Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
gara-gara Hideo


__ADS_3

Berjalan perlahan, keraguan meliputi seluruh hati Veronica.


Otaknya tak sebrilian Varo yang bisa mengerjakan soal serumit apapun. Mungkin saat pembagian otak, Vee masih berkeliaran hingga malaikat malah memberinya otak kanan yang lebih berat untuk bersenang-senang daripada memberinya otak kiri untuk berfikir serius.


"Ya Tuhan, bantulah hambamu ini" Vee berdoa sebelum mengerjakan soal matematika yang terlihat sangat sulit di mata Vee.


Teman-temannya malah menertawakan tingkah Vee yang berdoa sebelum mengerjakan soal di papan tulis.


"Diam semuanya, mari kita lihat seberapa pintar seorang Veeronica hingga berani menyuruh saya diam" kata pak guru.


Vee hanya mendengus sebal, tadi kan dia sudah minta maaf. Kenapa pak guru suka sekali menguak kembali kesalahan seseorang sih.


Seperti wanita yang sedang PMS saja.


"Tulis seperti yang saya katakan, Vee!" perintah Hideo.


"Kalau salah? Aku yang kena hukuman lagi, om" kata Vee lirih, sambil memandangi soal di papan tulis.


"Sudahlah, percayalah pada saya. Saya mengerti kalau otak kamu tidak sampai pada soal seperti ini" ejek Hideo.


"Ok, yang penting soal ini ada jawabannya" kata Vee lirih.


Hideo mendiktekan jawaban dari soal yang ada di papan tulis.


Cukup rumit memang, meski hanya sekedar menuliskan jawaban dari Hideo, nyatanya sudah membuat pikiran Vee sekusut benang jahit yang terurai.


"Sudah Vee, berikan spidolnya pada guru kamu" kata Hideo.


Butuh waktu lebih dari sepuluh menit meski hanya sekedar mencatat jawaban dari mulut Hideo.


"Sudah, pak" kata Vee dengan senyum simpulnya.


Memberikan spidol hitam kepada pak guru yang seolah takjub melihat keberhasilan Vee untuk menjawab soal rumit yang masih akan dijelaskannya tadi.


"Tumben sekali otak kamu brilian sekali, Veronica?" tanya oak guru yang masih mengecek jawaban Vee di papan tulis.


"Mungkin efek liburan semester membuat otak kamu lebih fresh sehingga bisa berfikir lebih baik ya, Veronica?" tanya Pak guru yang telah selesai mengecek jawaban Vee.


"Sepertinya begitu pak" kata Vee yang masih belum diperbolehkan duduk.


"Satu lagi Vee, kurangi kebiasaan memotret yang tidak berguna itu. Lebih banyak belajar akan membuat masa depan kamu lebih baik" pak guru menasehati Vee.


"Saya rasa lebih baik balance pak, hobi dan belajar itu sama-sama penting bagi saya" kata Vee, berani sekali mulutnya.

__ADS_1


"Kamu menasehati bapak, Vee?" tanya pak guru sedikit tidak suka.


"Bukannya begitu pak, memotret iku sudah seperti sisi lain dari hidup saya. Jadi saya dan kamera itu seperti tidak bisa dipisahkan" kaya Vee membela diri.


"Terserah kamu, Vee. Sekarang kamu boleh duduk" kata pak guru.


"Pintar sekali kamu, om?" tanya Vee lirih lada Hideo yang masih melayang mensejajari langkahnya.


"Tentu, saya adalah pria terpandai di zamanku. Dan untuk soal seperti ini, sebenarnya sudah ada sejak dulu. Hanya saja penjabarannya berbeda. Tapi saya masih ingat betul bagaimana para pengajar di zaman saya juga pernah membahas soal menyerupai ini" kata Hideo.


Vee manggut-manggut mendengar jawaban Hideo. Memang orang-orang tua zaman dulu sangat pandai berhitung meski tidak menggunakan kalkulator.


"Kenapa kamu manggut-manggut, Vee?" tanya Iqbal, teman yang duduk di dekatnya.


"Nggak apa-apa, aku takjub saja pada diriku sendiri yang bisa menjawab soal sesulit itu" kata Vee membanggakan diri.


"Sombong" kata Iqbal.


"Biarin" balas Vee yang sudah duduk manis di bangkunya.


