
"Hukuman terberat bagi wanita yang mendahulukan nafsunya hingga mencelakai orang lain adalah neraka sebelum neraka, tidak ada yang lain" kata wanita itu pelan, namun tegas.
Sri hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ucapan wanita itu terlalu menakutkan untuk dijalani.
"Siapa kau sebenarnya, wanita?" tanya Sri lirih.
"Aku yang akan menghukummu. Hatimu terlalu egois untuk dibiarkan. Kamu sangat berbahaya" ujar si wanita.
Wanita itu menjentikkan jarinya, membuat gelang di lengan Vee terlepas dan terbang ke arahnya.
"Aku pinjam sebentar ya, cantik" ucap wanita itu sambil tersenyum.
Vee hanya membeku, untuk mengangguk saja rasanya sangat sulit. Dia terfokus melihat semua kejadian di depan matanya.
Setelah mendapatkan gelang Vee di tangannya, wanita itu kembali menjentikkan jarinya ke arah Sri.
"Aaahhh" teriak Sri yang tubuhnya terangkat beberapa meter ke udara.
Lalu wanita itu seperti sedang merapalkan mantra. Bibirnya menggumamkan sesuatu seperti sedang bernyanyi.
Lama kelamaan suaranya semakin keras, tapi ucapannya yang seperti lagu tidak Vee mengerti.
Wanita itu terus saja bernyanyi sampai Sri terlihat sangat kesakitan.
Padahal Vee yang mendengarnya malah merasa lagu itu sangat indah meski dia tidak mengerti artinya.
Alunan nadanya sangat mengena di hatinya, sampai-sampai dia hanya bisa diam membatu di tempatnya. Sambil tetap memperhatikan kondisi HoRoCi tentunya.
"Aaaargh.... Aaaaarg... Aaaaarrgh... sakiittt... tolong... hentikan suara itu.. Ampun... " teriak Sri yang tidak di gubris oleh wanita itu.
Setelah beberapa saat bernyanyi, ternyata liontin di gelang itu terbuka satu per satu.
Setiap satu bagiannya terbuka, maka tubuh Sri juga akan terpotong menjadi beberapa bagian.
"Aaaargh.... Tidaakkk...." teriak Sri terlalu lantang saat liontin ketiga yang berbentuk daun atau hati, terbuka.
Dan menyerap seluruh potongan tubuh Sri yang tak berdarah itu masuk satu per satu ke dalam liontin kecil pada gelang itu.
Terlihat seperti kotoran yang tersedot ke dalam mesin vacum cleaner. Menimbulkan gesekan udara yang cukup keras terjadi di sekitar Vee.
Vee hanya bisa melihatnya dalam diam, seolah diapun terhipnotis oleh suara wanita yang masih saja menyanyikan lagunya.
Dan saat ketiga liontin kecil pada gelang itu tertutup, seketika itu juga angin kencang yang tadi Vee rasakan tiba-tiba lenyap.
Begitupun dengan wanita cantik ini. Dia sudah menyelesaikan lagunya dengan sangat mengerikan.
"Maaf telah membuatmu takut, gadis kecil" kata wanita itu tersenyum sambil menjentikkan lagi jarinya.
Seketika gelang itu sudah kembali ke pergelangan tangan Vee dengan sempurna.
"Apa kau merasa takut?" tanya wanita itu.
Vee menggeleng lemah, "hanya sedikit syok" ucapnya terbata.
Wanita itu tersenyum, dan berjalan mendekati Vee yang masih bersimpuh di dekat HoRoCi.
Dia mengusap kening Vee dengan lembut dan mengecupnya.
"Kau anak yang baik. Meski nanti di masa depan akan banyak rintangan menghalangi jalanmu, tapi percayalah jika kau bisa menyelesaikan semuanya dengan baik" ucap wanita itu.
"Mungkin memang takdir yang membuatmu terikat dengan pria itu, dan satu lagi, jiwa di tubuh pria yang kau sayangi memang telah mati, jadi bukan sebuah kesalahan jika tubuh itu digunakan oleh jiwanya" kata wanita itu menjelaskan.
"Untuk kejadian yang baru saja terjadi, lupakan saja jika kau merasa takut" kata wanita itu sambil terus mengusap rambut di kepala Vee yang menengadah.
__ADS_1
Vee hanya mengangguk mendengar penjelasan wanita itu meski tak sepenuhnya memahami artinya.
Kapasitas otak Vee terlalu kecil untuk dibebani perkataan sedalam itu.
"Bagaimana dengan mereka?" tunjuk Vee pada HoRoCi yang masih terkapar lemah.
"Akupun tidak rela jika mereka harus pergi" ucap Vee lirih.
"Kondisi mereka terlalu lemah" ucap wanita itu menyudahi aksi membelai rambut Vee, dan berjalan beberapa langkah ke hadapan Vee.
"Tidak mungkin untuk beberapa waktu ke depan mereka bertiga bisa kembali normal. Mereka perlu mengembalikan kondisinya agar kembali fit" kata wanita itu.
"Dan beristirahat adalah jalan yang terbaik" kata wanita itu lagi, kini dia sudah kembali merapalkan sebuah mantra yang tak begitu jelas terdengar di telinga Vee.
Semakin wanita itu merapalkan mantranya, membuat tubuh HoRoCi semakin terlihat transparan.
"Hah? Apa yang terjadi?" tanya Vee panik, dia takut HoRoCi akan musnah.
Tapi saat Vee ingin menggapainya, mereka tak terjamah. Seperti gumpalan asap yang terlihat tapi tak bisa teraba.
"Jangan musnahkan mereka juga, aku mohon" kata Vee sambil menangis.
