
"Jadi, memang sudah nggak ada kesempatan dong buat gue bisa deketin lo, Vee?" tanya Daren miris, namun dia masih bisa tersenyum meski hatinya sedikit merasa sesak.
"Aku juga nggak tahu, kak. Hubungan aku sama kak Seno itu rumit. Perjanjian kita untuk tetap bisa dekat dengan siapapun, nyatanya semakin membuatku merasa semakin terikat dengannya" entah Vee keceplosan atau bagaimana, yang jelas Daren adalah orang pertama yang tahu mengenai perjanjian antara Vee dan Seno.
"Maksud lo?" tanya Daren terkejut, menarik juga kisah antara Vee dan Seno di mata Daren.
"Ehm, gimana ya kak menjelaskannya. Aku juga bingung, yang jelas hubungan aku sama kak Seno itu lebih dari sekedar hanya sebatas kekasih pada umumnya, tapi ada sebuah perjanjian yang masih harus kami jalankan selama salah satu diantara kami belum merasa adanya cinta dalam hati" ucap Vee lirih, sepertinya kali ini dia sedikit ehm... Merindukan Seno.
"Sebentar deh, kayaknya gue paham. Jadi, diantara kalian, siapa yang belum merasakan jatuh cinta?" tanya Daren yang sangat cepat tanggap.
"Gue harap sih elo, Vee. Dan gue juga masih berharap kalau masih ada kesempatan buat gue" lanjutnya.
Vee melirik Daren singkat setelah mendengar penuturan pria tampan itu. Tapi, malah rasa bersalah yang dia rasa dalam dadanya.
Bagaimana keadaan Seno saat ini? Apakah dia marah? Apakah dia khawatir? Atau apakah dia bisa memberinya maaf jika nanti mereka masih berkesempatan untuk berjumpa lagi?
Vee jadi bingung sendiri dengan perasaannya. Apakah mungkin rasa cinta itu sebenarnya sudah ada, tapi dia tidak menyadarinya?
Bingung dengan keadaannya, Vee menjatuhkan kepalanya diatas lutut dengan kedua tangan dibelakang tubuhnya.
"Aduh" gumamnya lirih.
"Kenapa Vee?" tanya Daren yang tak mengalihkan pandangannya dari gadis di sampingnya itu.
"Sakit juga leherku kalau duduk di posisi seperti ini" jawabnya yang kini memilih untuk bersandar di dinding.
Daren hanya terkekeh pelan. Dia tak ingin memaksa Vee untuk menjawab pertanyaannya jika memang gadis itu tak berniat untuk menjawabnya.
Pahamlah dia sebagai seorang lelaki jika mungkin Vee merasa malu untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Seno.
"Kita sudah seperti hewan kurban yang lagi nunggu eksekusi mati ya kak?" kata Vee lirih, dengan pandangan mata hampa yang membuat sisi hati Daren melemah seketika
"Kira-kira siapa yang menculik kita dan apa ya tujuan mereka menculik kita, kak? Padahal kan aku belum juga setahun tinggal di Jakarta. Masak iya aku harus memberi kabar duka ke bunda aku di Malang nanti pas lebaran?" kata Vee dengan senyum terpaksa.
__ADS_1
Tahu sekarang gadis itu apa artinya menyesal. Seketika semua bayangan keluarganya bertebaran dalam ingatannya.
"Aku tuh punya adik perempuan yang cantik banget, kak. Aku heran kenapa dia bisa secantik itu. Benar-benar nggak ada mirip-miripnya sama aku" kata Vee mulai melantur, berharap dengan begini dia bisa sedikit menghilangkan rasa bersalah dalam hatinya.
"Oh ya? Terus?" tanya Daren yang menyambut semua perkataan Vee dengan senyuman.
"Aku sering iri kalau orang membandingkan aku sama dia. Entah ngidam apa bundaku sampai bisa punya anak secantik Alina" kata Vee mulai berair mata, tapi senyum kecut terhias di bibirnya.
"Aku juga punya kakak lelaki yang sangat tampan. Meski dia amat sangat cuek, tapi aku tahu kalau dia sangat hangat dan perhatian pada kami, adik dan keluarganya. Dia tak pernah mengeluh dengan semua tingkah konyol kami" ujar Vee lagi, dan Daren hanya bisa mendengarkan dengan seksama.
"Entah dosa macam apa yang membuat masa remajaku harus aku habiskan dengan kak Seno yang menjemputku di akhir masa SMA. Meski sedikit terpaksa, entah bagaimana caranya dia bisa meyakinkanku untuk menerimanya" kata Vee yang ceritanya sudah sampai pada Seno.
"Kalau kakak, ehm... Kehidupan kakak seperti apa? Pasti sangat menyenangkan, ya?" tanya Vee.
Daren terdiam sebentar untuk menata barisan paragraf yang akan dia ceritakan. Dan dia mulai bercerita setelah menarik nafas panjang.
