
"Kenapa sih Sen? Gelisah sekali?" tanya Papa Seno yang melihat putranya bertingkah aneh, tak seperti biasanya. Duduk dengan gusar seperti ada bara api di tempat duduknya.
Seno dan Papanya sedang dalam perjalanan menuju ke Bandung sore ini. Seperti yang sudah direncanakan jauh-jauh hari kalau mereka akan menemui klien disana.
"Perasaan saya tidak enak, yah. Sebentar saya akan menelpon Vee. Saya takut dia pergi camping tanpa seizin saya. Sekalian saya akan memastikan kalau ibu sedang dalam pengawasan Aishyah" kata Seno yang terlihat sibuk menghubungi Vee.
"Tidak diangkat, yah. Sepertinya ponselnya mati. Sebentar saya telepon rumah dulu" kali ini dia berusaha menelepon rumahnya.
"Memangnya kenapa sih Sen? Ini juga masih sore, mungkin Vee belum pulang dari kampusnya" kata Papa Seno berusaha menenangkan.
"Perasaan saya sangat tidak enak, yah. Seperti ada sesuatu yang bersiap menyerang kita" wajah serius Seno malah membuat papanya jadi ikut merasa tegang.
"Kamu jangan berfikiran yang tidak-tidak. Semoga semuanya berjalan dengan baik. Semoga itu hanya perasaanmu saja ya nak" kata papanya.
"Hallo, Assalamualaikum bik. Ibu ada?" tanya Seno saat panggilan telepon ke rumahnya sudah terhubung.
"Waalaikumsalam den Seno. Nyonya ada kok den, sedang bersama dengan non Aish di ruang tamu" jawab art nya.
"Apa Vee sudah pulang Bik? Kenapa saya hubungi ponselnya tidak bisa?" kali ini Seno menanyakan istrinya.
"Kalau non Vee belum pulang, den. Nyonya juga tidak bisa mengubungi non Vee sejak tadi" ujar si bibik yang semakin membuat Seno nampak gusar.
"Baiklah, terimakasih bik. Kabari saya kalau Vee sudah kembali, dan katakan padanya untuk segera menghubungi saya" kata Seno.
"Baik den" jawab bibik.
Seno cukup lega saat mengetahui jika ada Aishyah dirumahnya, karena gadis yang mengaku sebagai sahabatnya itu bisa Seno pastikan kalau bisa diandalkan jika ada serangan gaib seperti yang selalu dia khawatirkan.
"Kenapa lagi sih Sen? Kan sudah tahu keadaan di rumah. Kenapa masih gelisah?" tanya Papanya.
"Saya juga tidak mengerti, yah. Semoga semuanya tetap baik-baik saja" jawab Seno yang kini hanya bisa berdoa di sepanjang perjalanannya.
Sepuluh menit berlalu, Seno masih saja berdoa di dalam hatinya. Mengharapkan keselamatan seluruh keluarganya, terutama istri nakalnya yang sedang tak tahu berada dimana.
"Aarrghh" rintih sang ayah yang duduk di sebelahnya, membuyarkan keheningan suasana saat Seno berdoa.
"Ada apa yah?" tanya Seno khawatir.
"Sepertinya jantung ayah kambuh, sakit sekali" kata papanya sambil meremas dadanya yang nyeri. Sesekali beliau terlihat meringis menahan sakit.
"Kita menuju ke rumah sakit terdekat, pak. Tolong secepatnya" perintah Seno pada sang supir.
"Sudah, tidak apa-apa Sen. Kita langsung ke Bandung saja. Meeting besok sangat penting" kata Papa Seno yang masih saja memprioritaskan pekerjaan.
"Untuk kali ini, tolong dengarkan saya yah. Kita periksa dulu ke rumah sakit. Jika keadaannya memungkinkan, maka kita bisa melanjutkan perjalanan ke Bandung" kata Seno.
"Ayah tidak perlu khawatir, akan saya handle semuanya. Segera akan saya hubungi klien kita itu agar rencana kerjasama kita masih bisa berlanjut" perkataan Seno sudah tidak bisa dibantah karena memang rasa nyeri di ulu hati ayahnya semakin intens terasa.
