
"Maksud ibu, ehm... Ibu memaafkan saya?" tanya Seno lirih, dengan puppy eyes yang baru kali ini Mommy nya lihat.
Ternyata anak ceria yang akhir-akhir ini berubah menjadi dingin itu bisa juga bersikap manja. Dan mommy suka melihat itu.
"Tentu nak. Siapapun kamu, kamu adalah anak mommy dan papi yang paling kami sayangi. Selalu ada maaf dari orang tua untuk anaknya" kata papi yang sudah mendekat dan mendekap kedua orang tersayangnya.
Baru kali ini Hideo merasa sangat terharu hingga masuk ke relung hatinya.
Matanya memanas dan hatinya terasa sangat pias, atau begini rasanya kehangatan sebuah keluarga? Sudah sangat lama Hideo tak merasakannya.
Kini, air matanya pun ikut meleleh. Menikmati kucuran kasih sayang dari orang tua memang sangat menyenangkan.
Niatnya papi yang ingin mendekap kedua orang tersayangnya, tapi karena masalah tinggi badan, malau Seno yang membenamkan kedua orang tuanya di dalam dadanya.
Sungguh, Seno sangat menikmati momen haru itu. Sudah sangat lama sekali rasanya dia tak tahu bagaimana rasanya memeluk orang tua yang paling disayangi. Karena sidah ratusan tahun jiwanya disekap, bahkan dimana kuburan orang tua kandungnya pun Hideo tak tahu.
Dan kini, saat raga Seno dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintainya, Hideo berjanji untuk selalu menjaga mereka dengan baik, bahkan dengan segenap jiwa dan raganya bila perlu.
"Saya sangat menyayangi kalian berdua. Dan saya janji untuk selalu menjaga kalian untuk selamanya" kata Hideo yang membenamkan dirinya pada dekapan hangat orang tuanya.
"Papi juga sangat menyayangi kalian. Jangan pernah berfikir untuk pergi lagi" kata Papi.
Setelah pelukan hangat itu dirasa cukup, dan perlahan sudah terurai dengan perasaan yang sama-sama lega.
Ketiganya mulai menghapus jejak air mata yang masih menggenang di pipi dan di sudut mata.
"Maafin gue juga ya, Sen. Gara-gara kita berdua, nasib lo jadi seperti ini. Tapi terimakasih karena lo sudah mau berkorban untuk kami. Pengorbanan lo terlalu besar untuk bisa kami berdua balas" kata Aish yang menyadari jika semua hal yang menimpa Seno tak lain berawal dari hubungannya dengan Richard.
"Rara benar, Sen. Pengorbanan lo buat kita terlalu besar. Dan kalau nggak ada lo, selamanya kita nggak akan tahu siapa itu Helen, Daren dan Viona. Dan karena lo, semua bisa terbongkar" ucap Richard yang menyadari jasa seorang Senopati yang teramat besar terhadap hubungannya dengan Aish dan untuk hidupnya sendiri.
"Terimakasih karena lo sudah mau berjuang demi kami semua" tuturnya lagi sambil mengambil tangan Seno dan menjabatnya layaknya saudara.
"Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai manusia untuk saling tolong menolong. Terimakasih karena kalian, maka Vee jadi tahu juga jika semua hal yang indah belum tentu bagus, seperti Daren yang sesuai tipemu, Vee" sindir Seno yang membuat Vee jadi salah tingkah.
"Gue juga mau bilang makasih sama lo, Sen. Karena lo, pengalaman gue dalam hal-hal mistis jadi banyak banget. Bahkan gue jadi punya banyak teman dari dunia itu" kata Hendra santai.
__ADS_1
"Sama-sama. Saya bisa mengajarimu banyak hal tentang dunia itu, Hen. Jika kamu masih berminat" ujar Seno.
"Sudahlah, kita bahas lain kali saja. Sekarang kita jenguk papamu dulu saja, Vee. Kasihan kalau sampai dia terjaga tapi tidak ada keluarga di sekitarnya" kata Mommy Seno.
"Iya ma" kata Vee sambil mengangguk.
Dan kini, hati yang plong membuat hubungan keluarga itu semakin erat. Tapi, dengan besarnya cobaan yang baru saja mereka lewati membuat mereka jadi lebih merasa saling membutuhkan dan harus saling menjaga.
