteriak saat terbangun dari tidurnya.
Keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya, hingga membuat baju tidur yang dia kenakan basah terkena tetesan keringatnya.
Kembali wajah Sri menghantui malamnya. Kini dengan wajah penuh amarah, Sri datang ke mimpi Vee dengan kepala yang masih ditenteng ditangannya.
"Kenapa, Vee?" tanya Hideo yang juga nampak kebingungan.
"Pacar kamu datang lagi ke mimpiku, kak" keluh Vee yang masih merasa ketakutan.
"Sri! Siapa lagi memangnya pacarmu?" tanya Vee dengan ketus.
"Dia saudara saya, Vee" kata Hideo.
"Nggak mungkin, pasti dia itu kekasih kamu kan kak?" tanya Vee dengan wajah serius.
"Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu pada saya?" tanya Hideo.
"Dia bilang, sudah satu purnama telah aku lewati. Tapi kenapa aku masih belum mencarikan tubuh untuk menjadi persinggahan arwahmu. Dan dia bilang, kalau aku sampai gagal maka aku akan dibawanya menuju neraka karena telah mencelakai kekasihnya" kata Vee dengan tampang masamnya.
Malas sekali berurusan dengan hantu seambisius Sri.
"Jujur deh sama aku, dia itu sebenarnya kekasih kamu kan, kak?" tanya Vee.
Hideo terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sebenarnya, dia yang terlalu mencintai saya Vee" akhirnya Hideo mengaku juga.
"Tuh, benar kan. Duh sialan banget ini, kalau sampai kamu mendapatkan tubuh baru, aku khawatir kalau Sri akan berusaha menguasai tubuhku, kak" kata Vee.
"Saya tidak akan membiarkan semua itu terjadi, Vee. Jika nanti aku mendapatkan tubuh baru, maka kamu yang harus tetap berada di sisi saya, selamanya" kata Hideo, meski tak ada perasaan apapun yang bisa dia rasakan di dalam hatinya selama masih menjadi arwah yang bergentayangan seperti ini.
Masih jam tiga pagi, dan selama ini setiap Sri mendatangi Vee melalui mimpinya, di jam inilah Vee selalu terbangun.
__ADS_1
"Sekarang coba katakan padaku, ceritakan sedetail-detailnya tentang kalian" kata Vee dengan tatapan tajam pada Hideo.
"Huft, baiklah. Mungkin memnag sekarang waktunya saya jujur padamu" kata Hideo.
"Jadi sebenarnya, Sri itu sangat mencintai saya Vee. Tapi sungguh, saya hanya menganggap Sri adalah kakak terbaik" kata Hideo dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Selama dia mengajari saya, selama itu pula dia memendam rasa cintanya pada saya yang memang lebih muda lima tahun daripada dia".
"Dan di malam itu, malam dimana pembantaian itu terjadi. Sri mengutarakan semua isi hatinya pada saya sebelum dia membacakan mantra yang membuat saya tertidur hingga kamu menemukan saya malam itu".
"Sayup-sayup saya mendengar di akhir perkataannya sebelum membuat saya tertidur adalah, bahwa dia akan menunggu waktu dimana seseorang bisa mengeluarkan saya dan menemukan tubuh baru".
"Dan dia bilang, kalau diapun akan berusaha menguasai tubuh wanita yang nantinya berada di sisi saya" kata Hideo dengan wajah sayu, merasa sangat bersalah pada Vee yang nyawanya juga terancam.
"Tapi saya akan berusaha sekuat tenaga saya untuk selalu melindungimu, Vee" kata Hideo dengan tulus, tak pernah selama hidupnya Hideo merasakan hal yang seperti ini. Ingin menjadi penjaga dan pelindung dari seorang gadis.
"Oh, sepertinya aku tahu harus kemana" kata Vee, mengingat jika ada salah satu temannya yang bisa dimintai pertolongan.
"Kemana?" tanya Hideo.
"Arfi, dia punya toko barang-barang kuno. Siapa tahu kita bisa mendapatkan sesuatu yang berguna di tokonya" kata Vee.
"Siapa itu Arfi?" tanya Hideo dengan sedikit tidak suka.
Vee tersenyum sebelum menceritakan tentang Arfi. Salah satu temannya yang dia kenal dengan cara yang sangat konyol.
"Waktu itu, aku masih baru masuk SMA" kata Vee dengan pandangan menerawang saat bercerita tentang Arfi.
"Pulang sekolah, aku sedang sangat ingin menjahili seseorang".
"Karena aku tidak sabaran untuk sampai rumah dan menjahili kak Varo, jadinya aku menjahili orang yang kebetulan sama-sama lewat".
"Hei, resleting celanamu kebuka! Waktu itu aku teriak gitu ke Arfi" kata Vee.
"Dia berhenti dong, menepikan motornya dan melihat resletingnya yang ternyata terpasang sempurna".
"Terus dia ngegas motornya dan ngejar aku" kata Vee sambil cekikikan.
"Tampangnya lucu banget tahu nggak waktu itu. Dan sejak saat itu kita berteman".
"Ya meskipun jarang bertemu, tapi sesekali aku sempetin untuk ke tokonya meski cuma lihat-lihat doang, kak" kata Vee mengakhiri kisahnya.
"Jadi, besok kamu mau menemuinya?" tanya Hideo.
"Iya, siapa tahu ada sesuatu yang bisa aku gunakan untuk melawan Sri yang ingin menguasai tubuhku" kata Vee yang memandangi Hideo dengan wajah juteknya.
Lagi-lagi, gara-gara asap ini dia harus berurusan dengan sesama wanita meski hanya dalam bentuk hantu yang sakti.
.
.
__ADS_1
.