
"Seno, sayang... Ini benar kamu, nak?" teriak seorang ibu muda dengan histeris saat Hideo membuka pintu ruang tamu.
Tiba-tiba wanita itu berlari dan memeluk erat tubuh Hideo dengan tangisan yang terurai dari kedua netranya.
"Seno, mommy mencarimu sejak dua hari yang lalu. Sejak manager kamu bilang kalau kamu hilang, mommy sama papi langsung terbang ke Malang untuk mencari kamu, nak. Huu... Huu .. Huu..." wanita itu terus saja berbicara sambil menangis dan masih mendekap erat tubuh Hideo.
"Papi senang melihat kamu baik-baik saja, nak. Seharusnya memang sejak dulu papi melarang kamu masuk ke dunia artis begini. Lihat saja akibatnya, kamu sampai hilang" kali ini pria tua yang masih terlihat wibawanya ikut berpendapat.
Sedangkan Vee hanya terpaku di tempatnya, bingung harus berbuat apa saat melihat orang tua yang sepertinya sangat merindukan anaknya.
"Seno, pokoknya hari ini juga kamu harus ikut mommy pulang ke Jakarta. Jangan ditunda lagi. Mommy nggak mau kalau sampai harus kehilangan kamu, nak. Bisa mati berdiri kalau sampai mommy jauh dari kamu" wanita itu terus saja menangis meski sudah melepaskan dekapannya.
Hideo masih terdiam, dia menyadari jika kedua orang ini adalah orang tua Senopati. Dan sebenarnya dalam hatinya, Hideo merasakan kehangatan orang tua melalui sentuhan wanita ini.
Mungkin itu adalah respon alami dari dalam tubuh Senopati saat orang terdekatnya sedang memeluknya.
"Kamu pasti cewek yang katanya menyembunyikan Seno, ya? Tolong kasih tau saya, kenapa kamu melakukan itu?" tanya wanita itu saat menyadari adanya Vee di belakang tubuh Seno.
"Aargh!" teriak Hideo saat wanita itu menggenggam lengannya yang semalam dijahit.
"Kenapa nak? Apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu bisa sampai terluka begini?" tanya wanita itu bertubi-tubi, apalagi saat mendapati luka jahitan di lengan kiri Senopati.
Hideo sampai bingung bagaimana cara untuk menanggapinya.
"Maaf tante, semalam kak Hideo jatuh dari motor" kata Vee yang melihat Hideo masih merintih menahan sakit di lengannya.
"Siapa yang kamu maksud Hideo? Dia ini Senopati, anak saya" kata wanita itu sedikit ketus.
"Maaf bu. Vee adalah penolong saya. Jadi saya harap ibu bisa sedikit sopan terhadapnya" kata Hideo.
Mommy Seno terpaku setelah mendengar ucapan Seno barusan.
"Kenapa kamu panggil aku ibu? Aku ini mommy kamu, Seno. Kamu jangan bercanda sama mommy ya. Mommy nggak suka kalau kamu bercandanya begitu" kata mommy Seno.
"Saya hanya tidak suka jika ada yang bertindak buruk terhadap Vee" kata Hideo.
"Cukup Seno! Cukup ya main-mainnya. Mommy tahu kalau kamu itu seorang aktor. Tapi mommy nggak suka kalau kamu mempermainkan mommy seperti itu. Mommy kan sedih, Seno" kata wanita itu mendramatisir, bahkan dia sampai menangis.
"Kamu ini apa-apaan sih, Sen. Mommy sampai nangis begitu. Sudah ya, jangan main-main lagi. Kami datang kesini untuk menjemput kamu. Sekarang kita pulang ya" ajak pria yang sejak tadi mengaku menjadi papi Seno.
Hideo hanya terdiam, sekarang dia jadi bingung sendiri.
Bukan salahnya jika kedua orang tua ini ingin menjemput anaknya. Dan Hideo sadar jika tubuh yang ditempati olehnya ini masih berstatus seorang anak yang mungkin masih punya orang tua.
__ADS_1
"Saya berhutang banyak terhadap Vee. Bukan hanya tentang materi, tapi sayapun berhutang nyawa padanya, bu. Jika kalian meminta saya pergi, maka saya akan membawa Vee untuk turut serta dengan saya. Tapi jika dia meminta untuk tetap disini, maka sayapun akan tetap disini bersamanya" Hideo telah memantapkan hatinya untuk selalu bersama Vee rupanya.
Mendengar ucapan Hideo, bukannya merasa senang tapi Vee malah merasa jika dia jadi sedikit takut pada Hideo.
"Kenapa kamu jadi berubah begini sih, Sen? Kamu lagi amnesia ya? Kepala kamu ikutan terbentur saat kamu terjatuh?" tanya mommy Seno heran.
"Hanya lengan saya yang terluka, tapi saya serius bu. Saya hanya akan pergi jika Vee juga ikut pergi bersama saya" ucap Hideo mantap, karena kedua orang tua ini masih saja ingin membawanya pergi.
"Tunggu, tunggu sebentar. Kepala mama pusing banget mikirin kamu yang jadi aneh begini. Ayo, kalian berdua duduk dulu. Kita omongin ini bersama-sama" perintah mommy Seno.
Siapa yang punya rumah? Dan siapa yang kini malah mengatur di rumah ini?
Herannya, Vee menurut saja saat orang tua ini yang menyuruhnya duduk.
Hideo duduk bersisian dengan Veronica, berhadapan dengan mommy dan papi Seno. Sedangkan diluar sudah berdiri beberapa orang bodyguard yang sejak yadi mengamankan area rumah Vee.
