Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
kesepakatan


__ADS_3

"Mau bicara apa, calon istri saya?" tanya Hideo sedikit menggoda.


Vee hanya memutar kedua bola matanya, jengah. Tak ada seorangpun yang pernah berhasil menggombalinya.


"Kenapa kakak jadi menyetujui permintaan bunda untuk menikah sih?" tanya Vee ketus sambil menyilangkan tangannya di dada, kesal sekali dia sepertinya.


"Memangnya kenapa?" tanya Hideo seolah tanpa dosa.


"Kamu kira menikah itu mainan? Pernikahan itu sesuatu yang sangat sakral, kak. Harus ada perasaan saling mencintai diantara keduanya. Sedangkan kita apa? Tidak ada perasaan apapun diantara kita. Lantas, pernikahan macam apa yang akan kita jalani nanti. Kamu itu memang kadang sedikit bodoh, ya" mulai lah Vee mengeluarkan segala uneg-unegnya.


Hideo menghela nafasnya pelan, dia tahu berhadapan dengan Vee memang butuh kesabaran.


"Kita bisa saling belajar mencintai setelah menikah kan, Vee?" tanya Hideo pelan.


"Bagaimana kalau nanti aku nggak bisa? Bagaimana jika nantinya aku malah menemukan cinta sejatiku setelah kita menikah?" tanya Vee sambil membuang muka, sebenarnya dia tak tahan juga ditatap penuh perasaan begitu oleh Hideo.


Bisa-bisa hatinya luluh dan menerima semua permainan Hideo dengan mudahnya. Bisa menang banyak tuh si Hideo.


"Vee, saya hanya ingin untuk bisa selalu menjagamu. Saya berhutang banyak padamu, dan satu-satunya jalan bagi saya untuk bisa selalu menjagamu adalah dengan selalu berada disisimu" kata Hideo.


"Mungkin saat saya hanya sebuah arwah, saya bisa selalu bersamamu tanpa ada orang yang tahu. Tapi sekarang berbeda, saya sudah memiliki raga. Dan untuk bisa selalu bersamamu tanpa ada gangguan dadi orang lain adalah dengan menikahimu" Hideo menjelaskan dengan hati-hati.


"Tapi aku nggak mau menikah tanpa cinta, kak. Kamu nggak tahu sih berapa banyak kasus perceraian dikarenakan perjodohan, pernikahan tanpa cinta itu sangat menyiksa kak" wajah Vee mulai memerah kali ini, rupanya jalan yang Hideo pilih sangat memberatkan gadis ini.


"Lagipula aku tidak pernah mengharapkan sedikitpun imbalan atas apa yang sudah aku lakukan untukmu. Aku selalu ikhlas untuk menolong sesama makhluk ciptaan Tuhan. Tidak perlu kakak membalas Budi sampai harus menikahiku. Aku masih ingin menggapai cita-citaku kak" Vee mulai terisak, pokoknya berat untuknya kalau sampai menikah muda.


"Tapi semua orang sudah menyetujuinya, Vee. Tidak bisakah kamu berusaha untuk tidak menyakiti hati orang tua saya yang sepertinya sangat menyayangi saya? Apa kamu tidak melihat ketulusan dari mata mereka? Apa kamu tega menyakiti hati mereka?" tanya Hideo, menggunakan nama orang tua sepertinya akan bisa meluluhkan hati Vee.


"Mereka bukan orang tuamu, mereka orang tua Senopati" jawab Vee sambil terus mengusap lelehan air matanya.


"Ya, kamu benar. Mereka adalah orang tua Senopati, tapi sekarang mereka juga orang tua saya. Karena darah yang mengalir dalam tubuh ini adalah darah mereka, meski jiwa ini sudah berganti".


"Kamu tahu jika Senopati pasti mati bersama raganya jika Sri tidak mengganti jiwanya dengan jiwa saya. Bisa dikatakan jika saya mengalami reinkarnasi meski mungkin semua ini bukan kehendak Tuhan, melainkan hanya permainan makhluknya" ucap Hideo yang sedikit kecewa dengan perkataan Vee.


"Saya tahu jika orang tua Senopati akan merasa sedih saat tahu jika dalam raga anaknya tidak bersemayam jiwanya, melainkan jiwa dari orang lain. Tapi saya juga yakin jika mereka akan merasa semakin sedih jika anaknya pulang dalam bentuk mayat yang membusuk" kata Hideo.


"Baiklah Vee, jika kamu memang keberatan dengan pernikahan ini. Saya minta maaf, saya tidak akan lagi mengganggumu jika memang itu yang kamu mau. Saya akan pergi jika itu yang kamu inginkan" pasrah Hideo.


Kini mereka berdua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.


"Jika pernikahan ini batal, maka untuk ke depannya bunda akan melarangku untuk tinggal sendiri di rumahku. Dan ayah akan semakin over protective padaku. Pasti setiap hari kak Varo yang akan menjadi supirku. Aaahh, itu lebih mengerikan" Vee tengah berdebat dengan pikirannya.


"Kalau aku menerima pernikahan ini, maka aku akan dibawa ke Jakarta oleh orang tua Senopati. Disana aku bisa melanjutkan kuliah dan untuk jalan awal dari misi menghabiskan masa muda dengan ceria adalah dengan menawarkan perjanjian dengan kak Hideo" gumam Vee sambil sesekali mencuri pandang pada Seno yang juga tengah terdiam.

__ADS_1


"Ah, baiklah. Sepertinya melakukan kesepakatan alan lebih baik daripada menjadi anak gadis ayah yang penurut" senyum samar terukir di bibir Vee saat pikirannya menemukan jalan yang dianggapnya baik.


