Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Bisa kembali


__ADS_3

"Sudahlah, Ro. Kau ini kenapa malah mau menakuti temanku, sih. Tadi kalau nggak ada dia, aku sudah koit di tangan wanita itu" tutur Vee yang melihat Ro sangat bersemangat menakuti Rey yang nampak kian pucat.


"Oh, begitu ya" tutur Ro yang langsung kembali ke bentuknya yang semula. Serupa bocah kecil dengan satu mata saja.


"Gue rasa begitu lebih baik meski rupanya masih serem banget, Vee" kata Rey sedikit lega, meski masih saja dia takut menghadapi ketiganya. Bahkan Rey berdiri di belakang Vee untuk mencari perlindungan.



Sementara di tempat Hideo berada, kondisi ibunya semakin lemas saja karena memang atmosfer dari alam tak kasat mata bisa saja mempengaruhi kondisi fisik manusia yang terjebak di dalamnya.



Jangankan berpindah ke dimensi lain, saat manusia beralih dari negara panas ke negara yang lebih dingin saja akan berpengaruh pada kondisi tubuhnya, bukan? Apalagi saat harus tersesat di alam lainnya.



Pria berkupluk itu sedikit bingung sekarang. Dia tidak menyangka jika ada makhluk berkekuatan cukup besar yang sedang berusaha melindungi Vee.



Pria itu bisa melihat kondisi Vee melalui mata batinnya. Seperti saat memperlihatkan ketakutan Vee pada Hideo beberapa waktu yang lalu.



"Aaaarhhhhh.... Grrr... Grrrmm... Shhh...Shhh" saat tengah lengah, telinga si pria berkupluk menangkap suara geraman dan desisan seperti ular dari hadapannya.



Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Hideo telah melahap lebih dari separuh kekuatan yang Bogo punya.



Jika bisa digambarkan secara fisik, Bogo tengah kehilangan kulit dan jaringan tulangnya karena dihisap oleh Hideo demi mencukupi kebutuhan energinya secara instan.



Bukan hanya si pria berkupluk, bahkan ibunya yang melihat itu semua merasa bergidik ngeri dengan hilangnya organ-organ dari Bogo yang dihisap oleh Hideo.



Ketakutan mommy Seno semakin bertambah karena mimik wajah Hideo yang beliau kira adalah Seno memang juga cukup mengerikan saat melakukan hal seperti itu terhadap Bogo.



Kilatan mata berwarna merah terpendar dari geramnya Hideo saat mengeksekusi Bogo. Hingga membuat kematian Bogo semakin cepat dan begitu terlihat menyakitkan karena Hideo yang melakukannya dengan penuh emosi.



Satu tangan Hideo terlepas dari genggamannya terhadap Bogo dan terlihat menunjuk ke arah Si pria berkupluk yang telah bersiap mencelakai ibunya.



Rupanya si pria menyangka jika fokus Hideo hanyalah Bogo kali ini, dan dia tengah terlupakan ibunya yang memandang ke arahnya dengan pandangan hampa.



Momen itu digunakan si pria untuk berusaha mencelakai mommy Seno dengan kekuatannya yang tersisa.



Tapi rupanya dia salah, Hideo menjentikkan jarinya sembari masih menghisap Bogo yang sebentar lagi pasti akan menjadi asap.



Dan pria itupun terpelanting jauh dari tempatnya berdiri. Jatuh bergulung-gulung seperti terkena serudukan sapi yang mengamuk.



"Aahhhhh" teriak si pria yang sudah terjatuh.



Tawanya yang tadi sempat menggelegar dan menciutkan nyali mommy Seno kini telah berubah. Rasa takut mulai menghinggapi hatinya.



Jiwanya yang terluka pun tak bisa membohongi untuk tidak membuat raganya merasakan hal yang sama.


__ADS_1


Ditempat raganya sedang bersemayam, pria itu nampak memuntahkan darah segar. Hingga membuat gadis cantik yang sejak tadi disuruh menjaga raganya terlihat panik.



"Oh, \*\*\*\*. What's going on with you old man?" umpat si gadis cantik.



Merasa sedang tak baik, gadis itu mencabut sebuah keris yang tertancap di sebuah bungkusan yang terendam di air bercampur bunga tujuh rupa yang berada di dalam sebuah bejana kuningan.



Dia melihat sendiri jika keris itu nampak gemetaran di dalamnya. Begitupun kondisi si pria berkupluk yang duduknya sudah tak lagi tenang.



Tapi pria itu masih saja memejamkan mata meski muntahan darahnya terlihat cukup parah.



"Ah, susah juga mencabutnya" gumam gadis itu sambil tetap berusaha.



"Ugh! akhirnya berhasil juga" kata si gadis dengan sunggingan senyum culas setelah berhasil mencabut keris itu.



Seketika membuat si pria berkupluk yang duduk bersila di hadapannya ambruk sambil kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya.



"Ugh! Menjijikkan" keluh si gadis sambil mengelap cipratan darah dari mulut si pria yang mengenai lengannya.



Sedikit kelegaan di hati Hideo, fokusnya kali ini adalah menghabisi Bogo terlebih dahulu setelah melihat si pria hilang menjadi kilauan cahaya putih yang terbang terbawa angin.



Tinggal sedikit lagi, kini Bogo telah serupa garis hitam dengan gambar anggota tubuh.




