
Selepas dari masjid, karyawan shift pagi di gudang pupuk sudah jamnya masuk. Andik yang baru saja menapakkan kakinya di mulut gudang merasa heran karena ada keributan di halaman depan, di lapangan kecil tempat para pegawai tetap melakukan apel pagi.
"Kok rame ya pak dhe? Kenapa ya?" tanya Vee yang juga penasaran. Karena lapangan itu berada di sisi sebelah kanan dari gerbang utama, sedangkan parkiran tempat Andik dan Vee bermalam berada di sisi sebelah kiri.
"Pak dhe yo nggak tahu Vee, lah wong barusan nyampek sama kamu" jawab Andik yang membelokkan kakinya ke sumber keramaian.
Vee membuntuti pak dhenya, dengan menenteng baju kotornya di dalam kresek dan ponsel di tangan kanan.
Banyak orang tertawa dan melihat ke atas. Ke arah tiang bendera yang pagi ini seharusnya diadakan apel pagi sekaligus pengibaran bendera.
"Loh, Ben. Itu kan Beni ya Vee?" tanya Andik pada Vee.
"Mana Vee tahu namanya pak Dhe" jawab Vee yang juga mengamati ke arah tiang bendera.
Vee menatap dengan tajam pada Beni yang kolong celananya tersangkut pada pengait yang biasanya digunakan untuk mengaitkan ujung bendera agar visa dikibarkan.
Sekarang malah menjadi pengait yang membuat Beni tersangkut di atas tiang dengan posisi pan.tatnya diatas, sementara kaki dan kepalanya sejajar.
Tapi anehnya, Beni diam saja. Seolah suara tawa renyah dari orang-orang yang menontonnya tak terdengar olehnya sama sekali. Padahal matanya tidak terpejam, seperti sedang melamun.
Vee tahu ada yang aneh, semakin lama Vee mengamati Beni maka semakin terlihat kejelasan disana.
Bukannya Beni yang sedang Vee pandangi, bukankah itu Hideo?
"Jadi, semalam itu bukan cuma mimpi?" gumam Vee sambil mencubit pipinya sendiri.
"Ah, iya. Sakit. Berarti memang ada Hideo yang keluar dari botol dong?" gumam Vee.
Hideo merasakan kehadiran Vee, radarnya seolah memberi tahukan padanya.
Rupanya, asap lelaki itu tengah menghukum Beni dengan cara merasukinya dan membuatnya tersangkut di atas tiang bendera.
Hideo mengulum senyum saat pandangan matanya beradu dengan netra berwarna hitam pekat milik Vee. Tapi malah membuat Vee merasa jijik karena Hideo masih berada di dalam tubuh Beni si pria tambun yang memang terkenal genit.
"Sudah cukup, saya mau keluar dari tubuh gemuk berlemak ini" kata Hideo, kini tengah berusaha keluar dari dalam tubuh Beni.
Kepulan asap terlihat keluar dari mulut Beni yang menganga, tapi memang hanya Vee saja yang bisa melihatnya.
Vee memegang lengan pak dhenya, sedikit mencengkeram sampai Andik mengaduh kesakitan.
"Sakit Vee, kamu mau matahin tangan tua milik pak dhe mu ini ya?"Andik menghempaskan tangan Vee dari lengannya.
"Eh, maaf pak dhe. Vee nggak sengaja" ucap Vee yang merapatkan dirinya di belakang tubuh Andik saat Hideo melayang rendah dan menghampirinya.
"Kalau tangan pak dhe patah, kan nggak ada yang nyetirin truknya Vee. Memangnya kamu mau nggak pulang-pulang?" tanya Andik sambil menoleh, mencari keberadaan Vee yang bersembunyi di belakangnya.
"Kamu ini kenapa sih, Vee? Diajak ngobrol malah sembunyi disini. Memangnya kamu lagi main petak umpet sama siapa?" tanya Andik heran melihat kelakuan absurd dari Vee.
__ADS_1
"Nggak ada kok pak dhe, Vee cuma ngeri saja lihat om Beni main gantung diri disana. Kalau jatuh kan pasti sakit" kata Vee mencari alasan.
Hideo sudah mendekati Vee, dia melayang-layang disamping gadis yang juga sedang berlindung pada Andik.
Sementara diatas sana, Beni yang sudah mulai sadar tengah berteriak minta tolong.
"Aahhh, tolong .. Tolong turunkan saya. Maaf, maafkan saya jin penunggu gudang. Saya tadi cuma khilaf, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi" Beni berteriak sambil mengikrarkan janji yang tak dipahami oleh siapapun yang ada di bawahnya.
"Temannya pak dhe aneh ya. Lagi diatas awan malah ketakutan, hehe" Vee malah menertawakan nasib buruk Beni.
"Kamu kalau tidur itu jangan kebanyakan tingkah bisa kan, Vee?" tanya Hideo, asap itu tidak takut pada sinar matahari pagi rupanya.
"Maksudnya?" tanya Vee pada Hideo.
"Maksudnya apa Vee?" tanya Andik yang mengira Vee sedang bertanya padanya.
"Eh, nggak ada maksud apa-apa kok pak dhe. Itu loh, maksudnya om Beni itu apa sampai naik ke atas sana" kata Vee.
