Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
mencari energi


__ADS_3

Hideo masih terlihat tidak baik-baik saja. Pantulan dirinya semendung malam ini. Dimana bulan tertutup awan tapi tak ada tanda-tanda akan turunnya hujan.


Sedangkan Vee yang entahlah, kenapa dia terlalu acuh pada penampakan Hideo belakangan ini.


Hingga Hideo yang merasa begitu lemah tak bisa terlihat di mata Veronica.


"Selamat malam kak, selamat tidur" ujar Vee yang telah mantap bergelung didalam selimutnya.


Hideo masih melayang disekitarnya, menatap penuh arti pada Vee yang sudah terlihat nyaman di posisinya.


"Kenapa saya merasa nyaman didekat gadis bodoh seperti kamu, Vee?" gumam Hideo.


Heran saja, kenapa dia tidak bisa jauh dari seorang Veronica yang bodoh, ceroboh dan tomboy ini.


Seperti kali ini, Vee yang sudah nyaman dalam tidurnya selalu saja membuka kaosnya hingga memperlihatkan perut datarnya. Dan menendang selimut yang tadi menutupinya hingga terjatuh ke bawah ranjang.


Dan jika sudah begini, tandanya Vee sudah terlelap dalam tidurnya.


"Kamu sangat berbeda Vee. Dibalik sifat kamu yang bodoh dan ceroboh, kamu adalah gadis yang polos, apa adanya, tidak sombong dan penyayang" Hideo masih menggumam dan sedikit memuji seorang Vee.


"Argh, sepertinya saya harus segera mencari energi dari sekitar sini. Atau aku akan lenyap sebelum genap empat purnama" kata Hideo yang sudah terbang menuju keluar rumah.


Menerobos dinding dan pintu tanpa masalah. Karena dia bukanlah benda. Entahlah, bagaimana menjabarkan sesosok Hideo.


Tiba diluar, Hideo sudah menajamkan matanya untuk mencari energi yang bisa dihisapnya.


Jika ada hewan melata, dia akan mengambil energinya. Tapi jika ada makhluk halus yang cukup kuat, lebih baik dia memilih mereka saja karena bisa memberinya lebih banyak energi untuk menghadapi kematiannya beberapa hari ke depan.


Saat purnama sudah genap empat kali, dan dia belum juga mendapatkan tubuh yang cocok untuk menggantikannya. Maka kematian yang akan diterimanya.


Dan Hideo sudah pasrah.


Sreg!


Sreg!


Terdengar langkah terseok-seok di tempat yang cukup jauh, tapi terdengar di telinga Hideo.


HoRoCi rupanya juga mendengarnya, mereka mendekat pada Hideo yang tampak serius dan menatap sekeliling.


"Aku mencium ada makhluk asing berkeliaran disekitar sini, pangeran" ucap Ho yang menajamkan satu bola matanya dan telinganya.


"Makhluk baru yang masih bingung dengan lingkungannya" kata Hideo lirih, masih berusaha mencari keberadaan makhluk itu.


"Dia ada di sebelah kiri, dua rumah dari sini. Dia sedang kebingungan di lahan kosong yang tak dihuni" Ci, bocil yang paling kecil itu rupanya sudah bisa mengasah kemampuannya dalam mencari keberadaan sesosok makhluk.


"Pangeran, sepertinya dia cocok untuk menambah energimu. Kami melihat jika pangeran sudah terlalu lemah" Ro berujar sopan.


Bagaimanapun Hideo masih berkedudukan lebih tinggi di strata perhantuan meski sekarang dia dalam keadaan yang cukup lemah.


"Tapi Vee melarang saya untuk menghisap energi dari makhluk semacam mereka" rupanya Hideo berusaha menuruti kemauan Vee.

__ADS_1


"Bukan saatnya untuk menghisap hewan melata yang energinya terlalu kecil, pangeran. Hisap saja makhluk ini, lagipula aku lihat dia adalah makhluk kebingungan yang baru keluar dari jasadnya" saran Ho.


"Saya lihat dulu dia seperti apa" ujar Hideo yang sudah melayang tinggi.


Mencari keberadaan sesosok makhluk yang baru mereka bicarakan.


Dan benar saja, memang ada sesosok pria dengan penampakan yang sangat menyedihkan.


Berada di lahan kosong dengan ilalang tinggi yang memenuhi tempat itu.


"Dia disana, pangeran" ucap Ci sambil menunjuk ke arah sosok itu.


Hideo bersama ketiga bocil setan itu terbang mendekati sosok kebingungan yang sepertinya memang baru sampai di dunia perhantuan.


Terlihat dari caranya melihat sekitar yang seperti orang linglung.


"Haaah... Haahhh... Haahhh" teriak sosok itu ketakutan saat melihat Hideo dan HoRoCi.


Dia ketakutan dan menunduk dalam saat melihat mereka.


"Siapa kamu?" tanya Hideo.


Sosok itu terlihat menyedihkan, baju lusuhnya seperti bekas kebasahan. Dan lihat saja, dibawahnya selalu menetes air tapi tak sampai membuat bumi yang dipijaknya menjadi basah.


Dan yang lebih menjijikkan adalah kulitnya yang membengkak dan menimbulkan bau busuk.


