Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Masih di rumah sakit


__ADS_3

"Maafin aku dong sayang, masak gitu aja kamu ngambek sih" bujuk Richard, rupanya Aish masih saja mendiamkannya sampai mereka sampai di parkiran rumah sakit.


Jadi, sebelum turun alangkah baiknya kalau dia harus bisa mendapatkan maaf dari istrinya itu terlebih dahulu.


"Kamu sih, malah mikirin wanita lain padahal aku ada didepan mata kamu sendiri" ucap Aish dengan bibir yang masih mengerucut.


Bukannya berniat untuk cemburu buta, tapi wajah dan penampilan Helen sangat persis dengannya meski wanita itu tak berhijab.


Aish takut saja kalau Richard diam-diam menyimpan perasaan pada wanita itu meski keyakinannya mengatakan kalau Richard adalah lelaki yang setia.


"Kan aku cuma tanya doang, Ra. Kok bisa ada Helen disitu. Apalagi saat dibawa oleh petugas tadi kan dia kayak orang depresi. Ya, aku kaget saja sih sebenarnya" kata Richard dengan lembut, berusaha membuat istrinya tak lagi salah paham.


"Aku juga nggak tahu, sayang. Waktu aku sampai di rumah itu sama Seno, si Vee itu sudah digendong sama papanya dalam keadaan pingsan dan ada Helen yang sepertinya jadi orang jahat deh. Soalnya tadi dia itu marah-marah sambil nunjuk-nunjuk ke papanya Vee gitu. Kan nggak sopan bersikap seperti sama orang yang lebih tua" jawab Aish panjang lebar.


Richard tersenyum kecil, mendengar penuturan panjang dari istrinya ini menandakan kalau dia sudah tidak marah lagi.


"Yasudah, kita cari tahu di dalam saja ya. Turun yuk" ajak Richard.


Kini, Aish sudah bisa tersenyum lagi. Mengangguk dan bergandengan tangan dengan Richard sepanjang perjalanan memasuki area rumah sakit.


Meski Richard harus selalu memakai masker, topi dan jaket agar perjalanannya tak terganggu oleh para fansnya, tapi Aish tahu kalau dibalik masker itu selalu ada wajah tersenyum saat pandangan mata mereka saling beradu.


Ya, seromantis itu memang hubungan antara Aish dan Richard yang didapatkan dengan susah payah hingga akhirnya mereka bisa menikah di usia muda.


"Bagaimana Sen? Vee sudah ditangani sama dokter?" tanya Vee yang melihat Seno tengah duduk sendirian di depan UGD.


"Sudah. Papa Yudha juga sudah ditangani kuga oleh dokter. Terimakasih karena kamu sudah melakukan pertolongan pertama kepada papa Yudha sehingga dia bisa terselamatkan" penuturan Seno membuat dahi Richard mengernyit bingung.


"Kenapa bahasa lo jadi baku banget gitu Sen? Kayak bukan lo aja" komentar Richard sambil duduk di samping istrinya dan membuka masker dam topinya.


"Sepertinya saya berbicara sewajarnya. Kalian saja yang berbicara dengan logat yang aneh" jawab Seno tanpa memandang lawan bicaranya.


Saat Richard sudah membuka mulutnya untuk menuai perdebatan dengan Seno, maka dengan cekatan pula Aish menjadi penengah diantara mereka.


"Sttt" kata Aish sambil mengisyaratkan pada Richard untuk diam.

__ADS_1


Baik Seno yang manja maupun Seno yang tampak dewasa seperti sekarang ini, Richard dan Seno tak pernah bisa akur.


Merekapun menunggu dalam diam, dan lebih memilih menyibukkan diri dengan gadget masing-masing untuk mengerjakan tugas mereka sendiri.


Jangan lupakan tatapan orang-orang yang lewat atau sengaja menatap pada mereka bertiga. Selalu saja wajah terpesona terlihat dari orang-orang yang melihatnya.


Richard dan Seno memang sangat terkenal sebagai artis papan atas di kota itu. Meski Seno sudah memutuskan untuk tak lagi aktif di dunia seni peran, namun kiprahnya yang pernah melejit masih menyisakan banyak fans yang mengidolakannya.


Tapi kali ini mereka harus puas dengan bisa memandang wajah tampan mereka tanpa bisa menegur sapa karena situasi yang tidak memungkinkan. Mereka sedang berada di rumah sakit.