Hideo terlihat diam saja, dia juga tengah melihat ke arah Beni yang bergerak-gerak seperti ulat yang digantung.
"Jangan gerak-gerak, Ben. Nanti talinya putus, kamu malah jatuh" salah seorang yang tengah berusaha menyelamatkan Beni memperingatkannya.
Beni ketakutan, diapun terdiam saat mendengar peringatan dari temannya.
Beberapa orang tengah membantu Beni, sementara kebanyakan yang lainnya hanya menonton, bahkan beberapa dari mereka sedang asyik memvideokan kesialan Beni.
Tubuh gempal berlemaknya hampir menunjukkan ke angka 200 kilogram, atau hampir 2 kuintal. Dan tubuh itu kini sedang tergantung di atas tiang bendera setinggi hampir lima meter.
Selain berteriak untuk mengurangi rasa takutnya, tidak ada lagi yang bisa Beni lakukan.
"Kenapa bisa disitu sih Beni itu?" terdengar beberapa orang sedang membicarakannya, Vee malah ikut mencuri dengar.
"Disini kan agak angker, bro. Siapa tahu tuh orang berkelakuan buruk, jadi dapat tulahnya" jawab yang lain.
"Makanya, jaga sikap dimanapun kita berada bro" kata yang lain lagi.
"Nanti kita introgasi b* bi busuk itu. Penasaran aku, siapa yang kuat naikin Beni sampai setinggi itu" kata yang lannya.
Agak panjang obrolan mereka, yang selalu diiringi tertawaan khas pejuang blue colar.
Vee diam-diam melirik pada Hideo yang masih melayang mensejajarkan diri dengannya.
"Kenapa kamu lirik-lirik saya? Kamu, suka sama saya?" dengan pedenya Hideo berucap pada Vee.
Vee hanya menggelengkan kepalanya, membuat Andik merasa heran pada sikap anehnya.
Sebenarnya Vee masih takut pada asap ini, kembali dia mengingat kejadian semalam saat si asap itu menyerap habis mbak kunti yang malang.
__ADS_1
Vee takut bernasib sesial Beni kalau Hideo masih saja mengikutinya.
"Pak dhe, kapan kita pulang?" tanya Vee yang sudah tidak tahan dengan lingkungan disini.
"Paling nanti siang atau sore, pokoknya pupuknya habis dibongkar dan dihitung ya kita bisa pulang, Vee" kata Andik.
"Tumben sih kamu pengen pulang? Biasanya semangat sekali kalau pergi ke luar kota?" keheranan Andik semakin besar.
"Vee ingat kalau ada tugas wawancara, pak dhe" kata Vee mencari alasan.
"Dasar tukang bohong" Hideo mencemooh Vee yang ketahuan berbohong pada Andik.
Vee hanya bisa melotot pada asap yang sedang melayang-layang di dekatnya itu, apalagi tampangnya sudah sangat menjengkelkan.
Beni sudah berhasil diturunkan dengan bantuan banyak pihak. Kini, terlihat orang itu malah tak bisa berdiri.
Terlalu syok membuat seluruh sistem syaraf dalam tubuhnya melemah. Bahkan tak bisa menopang barat badannya sendiri.
Beni rebahan di tengah lapangan karena orang-orang tidak kuat untuk membawanya ke bagian kesehatan.
Malah orang-orang dari bagian kesehatan yang datang untuk memeriksa Beni yang masih bergumam tak jelas.
"Pak dhe mau kemana?" tanya Vee saat Andik berbalik untuk meninggalkannya.
"Mau ngecek muatan, sudah selesai di bongkar apa belum. Masak dari kemarin belum selesai juga" kata Andik.
"Vee ikut dong pak dhe, mau ambil kamera juga. Tadi masih di charge di dalam kantornya pak mandor. Ehm, temenin Vee ngambil ya pak dhe, hehe" kata Vee.
Sementara mereka berdua menuju ke gudang bongkar muat, Hideo masih sempat mengarahkan telunjuknya ke arah Beni.
Sepertinya Hideo masih belum puas mengerjai Beni. Tapi tentu semuanya tanpa sepengetahuan Vee. Karena Hideo merasakan ketakutan Vee saat di dekatnya.
Dan ini adalah ujian untuknya agar Vee kembali merasa biasa, atau bahkan kalau bisa Hideo harus bisa membuat Vee merasa nyaman di sisinya.
"Kamu tumben banget sih Vee ngekor terus sama pak dhe. Biasanya disuruh balik susah banget, sekarang malah nggak mai disuruh main" kata Andik yang heran melihat perubahan sikap Vee sejak tadi pagi.
"Vee capek saja kok pak dhe. Ehm, pingin pulang, hehe. Takut pak dhe tinggalin kalau Vee main terus" jawab Vee mengarang cerita.
Hideo juga tak banyak bersuara sejak tadi, hanya mengamati perbuatan Vee dengan kameranya.
Sebenarnya dia sangat penasaran dengan sesuatu yang ada di tangan Vee itu. Tapi melihat Vee yang masih terlihat takut padanya, membuatnya harus menangguhkan pertanyaannya sampai nanti saat Vee mau bersikap biasa lagi padanya.
.
.
.
__ADS_1
.