Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
bukan princess


__ADS_3

"Seno... Bangun nak .. Itu ada teman-teman kamu datang.. Cepat bangun" teriak mommy Seno dari balik pintu kamar.


Sementara dua sejoli si penghuni kamar masih saja terlelap dalam tidurnya.


Tok ... Tok... Tok...


"Ayo bangun Seno... Itu ada Aishyah sama Hendra di bawah. Cepat bangun" mommy masih saja berteriak.


Tapi tetap saja penghuni kamar itu masih betah dalam mimpinya.


"Mommy buka ya pintunya" sekali lagi mommy berteriak.


Karena tak mendengar sedikitpun sahutan dari dalam, akhirnya mommy memutuskan untuk membuka pintu kamar Seno yang ternyata tidak dikunci.


"Hem... Pantesan tidurnya pulas banget. Lah sekarang anak mommy sudah punya guling bernyawa sih" kata mommy dengan senyum terkembang saat melihat posisi tidur anaknya yang saling berdekapan.


Ya, meski semalam Seno dan Vee telah membuat benteng pertahanan untuk tak saling melanggar batas kawasan ranjang, nyatanya pagi ini Vee tidur dengan berbantalkan lengan kanan Seno.


Sedangkan kaki dan tangan kiri Seno mendekap erat Vee yang nampak betah dalam tidurnya.


"Seno, bangun nak. Itu ada teman-teman kamu di bawah" kata mommy sambil menepuk pundak Seno.


"Hemm... Ada apa bu?" tanya Seno yang mulai sedikit tersadar.


"Itu ada teman-teman kamu di bawah, Aishyah sama Hendra. Cepat bangun dan temui mereka" kata mommy Seno.


"Teman?" tanya Seno yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Iya, makanya kalian cepat bangun. Kenalin itu Vee sama mereka. Mommy yakin mereka pasti senang" kata mommy tersenyum.


"Ada apaan sih?" tanya Vee yang baru saja tersadar, dia mulai memicingkan mata untuk melihat sekitarnya.


"Aaahhh...." teriak Vee saat menyadari bahwa tubuhnya berada dalam kungkungan tubuh Seno.


Vee mendorong dengan kerasnya tubuh Seno hingga pria itu hampir terjatuh dari ranjang kali saja mommy tidak segera menolongnya.


"Hah.. Kakak ngapain? Kenapa peluk-peluk segala sih?" keluh Vee yang sudah bersungut di pagi harinya.


"Kamu yang apa-apaan Vee, kenapa bisa mendorong anak mommy sampai hampir terjatuh begitu sih? Kan bahaya. Bagaimana kalau sampai patah tulang?" nah kan, mommy yang tidak terima dengan perlakuan bar-bar dari Vee.


"Lagian ya, kamu itu kan istrinya Seno. Bukan hal yang salah kalau Seno peluk kamu, sudah halal. Malah kamu yang berdosa kalau menolak keinginan Seno. Masak sih gitu saja kamu nggak diajarin sama orang tua kamu?" mommy masih saja sedikit sakit hati melihat anak kesayangannya di perlakukan seperti itu.


"Maaf mom, Aku kan nggak sengaja. Aku cuma kaget saja, lupa kalau kak Seno sudah jadi suami aku" kata Vee lirih sambil menunduk.


Melihat mommy yang bereaksi seperti itu menyadarkan Vee jika mereka harus berakting menjadi pasangan pengantin baru yang bahagia. Kalau tidak, bisa terbongkar semua rahasia besar mereka.


"Sudahlah bu, tidak apa-apa. Yang penting kan saya selamat, tidak terluka sama sekali. Vee juga tidak sengaja melakukan itu, saya harap ibu mau memaafkannya" ucap Seno melembut.


Kasihan sekali melihat wajah Vee yang begini. Janji Seno kan akan menjaga Vee dari apapun, termasuk keluarganya sendiri.