Dan asap dari perubahan tubuh HoRoCi tergabung menjadi satu lalu masuk ke dalam kalung yang Vee pakai.
Melihat itu semua membuat Vee membelai kalungnya lembut.
Wanita itupun menyudahi rapalan mantranya, lalu berjalan mendekati Vee yang berlutut sambil mengelus kalungnya.
"Mereka tidak hilang, nak. Mereka hanya sedang beristirahat di tempat yang aman selama beberapa waktu ke depan. Dan tempat paling aman sejauh ini adalah di dalam kalung itu" kata si wanita.
"Jadi mereka bisa kembali lagi?" tanya Vee yang sudah mengangkat kepalanya.
"Tentu saja" jawab wanita itu.
"Tidak tahu, bisa satu minggu, satu bulan, bahkan bisa saja sampai bertahun-tahun. Akupun tidak bisa memastikan itu" jawabnya.
Bahu Vee merosot mendengar jawaban wanita itu.
Pasti dunianya akan terasa sepi saat mereka tak ada. Karena tak ada lagi bocil nakal yang akan mengganggunya, tapi selalu menjaganya.
Melihat ekspresi Vee, wanita itu tersenyum dan terenyuh melihat ketulusan di hati gadis kecil seperti Vee. Yang mau menyayangi dengan tulus semua makhluk, bahkan pada makhluk yang biasanya ditakuti oleh banyak orang seperti HoRoCi ini.
"Jangan bersedih, nak. Mereka ada untuk menjagamu dari makhluk jahat seperti Sri. Dan sekarang Sri pun sudah tak ada. Jadi, cukuplah pangeran itu yang menjagamu kelak" kata wanita itu.
"Pangeran siapa?" tanya Vee bingung.
"Pangeran yang akan menjadi pelindung yang menyayangimu" kata wanita itu sambil tersenyum.
"Kembalilah padanya, dia masih butuh kamu untuk merawatnya" kata wanita itu sambil menepukkan telapak tangannya beberapa kali.
Kelakuan sederhananya membuat atmosfer di sekitar Vee berubah. Angin kencang kembali bertiup.
Membuat untaian rambut Vee yang terlepas dari ikatan rambutnya bergoyang-goyang tak beraturan.
Tubuh Vee terangkat beberapa meter ke udara bersama dengan kencangnya hembusan angin.
"Aaahhh..." teriak Vee yang seolah tersedot ke dalam mesin waktu.
Tak berapa lama, gadis itu terjatuh diatas ranjang di samping Hideo yang tengah terbaring.
Brugh!
Cukup keras memang proses jatuhnya tubuh Vee, namun itu tak membuat dia kesakitan karena terjatuh diatas ranjang yang empuk.
__ADS_1
"Aahh" sisa teriakan Vee menyadarkannya bahwa dia sudah kembali ke kamarnya.
Vee terjatuh tepat di sisi Hideo yang masih memejamkan matanya. Tapi sepertinya sama sekali tak mengganggu nyenyaknya tidur dari pria ini.
"Eemhp" Vee berusaha menutup mulutnya saat mengetahui ada yang sedang tidur di sampingnya.
Dan saat dia tersadar jika Senopati adalah pria yang sedang terpejam, seketika Vee terjatuh ke sisi ranjang.
Bugh!
"Aduh... Sakit" gumamnya sambil mengelus pantat yang terbentur lantai.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Vee sambil mengamati sekitar kamar itu.
Pelan-pelan dia mulai mengumpulkan memori dalam beberapa saat terakhir yang bisa diingatnya.
"Ahh, HoRoCi sedang istirahat di dalam kalung ini" gumamnya sambil mengusap lembut untaian kristal warna-warni di lehernya.
"Dan Sri, kemana dia pergi ya?" tanya Vee.
Wanita tadi sudah menghapus ingatan saat dimana tubuh Sri terbagi dan masuk ke dalam liontin di gelang yang sedang Vee pakai.
"Ah, biarkan saja. Semoga dia tidak lagi mengganggu" gumamnya.
"Berarti laki-laki ini sudah bukan lagi Senopati, tapi dia itu kak Hideo" gumam Vee yang masih berusaha mengingat semuanya.
Vee beranjak dari duduknya. Meski masih terasa sakit di bagian belakangnya, tapi dia harus memastikan kondisi Hideo saat ini.
Setelah berhasil berdiri, Vee mengedarkan pandangan untuk melihat jam dinding.
"Masih jam tiga pagi" kata Vee lirih, dia melangkah dengan ragu untuk mendekati Hideo.
Aneh rasanya saat melihat orang asing berada di samping kita meski kita yakin jika orang asing itu sebenarnya adalah orang terdekat kita, kan.
Seperti yang sedang Vee alami kali ini. Visual Hideo telah berubah.
Asap yang biasanya bisa melayang dan berwajah dingin itu telah berubah.
Kini terlihat imut dan sangat damai dalam tidurnya. Terdengar suara hembusan nafas yang tenang dari hidungnya.
"Uwah, hebat. Dia nggak ngorok" puji Vee kagum.
Gadis itu masih betah memandangi perubahan fisik Hideo.
Tak ada seorang gadispun yang tak akan kagum pada wajah tampan ini. Dan Vee tengah memandangi kuasa tuhan yang begitu besar dengan menciptakan makhluk sesempurna Senopati, atau Hideo?
Ah!! Vee jadi bingung sendiri.
Sedang asyik mengamati wajah itu dengan pikiran melayang, Vee tak sadar jika mata dari pria ini perlahan telah terbuka.
Sedangkan Vee masih saja termangu di depan wajah Hideo.
Puff
Hideo meniup wajah Vee, membuat Vee terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah.
.
.
.
.
__ADS_1