Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
situs pemandian selir raja


__ADS_3

"Vee cantik, pulangnya gue anterin mau?" goda James yang sudah tak mampan bagi Vee.


"Maaf ya, tuan putri dijemput dong pulangnya. Eh, tapi Rey, kamu tahu nggak tempat foto keren di daerah dekat-dekat kampus sini?" tanya Vee.


"Malah ngajak ngobrol Rey" keluh James, sambil tetap merapikan peralatan kuliahnya.


"Tahu dong. Makanya lo follow dong akun IG gue, disana gue banyak upload tempat foto keren. Memangnya buat apa lo tanya tempat foto?" kata Rey yang malah mempromosikan akun medsosnya.


"Sudah lama banget nih aku nggak hunting foto, pinginnya sih nyari tempat foto yang biasanya sudah familiar sama orang-orang, bernilai sejarah, tapi jarang mereka kunjungi" ucap Vee.


"Ehm, semacam situs kuno yang murah tapi nggak dilirik sama masyarakat sekitar gitu" lanjutnya.


"Oh, ada. Agak jauh sih, deketnya sama rumah gue. Jadi situs ini semacam candi kecil yang dulu jadi tempat persinggahan raja gitu. Ada kolam batu yang sudah kosong dan bangunan batu yang nggak tahu apa fungsinya. Konon katanya, kolam itu tempat para selir baru raja mandi biar terlihat cantik dan fresh di malam pertama" kata Rey menjelaskan.


"Para raja memang istimewa" kata James yang otaknya sudah traveling kemana-mana.


"Otak lo kotor banget Mes" ucao Rey sambil menepuk kepala James.


"Mes... Mes... Gue James" kata James yang tak terima dengan julukan yang Rey berikan.


"Oh, keren itu pasti. Boleh dong kamu kasih tahu aku alamatnya dimana. Soalnya pulang kuliah ini aku mau langsung kesitu" rupanya Vee sangat tertarik.


"Lo bisa buntuti gue saja, soalnya situsnya dekat sama rumah gue. Sekalian gue mau pulang" jawab Rey.


"Boleh deh, tuh kan supir aku sudah stand by di parkiran. Kalian mau ke parkiran juga kan? Barengan yuk" ajak Vee.


"Gue ikut dong Vee, dirumah nganggur nih" ucap James.


"Tapi ingat jangan macam-macam bro" kata Rey.


"Eh, apaan macam-macam. Nggak ada ya. By The way, memangnya lo sudah bawa kameranya Vee?" tanya James sambil beranjak dari kelasnya, berjalan bersisian dengan Rey dan Vee.


"Bawa dong, lihat nih" ucap Vee yang mulai mengeluarkan kamera mahalnya.


"Uwah, kamera lo keren banget Vee. Ini kan mahal banget. Jangan-jangan lo anak orang tajir ya?" kata Rey.


"Enggak kok, ini tuh hadiah ulang tahun dari Papa Yudha" jawab Vee.


"Pak Yudha yang kemarin itu Vee?" tanya James, rupanya dia masih ingat dengan kejadian waktu itu.


"Iya, waktu kamu mau macam-macam sama aku itu James" kata Vee santai, sudah tak ada dendam apapun dalam hatinya.


"Setelah gue cari tahu, Rey. Pak Yudha itu orang berpengaruh di kampus ini, beliau pemilik beberapa hotel berbintang yang bertaburan di beberapa kota besar di negri ini. Kok lo bisa kenal sama orang seperti itu sih Vee?" tanya James.


"Ya, panjang ceritanya. Pokoknya dia itu papa angkat aku. Sudah deh, kamu jadi ikut atau enggak James? Sekalian nanti jadi model gratisan aku deh, hehe" rencana Vee mulai tersusun. Visual James yang good looking bolehlah jika dijadikan modelnya.


"Bisa sih Vee, tapi cuma bentaran doang ya. Soalnya habis maghrib gue mau nganterin Tante gue ke rumah sakit" kata James.

__ADS_1


"Oke, terserah kamu sih. Yuk ah, berangkat. Tuh kan supirnya sudah nunggu" ucap Vee yang sudah melipir mendekati mobil keluarga Senopati.


"Mobil Vee keren juga ya James" ucap Rey yang berjalan bersama James menuju kendaraan mereka.


"Iya, jangan-jangan dia memang anak orang tajir. Cuma nggak mau bilang aja" kata James.


"Soalnya nih ya Rey, gue kan teman SMA nya dia tuh. Rumah dia itu di puncak gitu, rumahnya mewah Rey. Rumahnya dia sendiri katanya" kata James yang menggosipkan Vee.


"Lo cowok tapi mulutnya lamis banget ya James. Tapi bangga sih gue punya teman semandiri dia. Cewek tangguh, sayangnya sudah ada yang punya" kata Rey.


"Cepetan dong" teriak Vee yang masih melihat kedua temannya sedang ngobrol diatas motornya masing-masing.


"Uwah, doi marah bro" kata Rey sambil terkekeh pelan.


Iring-iringan kendaraan pun berlangsung, Rey dan James mendahului Vee yang bersama supirnya.


Dan tanpa sepengetahuan mereka, rupanya sudah ada sebuah mobil yang ikut membuntuti dari belakang. Pengemudinya yang terlihat sangat siaga tengah mencari peluang untuk bisa mencelakai salah satu dari mereka.