Tiba di rumah sakit, Seno dan supirnya segera membawa sang ayah ke UGD untuk diperiksa.
__ADS_1
"Sepertinya bapak harus di Rontgen, nyeri di bagian dada terjadi karena banyak sebab. Bisa karena serangan jantung atau karena trauma. Sedangkan untuk kasus bapak, tensi dan detak jantungnya normal. Jadi saran kami, bisa dilanjutkan dengan foto Rontgen" ujar dokter umum yang sedang berjaga di UGD sore itu.
"Lakukan yang terbaik, dokter. Saya sudah mengurus administrasinya" kata Seno yang masih melihat sang ayah sesekali meringis menahan sakit.
"Baiklah pak. Mohon tunggu sebentar di luar dan mohon untuk tidak pergi terlalu jauh untuk mempermudah kami memanggil keluarga pasien saat nanti dibutuhkan" kata dokter itu lagi.
"Tentu dokter" ujar Seno.
"Huwek... Huwek...".
Belum lagi dokter membawa ayah Seno pergi, tiba-tiba ayahnya memuntahkan cairan merah kental yang berupa darah segar.
Seketika semua orang menjadi semakin panik dibuatnya.
"Dokter bilang keadaan ayah saya baik-baik saja. Ini kenapa bisa sampai muntah darah?" tanya Seno panik.
"Sebentar saya periksa dulu pak" ujar sang dokter ketakutan. Sangat gawat kalau memberi diagnosa keliru pada pasien sepenting Senopati dan keluarganya.
Semua orang tahu siapa keluarga Seno. Keluarga kaya raya dengan perusahaan sigarete ternama di negri ini.
Sedangkan Seno sendiri adalah artis yang baru-baru ini memutuskan untuk meneruskan usaha keluarganya, meski sesekali masih terlihat berseliweran di layar kaca.
Bukannya Seno tidak peka dengan apa yang terjadi. Perihal sakit yang ayahnya alami dengan tiba-tiba bukanlah penyakit biasa.
"Orang itu sudah mulai menyerang rupanya. Baiklah, kita lihat siapa yang lebih tangguh" dalam hati Seno menerima tantangan yang orang misterius itu berikan.
Sejak di awal perjalanan tadi, Seno sudah merasakan bahwa ada sesuatu yang mengikuti perjalanan mereka. Apalagi di saat menjelang senja seperti ini, kekuatan gaib sedang berada di titik tertinggi mereka.
Sementara dokter tengah sibuk melakukan sederet pemeriksaan terhadap ayahnya, Senopun tak tinggal diam.
Diapun berkomat-kamit merapal mantra untuk melakukan perlawanan, sambil sesekali menutup matanya untuk lebih mempertegas mata batinnya.
Tiba-tiba Seno jatuh terduduk di sebuah kursi di dekat ayahnya. Kejadian itu lantas membuat beberapa suster segera membagi tugas untuk membawa Seno untuk ditidurkan di atas brankar di dekat ayahnya.
"Seno, nak... Kamu kenapa?" tanya sang ayah lirih, karena beliaupun sesekali masih memuntahkan darah segar.
Padahal yang sebenarnya terjadi, Seno tengah berusaha mengeluarkan jiwanya untuk mempermudah melihat siapa makhluk kahat yang sudah berani-beraninya mengganggu sang ayah.
"Ihihihihi, cah bagus teko toh neng kene?"
(Anak tampan, ternyata kamu datang kesini) suara tawa yang khas menyambut kedatangan Seno yang sebenarnya adalah Hideo yang sudah berhasil mengeluarkan jiwanya.
Hal pertama yang dia lihat setelah berhasil mengeluarkan jiwanya adalah, sesosok hantu wanita kumal yang sering disebut kuntilanak sedang asyik mempermainkan jantung ayahnya dengan sesuatu serupa paku panjang seperti pasak untuk memperkuat tenda.