"Sekarang ceritakan sama mommy, kenapa kamu bisa sampai hilang dan malah berada disini?" tanya mommy Seno mengadili putranya.
Hideo menghela nafasnya kasar, bingung bagaimana mengawali ceritanya.
"Malam itu, ada beberapa orang yang mau menculik saya bu. Waktu itu sudah hampir tengah malam saat orang-orang itu membawa saya ke tengah hutan yang saya tidak ketahui dimana letaknya" Hideo mengawali ceritanya.
"Saat itu, saya tidak tahu bagaimana caranya Vee bisa berada di tempat itu dan bisa membuat kawanan penculik itu lari tunggang langgang. Saya tidak bisa melihat semuanya karena saya dimasukkan ke dalam kantong plastik yang biasanya digunakan untuk membawa mayat dan kantong itu tertutup" Hideo bercerita dengan beberapa bumbu kebohongan disini, rupanya dia mencontoh kebiasaan buruk Vee yang suka berbohong untuk menyelamatkan diri.
Mommy Seno sangat mendalami cerita yang Hideo sampaikan.
"Lalu apa yang kamu lakukan di tengah hutan di malam seperti itu, nak?" tanya papi Seno pada Vee, sepertinya banyak kejanggalan yang beliau rasakan.
"Nama saya Veronica, pak. Bapak bisa panggil saya Vee" kata Vee mengawali cerita versinya.
"Sebenarnya hutan itu adalah kawasan hutang lindung yang ada di atas bukit, tidak jauh dari perumahan tempat tinggal saya disini. Hari itu saya sedang hunting foto sejak siang hari, tapi karena saya ketiduran di dekat sungai malah membuat saya kemalaman saat mau pulang" cerita versi Vee mulai diperdengarkan.
"Dan saat saya dalam perjalanan pulang, saya melihat ada mobil van yang berhenti di tepi jalan. Beberapa orang yang keluar dari dalam mobil itu membawa sekantong besar bungkusan yang saya tidak tahu isinya".
"Setelah mereka pergi, saya cek isi di dalam kantong itu ternyata isinya adalah Senopati ini. Saya membawanya pulang kesini untuk diobati, dan beruntungnya sekarang dia baik-baik saja" kata Vee mengakhiri ceritanya.
"Bagaimana caranya kamu membawa anak saya kesini?" tanya papi Seno.
"Jalan kaki pak, karena sayapun tidak membawa kendaraan hari itu" jawab Vee.
"Lalu, apakah orang-orang yang membawa Seno tidak melihatmu?" tanya papi Seno lagi.
"Malam itu saya sengaja tidak lewat jalan raya, pak. Karena saya takut berpapasan dengan orang jahat, jadi saya nekat lewat dalam hutan saja. Lagipula siangnya saya sudah berusaha menghafal jalannya, jadi saya pulang melewati hutan saja. Jadi, orang-orang itu tidak ada yang melihat saya" jawab Vee berusaha santai.
__ADS_1
"Selama dua hari ini, kalian hanya tinggal berdua saja?" tanya mommy Seno, naluri kewanitaannya mulai muncul.
"Iya bu" jawan Vee sambil menunduk, dia masih tidak tahu arah bicara mommy Seno selanjutnya.
"Hanya berdua saja?" tegasnya lagi.
Keduanya malah kompak mengangguk sebagai jawaban.
Papi Seno malah menggelengkan kepalanya. Sedangkan mommy Seno malah memijit pangkal hidungnya.
"Orang tua kamu masih ada?" tanya papi Seno.
"Ada pak" jawab Vee.
"Dimana mereka?" tanya papi Seno lagi.
"Orang tua saya tinggal di komplek perumahan di bawah bukit ini, pak. Nggak jauh juga dari sini" jawab Vee santai.
"Bisa kamu minta mereka untuk datang kesini? Atau kita saja yang datang ke rumah orang tua kamu, bagaimana?" kata papi Seno memberi penawaran.
"Untuk apa pak? Selama dua hari ini saya berusaha untuk tidak memberitahu mereka tentang keberadaan Senopati disini" kata Vee mulai terbata, dia sangat takut kalau sudah berhubungan dengan bundanya.
"Tidak bisa, pokoknya kita harus membicarakan semua ini dengan orang tua kamu. Karena Senopati sendiri tidak mau ikut dengan kami tanpa kamu, jadi kami harus berbicara dengan orang tua kamu dong, Vee" kata mommy Seno sedikit ketus.
"Mom, sabar ya. Kita pasti menemukan solusinya kok" kata papi Seno berusaha menenangkan istrinya.
"Yasudah kalau begitu, biar kita saja yang mendatangi rumah orang tua kamu ya, Vee. Lebih baik kita berangkat sekarang" papi Seno berkata mutlak, dan entah mengapa Hideo maupun Vee menuruti saja permintaannya.
Mungkin itu adalah respon dari tubuh Senopati yang selalu patuh pada orang tuanya.
Tak mau menunggu lama, merekapun mengajak Vee dan Hideo mengunjungi rumah ayah Jovan dan bunda Vani meski hati Vee sudah merasa ketar-ketir sejak papi Seno menyinggung nama bundanya.
Rombongan itu keluar dari rumah Vee sore hari. Mommy dan papi Seno meminta Vee dan Seno untuk satu mobil dengan mereka, dan dua mobil lainnya diisi oleh body guard.
"Aku takut kalau sudah menyinggung nama bunda, kak" kata Vee lirih pada Hideo yang duduk disampingnya.
"Kita hadapi bersama" kata Hideo memberi semangat.
.
.
.
__ADS_1
.