Ternyata memang cukup jauh, dari pukul setengah empat, Vee baru sampai di tempat yang Rey maksudkan itu pada pukul empat lebih lima belas menit.


"Bapak tunggu sebentar ya, aku nggak lama kok" pamit Vee pada supirnya.


Diapun bergegas menemui kedua temannya yang sudah terlebih dahulu memasuki kawasan pemandian zaman kuno itu.


"Uwah, keren banget sih tempatnya Rey. Rumah kamu di dekat sini?" tanya Vee yang sudah sibuk dengan kameranya.


"Iya, mau mampir?" kata Rey menawarkan.


Dan kalau sudah berurusan dengan kamera, memang membuat Vee sedikit lupa waktu. Karena sudah banyak sekali foto dan Video keren yang sudah dia dapatkan dengan menggunakan model dadakan tanpa modal, yakni Rey dan James.


Lumayan kan, pria tampan begitu biasanya jual mahal. Tapi dua anak ini dengan suka rela menjadi bahan untuk kebutuhan kamera Vee.


"Eh, sudah sore nih. Gue balik duluan ya, takut emak gue nyariin" kata Rey yang tersadar jika langit mulai berubah berwarna jingga.


"Iya, makasih ya Rey" kata Vee.


"Gue juga ya Vee, soalnya abis ini langsung nganterin tante gue ke rumah sakit" James pun ikut berpamitan.


"Lo jangan kemaleman pulangnya, Vee. Meski ini dekat perkampungan, tapi kan butuh waktu buat lo lari dan minta tolong kalau ada apa-apa" Rey mengingatkan sahabatnya.


"Iya, bentar lagi aku juga pulang kok. Tenang saja" ucap Vee santai.


"Yaudah, kita duluan Vee" ucap Rey dan James sambil melambaikan tangan setelah bersalaman satu sama lainnya.


Sepeninggal kedua temannya, Vee kembali sibuk dengan kameranya.


Kini dia tengah membidik tempat itu dalam keadaan kosong. Mencari spot terbaik untuk nanti di edit seolah pemandian itu masih berfungsi.

__ADS_1


Melihat kedua teman Vee yang sudah pergi, tiba-tiba seseorang datang dari belakang tubuh pak supir yang sedang sibuk dengan ponselnya sambil duduk diatas kap mobil.


Tiba-tiba pria itu memukul tengkuk supir Vee hingga pingsan dan tergeletak di atas tanah di depan mobil.


Setelah itu, dengan langkah pelan dan hati-hati, pria itu mulai memasuki kawasan pemandian itu untuk mencari keberadaan Vee.


Suasana sudah sore, saat Vee tersadar dan melihat sekelilingnya. Rupanya langit sudah berwarna jingga dan angin sore mulai bertiup pelan, membuat rambutnya melambai indah.


"Ternyata sudah sore, aku pulang deh" gumam Vee, berdiri pelan dan merapikan diri.


Hihihihi


Hehehe


Tiba-tiba telinga Vee menangkap suara gelak tawa dari beberapa wanita dari dalam bilik pemandian yang sebelumnya sudah sangat sepi.


"Kayak dengar suara cewek-cewek" heran Vee sambil menajamkan telinganya untuk mencari sumber suara.


Angin bertiup semilir dengan cahaya jingga yang lama-kelamaan terlihat silau di mata Vee. Hingga membuat gadis itu memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas.


Tiba-tiba penampakan candi itu berubah dalam pandangan Vee. Tanaman menjalar yang sebelumnya tumbuh tak beraturan dengan lumut yang berserakan dimana-mana, kini berubah menjadi tanaman hias yang indah. Serupa daun sirih merah, sirih kuning dan juga sirih hijau yang sengaja ditanam dan menjalar di tempat yang sudah dipersiapkan.


Sangat indah!


Di beberapa sudut juga ada kolam kecil yang diisi air dan beberapa ikan emas yang berenang kesana kemari.


"Uwah, tempatnya bisa jadi bagus begini" gumam Vee yang masih penasaran dan berjalan perlahan menelisik area pemandian ini.


Ada sebuah batu yang sepertinya adalah kursi, terletak di dekat kolam ikan dan menghadap ke tengah pemandian yang tertutup. Vee menaiki batu itu untuk melihat sekelilingnya dengan lebih jelas.


Ternyata di sekeliling pemandian itu ditutupi oleh dinding batu yang berwarna hitam pekat dan kokoh. Ada beberapa sekat di dalam sini, seperti sebuah rumah tanpa atap.


Vee tengah berdiri di ruangan terdepan, yang dihubungkan dengan sebuah lorong berdinding batu yang Vee yakini menuju ke ruang utama yang berupa kolam mandi yang cukup luas.


Dari tempatnya berdiri, Vee bisa mendengar suara gelak tawa yang sejak tadi belum juga berhenti.


Merasa penasaran, gadis itu menuruni batu dan mulai berjalan pelan memasuki ruang pemandian utama.


Samar-samar suara gelak tawa berubah menjadi paduan suara dari beberapa wanita. Vee mengintip dari dinding pembatas, melihat ke dalam ruang pemandian agar terlihat lebih jelas.


Sedangkan pria yang tadi sudah berhasil menjatuhkan supir Vee, sekarang berusaha mencari keberadaan Vee yang sebenarnya adalah sasaran utamanya.


Langkahnya yang perlahan berusaha tak menimbulkan suara. Pria itu mulai menyisir seluruh isi situs pemandian kuno itu untuk mencari keberadaan Vee.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2