"Huuu... Huuu... Huuu" sosok itu menangis.


"Ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Hideo, dia cukup lega karena sosok ini adalah sosok putus asa yang pasti tidak keberatan jika sisa energinya akan habis dihisap olehnya nanti.


Sosok itu menggeleng, air matanya membuat tetesan air yang keluar dari tubuhnya terlihat semakin banyak meski tak sampai membuat pijakannya basah.


Hideo terbang mendekatinya, menatap mata putus asa itu dalam-dalam.


Dan terlihat dari memorinya saat terakhir berinteraksi dengan anak laki-lakinya.


"Pokoknya Adit mau motor baru, pa. Motor Adit sudah sangat jelek. Pacarku sampai memilih putus dan memilih cowok lain yang motornya lebih bagus daripada punyaku" teriak seorang anak yang mengaku bernama Adit.


"Tapi papa belum ada uang, nak. Kamu tahu sendiri kan kalau papa baru saja dipecat" keluh papanya yang tampak lusuh dan menyedihkan.


"Itu salah papa sendiri, kenapa sampai ketahuan saat mau ngambil lap top di tempat kerja papa" anak itu masih saja berteriak.


"Papa cuma mau menuruti kemauan kamu, nak. Sampai papa rela mencuri demi bisa memberimu lap top baru, supaya kamu bisa sama seperti teman-teman kamu" papanya sedikit meninggikan nada bicaranya kali ini.


Anaknya sudah sangat keterlaluan.


"Tapi kan bukan salah Adit kalau papa ketahuan. Papa saja yang nggak hati-hati" masih berteriak, Adit kekeuh mau dibelikan sepeda motor.


"Pokoknya, papa harus belikan sepeda motor baru buat Adit. Kalau tidak, Adit akan pergi dari rumah ini. Percuma rumah bagus tapi sebenarnya papa miskin" Adit menghina papanya.


Memang yang terlihat dari memori sosok ini, mereka menempati sebuah rumah yang bagus. Rumah mewah dengan berbagai macam benda mahal sebagai pajangannya.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya kamu ini?" tanya Hideo setelah keluar dari memori si sosok putus asa dihadapannya, dia masih penasaran rupanya.


"Saya manager di perusahaan kosmetik. Dan rumah mewah itu adalah peninggalan dari orang tua istri saya yang sudah meninggal" sosok itu kembali bercerita.


"Adit anak kami satu-satunya. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan saya yang sudah tidak mampu mencukupi keinginannya" sosok itu kembali menangis.


"Saya salah karena terlalu memanjakannya saat masih berjaya. Hingga dia tidak paham pada keadaan terpuruk yang sedang saya alami" katanya yang semakin tergugu dalam tangisan.


"Apa kamu mau menemuinya?" tanya Hideo.


"Tidak, dia sudah terlalu menyakiti hati saya sebagai orang tuanya. Karenanya sampai saya harus mati di dasar sungai yang dalam itu" ucapnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Hideo.


Tapi sosok itu hanya bergeming.


"Baiklah, akan saya cari tahu sendiri" ujar Hideo yang kembali masuk ke dalam memori orang ini.


"Papa sangat memalukan. Bagaimana bisa polisi sampai mencari papa ke rumah? Adit malu sama teman-teman Adit, pa" kembali Hideo melihat Adit berteriak pada papanya.


"Papa juga tidak menyangka kalau urusan lap top itu membuat mantan bos papa mengusut semuanya saat papa menjabat sebagai manager, Dit" kata papanya.


Mereka berdua sedang berada di tepi sungai, karena sang papa sedang bersembunyi dari kejaran polisi yang mencarinya.


"Papa sangat bodoh" teriak Adit sangat menggebu, padahal dia masih anak SMA.


"Aahh" tiba-tiba Adit terpeleset dan jatuh ke dalam sungai yang dalam.


Adit tidak bisa berenang, dan tentu kejadian ini membuat papanya langsung saja terjun ke dalam sungai untuk menyelamatkan sang anak semata wayang.


Adit terbawa arus, dari bawah jembatan tempat papanya bersembunyi dia terseret hingga ke sungai dalam di dekat perumahan tempat Vee tinggal.


Sungai sedalam lima meter dengan banyak akar pohon yang tumbuh didalamnya.


Papa Adit berhasil menangkap tangan anaknya. Dia menarik dan membawa Adit ke tepian sungai agar Adit selamat.


"Kamu tidak apa-apa, nak?" tanya papanya dengan berlinang air mata.


"Aah, kenapa papa nggak biarin Adit mati saja? Adit malu punya orang tua yang bodoh dan memalukan seperti papa" kata Adit sambil mendorong papanya dengan sisa tenaga yang dia miliki.


"Aahhh" papanya terpeleset, kembali terjatuh ke dalam sungai setelah sebelumnya terbentur batu besar tempat Adit berpijak dengan aman.


"Tolong papa, Dit" teriak papanya saat berhasil mencapai permukaan sungai.


Tapi Adit hanya diam, malah menyunggingkan senyum mengejek pada papanya.


"Rasain orang tua sialan" ujar Adit sambil berusaha berjalan meninggalkan papanya yang masih berjuang dari arus sungai yang membawanya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2