Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
kenapa kristalnya bergetar?


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Vee sudah resmi menyandang status sebagai mahasiswi di Universitas Bunga Bangsa.


Jadwal kuliah yang berbeda membuat Vee harus berangkat dan pulang sendiri tanpa kawalan seorang Senopati.


Dan di hari kedua masa ospek nya, Vee sedikit terlambat karena melupakan bekal yang harus dibawanya ke kampus untuk makan siang nanti.


"Aduh... Kenapa sih cerobohnya kamu tuh nggak hilang juga Vee. Gara-gara semalam lupa, sekarang malah terlambat kan" gerutunya sambil terus berlari ke aula kampus dimana ospek hari ini akan berlangsung.


"Buset, aku terlambat hampir satu jam" keluhnya yang harus berlari.


Brugh!!


"Aahhh" Vee terjatuh karena seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik dinding saat dia akan berbelok.


"Hei, sorry. Are you ok?" tanya orang itu dengan wajah bersalah sambil membantu Vee bangun.


"Oh, aku nggak apa-apa kok" jawab Vee dengan mata berbinar.


Seorang cowok blasteran dengan tampang timur tengah terlihat tampan dengan senyum terkembang. Cowok idaman Vee selama ini.


"Lo mahasiswi baru, ya?" tanya cowok.


Vee hanya mengangguk dengan senyum bodohnya.


"Lo telat?" tanya cowok itu lagi.


Dan Vee kembali mengangguk saja.


"Kenalin, gue Daren. Gue juga mahasiswa baru di kampus ini. Tapi gue nggak telat kayak lo. Bentar lagi sepertinya lo harus siapkan diri untuk hukuman" cowok yang mengaku bernama Daren itu lantas menjentikkan jarinya karena melihat Vee yang masih saja terbengong.


"Hei, I'm talking with you" ujarnya setelah Vee tersadar dari lamunannya.


"Eh, sorry. Kamu siapa?" tanya Vee yang tak mendengarkan ucapan Daren.


"Gue Daren" jawab Daren singkat.


"Oh, aku Veronica. Panggil saja aku Vee" kata Vee yang kini sudah saling bersalaman dengan Daren.


"Lo seharusnya sudah ada di aula sejak tadi. Lo sangat terlambat" kata Daren.


"Oh my God, aku lupa lagi. Dah Daren sampai jumpa lagi" kata Vee setengah berteriak dan kembali berlari sambil melambaikan tangannya.


Daren hanya menggeleng dan tersenyum manis, "Dia lucu banget" gumamnya yang juga melangkah menuju ke aula.


Sampai di aula, Daren melihat seniornya yang sedang memarahi Vee. Tapi sepertinya Vee terlihat santai saja.


"Untuk hari ini kamu masih termaafkan. Tapi ingat untuk mengerjakan hukuman kamu. Sekarang kamu boleh duduk di kelompok kamu" ucap seniornya sambil menunjuk kelompok Vee yang ada di tengah aula super besar itu.


"Terimakasih kak" kata Vee santai, gadis itu berjalan ke arah kerumunan yang memakai selendang yang sewarna dengannya, warna kuning.


Hingga waktu makan siang tiba, Vee yang memilih duduk mojok sendirian dan mulai membuka kotak bekalnya.


Tema makan siang kali ini adalah hitam putih. Tadi dia sudah membuat para art di rumah Seno sedikit kelabakan karena harua cepat menyiapkan bekal makanan sesuai petunjuk dari Vee.


Dan jadilah cumi-cumi bumbu hitam dengan nasi putih dan kerupuk putih.


"Aku kan alergi seafood, hengmh... Makan nasi pakai kerupuk saja deh" gumamnya sambil menyendokkan nasi sedikit demi sedikit karena tidak bersela hanya makan dengan kerupuk saja.

__ADS_1


"Hei, kenapa lo sendirian saja disini?" tanya seseorang yang datang dan duduk bersila di dekat Vee.


"Eh, kamu lagi. Ehm, aku lagi makan" jawabnya sambil nyengir.


Daren hanya memperhatikan Vee yang makan dengan kerupuk.


"Kenapa nggak lo makan sama lauknya?" heran Daren.


"Aku alergi Seafood kak, jadi ya makan sama kerupuknya saja" jawab Vee sambil mengendikkan bahu.


Lantas Daren hanya memandang lekat pada Vee yang sedang makan siang.


Tiba-tiba kalung kristal pemberian HoRoCi terasa panas dan bergetar. Tentu Vee jadi terkejut karenanya. Karena ini adalah pertama kalinya hal ini terjadi.


"Hai, Vee. Gue cari kemana-mana ternyata lagi mojok ya lo?" apalagi ini, James masih belum kapok rupanya.


Dan dengan datangnya James, kalung kristal itu sudah tak lagi bergetar.


"Kamu ngapain sih, James?" heran Vee yang selalu diganggu oleh James.


"Gue cuma pengen makan bareng lo. Boleh kan" tanpa persetujuan James sudah duduk di sisi sebelah Vee, di seberang Daren.


Vee hanya menghela nafasnya, biarlah mereka menemaninya makan. Daripada mereka membuat keributan.


Melihat Vee yabg taj memakan lauknya, James memberikan ayam lada hitamnya untuk Vee.


"Apa-apaan sih James?" tanya Vee.


