Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Sungguh aku tak menyangka


__ADS_3

Princess Aish, dengan segala kelembutan hatinya sudah mengumpulkan para mahasiswa untuk melakukan doa bersama demi keamanan dan semoga Vee segera ditemukan.


Sementara Hendra memilih untuk berjaga bersama HoRoCi untuk mencari peluang terkecil agara Vee segera ditemukan.


Dia sedikit heran dengan sikap Seno yang terlihat sangat berantakan dengan hilangnya Vee. Dan hal itu meyakinkannya jika sahabatnya itu sudah memantapkan hati untuk Vee. Hendra sendiri tentu akan membantu Seno sebisa mungkin.


"Apa yang kalian lakukan kemarin saat Vee masih bersama kalian?" tanya Hendra pada HoRoCi yang nampak sangat bersedih.


"Kami sedang menghadapi seorang wanita berwajah hitam saat perhatian kami terhadap Vee teralihkan" cicit Ci, si paling kecil.


"Wanita berwajah hitam? Siapa yang kalian maksud?" tanya Hendra heran.


"Wanita itu sebelumnya telah menyerang Vee di dalam tendanya hingga pangeran membangunkan kami untuk membantu Vee" kata Ro, sementara Ho terlihat masih berfikir.


"Bukankah wanita itu belum musnah? Semalam dia pergi sebelum kita berhasil melumpuhkannya, bukan?" tanya Ho pada kedua saudaranya.


"Lalu kemana perginya dia sekarang? Seharusnya dia tak bisa pergi jauh karena kita sudah hampir melumpuhkannya, bukan?" tanya Ho lagi.


"Ya, kau benar Ho. Sebaiknya kita cari saja wanita itu, lalu kita tanyakan siapa yang telah menyuruhnya untuk mencelakai Vee" usul Ro.


Ho dan Ci nampak bersemangat kali ini. Mendengar saran dari Ho sepertinya itu adalah yang terbaik untuk dilakukan saat ini.


"Apa kalian yakin?" tanya Hendra memastikan lagi, sengaja dia memilih tempat yang agak jauh dari kerumunan para mahasiswa untuk bertukar pikiran dengan ketiga bocil setan itu.


"Ya, dan kau bisa membantu kami untuk mencarinya. Kita satukan kekuatan kita agar bisa mendeteksi keberadaan wanita itu dengan cepat" usul Ho.


Ketiganya mengangguk, menyetujui saran dari Ho yang sepertinya memang masuk akal dan yang terbaik untuk dicoba kali ini.




Sementara si ruangannya, Vee masih daja merengek agar Daren mau membukakan ikatan di tangannya.



"Ayolah kak, bantu aku melepaskan tali ini. Kau kan sudah janji untuk membantuku" kata Vee setelah Daren mengantongi ponselnya lagi.



Daren menoleh, menatap serius ke arah wajah Vee yang penuh tanda tanya. Lalu tersenyum manis dan mendekati gadis itu.



"\*\*\*\*! Gue benar-benar jatuh hati sama nih cewek sialan" umpat Daren dalam hatinya, senyumnya masih melekat indah di wajah tampannya.



"Lo mau gue bantuin buat buka ikatan di tangan lo, Vee?" tanya Daren.



Vee mengangguk antusias, dan tersenyum manis hingga kedua bola matanya menjadi satu garis.



"Jangan berwajah seperti itu, Vee. Aku jadi makin jatuh hati padamu" ungkap Daren.



"Oh, ayolah kak. Jangan banyak bercanda. Tolong lepaskan ikatan ini dan kita bisa mencari jalan keluar dari sini bersama-sama" bujuk Vee yang merasa Daren sedang mempermainkannya.



"Untuk apa aku ingin keluar dari sini? Tempat ini adalah tempatku, Vee. Dan akupun tak akan membiarkanmu pergi dari sini" tutur Daren sambil menangkup kedua pipi Vee dengan telapak tangannya.



"Maksud kakak?" tanya Vee heran, dia masih tak percaya dengan semua penuturan Daren.



"Hahahaha, lo ini memang sangat lugu ya, Vee. Tapi tidak apa-apa. Gue makin sayang sama lo" ucap Daren masih dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah Vee.



"Dengan susah payah gue berusaha bawa lo kesini, dan seenaknya lo mau pergi begitu saja, Vee?" tanya Daren.


__ADS_1


"Nggak akan gue biarin itu terjadi" kata Daren sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Vee.



Menangkup kedua pipi Vee agar gadis itu diam, dan Daren sangat ingin untuk sekedar mengecup singkat bibir Vee yang nampak manis di matanya.



Tapi bukan Vee namanya kalau harus diam dan menurut. Sebisa mungkin dia akan menjaga diri dan kehormatannya sebagai seorang wanita dan sebagai seorang istri dari Ongkoseno Widjojo.



Tanpa Daren sangka, Vee meludahi wajah tampannya. Tentu hal itu membuat Daren terkejut dan sangat marah.



Raut wajahnya mulai memerah, dan senyum smirk tercetak jelas di wajahnya.



"Beraninya kau lakukan itu sama gue, Vee?" tanya Daren lirih sambil mengusap bekas ludahan Vee di wajahnya.



"Kenapa aku harus takut? Harga diriku terlalu tinggi untuk kuberikan cuma-cuma pada pria sepertimu" kecam Vee yang tak lagi menampilkan senyum manisnya.