"Baiklah, jika kakak ingin melanjutkan pernikahan ini, maka aku minta adanya beberapa perjanjian diantara kita berdua" Vee menawarkan pilihan pada Hideo.


"Perjanjian apa?" tanya Hideo heran, alisnya sampai terangkat satu karena merasa sedikit khawatir.


"Jika aku setuju dengan pernikahan ini, aku minta kakak untuk menyetujui beberapa poin yang akan aku berikan, bagaimana?" tanya Vee.


"Akan saya coba memahaminya, apa saja itu?" tanya Hideo.


"Poin pertama, jangan sentuh aku dengan kontak fisik berupa apapun tanpa persetujuanku setelah kita menikah nanti karena aku masih terlalu muda" kata Vee.


"Oke, bisa dipahami. Karena sayapun masih ingin merasakan pendidikan di masa ini. Lalu selanjutnya?" tanya Hideo yang sepemikiran di poin pertama.


"Setidaknya dalam dua tahun ke depan, kita rahasiakan pernikahan kita dari siapapun kecuali orang tua dan saudara kandungku. Biarkan aku berteman dengan siapapun baik itu laki-laki ataupun perempuan, kita sama-sama untuk tidak saling mencampuri urusan pertemanan kita berdua" poin ini cukup membingungkan bagi Hideo.


Pria ini mencium aroma keculasan dari Vee yang bertampang serius. Tapi untuk tidak menyetujui, pasti nantinya Vee akan semakin marah.


Hideopun harus putar otak untuk mengimbangi perjanjian ini.


"Oke, ada lagi?" tanya Hideo.


"Poin ketiga, uang belanja tetap harus kakak berikan karena itu kewajiban seorang suami" rupanya Vee tidak mau rugi juga.


"Terserah, setuju atau tidak?" tanya Vee yang keukeh dengan pendiriannya.


"Baiklah, kamu tidak tahu seberapa kayanya saya sekarang Vee. Bahkan sebuah pulau pun bisa aku berikan untukmu" kata Hideo dengan sombongnya.


"Jadi, kakak setuju dengan semua poin yang aku berikan?" tanya Vee.


"Setuju, tapi sayapun ada beberapa poin yang harus kamu setujui" kata Hideo tak mau kalah.


"Ih, kok jadi ikut-ikutan sih?" keluh Vee, merengek seperti anak kecil.


"Terserah kamu mau atau tidak, daripada saya memaksa keluarga kita untuk menikahkan kita tanpa adanya beberapa keinginan yang kamu sebutkan tadi. Saya bisa dapat untung banyak dari kamu" kata Hideo sambil mencolek hidung mancung Vee.


"Sudah tahu politik rupanya kamu ya, orang tua" ejek Vee.


"Saya masih dua puluh tahun Vee" kata Hideo datar.


"Baiklah, poin pertama yang saya mau adalah kita harus tetap terlihat romantis di depan keluarga terutama orang tua kita. Yang kedua, kamu harus izin pada saya saat akan pergi kemanapun dan dengan siapapun itu. Yang ketiga, saya berhak melarang kamu untuk tidak berteman dengan seseorang jika saya rasa dia adalah ancaman" kata Hideo mengatakan poin-poin pernikahan yang akan mereka lakukan.


Vee sedikit berfikir untuk mencerna semua ucapan Hideo, otaknya sedikit loading jika berurusan dengan hal yang terlalu serius.

__ADS_1


"Bagaimana? Setuju?" tanya Hideo untuk menegaskan lagi.


"Baiklah, aku setuju. Nanti aku buatkan print outnya dari perjanjian kita ini. Dan harus kita tandatangani dengan materai" kata Vee.


"Tidak masalah. Selama saya bisa selalu melindungimu" kata Hideo.


"Satu lagi kak" kata Vee yang sepertinya melupakan sesuatu.


"Apa lagi?" tanya Hideo.


"Sepertinya kakak harus memakai nama Senopati setelah ini untuk ke depannya" kata Vee.


"Ya, kamu benar. Tidak akan ada yang percaya jika saya adalah Hideo meski itu benar" kata Hideo.


"Separuh kamu adalah Hideo, tapi separuhnya lagi adalah Senopati. Dan untuk tetap bisa hidup normal, kakak harus memilih salah satunya" kata Vee.


"Saya rasa menjadi Senopati akan lebih mudah. Karena jika saya menjadi Hideo, maka akan banyak kesulitan nantinya. Terutama identitas saya. Tidak akan ada yang percaya jika saya lahir lebih dari seratus tahun yang lalu kan, Vee" kata Hideo.


"Ya, lebih baik menjadi Senopati meski dengan pribadi yang berbeda" kata Vee.


"Baiklah, saya rasa pembicaraan kita sudah mempunyai titik terang. Nanti kita sampaikan pada keluarga kita untuk merahasiakan pernikahan kita setidaknya sampai kamu selesai kuliah" kata Hideo yang sudah ingin pergi, karena bisa saja Vee berubah pikiran jika terlalu lama berdua.


Vee masih terlalu labil.


"Baiklah, kita pulang sekarang" kata Vee berdiri, dan beranjak ke tempat Alin untuk mengajaknya pulang.


"Sudah selesai, kak?" tanya Alin saat Vee menyenggol lengannya. Alin tengah menutup matanya tadi.


"Sudah, ayo kita pulang dek" ajak Vee.


"Iya kak" jawab Alin sambil tersenyum, dia selalu mengidolakan Vee.


"Kembali ke rumah Vee" Seno memerintahkan supirnya untuk kembali.


Supir itu mengangguk paham dan membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Dan segera melakukan kendaraan itu ke tempat tujuan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2