Pasak lusuh itu digunakan untuk menusuk-nusuk jantung ayahnya.
Seno yakin jika orang misterius itu sengaja mengirim anak buahnya untuk melakukan itu, dan tidak menggunakan santet yang sebenarnya lebih mudah karena apabila menggunakan santet maka akan lebih mudah untuk melacak siapa pengirimnya.
Dan makhluk-makhluk seperti sosok wanita ini tidak akan membuka mulut di tentang siapa tuannya meski harus musnah.
__ADS_1
Dari awal, Seno sudah merasa ada yang aneh. Keluar dari kantornya tadi, rupanya sosok kunti ini sudah bersembunyi di dalam diri ayahnya. Hingga Seno dengan keterbatasan pandangannya sedikit sulit untuk mendeteksi keberadaan makhluk itu.
"Hei makhluk jelek, kenapa kau mengganggu ayah saya?" menjadi diri sendiri sangatlah nyaman, seperti yang tengah Hideo rasakan saat ini setelah beberapa lama mendiami tubuh Senopati.
"Isun namung abdi, kanjeng isun sing mrintah i, hihihihk" (Aku hanya pesuruh, tuanku yang memerintahkan".
Ujar wanita berpakaian khas putih itu tanpa bisa menghilangkan tawa khasnya setelah berbicara.
"Siapa tuanmu? Kenapa dia menyuruhmu mencelakai ayah saya?" tegas Seno sekali lagi.
"Sstttt!! Mengko wong e ngamuk. Isun mboten ngertos, sing penting isun kudu marai wong iki pados ajale. Hihihihi"
(Ssttt!! Nanti orangnya marah. Aku tidak mengerti, pokoknya aku harus membuat orang ini mati)
perkataan wanita kumal ini semakin membuat Hideo geram.
"Baiklah kalau kamu tidak mau memberitahu saya. Bersiaplah untuk menjadi abu, wahai hantu jelek" ejek Hideo sambil menangkup kedua pipi wanita serupa kuntilanak ini.
"Mboten segampang niku badhe nyelakai isun" (Tidak semudah itu mencelakai aku) kata hantu wanita itu sambil berusaha membuka japitan tangan Hideo di pipinya.
"Cah bagus, dadi bojone isun wae piye? hihihi" (pemuda tampan, jadi suamiku saja bagaimana?" tanya kunti itu dengan gelak tawanya. Tanpa tahu apa yang akan menimpanya.
Bagi Hideo sendiri, bukanlah hal yang sulit untuk membuat hantu ini musnah.
Pria itu menjapit pipi kuntilanak itu dan mengunci pandangan matanya sambil membaca mantra.
"Aaarrrghhhhhhh.... ampun.... ampuni isun...aaarrgghhhh" rintih kuntilanak itu kesakitan dengan mata melotot terkunci memandangi wajah tampan Hideo.
Seperti yang pernah dia lakukan dulu di awal kelahirannya kembali, Hideo menyedot seluruh kekuatan yang ada pada sosok hantu kumal itu hingga tak bersisa.
Dan hanya meninggalkan kepulan asap berdebu.
"Uhuk... Uhuk... Debu darimana ini?" tanya dokter yang sejak tadi sibuk memeriksa papa Seno, dan tiba-tiba dikejutkan dengan gumpalan asap seperti asap bekas pembakaran ban.
Bahkan asap itu memenuhi seluruh ruangan hingga membuat para suster pun ikut kelimpungan.
Dan dalam sekejap mata, kepulan asap itupun hilang seiring dengan berdirinya Senopati di sisi papanya.
"Ayah sudah merasa lebih baik?" tanya Seno yang mengejutkan dokter yang berdiri di dekatnya.
"Anak muda, kau membuatku merasa terkejut" ujar sang dokter sambil memegang dadanya, terasa jantungnya yang kini berdegub kencang.
"Papa merasa sangat baik, Sen. Bagaimana kamu bisa tiba-tiba sadar dan berada di sisi ayah?" tanya papanya heran.
.
.
.
__ADS_1
.