"Hahaha, ternyata lo sombong juga ya Vee. Dalam keadaan tak berdaya seperti ini saja lo masih bisa sok jual mahal sama gue" kata Daren sambil terkekeh.



Mendapat perlakuan buruk seperti itu membuat Daren semakin tertantang.



Segera saja Daren mendorong kedua bahu Vee hingga membuatnya jatuh telentang. Sehingga memudahkan Daren untuk melakukan aksinya yang masih ingin sekedar mencium bibir Vee yang nampak manis di matanya.



Meski dalam keadaan terpojok, dengan sekuat tenaga Vee masih berusaha untuk menghindar dari semua serangan yang Daren berikan padanya.




Hingga saat pintu terbuka dari luar, Daren tak menyadari jika seorang wanita cantik yang tadi telah dihubunginya sudah datang bersama dua pria dibelakangnya.



"Oh \*\*\*\*! Daren, what are you doing?" bentak wanita itu, hingga membuat Daren bersungut semakin geram karena belum berhasil mencapai niatnya, dan wanita itu malah datang mengacaukan segalanya.



"\*\*\*\*! Lo yang ngapain? Datang di waktu yang tidak tepat" keluh Daren yang kini sudah dalam posisi duduk.



Sementara Vee masih telentang dan memandangi wanita yang baru saja datang bersama dua pria di belakangnya.



"Loh, kakak kan yang waktu itu ada konser sama kak Seno ya? Kakak masih ingat nggak sama aku?" tanya Vee senang, berharap akan ada pertolongan datang padanya.



Sementara kedua pria di belakang wanita itu masih terdiam.



"Tentu saja gue ingat, cewek bodoh. Lo pikir siapa yang merencanakan semua ini? Hah?" tanya si wanita sambil menendangi kaki Vee yang sudah mampu duduk tanpa bantuan siapapun.



Tentu Vee sangat terkejut mendengar semua itu. Dia sama sekali tak menyangka jika selama ini bahaya berada di sekitarnya.



"Maksud kakak? Tapi kenapa? Salahku apa kak?" tanya Vee heran, sungguh dia tak menyangka dengan semua yang sedang dialaminya.

__ADS_1



"Tapi sumpah, kakak mirip banget sama kak Aish. Apa kalian kembar?" tanya Vee heran.



"Lo tuh selain polos ternyata juga bego ya, Vee. Tapi gue heran kenapa bisa gue jatuh hati sama cewek begi kayak lo" kata Daren sambil menjambak rambut Vee ke belakang, hingga membuat gadis itu merintih menahan sakit.



"Lepasin kak, sakit. Mau kalian itu apa sih sebenarnya?" tanya Vee yang sudah sangat penasaran.



"Kita maunya, lo berikan rekaman kejadian di malam saat gue mau buang mayatnya Senopati di hutan waktu itu. Karena gue yakin kalau rekamannya masih ada di elo" tutur si wanita cantik.



"Rekaman malam itu?" gumam Vee yang kini mulai sadar dengan siapa para manusia yang sedang dihadapinya ini.



Melihat reaksi wajah terkejut yang Vee berikan, membuat ke empat orang di hadapannya itu semakin yakin jika Vee sudah menyadari semuanya.



"Tunggu, berarti kakak yang sudah berusaha membuat kak Seno celaka ya? Tapi kenapa kak? Apa salah kak Seno hingga membuat kakak tega mencelakainya?" tanya Vee.



Wanita itu malah tergelak kencang. Tapi tak membuat ketiga pria yang mengelilinginya untuk menegurnya.



Kini Vee mulai mengedarkan pandangan, mengamati saru per satu wajah yang berdiri mengitarinya.



Ada Daren yang kini berwajah sendu, ada pria berkupluk hitam yang Vee rasa pernah dilihatnya meski dia lupa dimana. Dan terakhir, ada seorang pria bertubuh setengah ular dengan wajah mengerikan.



Ada dua taring yang menonjol hingga keluar dari bibirnya, sementara matanya berwarna merah dengan pupil yang lonjong. Tak ada rambut di kepalanya, sungguh pelontos yang sempurna tapi warna kulitnya sedikit abu-abu.



Vee bergidik ngeri, dan hal itu sepertinya terlihat oleh si pria ular hingga membuatnya menambah kesan seram dengan melotot ke arah Vee.



"Hii, serem" gumam Vee sambil bergidik ngeri hingga bahunya terangkat.



Sementara wanita itu malah memandangi ke arah raja yang nampak tetap tampan di matanya. Dan saat pandangan keduanya bertemu, mereka saling melempar senyum seperti sepasang kekasih yang baru saja jadian.



Vee jadi mual dibuatnya. Tak habis pikir jika wanita itu akan jatuh ke dalam tipu muslihat si raja jin.



"Apa lo benar-benar penasaran dengan semua ini, cewek bodoh?" tanya si wanita.



"Oke, gue bakalan ceritain semuanya sama lo sebelum kita habisin lo. Biar lo nggak mati penasaran" kata si wanita yang sudah berjongkok di hadapan Vee.



Meski cara berjongkoknya terlihat susah payah, tapi wanita itu telah berhasil melakukannya dan memegang kedua pipi Vee dalam genggamannya.



.


.


.

__ADS_1


__ADS_2