Hingga jak istirahat tiba, Vee yang sudah membereskan peralatan sekolahnya tentu segera beranjak ke kantin untuk membeli makanan.


Masih bersama Hideo yang tengah memandangi situasi sekolah. Terbang melayang di dekat Vee.


"Makan bakso saja deh" gumam Vee yang sudah mengarahkan langkahnya ke arah stand bakso.


"Heboh banget ada apa sih?" tanya Vee pada teman-temannya.


"Kamu belum dengar berita terbaru, Vee?" tanya temannya.


"Berita apa?" tanya Vee sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu, di Senopati OW mau konser di kota kita" kata temannya dengan penuh semangat.


"Senopati OW? Siapa itu?" tanya Vee, karena memang dia benar-benar tidak tahu siapa yang sedang temannya bahas.


"Kamu itu makanya jangan bergaul sama kamera doang dong Vee. Sampai artis setenar Senopati kamu bisa nggak tahu" kata temannya yang tidak percaya jika masih ada orang yang tidak mengenali Seno.


"Nggak penting sih menurut aku. Memangnya seperti apa sih orangnya?" tanya Vee, rupanya dia penasaran juga.


"Nih orangnya" kata salah satu temannya memperlihatkan poster ukuran 10R yang berisi foto sekaligus info tentang konser Senopati.


Vee memperhatikan poster itu dengan seksama, "Memang tampan sih" gumam Vee yang terdengar di telinga Hideo.

__ADS_1


"Masih lebih tampan saya, Vee" komentar Hideo yang ikut melihat poster itu.


Vee hanya mencebik, menatap penuh pada wajah Hideo yang melayang rendah sambil membungkukkan badannya agar bisa melihat poster itu dengan baik.


"Beda tipis lah, mereka berdua sama-sama tampan" kata Vee dalam hatinya.


Jika wajah Hideo lebih terkesan serius dan dewasa, beda lagi dengan Senopati yang ceria dan kekanak-kanakan.


Tapi sepertinya mereka berdua seumuran jika seandainya Seno dan Hideo hidup di zaman yang sama.


"Kapan konsernya?" tanya Vee pada teman-temannya.


"Kira-kira empat bulan lagi, tapi saat dia konser disini, kita semua sudah selesai ujian nasional meski masih belum wisuda" kata temannya.


"Akurat sekali perhitungan kalian" komentar Vee yang sudah sibuk dengan mangkuk baksonya.


"Tentu dong, kita semua kan mau nonton konsernya dia. Kamu mau ikutan nggak?" tanya temannya.


"Nggak tahu deh, lihat nanti. Kalau ada waktu ya boleh juga kita lihat sama-sama, ya" kata Vee, sekedar untuk menyenangkan hati temannya.


Karena sebenarnya, Vee tidak begitu tertarik dengan konser dan semacamnya. Lebih baik melihat indahnya malam dengan kamera menyala daripada harus berdesakan di kerumunan manusia yang melihat ke satu titik saja. Seorang artis yang menjadi pusat perhatian.


"Kalian sepertinya ngefans banget sama Si Seno itu" kata Vee.


"Oh pastinya dong Vee. Dia itu selain tampan, kaya, multitalenta fan juga pastinya nggak playboy. Satu-satunya cewek yang dia publikasikan ke media ya sahabatnya, si princess Aishyah itu. Gila nggak sih ada cowok sempurna kayak dia" kata temannya dengan mata menerawang, seolah sedang berhadapan dengan si Senopati.


"Eh, tapi kabarnya di konsernya juga akan kedatangan tamu special. Kira-kira siapa ya tamunya?" tanya satu temannya.


"Palingan juga Richard, dia juga cakep sih menurut aku" kata temannya yang lain.


"Tapi kabarnya mereka itu nggak akur, ya?" masih menggibah orang yang tidak dikenali, Vee jadi merasa mengantuk.


"Siapa lagi itu Richard?" tanya Vee.


"Berhubungan sama makhluk gunung kayak kamu memang nggak seru, Vee. Senopati nggak tahu, Richard juga nggak tahu. Terus kamu itu tahunya apa, Vee?" tanya Temannya.


"Kamera doang mah kalau dia itu" sindir temannya yang lain.


"Nah, betul. Itu aku tahu" kata Vee sambil menghabiskan seporsi baksonya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2