
"Hei bocil nakal, kalian lagi ngapain di luar?" teriak Vee yang tak menemukan ketiga anak asuhnya didalam garasi.
Mereka bertiga malah terlihat sedang asyik mengobrol dengan beberapa makhluk besar berbulu lebat berwarna hitam di dekat pintu gerbang.
Karena adanya pagar gaib itu, bahkan HoRoCi tak bisa keluar menembusnya. Tapi masih bisa mengobrol dengan sesamanya meski harus dibatasi oleh pintu gerbang yang tinggi menjulang.
"Kita lagi nongkrong sama pak Gendruwo ini, Vee" teriak Ho.
Dan nampak oleh Vee jika sesosok yang Ho bilang Gendruwo itu sedang melambaikan tangan dan tersenyum mengerikan pada Vee.
"Hiii, apalagi itu Ya Allah" gumam Vee yang bergidik ngeri. Kembali bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya meremang.
"Kenapa sih aku jadi bisa lihat yang begituan sejak mengenalmu, om?" tanya Vee dengan pandangan ketus. Masih berdiri di dalam garasi yang bisa melihat ke arah gerbang dimana HoRoCi berada.
Memarahi Hideo yang dirasa sebagai penyebab dari segala kesialannya yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus.
"Untuk bisa menyampaikan pesannya, Sri harus membuka mata batin kamu, Vee" kata Hideo.
"Jadi, bisa dong om kalau aku minta tolong sama kamu untuk menutup mata batin aku supaya nggak nampak mereka lagi?" tanya Vee penuh harap.
"Mana bisa. Kalau aku menutup mata batin kamu, yang ada kamu malah nggak bisa melihatku juga kan, Vee" kata Hideo yang tengah memandang penuh pada Vee.
"Terus nanti siapa dong yang mau membantuku untuk menemukan tubuh pengganti?" tanya Hideo.
Meski sebenarnya dia tak ingin untuk hidup di zaman ini, tapi untuk memilih matipun Hideo tidak tahu caranya.
"Bisa kan minta bantuan orang lain yang lebih mengerti tentang hal tak lazim seperti ini, daripada minta tolong sama aku yang awam dan bodoh ini, om Hideo yang ganteng" kata Vee.
"Tidak bisa, Vee" kata Hideo yang membuat Vee merosotkan pundaknya seketika.
"Kamu adalah orang terpilih yang bisa dipastikan tidak akan menggunakan kami untuk keperluan pribadi kamu. Terutama untuk masalah duniawi" Hideo berusaha menjelaskan pada Vee agar dia mau berusaha membatunya.
"Kalau orang lain yang diberi mandat seperti kamu, sudah pasti sejak awal mereka akan mempergunakan kami untuk bisa mewujudkan keinginan duniawi mereka" kata Hideo lagi.
"Tapi kamu berbeda, Vee. Meski kamu hanyalah gadis remaja yang masih sekolah, tapi pikiran kamu sudah melebihi kedewasaan orang yang lebih tua darimu dalam memandang hidup" masih bertele-tele, Hideo harus membuat Vee semangat.
"Nanti, suatu saat jika saya sudah menemukan tubuh yang baru. Kamu boleh meninggalkan saya, biarkan saya melanjutkan hidup saya sendiri tanpa kamu bersusah payah lagi mengurusi saya" kenapa terasa cukup berat untuk Hideo menyampaikan hal ini, ya?
Vee menatap mata Hideo, setelah mendengar pernyataan setan yang mangaku arwah ini, keinginan Vee adalah segera menyelesaikan misi yang telah dititipkan padanya oleh semesta.
"Oke, baiklah, deal. Aku terima permintaan kamu, om. Janji setelah kamu mendapatkan tubuh yang baru, kamu mau melepaskan aku untuk melanjutkan hidup sebagai orang yang normal" kata Vee.
Meski dengan berat hati, Hideo harus menyetujui agar urusannya juga segera berakhir.
Diapun ingin hidup normal seperti manusia lagi, seperti dulu.
Berjalan dengan kaki, melakukan aktifitas seperti biasanya.
Entah tubuh macam apa yang nantinya bisa dijadikan tubuh penggantinya.
__ADS_1
Yang jelas, Hideo akan menerima semuanya dengan lapang dada.
"Hei, bocil nakal. Ayo masuk, atau aku kunciin pintu, nih" ancam Vee yang tak mampan pada bocil nakal peliharaannya.
Vee benar-benar menutup pintu garasi dan menguncinya dari dalam.
"Astaghfirullah, kaget aku ya Tuhan" Vee menggerutu setelah HoRoCi yang tiba-tiba menampakkan diri didepannya.
Mereka bertiga malah tertawa kesenangan saat melihat Vee berteriak kaget.
"Kalian ini benar-benar ya. Awas saja, besok nggak aku beliin makanan lagi" ancam Vee sambil melangkah memasuki pintu penghubung antara garasi dengan ruang tengahnya.
"Jangan dong, Vee. Kita kan cuma bercanda" kata Ro yang sudah ketakutan.
Baru saja bisa menikmati tulang ayam fresh yang tak mencari di tempat sampah, masak iya besok sudah nggak berlaku lagi?
"Makanya, jangan usil. Sudah sana pergi, aku mau ke kamar saja sampai besok pagi. Awas ya kalian, jangan berani-beraninya masuk ke kamarku tanpa izin" lagi, Vee harus bersikap tegas pada ketiga makhluk yang agak susah diatur itu.
Tapi sebelum masuk ke kamarnya, terlebih dahulu Vee harus menyiapkan perbekalan selama dia berada di kamarnya.