"Huft, repot memang kalau sudah bucin. Nggak kamu, nggak Aishyah, sama saja kalau sudah menyangkut masalah pasangannya. Pasti selalu dibela. Yasudah, kalian cepat bangun dan temui teman kamu ya, Seno. Mereka sudah menunggu di bawah" untuk kesekian kalinya mommy menyuruh Seno.

__ADS_1


"Iya bu" jawab Seno patuh.


"Yasudah, mommy tinggal dulu" kata mommy.


"Kakak ngapain sih tidurnya peluk-peluk segala?" Vee masih mengeluhkan hal itu.


"Saya tidak sengaja Vee. Sudahlah, kita siap-siap saja dulu. Sepertinya kita butuh sandiwara lagi karena harus bertemu dengan teman-teman saya" kata Seno yang sudah beranjak untuk membersihkan dirinya.


Sementara Vee masih sedikit cemberut, tapi setelah dipikir-pikir memang bukan saatnya marah.


"Aku carikan baju ganti buat dia deh, haha, konyol sekali untuk menyebutnya suamiku" kata Vee sambil tersenyum.


-------


"Selamat pagi" kata Seno yang bingung harus seperti apa menyapa teman-temannya.


"Ya Allah, Seno. Gue khawatir banget sama lo waktu denger kabar kalau lo menghilang. Apalagi sebelum menghilang, lo lagi bareng sama Richard. Lo tahu nggak kalau Richard sempat dituduh sebagai orang yang bertanggung jawab atas hilangnya elo" baru saja bertemu, wanita yang dalam ingatan Seno adalah Aishyah ini sudah melontarkan kata-kata yang cukup panjang.


"Tunggu, sepertinya saya pernah melihatmu saat masih di Malang. Apa kamu selalu berhijab atau terkadang kamu melepas hijab kamu?" tanya Seno heran, seingatnya pernah melihat Aish saat masih berada di kampung halaman Vee.


"Saya? Kamu? Lo masih ngantuk ya Sen? Kenapa cara ngobrol lo jadi nggak asyik banget?" celetuk pria yang Seno yakini adalah Hendra, yang daritadi diam saja.


"Oh, gue tahu. Lo lagi mendalami akting ya? Lo lagi ada film baru?" tanya Aish yang ikut heran.


Biasanya Seno pasti akan berusaha untuk memeluknya saat pertama bertemu, apalagi saat tak bersama dengan Richard. Tapi kali ini Seno terlihat anteng saja dan mimik wajahnya kenapa malah mirip banget sama Hendra yang datar.


"Tidak, saya tidak sedang mendalami apapun" ucap Seno yang kini terlihat menatap Hendra.


Sedangkan Hendra yang mendapat tatapan santai tapi mendalam dari Seno membuatnya seolah tak bisa berkutik.


Keduanya saling menyelami diri mereka masing-masing. Hendra merasa jika Seno sedang berusaha untuk masuk ke dalam pikirannya.


Alam bawah sadarnya seperti sedang melakukan perlawanan.


Hendra yang seolah penasaran malah ingin menyerang balik Seno dengan berusaha mendalami pikirannya, tapi yang dilihatnya sangat mengerikan.


Karena cuplikan kejadian sebelum jiwa Seno ditahan dalam botol oleh Sri yang dia lihat. Saat dimana banyak orang datang beramai-ramai untuk menyerang pria ini.


Seno yang menyadari jika Hendra sudah terlalu jauh memasuki alam bawah sadarnya kini melakukan perlawanan.


Melalui pandangan matanya, Seno berusaha masuk ke dalam diri Hendra dan mencari sumber kekuatan Hendra yang bisa masuk ke dalam pertahanannya.


Hendra sedang berusaha untuk lepas dari kendali Seno yang seolah ingin membaca semua yang ada di dalam pikirannya.


"Ahh!!" Hendra berteriak kecil sampai jatuh terduduk saat bisa lepas dari pengaruh Seno.


"Kenapa Hen?" tanya Aish yang sedikit panik sambil mendekat ke arah sahabatnya.


