Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Asal kau bahagia, Vee


__ADS_3

"Kenapa sih Ra, tiba-tiba teriak. Ngagetin saja" keluh Richard yang lengannya sedang diremas dengan kerasnya oleh Aish yang terkejut melihat penampilan HoRoCi.


"Ada tuyul, sayang. Matanya cuma satu dan bibirnya berdiri. Aku takut" kata Aish yang masih membenamkan wajahnya di dada sang suami yang memang tingginya melebihi batas.


"Makanya nggak usah kepingin lihat yang aneh-aneh kalau takut. Sekarang kamu malah teriak nggak jelas" gerutu Richard, tapi meski dengan nada dingin, pria itu tetap mendekap istrinya dengan lembut.


Rasa cinta yang terungkap lewat perbuatan memang lebih bermakna daripada banyak kata tanpa usaha.


"Princess Aishyah tidak usah takut, kami ini anak baik kok. Kami loh yang membantu kalian melawan penjahat-penjahat itu" ujar Ho dengan bangganya.


"Iya kak Aish, nggak usah takut sama kita. Kan kita sama-sama makhluk Tuhan" kali ini Ro yang berusaha membujuk Aish.


"Iya nih kak Aish, nggak asik banget" keluh si bontot Ci yang berani memegangi baju Aish.


Sedikit berfikir, benar juga ucapan mereka. Sesama makhluk Tuhan kenapa harus takut? Akhirnya Aish mau juga sedikit demi sedikit menolehkan wajahnya untuk melihat ke arah ketiga bocil astral itu.


"Tapi kalian memang nyeremin, tau" ujar Aish lirih dengan masih memeluk tubuh suaminya untuk mencari perlindungan.


"Ya memang, tapi kami ini anak baik. Jadi kak Aish tidak usah takut" kata Ho.


"Iya deh. Nggak ada alasannya juga gue harus takut sama kalian" kata Aish yang kini sudah berani menatap ke arah ketiga bocil itu dengan mantap.


"Bagaimana kamu bisa betah kalau setiap hari bertemu dengan makhluk seperti mereka ini, Vee?" tanya Aish dengan pandangan masih tertuju pada HoRoCi.


"Sudah terbiasa, kak. Awalnya juga aku takut. Bahkan hantu pertama yang aku temui seribu kali lebih menyeramkan daripada mereka" ucap Vee.


"Oh ya? Apa itu?" tanya Aish penasaran.


"Wanita berkebaya batik yang kepalanya bisa dilepas. Dan lebih nyeremin lagi karena kepalanya bisa tetap hidup meski sudah tak berbadan" kata Vee sambil melihat ke arah Seno, takut saja kalau pria itu tak terima saat Vee bercerita tentang Sri.


"Pasti serem banget ya Vee. Sudah Vee, bagaimana cara menutup kembali mata batin ini. Gue sudah nggak berminat lagi lihat yabg serem-serem" kata Aish.


Kembali Seno membantu Aish untuk menghilangkan pandangan batinnya.


Kini, mereka semua sudah bersama menuju ruangan Yudha. Berharap pria itu masih diberikan keselamatan setelah mendapatkan lukanya.


"Terimakasih karena ibu mau memaafkan saya" tutur Seno sambil merangkul pundak kedua orang tuanya sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ke ruangan Yudha.


"Iya nak. Siapapun kamu, bagi kami tetaplah Seno, putra kami. Begitu kan yang diinginkan jiwa Seno? Dan sekarang, kamu adalah masa depan kami. Putra yang akan meneruskan jalannya perusahaan dan menjadi pelindung bagi kami di masa tua" tutur mommy Seno yang sudah bisa menerima kenyataan.


"Ehm Vee, apa perlu untuk menghubungi bundamu atas kejadian yang telah kita alami?" tanya Seno pada istri nakalnya yang berjalan di depannya.

__ADS_1


"Jangan berani-beraninya menghubungi bunda ya kak. Bisa diomeli sampai seharian penuh kalau sampai bunda tahu" kata Vee memperingatkan Seno.


"Baiklah. Tapi ingat Vee, lain kali jangan sampai kamu bertindak ceroboh lagi. Atau aku akan laporkan semua tingkah konyolmu pada bundamu" ancam Seno.


"Iya, baiklah. Aku tidak akan nakal lagi" ucap Vee dengan bibir cemberutnya.


Meski berpostur agak bongsor, Vee tetaplah gadis yang masih muda. Tingkah manjanya sering membuat keluarganya merasa gemas.


Ruang rawat Yudha sudah nampak, karena dari beberapa pintu yang sepi, hanya pintu yang terisi oleh Yudha saja yang terlihat sedang dijaga oleh beberapa anak buahnya. Entah sepenting apa Yudha hingga harus dijaga sebegitu ketatnya.


"Sore om. Bagaimana keadaan papa?" tanya Vee pada pria yang berjaga di depan pintu.


