
"Kenapa sih hidupku jadi begini? Bisa-bisanya aku sudah jadi pengantin? Mimpi apa aku semalam?" gerutu Vee sambil menurunkan beberapa stel bajunya.
Untung saja tadi pagi dia sempat mengambil bajunya yang ada di rumahnya sendiri, jadi sekarang tinggal menata di dalam koper saja.
Mendengar gerutuan itu, Seno hanya menyunggingkan sedikit senyumnya sambil berpura-pura tidur memunggungi Vee.
"Awas saja ya, pokoknya aku masih mau menghabiskan masa mudaku dengan ceria. Nggak ada paksaan, nggak ada yang namanya dibatasi. Semua harus sama seperti saat aku masih single. Status hanyalah diatas kertas" gerutuan Vee belum juga usai.
Selesai dengan bajunya, kini Vee menatap penampilannya dari cermin lemari. Nampak pantulannya yang tengah menggunakan kebaya dengan make up tipis.
"Uwah, ternyata aku cantik juga ya" gumam Vee yang baru menyadari betapa cantiknya dia.
Seno semakin tak bisa menahan tawanya.
"Ah, sudahlah. Ganti baju saja dulu. Gerah lama-lama pakai beginian" kata Vee.
Mula-mula, dia mengurai hijabnya. Mengambil satu per satu dengan hati-hati beberapa jarum pentul yang tersemat di kerudungnya.
Kini, rambut bergelombang sepinggangnya sudah tergerai. Vee menyisirnya dengan hati-hati.
"Cantik juga aku, hihi" celotehnya yang tak menyadari jika Seno masih saja mendengar semua perkataannya.
"Sekarang waktunya ganti baju" katanya setelah mengikat rambut, kini dia jadi bingung mau ganti dimana.
"Ganti disini nggak apa-apa deh, lagian kak Hideo juga sudah tidur" gumamnya.
Diapun maju untuk mengecek apakah Hideo benar-benar sudah terlelap.
"Kak, sudah tidur ya?" kata Vee sambil mencolek pundak Hideo.
"Sepertinya aman" gumam Vee.
Diapun mulai mengganti rok jaritnya dengan celana katun panjang gambar hello Kitty dengan mudah.
"Tinggal atasnya doang" gumamnya sambil menurunkan resleting di belakang punggungnya.
Kini bajunya sudah tanggal, menyisakan bra berwarna krem yang menutupi gunung kembar yang ukuran jumbonya belum pernah dilihat oleh siapapun. Mungkin hanya bunda Vani yang pernah melihatnya saat merawat Vee saat sakit.
Rasa penasaran sebagai seorang pria membuat Hideo tiba-tiba mengubah posisinya menghadap pada Vee dan membuka matanya saat mendengar bunyi resleting.
Tentu Hideo terbelalak melihat pemandangan indah di depannya, tapi seketika Vee melotot juga dan sedikit berteriak.
"Aahh, tutup matamu kak. Memangnya mau lihat apa?" bentak Vee sambil menyilangkan tangan di dadanya. Rasa malunya terasa sampai ke ubun-ubun.
"Uwah, kamu seksi sekali istriku" kata Hideo semakin menggoda.
__ADS_1
Seketika Vee membalik badannya dan memakai atasan piyamanya dengan kilat. Hideo terkekeh melihat kelakuan Vee, kini dia sudah tak berpura-pura tidur.
"Kamu ini jahat sekali" gerutu Vee sambil memukuli kaki Hideo.
"Kenapa memangnya? Aku kan suami kamu Vee. Nggak masalah dong kalau aku melihat itu? Untuk memintamu malam ini juga aku berhak, apa kamu mau mencobanya?" tanya Hideo yang sudah menangkap kedua tangan Vee.
"Jangan berani macam-macam ya. Apa kamu lupa sama perjanjian kita? Pokoknya kalau sampai kamu melanggar perjanjian itu, aku nggak mau ikut kamu pulang bersama orang tuamu" ancam Vee sambil memalingkan mukanya.
Terlalu lama bertatapan dengan suaminya itu sebenarnya membuat pertahanannya sedikit goyah. Karena tak bisa dipungkiri jika wajah tampan Senopati memang bisa membuat siapapun mabuk kepayang.
"Iya, saya tidak akan melanggar itu istri cantikku. Yang penting kamu harus tetap selalu berada di sampingku" kata Hideo yang sudah melepas genggaman tangannya.
Membiarkan Vee naik ke atas ranjang sempit itu dan memunggunginya saat ingin tidur.
"Saya kira kamu akan tidur di tempat lain, Vee" kata Hideo yang melihat Vee memeluk gulingnya.
"Nggak ada kamar kosong disini, masak mau tidur sama bunda. Pokoknya kamu jangan berani-beraninya berbuat macam-macam saat aku tidur ya kak. Kalau kamu mau tidur di lantai sih tidak masalah" balas Vee.
