
Vee sedang sibuk membaca buku peninggalan Sri selepas solat isyak.
Masih bersama Hideo, kadang keduanya terlibat cekcok saat tak menemukan jalan tengah di perbedaan pendapat mereka.
Duar!
"Astaghfirullah, suara apa itu om?" tanya Vee, sebelumnya memang tak pernah terdengar suara petasan atau semacamnya di lingkungannya.
"Rupanya mereka sudah mulai beraksi, Vee. Kamu tetaplah di dalam kamar ini, jangan kemana-mana" kata Hideo, mencoba melihat keadaan luar melalui jendela kamar.
"Mereka itu siapa om?" tanya Vee yang memang tidak mengerti.
"Mereka adalah golongan makhluk halus yang menginginkan saya untuk menjadi bagian dari mereka" jawab Hideo, kini kedua bola matanya telah berubah menjadi warna merah menyala.
Vee sedikit ngeri melihat perubahan Hideo. Biasanya, meski terkesan dingin dan sepucat tembok, Hideo tidak pernah berekspresi berlebihan hingga warna matanya berubah merah seperti itu.
Aura di sekelilingnya menjadi mencekam, beberapa kali terdengar letupan keras kadang juga ringan yang terdengar di luar rumah Vee.
Meski masih mengenakan mukena, tapi bulu kuduk Vee sudah meremang sempurna.
Dari jendela yang tertutup korden tipis, Vee bisa melihat kilatan cahaya serupa petir di hamparan langit malam. Padahal tidak ada mendung sama sekali.
"Carilah mantra pelindung di dalam buku itu Vee" perintah Hideo, masih menatap langit melalui celah tirai di kamar Vee.
Banyak sekali makhluk halus yang saling menyerang untuk memperebutkannya.
"Memangnya kamu itu sepenting apa sih, om? Sampai mereka berebut seperti itu?" tanya Vee yang masih sibuk membolak-balik buku kecil milik Sri.
"Haduh, ini bacanya apa sih, kenapa jadi nge blank" gerutu Vee yang terlupa dengan aksara Jawa yang sebelumnya sangat dihafalkannya.
"Gawat, pagar gaibnya semakin menipis Vee" kata Hideo.
"Terus, aku harus bagaimana om?" tanya Vee bingung.
"Baiklah, kamu tunggu disini. Ingat, jangan kemana-mana. Berdoa saja semoga semuanya segera berakhir" Hideo langsung menerobos jendela setelah mengucapkan itu.
Vee semakin bingung, kenapa malam ini malah terjadi peperangan antara bangsa lelembut untuk memperebutkan Hideo.
"Apa sih keistimewaannya asap itu?" Vee masih tidak habis fikir.
Kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat setelah mengenal Hideo.
"Pagar diri" gumam Vee, berusaha menemukan apapun didalam buku itu demi membantu Hideo.
Sementara diluar rumah, rupanya para gendruwo dan bocil setan HoRoCi sudah pasang badan.
HoRoCi tak bisa dianggap remeh, kekuatan mereka saat bersatu bisa menghancurkan satu koloni kerajaan jin sekalipun.
"Tambah kekuatan pagar gaibnya saja, Ho" teriak Ro, dan diangguki oleh Ci.
Pagar gaib yang dibuat oleh Vee tadi sore sudah banyak yang retak, takutnya akan pecah jika mereka menyatukan kekuatan.
__ADS_1
Ketiga bocil setan itu membuat formasi, membentuk segitiga dengan mereka yang menjadi titik sudutnya.
HoRoCi sibuk membaca mantra sambil duduk bersila dan mengatupkan kedua tangannya di dada.
Rupanya mereka sedang berusaha mempertebal pagar pelindung.
Di luar pagar, pasukan gendruwo juga terlihat cukup kesulitan untuk melawan banyaknya jumlah penyerang yang semakin malam terlihat semakin ramai.
"Sangat disayangkan jika saya harus melenyapkan mereka semua" gumam Hideo yang masih menatap ke atas, melihat titik terlemah dari para penyerangnya.
"Siapa yang mengendalikan mereka?" pertanyaan Hideo tak akan mendapatkan jawaban jika tak mengalahkan mereka dan menanyai satu per satu.
"Hei kalian, apa sebenarnya yang kalian cari? Kenapa sampai berebut untuk bisa masuk ke rumah ini" tanya Hideo, dengan suara telepati dia berusaha berkomunikasi dengan mereka.
"Kami hanya suruhan, pimpinan kami membutuhkanmu agar menjadi lebih sakti" beberapa makhluk mau menjawab meski dengan seringai mengerikan.
"Jangan harap" kata Hideo yang sudah bersiap melancarkan serangannya.
Mengarahkan tangannya ke udara, seolah sedang menggunakan cambuk tak kasat mata.
"Duar!"