"Gue nggak apa-apa. Coba lo tanya sama dia, apa yang sudah dia lakuin sama gue?" kata Hendra yang hanya menunjuk Seno dengan isyarat dagunya.


"Kalian ini kenapa sih? Memangnya lo abis ngapain sih sama Hendra, Sen?" tanya Aish yang kini ikut menatap Seno dengan tajam.

__ADS_1


"Saya tidak berbuat apapun padanya. Hanya saja, kamu harus lebih banyak berlatih untuk bisa mengendalikan kekuatan dalam diri kamu, Mahendra" kata Seno dengan santainya sambil berjalan ke salah satu kursi dan duduk dengan anggun.


"Maksud lo?" tanya Hendra yang kini membalas tatapan Seno yang santai tapi berbeda.


Seno sedikit tersenyum, membalas tatapan Hendra dan mengambil secangkir teh di atas meja sebelum menjawabnya.


"Saya melihat kekuatan itu memilihmu tanpa kamu sadari. Sepertinya sudah lebih dari lima tahun dia berada dalam dirimu tanpa kamu tahu apa kegunaannya. Cobalah untuk mengendalikannya, dan saya yakin kamu akan menjadi orang yang hebat" kata Seno.


Hendra merenungi semua ucapan Seno, "Kenapa tiba-tiba dia membahas tentang kekuatan gue? Padahal selama ini yang mereka tahu cuma gue bisa melihat hal gaib tanpa pernah menyinggung tentang kekuatan" batin Hendra hanya bisa berkata lirih.


Dari keempat sahabat ini, hanya Seno lah orang yang paling manja dan penakut. Belum pernah sebelumnya dia berbicara serius kecuali tentang pekerjaannya.


"Lo kenapa jadi aneh sih Sen? Kenapa lo jadi serius banget? Biasanya lo paling anti ngobrolin hal yang beginian" kata Aish yang ikut menanggapi perkataan Seno.


"Saya hanya menyayangkan kekuatan terpendam yang akan menjadi hal yang tidak berguna saat kamu tidak tahu bagaimana cara mengendalikannya" balas Seno datar, tanpa senyuman seperti biasanya.


Baru saja Aish membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, seseorang datang dari lantai dua dan bergabung dengan mereka.


"Selamat pagi, maaf baru bisa turun untuk menemui kalian. Hai kak, kenalkan aku Vee" rupanya Vee yang datang.


"Oh, hai. Lo pasti cewek yang barusan mommy ceritain sama kita ya?" sambut Aish dengan senyumnya.


"Uwah, kakak cantik banget. Nama kakak siapa?" tanya Vee yang datang sambil mengulurkan tangannya.


"Lo bisa saja, kenalin nama gue Aishyah" kata Aish.


"Oh, kakak yang biasanya dipanggil princess ya. Nggak heran sih jadi princess, cantik gini. Iya kan kak?" tanya Vee mencari dukungan Seno.


"Sekarang kamu yang terbaik" jawab Seno santai, tetap duduk dengan anggun di kursinya.


"Ish, kakak nih" omel Vee yang melirik tajam pada Seno.


"Kalau kakak pasti kak Hendra ya?" kini giliran Hendra yang mendapat uluran tangan dari Vee.


Hendra hanya mengangguk dan membalas menyalami Vee.


"Cepat duduk dan bersikaplah sopan, Vee" kata Seno yang membuat senyum di wajah Vee luntur.


Sedangkan Aish semakin merasa aneh pada sikap Seno yang tiba-tiba berubah.


"Oh iya kak. Sepertinya aku pernah lihat kakak di konser kemarin. Tapi kakak nggak pakai hijab. Itu benar kak Aish?" tanya Vee.


Aish semakin bingung, kenapa bukan hanya Seno, tapi juga Vee yang berkata bahwa dia pernah melihatnya tanpa balutan hijab?


Padahal Aish tak pernah melepas hijabnya kemanapun dia pergi. Lantas, siapa orang yang mereka maksud?


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2