Seperti makanan untuk makan malam, beberapa snack dan minuman untuk menemaninya menghabiskan malam yang sepertinya akan terasa sangat panjang.
Entahlah, perasaan Vee sedikit gelisah malam ini.
"Kamu tenang saja, Vee. Pak gendruwo bilang mau bantuin kita untuk menjaga rumah ini semalaman nanti" kata Ho.
Entah mengapa, tadi gendruwo itu memang menyuruh Ho untuk menyampaikan itu pada Vee.
"Kamu tidak usah takut, Vee. Saya masih cukup kuat untuk menghadapi apapun yang akan terjadi. Asalkan nanti kamu mau menambahkan energi untuk saya dengan bacaan Al Fatihah lagi" kata Hideo
"Tentu, dan yang lebih utama, aku harus minta pertolongan pada Allah agar Allah mau memberimu kekuatan untuk melawan apapun itu yang akan datang malam ini" kata Vee dengan penuh keyakinan.
Disinilah gunanya agama, kita bisa meminta pada Tuhan kita saat semua manusia dan apapun yang ada di atas dunia ini tak mampu lagi untuk menolong kita dalam menghadapi masalah.
"Sudah Maghrib" kata Vee yang mendengar bunyi adzan dari ponselnya yang memang sudah diatur untuk bisa melafazkan adzan setiap kali sudah memasuki waktu solat.
"Aku ke dapur sebentar ya, mau menyiapkan bekal untuk semalaman nanti, hehe" kata Vee yang masih diekori oleh makhluk tak kasat mata yang sudah berhasil dikumpulkannya.
Menilik ke dalam kulkas, Vee hanya menemukan nuget dan telur saja. Dia lupa mengisi kulkasnya sepulang dari Banyuwangi kemarin.
"Goreng telur saja deh" gumamnya.
Menyiapkan teflon dan menuangkan minyak keatasnya, Vee tengah menyiapkan beberapa potong nuget untuk dimasukkan ke dalam teflon.
Sembari menunggu nugetnya matang, Vee memecah dua butir telur ke dalam wadah untuk dijadikan telur dadar.
Setelah menaruh nuget yang telah matang ke atas piring, Vee kembali memasukkan telur yang telah dikocoknya ke dalam teflon untuk digoreng.
Sambil menunggu telurnya matang, Vee menyiapkan nasinya.
__ADS_1
Kegiatan memasak dadakannya sudah selesai.
"Selanjutnya, pilih camilan" gumam Vee yang kembali menilik isi kulkasnya.
Pandangannya tertuju pada keripik kentang kesukaannya, tak lupa sisa brownies yang tadi sempat dikembalikan ke dalam kulkas setelah mendengarkan cerita Hideo di ruang tengah tadi siang.
Sekotak susu, sebotol air mineral dan sebotol es teh juga menjadi pilihannya.
"Banyak sekali, Vee. Kamu mau piknik apa tamasya?" tanya Hideo yang melihat Vee terus menerus mengambil sesuatu dari dalam kulkas.
"Kamu bilang malam ini akan panjang, om. Daripada tengah malam nanti aku ketakutan untuk mengambil makanan karena kelaparan, mendingan aku siapkan dari sekarang" jawab Vee yang telah menaruh makanannya di atas nampan.
Setelah semuanya beres, Vee melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya di lantai dua.
Sebenarnya rumah ini terlalu mewah kalau hanya untuk ditinggali oleh seorang gadis sekecil Vee.
Tapi rupanya dia enjoy saja menikmati hasil kerjanya, dan untuk membersihkan keseluruhan rumah ini, biasanya Vee akan menyuruh orang tiap satu bulan sekali untuk bersih-bersih.
Dan saat dia tidak sibuk, dia juga akan membersihkan beberapa area yang sering dikunjunginya.
Sampai dikamarnya, Vee meletakkan makanannya diatas nakas. Selanjutnya, bersiap untuk solat Maghrib terlebih dahulu.
Hideo sibuk meneliti isi di dalam kamar Vee. Ruangan luas dengan sebuah ranjang di tengahnya.
Ada beberapa lemari berderet di samping kiri ranjang, dan salah satunya seperti meja rias yang indah.
Ada juga sebuah pintu di dekat meja rias, dan Hideo meyakini jika pintu itu mengarah ke kamar mandi.
Vee tengah menggelar sajadahnya di sisi sebelah kanan dari ranjangnya. Ada sebuah karpet tebal disini. Dan sepertinya memang Vee sering beribadah di kamarnya.
"Kalau kamu memang seorang muslim, lebih baik kamu juga solat, om. Jangan cuma ngelihatin aku pas lagi solat" sindir Vee pada Hideo yang mengaku muslim tapi tidak solat.
"Tentu, kemarin aku hanya lupa caranya solat. Sekarang aku pasti solat juga karena aku sudah ingat tata cara solat" jawab Hideo mantap.
"Oke" kata Vee yang sudah siap dengan mukena yang terpasang di badannya.
Hideo sedikit bingung untuk melakukan ibadahnya dimana. Untuk menjadi seorang imampun tak mungkin, karena Hideo masih belum terlalu mengingat bacaan solat.
Maklum, dia kan tertidur lebih dari satu abad. Untuk bisa mengetahui namanya sendiri saja sudah sesuatu yang bagus.
Dan saat dia melihat ruang kosong di depan ranjang, Hideo memilih untuk solat disana saja.
Kini, keduanya terlihat khusyuk dalam ibadahnya.
.
.
.
__ADS_1
.