"Sayang, bagaimana keadaan mereka?" tanya Mommy Seno yang baru saja memasuki area ruang tunggu UGD.


Nampak wajah cemas terlihat jelas dari wajah lelahnya. Bersama sang suami, Mommy Seno segera menghampiri ketiga anak muda yang kompak menunggu di kursi.


"Ibu?" kata Seno sambil berdiri, menyambut kedatangan kedua orang tuanya dan segera mengambil tangan mereka untuk dicium.


Dan lagi-lagi, dahu Richard mengernyit heran dengan tingkah laku Seno yang sangat tidak biasa itu. Apalagi saat Richard mendengar panggilan kata Ibu terhadap wanita yang biasa dipanggilnya mommy.


"Bagaimana keadaan Vee?" tanya mommy Seno lagi, sambil duduk disamping Seno, berjejer dengan suaminya.


"Mommy harap mereka baik-baik saja. Ehm, apa perlu kita hubungi orang tua Vee di Malang?" tanya Mommy Seno.


"Sepertinya tidak perlu, bu. Kita tunggu saja informasi dari dokter terlebih dahulu. Jika keadaan Vee hanya mengalami luka ringan, lebih baik orang tuanya tidak perlu tahu karena saya takut mereka menganggap saya tidak becus menjaga anaknya" kata Seno.


"Benar juga sih kamu. Yasudah kita tunggu saja sampai dokternya keluar, ya" ucap Mommy Seno yang kini berusaha lebih tenang dan duduk dengan baik.


Sementara Seno memang tidak mengalami luka serius di tubuhnya. Mungkin hanya akan terlihat lebam kecil saat nanti dia membuka pakaiannya.


"Kamu sendiri bagaimana, nak? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mommy Seno.


"Saya baik, bu. Tidak ada yanh perlu dikhawatirkan" ucap Seno.


"Bisa tolong ceritakan sama kita apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa Vee menjadi buruan penjahat seperti itu?" tanya Mommy Seno penasaran, dan hal itu juga yang tengah ditunggu oleh Aish dan juga Richard.


"Saya tidak begitu paham dengan alasannya, Bu. Nanti kita dengarkan saja dari Vee. Semoga dia bisa segera sadar" ucap Seno membungkam mulut semua orang yang ingin bertanya lebih lanjut.

__ADS_1


Karena diapun memang belum tahu alasan sebenarnya seperti apa sampai mereka tega mencelakai Vee dengan menyiksanya perlahan seperti banyaknya sayatan kecil di tangannya.


Yang jelas, Seno tahu kalau pelakunya pasti adalah Daren. Karena di dalam ruangan tempat Daren diikat, Yudha sudah memberitahukan padanya bahwa Daren lah yang terlihat memegang sebuah silet di tangannya.


Jika mengingat hal itu, rasa bersalah timbul di hati Seno. Saat dia tidak bisa menjaga Vee dan memaksanya untuk tetap tinggal di rumah dan tak mengikuti acara camping itu.


Tapi di sisi lain, jika Vee tak mengikuti acara itu juga pasti para penjahat yang mengincar keluarganya masih belum bisa diketahui.


Dan ternyata mereka adalah orang terdekat yang juga saling mengenal.


Sungguh Seno tak habis pikir dengan semua ini. Dengan semua hal di zaman modern yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.


Sebenarnya memang tak jauh beda dengan orang dari zaman kuno yang juga banyak memakai jasa para dukun untuk mencapai tujuannya.


Tapi yang Seno tak habis pikir, ternyata praktek perdukunan dan prosesi pemanggilan siluman seperti raja ular itu juga masih bisa dilakukan oleh orang-orang di zaman ini.


Entah darimana mereka memperoleh ilmu semacam itu.


"Keluarga pasien Veronica" lamunan Seno terhenti saat pendengarannya diganggu oleh panggilan suster.


"Saya, sus" jawab Seno sambil berdiri dan mendekati suster itu.


Bersama orangtuanya dan Richard begitupun Aish yang ikut mendekat.


Suster itu jadi salah tingkah karena yang dipanggil ternyata adalah dua orang artis tampan yang sedang hangat dalam perbincangan.


"Bagaimana keadaan Veronica?" tanya Seno memecah kehaluan sang suster yang tak sadar tengah mengamati kedua artis tampan itu secara bergiliran.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2