"Non Vee sudah ditunggu oleh tuan. Silahkan masuk" ucap salah satu dari mereka sambil membukakan pintu untuk Vee dan rombongannya.


"Terimakasih om" jawab Vee yang perlahan memasuki ruangan Yudha dan melihat pria itu sudah sibuk dengan ponsel di telinganya.


"Papa! Bukannya masih sakit? Kenapa malah sibuk dengan ponsel sih?" tanya Vee sedikit ngegas saat melihat papanya terlihat serius dengan orang di balik teleponnya.


"Oh, kebetulan sekali. Ini anaknya sudah sampai disini, Van" kata Yudha yang terlihat raut wajah kelegaan saat melihat Vee yang datang.


"Ini telepon untukmu, Vee" ucap Yudha sambil menyodorkan ponselnya pada Vee yabg bertampang datar, sudah terasa aura sakral menyelimuti ruangan itu.


"Bundamu" jawab Yudha singkat.


Seketika mulut Vee terbuka lebar, rasa terkejut membuatnya ingin lari saja.


"Papa ini. Nyebelin banget sih! kenapa menghubungi bunda?" tanya Vee lirih dengan isyarat bibirnya.


Yudha hanya mengendikkan bahu, "Papa merindukan bundamu" ucap Yudha santai.


Sementara Seno, Aish dan Hendra hanya mengulum senyum saat melihat Vee kelabakan begitu.


Tanpa sadar, Vee malah menggeser tombol untuk mengakhiri panggilan.


"Yah, kenapa malah aku matiin sih" keluh Vee lagi.


"Papa sih, kenapa malah telepon bunda? Aduuhh, nyebelin banget" kata Vee sambil berjingkrak seperti anak kecil yang tengah ngambek.


"Jaga tingkah lakumu, Vee. Kau itu sudah besar. Sudah menikah juga, kenapa masih bertingkah manja begitu" kata Yudha mengingatkan.


"Tapi masalahnya ini bunda loh, pa. Papa tega sekali padaku" keluh Vee yabg kembali melihat ponsel Yudha yang masih berada di tangannya kembali bergetar dan tertulis nama Vani dengan satu tanda love.

__ADS_1


Meski sedikit penasaran dengan nama panggilan Yudha terhadap bundanya, Vee tak ada waktu untuk bertanya karena masalah bundanya lebih penting kali ini.


Meski malas, Vee harus mengangkat panggilan itu atau nasibnya akan semakin buruk.


"Halo bun. Assalamualaikum" sapa Vee saat memulai obrolannya, dan yang lain hanya visa memandangnya dengan tatapan haru.


Dan benar saja, panggilan telepon itu tak kunjung berakhir hingga Vee harus duduk sendiri di pojok ruangan demi menjaga kenyamanan pasien dan lebih fokus untuk mendengar nasehat panjang yang dituturkan oleh sang bunda.


Yudha hanya bisa tersenyum saat sesekali pandangannya bertemu dengan Vee yang manyun.


"Pasti dendanya akan sedikit mahal kali ini" ucap Yudha yang diiringi gelak tawa dari keluarga Seno.


"Asalkan dia tak marah lagi, pak Yudha" kata papa Seno.


Semua orang terlihat sabar menanti berakhirnya telepon yang Vee lakukan. Dan panggilan itu benar-benar berakhir saat batrai di ponsel Yudha hampir habis dan telinga Vee sudah memerah dan bibirnya sudah sangat manyun.


"Maafin papa, nak" tutur Yudha memelas, sementara Vee masih manyun.


Dan benar saja, Yudha harus merogoh koceknya cukup dalam saat Vee meminta untuk liburan ke Mesir bersama Seno karena Vee yang penasaran dengan para mumi Tutankhamun.


Dasar Vee, sekalinya minta liburanpun tak jauh dari hal-hal yang berbau mistis. Mungkin sekarang dia sudah lebih berani, apalagi ada Seno disampingnya.


Kini dia sudah menyadari jika dia tak bisa jauh dari Seno. Pria yang sekarang adalah suaminya itu sudah berhasil memasuki ruang di dalam hati Vee. Hingga gadis itu merasa bergantung padanya.


"Terimakasih Tuhan, karena kau masih memberikan satu kesempatan padaku untuk menyadari jika memang Ongkoseno Widjojo lah pria terbaik yang telah engkau siapkan untukku" kata hati Vee sambil memandangi suaminya dengan haru saat keduanya tengah berada didalam pesawat sewaktu keduanya dalam perjalan ke Mesir.


Vee masih ingin merasakan petualangan seru bersama suaminya untuk menikmati hari bersama.


Jika pasangan lain ingin suasana yang romantis, Vee malah ingin bersama dalam petualangan.


"Asal kau bahagia, Vee" ucap Seno bila Vee bertanya apakah Seno berkenan dengan keputusannya.


Berbahagialah Vee dan Seno dalam petualangan hidup kalian.


TAMAT


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2