"Kenapa harus tidur di lantai kalau ada ranjang, sudah sana tidur. Saya tidak akan macam-macam" ucap Hideo yang ikut berbaring di samping Vee.
Merasa masih belum mengantuk, Hideo kembali membaca bukunya.
Tak lama berselang, Vee sudah terlelap. Kini dia sudah berubah posisi menghadap ke arahnya setelah menyingkap baju atasannya dan memperlihatkan perut ratanya.
"Hah? Godaan macam apa ini?" gumam Hideo yang bukunya sampai terjatuh karena ulah Vee.
Asyik memandangi wajah imut sang istri, tiba-tiba Vee semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat tangan kiri Hideo terjepit.
"Ahhh, sakit" keluh Hideo yang kini berusaha melepaskan diri dari pelukan Vee, bekas jahitannya masih ngilu jika terkena tekanan.
Imajinasi liarnya sebagai seorang lelaki buyar, kini dia meringis kesakitan.
"Dasar kamu ini Vee" kata Hideo.
Diapun memunggungi Vee, berusaha tidur dengan mencari posisi aman.
★★★★★
Papi dan mommy Seno menjemput pasangan pengantin baru itu selepas ashar. Keluarga Vee yang ikut mengantarkan mereka ke bandara masih sempat untuk meluangkan waktu untuk makan bersama sebelum Vee pergi.
Kini, sudah tiba waktunya ayah Jovan dan bunda Vani harus melepas kepergian anak gadisnya yang sudah dipersunting orang jauh.
"Kamu jangan nakal lagi ya Vee. Ingat sekarang kamu sudah bersuami. Apapun yang kamu lakukan harus seijin suami kamu" ucap ayah Jovan sambil mengelus rambut panjang anaknya.
"Iya yah" jawab Vee lirih.
__ADS_1
"Ayah yakin kamu akan baik-baik saja. Karena selama inipun kamu sudah hidup mandiri. Ayah selalu bangga sama kamu. Nanti ijazah dan surat-surat penting kamu akan ayah kirim lewat paket saja ya Vee kalau sudah keluar" kata ayah Jovan yang tak ingin meninggalkan kesan sedih di hari perpisahan ini.
"Iya yah" jawab Vee sambil mencium punggung tangan ayahnya.
"Pokoknya kamu harus selalu kasih kabar ke bunda ya Vee. Bilang sama bunda kalau sampai kamu diperlakukan tidak baik oleh suami kamu. Tapi bunda selalu berdoa semoga kami mendapatkan kebahagiaan kamu dimanapun kamu berada, nak" kata bunda sambil memeluk sayang putri kecilnya yang sudah lebih tinggi darinya.
"Iya bun" ucap Vee menahan tangis, dia tak mau bersedih di hadapan keluarganya.
"Nggak nyangka aku kalau kamu mau pergi, Vee. Sebenarnya ada sesuatu yang mau aku kasih tahu sama kamu. Tapi nanti sajalah aki kirim lewat e-mail" ucap Varo.
"Nanti tolong sekalian legalisirkan foto copy ijazahku yang banyak ya kak, hehe" Vee malah memberi tugas pada kakaknya sebelum pergi.
Varo hanya mendengus sebal, tapi Vee tahu jika kakaknya pasti akan menuruti permintaannya.
"Kak, nanti kalau aku sudah lulus SMA, aku juga mau kuliah di Jakarta ya kak. Kakak jangan khawatir, nanti aku maunya cari tempat kuliah yang dekat dengan pesantren biar bisa sekalian cari ilmu agama disana" ucapan Alin sungguh tak terduga oleh Vee.
"Kamu mau ninggalin bunda?" tanya Vee.
"Enggak dong kak. Kan aku cuma mau cari ilmu. Mumpung masih muda kan harus cari banyak pengalaman kak" jawab Alin.
"Terserah kamu dek, pokoknya harus izin bunda dulu ya. Kakak sayang sama kamu. Jaga bunda ya" ucap Vee sambil memeluk singkat adiknya karena waktu keberangkatan sudah dekat.
Terlihat yang lain juga sedang asyik berpamitan.
Terdengar dari pengeras suara jika penerbangan menuju Jakarta sudah akan dilakukan.
"Hati-hati" ucap para pengantar saat Vee beranjak pergi.
Hari ini semua orang sudah sepakat untuk tidak ada yang menangis agar Vee tidak merasa berat saat meninggalkan keluarganya.
Baru setelah melihat punggung keluarga Widjojo hilang dari pandangan, bunda Vani mulai berair mata.
"Sudah ya bun. Kita doakan yang terbaik untuk anak-anak kita. Semoga Vee menemukan kebahagiaannya disana" ucap ayah Jovan.
"Iya yah" jawab bunda Vani.
Merekapun beranjak dari bandara Abdurrahman Saleh untuk kembali pulang ke rumahnya.
.
.
.
.
__ADS_1