Suara menggelegar terdengar lantang saat Hideo mengibaskan tangannya.
Beberapa makhluk menatap ke arahnya, berdiri termangu melihat ke arah Hideo yang sudah menampakkan taringnya.
"Katakan pada pemimpin kalian, bahwa saya tidak sudi ikut dengan kalian" sambil mengibaskan lagi tangannya, Hideo kembali memecutkan cambuknya.
Beberapa makhluk yang terkena sabetan cambuk Hideo langsung musnah menjadi kepulan asap hitam. Dan menghilang dibawa angin.
Masih banyak makhluk yang tersisa, seolah tiada habisnya.
"Ayo kita lakukan seperti pangeran" kata Ho dengan gembira, setelah selesai dengan urusan mereka dengan pagar pelindung.
Mereka bersatu, menggabungkan tubuh kecil mereka menjadi satu makhluk besar yang nampak seperti Hulk, tapi tak berwarna hijau.
Masih dengan satu mata diatas hidung, dan bentuk bibir yang tetap vertikal.
Suaranya seperti T-rex. Mengaum seperti hewan. HoRoCi telah mengubah dirinya semakin menyeramkan.
Kini mereka yang bersatu dalam satu tubuh tengah berada diluar pagar pelindung.
Menghabisi satu per satu makhluk kiriman dari orang yang tak diketahui. Seperti sedang menepuk nyamuk, bahkan tubuhnya juga digigit oleh makhluk-makhluk yang terlihat kecil saat dibandingkan dengan HoRoCi.
"Aargh, mereka seperti tak ada habisnya" kata gerumbulan gendruwo.
Hideo mengamati keadaan, melihat tipe serangan para makhluk aneh itu.
Jika Naruto punya jurus seribu bayangan, mereka ini bisa membelah menjadi seribu bagian.
Dapat!
__ADS_1
Hideo melihat sesuatu diatas pohon yang tak jauh dari rumah Vee.
Diatas Pohon palem ada beberapa sosok yang menjadi dalang dari bertambahnya para makhluk aneh yang menjadi bidak penyerang.
Sementara di dalam kamarnya, ada satu makhluk yang berhasil memasuki kamar Vee.
Tadi sewaktu pagar gaib sedikit retak, ada satu celah yang diketahuinya dan makhluk aneh itu berhasil masuk tanpa sepengetahuan siapapun.
"Aaahh, siapa kamu? Makhluk aneh" teriak Vee yang berlari ke sisi ranjang. Menyembunyikan diri dibalik selimut.
Makhluk itu sama seperti diluar, serupa kucing tanpa bulu dengan kulit coklat berkilat. Wajahnya juga mirip kucing tanpa bulu, dengan taring panjang dan mata menyala.
"Sangat mengerikan" gumam Vee, dia tak tahu harus berbuat apa.
Hanya doa yang bisa Vee panjatkan agar Tuhannya melindunginya dari serangan makhluk aneh ini.
"Kami hanya menginginkan satu hal. Berikan pangeran pada kami, maka kamu akan kami lepaskan" kata makhluk itu.
"Memangnya apa sih kelebihan dari asap yang suka ngambek itu? Kenapa kalian sangat terobsesi untuk bisa mendapatkannya?" tanya Vee.
Dari sekian banyak hal, kenapa asap serupa Hideo yang harus diperebutkan?
"Dia adalah pangeran, makhluk sakti yang telah kami tunggu lebih dari seratus tahun. Keluarga keparat itu telah berhasil menyembunyikannya dengan baik" makhluk itu bisa menerangkan dengan sangat baik.
"Apa keistimewaannya?" tanya Vee.
"Dia sangat istimewa, dia mewarisi ilmu terakhir dari keluarga Pramesti. Ilmu dari para leluhur pengikut Semar. Dia pangeran kami" kata makhluk itu dengan seringai tajam.
Dari pengamatan Vee, makhluk ini hanya seekor kucing mutasi yang lupa di sematkan otak di dalam pikirannya.
Karena setiap informasi yang Vee dapatkan bisa dengan mudah dikatakannya. Sedangkan Hideo yang dari kemarin Vee beri pertanyaan, tak ada satu alasanpun yang dia berikan.
"Siapa itu keluarga pengikut Semar?" tanya Vee, masih dari dalam gulungan selimut dibalik ranjang.
Tapi, belum sempat makhluk itu menjawab, ternyata Hideo telah datang dan menyabetkan cambuknya yang sudah nampak serupa kepulan asap padat pada makhluk itu.
"Aargh!" teriak makhluk itu dengan sangat mengerikan.
Seketika makhluk itu berubah menjadi kepulan asap dan hilang terbawa angin. Meninggalkan serbuk debu yang mengotori lantai.
"Kenapa dimusnahkan?" tanya Vee dengan lirikan tajamnya pada Hideo.
.
.
.
.
.
__ADS_1