Dengan gaya cool nya, Hideo mengelap ujung bibir seperti habis minum. Dan kini pria tampan itu menoleh pada ibunya yang tengah memandanginya dengan tatapan takut, bahkan mulutnya sedikit menganga tanpa suara.



"Maafkan saya, bu. Sekarang mari kita pulang" tutur Hideo yang irish matanya telah berubah kemerahan.



Uluran tangan Hideo pada ibunya tak digubris. Hideo tahu jika ibunya terlalu takut untuk sekedar memegang tangannya.



"Sekali lagi maafkan saya, bu" ucap Hideo sambil kembali merapalkan mantra untuk membuat ibunya lupa dengan semua kejadian yang telah beliau alami selama berada di alam ini.



Setelah merampungkan mantranya, Hideo mengusap wajah sang ibu dengan lembut. Beruntung ibunya tak menolak hal itu. Mungkin efek rasa syok yang dialami membuat ibunya tak begitu perduli dengan apa yang tengah dialami.



Di kediamannya, Papa Seno, Aish, Hendra fan beberapa orang art masih berkumpul di ruang tamu guna membantu Aish untuk melafazkan sederetan doa pada sang pencipta untuk melindungi dua orang yang masih tak sadarkan diri.



Beberapa kali terlihat tubuh Mommy dan Seno nampak berguncang. Kadang pelan, kadang juga kencang.



"Aahhh" teriak mommy Seno yang terbangun dari tidurnya dan langsung duduk sambil membelalakkan mata.



Sedetik berikutnya, mommy Seno nampak lemas tak berdaya. Dan dengan sigap, papi Seno menopang berat badan istrinya dari belakang hingga mommy bisa bersandar dengan nyaman pada suaminya.

__ADS_1



"Alhamdulillah, Mommy sudah siuman" kata Aish lirih sampai meneteskan air mata, sementara yang lain mulai melihat ke arah Seni yang masih betah memejamkan matanya.



Hideo sedikit kesulitan untuk kembali memasuki raga kosong yang selama ini menampung jiwanya.



"Nak, bangun nak" kata Mommy Seno yang merangkak menuju tempat anaknya yang tengah berbaring.



Air mata berjatuhan dari netra lelah sang mommy yang sudah lupa akan kejadian yang telah beliau alami di alam lain tadi.



"Tenang, mom. Seno pasti bangun. Mommy minum dulu ya. Mommy juga terlihat sangat lemas" tutur Aish sambil menyodorkan segelas air putih.



Mommy Seno mengangguk pelan, beliau menghabiskan segelas air yang disodorkan kepadanya.



Dan kembali mengamati anaknya yang tak kunjung siuman. Tapi mulai ada pergerakan darinya.



Kelopak mata Seno mulai bergerak pelan. Dan nafasnya kasar tak beraturan. Melihat itu, semua orang kompak mendekat ke arahnya.



Mommy memijat kaki anaknya dengan sayang, berharap bisa memberi kenyamanan agar anak kesayangannya itu bisa segera membuka matanya.



Sementara sang ayah mengguncang pelan bahu Seno sambil sesekali memanggil anaknya.



"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, nak" kata Mommynya senang.



Perlahan Seno mulai terbiasa dengan cahaya terang dari ruang tamu yang berisi beberapa orang di sekitarnya.



Pria itupun duduk sambil memegangi keningnya yang sedikit pusing.



Sementara si pria berkupluk pun juga sudah membuka matanya dengan tubuh ringkih karena energinya yang terkuras habis saat melawan Seno dan juga harus membuat si wanita berwajah hitam harus tunduk pada perintahnya.


"Bangun pak tua, jangan berpura-pura lemas tak berdaya seperti itu. Masih banyak hal yang harus kau lakukan" kata si wanita cantik dengan nada ketusnya.


"Kau sangat berambisi untuk memiliki pria itu rupanya" kata si pria berkupluk dengan nada tak kalah ketus.


"Bukan dia yang aku inginkan, pria itu adalah cinta sejati si pemilik wajah ini. Tapi bukan pemilik hatiku. Kau salah paham" kata si wanita cantik.


"Lantas kenapa kau ingin mencelakai pria tampan itu?" tanya Si pria berkupluk dengan penasaran.


"Bukan urusanmu. Kerjakan saja pekerjaanmu dengan baik agar kau bisa mendapatkan bayaran mahal dari kami" ejek si wanita.


Pria berkupluk sedikit tersinggung dengan ucapan wanita cantik di hadapannya ini.


Tak semua orang pintar itu berhati baik, buktinya si pria berkupluk ini malah punya rencana jahat terhadap si wanita cantik yang bermulut pedas ini.


"Baiklah, kau tak usah banyak bicara nona. Lihat saja hasil akhirnya nanti. Tapi, ada satu hal yang harus kau lakukan untukku agar kekuatanku kembali normal, bahkan bisa lebih dari sekedar untuk menumpaskan keluarga Widjojo" kata si pria berkupluk dengan seringai jahatnya.


Sebenarnya wanita cantik itu merasa tak nyaman dengan tatapan pria itu. Apalagi dia hanya sendirian di tempat ini, maksudnya hanya berdua saja dengan pria itu.


Lantas apa yang harus wanita itu lakukan untuk pria berkupluk?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2