"Gue tahu lo alergi, kan. Jadi, gue kasih punya gue, terus gue ambil punya Lo sini" kata James sambil mengulurkan kotak bekalnya, dan Vee menuruti saja permintaan James karena makan tanpa lauk memang tidak enak.


Daren hanya menyaksikan itu dengan pandangan tidak suka.


"Oh, kamu senior ya kak?" tanya Vee dengan sedikit canggung.


"Santai saja Vee, bersikaplah seperti biasanya" jawab Daren yang kini mulai membuka nasi kotak miliknya, menu pemberian panitia.


"Maaf ya kak, aku nggak tahu loh kalau kamu ini senior. Kemarin nggak lihat sih" kata Vee.


"Gue kemarin memang nggak masuk. Tapi lo nggak usah sungkan begitu Vee. Gue memang sengaja ingin berteman sama lo" kata Daren dengan sedikit logat bulenya.


"Hengmh, modus. Untung senior" sindir James.


"Lebih baik segera selesaikan makan lo dan segera kembali ke tempat lo" kata Daren.


James jadi sedikit cerewet sejak Vee bertemu di sini. Tidak seperti James yang cool saat menjadi anggota tim basket dengan banyak penggemarnya di SMA dulu.


★★★★★


Acara ospek hari ini berakhir saat mentari hampir menuruni ufuk barat. Cahaya jingga sudah menutupi sebagian langit sore.


Sebuah mobil berhenti di hadapan Vee yang sedang menunggu jemputan Seno di dekat gerbang sekolah.


"Mau pulang bareng gue? Sepertinya kita searah" rupanya Daren yang datang menawarkan tumpangan.


"Nggak usah kak, aku dijemput" jawab Vee sedikit kecewa. Coba saja Seno tidak menjemputnya, pasti dia bisa bareng cowok setampan Daren.


"Pacar lo?" tanya Daren dari balik kemudinya.

__ADS_1


Vee hanya menggeleng dan tak berniat menjawabnya. Kan memang bukan pacarnya, tapi suaminya.


Dan lagi-lagi, kalungnya terasa sedikit bergetar. Apa hanya perasaan Vee saja?


Tin... Tin...


Sebuah mobil yang berada di belakang mobil Daren mengklakson dengan keras.


"Oh, itu yang menjemputku kak. Aku duluan ya. Kakak hati-hati. Daahh" kata Vee sedikit tergesa sambil melambaikan tangannya.


"Berisik sekali sih, kak" tanya Vee yang melihat wajah datar Seno sedikit tertekuk.


"Horor banget mukanya" sindir Vee.


"Jangan terlalu dekat dengan laki-laki itu, Vee" kata Seno.


"Memangnya kenapa? Dia baik kok, lagipula dia itu seniorku. Kalau dia panitia ospek disini, mana bisa aku menjauh darinya kak. Kamu ini ada-ada saja" jawab Vee.


"Turuti saja kata-kata saya" kata Seno lagi.


"Jangan bilang kakak cemburu, hahaha" Vee malah mengejek Seno yang sedang sedikit gelisah.


Kemampuannya yang bisa membaca hati dan pikiran orang lain tak berlaku pada pria yang Vee sebut dengan nama Daren itu.


Atau mungkin jarak yang sedikit jauh yang membuatnya tak bisa leluasa untuk melakukan itu?


Perasaan Seno jadi sedikit tak nyaman dengan keselamatan wanitanya.


"Kakak dari kampus?" tanya Vee mengalihkan perhatian Seno yang seperti sedang banyak pikiran.


"Tidak, tadi ada sedikit syuting yang harus saya selesaikan" jawabnya.


"Uwah, kakak masih berminat jadi artis ya?" goda Vee.


"Tidak. Ini hanya untuk menyelesaikan beberapa kontrak yang tidak bisa di cancel. Sedangkan untuk kontrak film ataupun menyanyi sudah saya batalkan semua. Saya hanya ingin fokus belajar, Vee" jawab Seno.


"Bagus sih. Memangnya kakak sudah merencanakan untuk ke depannya ya?" Vee jadi penasaran dengan rencana hidup Seno.


"Ya. Saya sudah beberapa kali berbicara serius dengan ayah Seno. Dan beliau lebih setuju jika saya kuliah dan segera belajar tentang bisnisnya" jawab Seno.


"Ehm, kakak tidak berencana untuk jujur saja pada mereka tentang siapa sebenarnya kakak?" tanya Vee lirih, takut menyinggung perasaan Seno.


"Ada. Rencana itu sudah ada di daftar hidup saya. Dan itu ada waktunya" jawab Seno.


"Lalu, dengan tanggapan mereka nanti, apa kakak sudah siap?" tanya Vee lagi.


"Apapun yang akan terjadi nanti pasti akan saya hadapi, Vee. Terutama untuk menjagamu adalah prioritas saya" jawab Seno seolah tanpa ekspresi, tapi sebenarnya itu jujur dari dalam hatinya.


"Ish, kakak ini. Ingin membuatku merasa GR ya" kata Vee yang sudah tak berminat untuk melanjutkan obrolannya.


Matanya mengantuk saat berhenti cukup lama di kemacetan jalan. Tanpa sadar, Vee malah tertidur meski mereka sudah dekat dengan tujuan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2