Benar saja, saat mereka baru saja melewati lorong yang akan menghubungkan ke UGD, rupanya Yudha baru saja keluar dari dalam UGD tapi masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Mau dibawa kemana papa saya, dok?" tanya Vee setengah berlari untuk bisa menghampirinya rombongan Yudha.
"Oh, karena perawatan untuk pak Yudha sudah selesai, maka pasien akan kami bawa ke ruang perawatan. Mbak ini siapanya pasien?" tanya dokter.
"Saya anaknya dok" kata Vee.
"Oh baiklah. Mari mbak" kata dokter mempersilahkan Vee untuk mengikuti mereka.
Belum juga langkah mereka beranjak jauh dari depan UGD, terlihat Daren yang juga keluar dari UGD dan berada dalam pantauan polisi dan dia masih belum sadarkan diri.
"Sepertinya masih kurang satu orang ya? Kemana pria berkupluk hitam yang menjadi dukun sewaan Viona?" tanya Vee sambil celingukan.
"Masak sih kak?" tanya Vee sedikit bingung.
"Memangnya siluman itu benar-benar raja ular ya?" tanya Vee.
"Entahlah. Tapi mereka adalah golongan yang sangat pintar dalam menipu. Dan itulah mengapa kita tidak boleh percaya terhadap mereka dengan sepenuh hati" jawab Seno.
"Tapi kami tidak pernah membohongimu, Vee" kata HoRoCi yang tiba-tiba muncul dan membuat Hendra kaget hingga sedikit berjingkat.
"Kalian baru muncul, ya. Hengmh, gara-gara kalian bertiga, hampir saja kami kehilangan mereka" kata Vee sambil menunjuk pada ketiga wajah bocil setan yang muncul setelah semua keadaan membaik.
"Gue kaget, bego" umpat Hendra yang belum terbiasa dengan kehadiran HoRoCi yang selalu tiba-tiba.
"Ada apaan sih, Hen?" tanya Aish yang juga ingin tahu.
__ADS_1
"Kamu yakin mau melihat mereka juga?" tanya Seno.
"Memangnya bisa?" tanya Aish penasaran, tapi takut juga.
"Bisa saja kalau kamu mau. Saya bisa membantu kamu" kata Seno lagi.
"Boleh ya sayang?" tanya Aish pada suaminya.
"Terserah kamu saja" jawab Richard.
"Sekali ini boleh dong, Sen" rajuk Aish.
"Sini kak, biar aku yang bantu kakak kalau mau berkenalan dengan HoRoCi. Mereka ini meskipun sedikit nakal, tapi mereka banyak membantu kami dari awal mula pertemuan kami dengan Viona yang membawa mayat kak Seno di hutan hingga terakhir kalinya kami bertarung melawan gerombolan Viona dan kawan-kawannya" ucap Vee dengan penuh semangat.
"Caranya bagaimana, Vee?" tanya Aish, sementara orang tua Seno hanya membiarkan tingkah anak, menantu dan sahabatnya itu tanpa mau ikut campur.
"Pejamkan mata kakak dan fokus. Nanti buka secara perlahan saat aku bilang sudah boleh membuka mata" kata Vee bersemangat.
Dia sudah tahu cara untuk menjadi perantara antara makhluk astral dengan manusia yang ingin melihat keberadaan mereka.
"Oke" jawab Aish singkat dan menuruti perintah Vee.
Kini, Vee tengah memegang tangan Aish di tangan kanannya, sementara HoRoCi yang saling berpegangan, dengan tangan Ho yang dipegang di tangan kiri Vee.
"Sekarang, coba buka mata kak Aish perlahan ya. Dan ingat, jangan takut karena meski tampilan mereka ini sedikit mengerikan tapi mereka baik kok" tutur Vee mempersilahkan Aish membuka matanya.
Dan perlahan, Aish mematuhi perintah Vee. Membuka matanya pelan dan melihat ke arah depannya, dimana sudah mulai nampak adanya tiga bocah gundul yang sedang menyeringai mengerikan terhadapnya.
"Hai, kak Aish yang cantik" kata Ho sambil melambaikan tangannya yang sudah terlepas dari genggaman tangan Vee, dan tersenyum penuh arti dengan mulutnya yang vertikal.
"Aaaahhhhh" teriak Aish dengan kerasnya.
.
.
__ADS_1
.
.