
"Pasien atas nama Veronica sudah lebih baik. Tadi dia tak sadarkan diri karena dehidrasi berlebih karena kurangnya asupan makanan dan minuman dan sepertinya dia juga mengalami rasa terkejut yang berlebih hingga membuatnya sedikit syok" kata suster dengan bahasa yang mudah di mengerti.
"Dia sudah sadar atau belum?" tanya Seno.
"Belum, tapi kami sudah memberinya infus agar tubuhnya kembali terhidrasi dengan baik. Sekarang, pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap. Jadi, kami meminta persetujuan keluarga agar pasien dipindahkan" tutur sang suster dengan sopan.
"Berikan yang terbaik, sus" jawab mommy Seno.
"Baiklah bu" jawab suster itu.
"Bagaimana dengan keadaan Pak Yudha?" tanya Aish yang mengingat kalau luka di kepala Yudha cukup parah.
"Pak Yudha masih ditangani oleh dokter. Karena luka robek di kepalanya cukup lebar. Jadi, perlu dijahit dulu. Dan proses penjahitnya masih belum selesai, bu" jawab suster.
"Baiklah, saya hanya ingin menyampaikan itu saja. Segera akan kami bawa nona Veronica ke ruang rawat" kata suster yang kemudian berpamitan.
Kembali Seno dan keluarganya duduk di tempat semula sambil menunggu Vee keluar dari UGD.
Berbeda dengan kondisi Helen. Wanita itu masih saja berteriak tak karuan. Menghayal jika ada banyak ular di sekitarnya.
Bahkan tak jarang Helen memukuli suster yang berusaha mendekatinya untuk memberikan pertolongan.
"Dasar ular jahat, siluman ular kurang ajar" kata Helen sambil mengangkat sebuah gunting dan bersiap untuk menusukkannya ke arah seorang suster yang ditugaskan untuk menyuntikkan obat bius di kantung infus yabg sedang Helen pakai.
Tapi Helen yang berkekuatan penuh malah menemukan sebuah gunting dan mengancam suster itu menggunakan guntingnya.
Matanya yang melotot dengan raut wajah ketakutan membuat Helen terlihat sangat berbeda.
Beberapa perawat mendekat dan berusaha mengamankan Helen. Dan saat Helen sudah berhasil diamankan, dokter segera turun tangan untuk memberikan obat penenang dan memilih untuk mengikat Helen di brankarnya.
Rupanya Helen dan Vee keluar bersamaan dari dalam UGD. Hal itu membuat Seno, Aish dan juga Richard memilih untuk melihat keadaan Helen barang sebentar, sementara Mommy dan Papi Seno mengantarkan Vee ke kamarnya.
"Kenapa dia diikat, sus?" tanya Aish mewakili dua pria tampan di belakangnya yang irit suara.
"Pasien mengalami halusinasi berat, bu. Dan kami terpaksa mengikatnya karena takut kalau sampai dia bisa mencelakai orang lain" jawab suster itu.
Suster itu mau berbagi informasi mengenai Helen karena dia tahu kalau tadi Helen datang bersama rombongan Vee, Yudha, Daren dan Seno bersama kawalan dari beberapa polisi.
"Halusinasi bagaimana, sus?" tanya Aish heran.
"Tadi pasien sempat akan mencelakai salah satu suster disini karena menganggap kalau suster itu adalah seekor ular besar. Beruntung dokter bisa menanganinya. Dan sekarang dokter memutuskan agar pasien diikat saja demi keamanan bersama" jawab suster itu.
"Kasihan sekali dia. Lalu, dia kan dibawa kemana Sus?" tanya Aish lagi.
"Ke ruang khusus pasien dengan gangguan kejiwaan ringan, bu. Semoga saja halusinasinya bisa segera teratasi" jawab sang suster.
"Iya, amin. Nanti kita jenguk dia ya, sayang" kata Aish pada suaminya, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala karena Richard khawatir kalau Aish akan ngambek lagi jika dia salah bicara.
"Yasudah, kami permisi dulu untuk membawa pasien" pamit sang suster bersama dua orang rekannya.
__ADS_1
Sementara Seno hanya memandang tajam pada sekeliling Helen. Membuat Aish dan Richard penasaran.
"Kenapa lo diam sambil mengawasi sekeliling Helen sih tadi, Sen?" tanya Aish sambil berjalan pelan menuju ke ruangan Vee.
"Wanita itu masih diikuti banyak ular disekitarnya. Sepertinya siluman ular yang sejak kemarin ada bersamanya masih belum mau melepaskan wanita itu begitu saja" jawab Seno dengan santai.
"Maksud lo, Helen diikuti makhluk halus gitu?" tanya Aish sedikit merinding.
Seno hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Tapi gue nggak pernah percaya sama hal begituan" kata Richard.
"Beneran ada loh, sayang. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan awalnya aku juga nggak percaya, tapi semenjak kejadian kemarin, aku jadi tahu kalau di dunia ini kita hidup berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata. Iya kan, Sen?" tanya Aish meminta persetujuan dari Seno yang sebenarnya juga berasal dari dunia yang berbeda.
"Ya, kamu benar" jawab Seno singkat.
"Yang aku herankan, kenapa bisa ada Helen di tempat itu. Apa yang sebenarnya sedang dia sembunyikan?" tanya Aish.
"Aku juga tidak tahu, sayang. Aku melihat ada cowok pingsan juga tadi sewaktu polisi membawa orang-orang yang terikat dari kamar kosong. Siapa cowok itu?" tanya Richard.