"Gue berasal dari keluarga broken home, Vee" kata Daren, Vee sedikit terkejut mendengarnya. Tapi diam saja karena membiarkan Daren bercerita.
"Gue dan kakak cewek gue berasal dari bokap yang berbeda, karena nyokap gue bukanlah orang baik yang patut dicontoh oleh anak-anaknya" tutur Daren sambil menerawang.
"Nyokap mendekam di penjara setelah berhasil menghabisi nyawa kakek gue yabg nggak juga ngasih warisan. Dan akhirnya, semua harta itu diwariskan ke kami meski belum sepenuhnya karena menunggu kami lulus kuliah" tutur Daren.
"Tapi rupanya dibalik sifat pendiamnya kakak gue, dia sangat mengidolakan satu sosok yang membuatnya harus melakukan bunuh diri setelah tahu bahwa idolanya itu menolak cintanya setelah dia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada cowok sialan itu" kini, Daren bercerita dengan menggunakan emosinya.
Karena terlihat dari raut wajahnya yang memerah dan tangannya yang terikat terkepal sempurna.
"Maksudnya, kakaknya kak Daren bunuh diri?" tanya Vee sedikit menganga, tak percaya dengan semuanya.
"Ya, dia memang sangat bodoh. Padahal di dunia ini masih ada gue yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan buat dia sebelum melakukan hal bodoh seperti itu. Gue benar-benar benci sama cowok sialan itu, Vee. Gue dendam sama dia, gue harus bisa menghabisinya karena dialah penyebab gue menjadi sebatang kara di dunia ini" tutur Daren dengan menggebu.
"Tapi dendam nggak akan menyelesaikan masalah, kak. Rasa cinta yang mendalam di hati kakaknya kak Daren pasti akan melarang kalau kak Daren ingin melakukan hal itu" saran Vee dengan puppy eyesnya, berharap emosi Daren visa sedikit berkurang.
"Mudah untuk berkata begitu, Vee. Tapi sangat sulit dalam prakteknya. Gue sudah berusaha menghilangkan semua rasa dendam ini. Tapi rasa ini semakin membara setiap kali gue melihat cowok sialan itu semakin bahagia dengan cewek lain" kata Daren.
__ADS_1
"Mungkin itu yang dinamakan bukan jodoh, kan jodoh itu di tangan tuhan, kak. Sekeras apapun kita berusaha mengejarnya, kalau bukan takdir kita ya tidak akan tergapai" kata Vee mencoba menenangkan Daren.
"Mungkin lo benar, Vee. Dan mendengar ucapan lo, semakin membuat gue merasa jatuh cinta sama lo" tutur Daren yang kini mulai menggoda Vee lagi, mengerlingkan mata dengan berusaha tersenyum.
"Ih, kak Daren. Sempat-sempatnya menggombal di situasi seperti ini. Ehm, ngomong-ngomong, apa tidak ada orang ya kak? Kenapa sejak tadi nggak ada yang berusaha masuk ke ruangan ini?" tanya Vee.
"Gue juga nggak tahu, Vee. Tapi gue senang kok. Karena dengan begini, gue bisa lebih lama berduaan sama lo" goda Daren sambil menaik turunkan alisnya.
"Ish, kakak nih. Bagaimana kalau kita coba buat buka ikatan ini kak? Coba kakak hadap sana dong, siniin tangannya. Biar aku coba bukain ikatan tali di tangan kak Daren duluan" saran Vee.
Daren pun menurut, berusaha duduk menghadap ke arah berlawanan dengan Vee agar gadis itu mencoba membuka ikatan di tangannya.
"Susah sih, kak. Tapi aku akan terus berusaha. Nanti kalau aku sudah berhasil bukain ikatan di tangan kak Daren, gantian loh ya kak. Giliran kakak yang bukain ikatan di tanganku" kata Vee sambil tetap berusaha membuka ikatan di tangan Daren.
"Iya, janji. Nanti gantian ya Vee" jawab Daren menurut. Membiarkan Vee mencoba membuka tali itu.
Cukup lama waktu berlalu, tapi dengan tekad yang kuat akhirnya Vee mampu membuka tali yang mengikat tangan Daren.
"Uwah, berhasil kak. Talinya terbuka" kata Vee dengan senangnya.
Melihat raut wajah bahagia itu membuat hati Daren semakin menghangat. Rasanya tak puas dia memandangi wajah Vee yang sudah berhasil memasuki hatinya.
"Sekarang tolongin aku kak, bukain ikatan di tangan aku ya" kata Vee dengan penuh harap.
"Iya, sebentar. Gue buka ikatan di kaki gue dulu ya. Setelah itu, baru gue bukain ikatan di lo" kata Daren dengan senyum cerianya.
Vee sangat percaya pada pria itu, hingga dia hanya visa mengangguk senang setelah mendengar penuturan Daren.
.
.
.
__ADS_1
.