"Cowok yang seperti apa?" tanya Aish.
"Cowok yang wajahnya seperti orang timur tengah itu, sepertinya dia sedang pingsan juga" kawab Richard.
"Oh, dia itu adik kelasku. Kakak tingkatnya Vee, yang menjadi salah satu penanggung jawab di acara camping yang diadakan di kampusku" jawab Aish.
"Kira-kira kapan dia akan sadar, sus?" tanya Seno sebelum suster berpamitan.
"Mungkin sebentar lagi juga sadar. Sebenarnya dia tidak mengalami luka yang serius. Mungkin setelah infusnya habis dia akan sadar" jawab suster itu.
"Karena tugas kami sudah selesai, kami permisi keluar dulu. Kalau butuh bantuan bisa memencet tombol itu untuk memanggil kami" kata suster sebelum pergi.
"Iya, terimakasih sus" jawab Mommy Seno.
Dan tak lama berselang, Hendra datang dengan wajah datarnya. Rupanya tadi dia masih mampir ke kantin untuk membelikan camilan untuk teman-temannya dan juga untuk orang tua Seno. Tak lupa beberapa bungkus kopi di dalam cup plastik yang dibawanya.
"Ini gue bawain kopi" kata Hendra mempersilahkan siapapun untuk mengambil bawaannya.
"Thank's ya, Hen" kata Aish sambil membagikan pada semua orang disana satu per satu kopi.
"Apa ada yang mau lo sampaikan ke kita, Sen?" tanya Hendra memecah keheningan saat semua orang sedang menikmati kopi di tangan mereka masing-masing.
Seno melihat ke arah Hendra, berusaha mencari tahu tentang apa yang sebenarnya Hendra pikirkan.
Menggunakan kekuatannya, Seno berusaha membaca pikiran Hendra yang ternyata dia sudah mengetahui siapa sebenarnya Seno dari cerita HoRoCi yang dari kemarin selalu bersamanya.
Dan Hendra merasa aneh saat ketiga bocah astral itu selalu memanggilnya dengan sebutan 'Pangeran'.
Melalui kepiawaiannya dalam memancing pembicaraan, Hendra kini sudah tahu jiwa siapa sebenarnya yang kini menempati raga Senopati.
__ADS_1
"Kenapa saya harus menyampaikan sesuatu yang sudah kamu ketahui, kawan?" tanya Seno dengan senyum misteriusnya.
Sebenarnya Hendra sedikit bergidik ngeri saat melihat senyuman aneh yang Seno berikan padanya. Tapi untuk langsung mengatakan pada semua orang, Hendra tidak punya bukti yang valid.
Dan saat semua orang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba Vee menggeliat pelan. Rupanya dia sudah tersadar.
"Ehm, haus" kata Vee sebelum benar-benar meraih kesadarannya.
Dengan cekatan, Seno yang berdiri di belakang mommynya segera mengambilkan segelas air putih dilengkapi dengan sedotan untuk Vee.
"Minumlah" kata Seno sambil membantu Vee agar bisa sedikit duduk dan meminum airnya.
"Pelan-pelan Vee, saya tidak akan mengambilnya darimu" kata Seno mengingatkan.
"Kak Seno?" sapa Vee yang baru tersadar jika sejak tadi Seno berada disampingnya.
"Maafkan aku ya kak. Gara-gara aku yang nggak patuh sama larangan kak Seno untuk pergi camping, aku jadi celaka seperti ini. Ternyata kak Seno benar kalau Kak Daren itu bukan orang yang baik" kata Vee yang segera meraih pinggang Seno dan memeluknya.
"Iya, saya selalu memaafkanmu. Yang terpenting sekarang kau tidak apa-apa, Vee. Tapi papamu yang sampai sekarang masih ditangani oleh dokter" kata Seno, biasanya Vee akan menjadi anak yang baik jika ada penyesalan dalam dirinya karena telah mencelakai orang lain.
"Papa siapa? Papa Yudha?" tanya Vee yang telah mengurai pelukannya.
"Ya. Saya meminta papamu untuk menjemputmu terlebih dahulu karena jaraknya yang lebih dekat. Tapi ternyata beliau mengalami sedikit kecelakaan saat akan membawamu pergi, untung saja masih sempat diberi pertolongan pertama oleh Aishyah. Jadi, beliau masih bisa diselamatkan" kata Seno yang menunggu reaksi dari istri nakalnya itu.
"Kak Aish?" tanya Vee sembari mengedarkan pandangannya.
Rupanya ada banyak orang di tempat ini, dan mengingat tingkahnya yang manja pada Seno barusan, membuatnya jadi bertambah malu
"Kenapa kakak nggak bilang sih kalau banyak orang disini?" cicit Vee yang wajahnya sudah memerah.
"Bukannya ini kak Richard, ya?" tanya Vee dengan wajah seriusnya.
"Ya" jawab Richard terlalu singkat.
"Ada yang harus aku sampaikan ke kak Richard. Dan ini sangat penting sekali" kata Vee yang mengingat percakapan terakhirnya dengan Daren dan Helen.
"Mau menyampaikan apa, Vee?" tanya Aish yang ikut penasaran.
"Apa nggak sebaiknya kalian berdua berkata jujur terlebih dahulu?" tanya Hendra dengan pandangan menusuk.
Dan Vee belum begitu memahami apa yang membuat Hendra menjadi semarah itu padanya.
.
.
.
.
__ADS_1