Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Jepun?


__ADS_3

"Ayo pergi, Vee" meski sangat lirih, Vee masih bisa mendengar rintihan Hideo yang mengajaknya pergi.


Gadis itu ingin menggandeng tangan Hideo agar bisa lekas keluar dari ruangan ini, tapi lagi-lagi Hideo hanya seperti asap yang tak terjamah.


"Ayo kak" kata Vee yang sudah bersiap keluar.


Saat dia menoleh, terlihat Senopati masih memegangi dadanya sambil sesekali merintih dan berusaha membuka sedikit matanya untuk melihat keberadaan Vee dan sesosok sesuatu yang membuatnya merasa sakit.


Pandangan Vee dan Senopati bertemu, meski hanya sebentar saja Vee masih bisa mengangguk untuk menyiratkan perpisahan dengan Seno.


Dengan langkah sedikit terburu-buru, pada akhirnya Vee bisa sampai ke parkiran tanpa tersesat lagi.


Ada Hideo disampingnya, rupanya HoRoCi membantunya keluar tadi.


"Untunglah bisa keluar juga" kata Vee lega, bahkan dia sampai beberapa kali menarik nafas panjang karena kelegaannya.


"Kalian bertiga kemana saja sih?" tanya Vee sedikit ketus.


HoRoCi saling lirik, saling senggol. Bingung mau menjawab apa.


"Hei, aku tanya sama kalian loh. Malah dikacangin" kata Vee lebih ketus.


"Ehm, maaf Vee. Kami tadi lagi menemukan banyak makanan. Sayang kan kalau nggak di makan dulu" ucap Ho sambil menunduk.


Melihat ekspresi ketiga bocil itu malah membuat Vee jadi kasihan. Dia jadi tak tega untuk memarahi mereka.


"Yasudah nggak apa-apa, sekarang kita pulang saja ya" ajak Vee pada semuanya.


Mereka semua mengangguk, dan Hideo masih merasa sensasi lemas setelah merasakan kedutan mengerikan tadi.


"Kamu sudah baikan kan kak?" tanya Vee khawatir, karena wajah Hideo semakin pucat saja.


"Saya sudah membaik, sekarang kita kembali ke rumah saja" kata Hideo.


"Ok. Ehm, aku harus naik angkot dong" kata Vee mengingat tadi mereka kesini karena kekuatan Hideo.


Dan melihat keadaan Hideo yang lemas tak bertenaga begini, tidak mungkin untuk memaksanya melakukan teleportasi lagi kan.


"Maafkan saya Vee, saya merasa sangat lemas kali ini" Hideo merasa tidak enak karena harus membuat Vee repot.


"Nggak apa-apa kak, lagian kan nyari angkotnya nggak jauh. Tinggal jalan ke luar balai kota ini saja, terus nyari angkot warna biru" kata Vee yang sudah melangkahkan kakinya.


★★★★★


"Sri? Kamu lagi ngapain?" tanya Vee yang melihat Sri sedang duduk di tepian sungai, kakinya masuk kedalam sungai jernih dan membuat sebagian jaritnya menjadi basah.


Sri menoleh, menampilkan wajah manis dengan kulit kecoklatan yang mungkin karena sering terpapar sinar matahari.


Rambut panjangnya terurai sempurna, berwana hitam legam dan nampak berkilau saat terkena sinar matahari.


Sri tersenyum saat melihat Vee mendekat padanya. Tak terlihat wajah takut dari Vee.

__ADS_1


Mungkin karena tampilan Sri yang tak mengerikan, jadi Vee bisa mengajaknya bicara santai.


"Boleh ikutan duduk disini nggak?" tanya Vee.


Sri mengangguk, sedikit menggeser tubuhnya agar Vee bisa duduk di dekatnya. Dan kembali melihat ke tengah sungai setelah merasa Vee sudah duduk dengan nyaman.


"Kamu lagi ngapain sih?" tanya Vee.


"Tidak sedang ngapa-ngapain, cuma melihat air sungai ini saja" jawab Sri santai.


"Kamu sepertinya sudah melupakan sesuatu, Vee" kata Sri.


Seketika Vee menoleh pada Sri, alisnya tertaut karena memang seperti ada sesuatu yang terlupa olehnya.


"Apa ya? Sepertinya aku memang lupa" kata Vee sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Besok sudah purnama, Vee. Dan purnama kali ini adalah purnama terakhir dari waktu yang sudah aku berikan padamu. Empat purnama sudah kamu lewati tanpa berbuat apapun" ada gurat kemarahan dari nada santai di ucapan Sri.


"Ehm, iya. Kamu benar, besok adalah purnama terakhir. Dan aku masih belum bisa mendapatkan tubuh pengganti untuk kak Hideo" kata Vee sambil menunduk, rasanya seperti menyesal karena tak bisa menepati janji.


"Dan kamu masih saja bersikap santai. Tidak ada sesuatu apapun yang kamu ingin lakukan di masa-masa terakhir ini, Vee?" tanya Sri lirih, tapi bisa dipastikan kalau dia sedang kecewa.


Vee bingung harus menjawab apa, karena diapun sama sekali tak punya rencana apa-apa. Setelah ujian sekolahnya selesai, dia jadi merasa sangat malas untuk melakukan apapun.


Hanya memotret saja yang biasa dia lakukan untuk membunuh rasa malas.


"Coba kamu katakan padaku, apa rencanamu di masa-masa terakhir dari waktu Hideo?" desak Sri.


Sri menatap tajam pada Vee, sampai wajahnya sedikit memerah karena menahan emosi.


"Maafkan aku ya, Sri. Hari ini aku akan usahakan untuk menyelamatkan kak Hideo" kata Vee lirih.


Kali ini sudah terbesit rasa ngeri di hati Vee saat melihat perubahan raut wajah Sri yang semakin memerah.


"Kalau sampai hari ini kamu tidak bisa mendapatkan tubuh untuk Hideo, maka kamupun harus ikut kami pergi dari dunia ini, Vee" ancam Sri.


"Tidak bisa begitu ding, Sri. Memangnya kamu tuhan yang bisa memutuskan usia seseorang?" tanya Vee yang merasa tidak suka dengan ucapan Sri barusan.


Kedua gadis ini saling menatap tajam.


Tapi lama kelamaan, rupanya emosi Sri semakin meninggi karena merasa Vee sudah tidak merasa takut padanya.


Perlahan tapi pasti, Sri merubah wujudnya menjadi seperti terakhir kali saat dia masih memiliki nafas dalam dirinya.


Sri menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Vee, hingga membuat Vee tersadar jika Sri masihlah menjadi sosok yang menakutkan.


"Aaahhh" teriak Vee sambil melempar kepala Sri ke tengah sungai.


Sementara saat sedang menoleh pada tubuh Sri yang berada disampingnya, Vee terjatuh karena belum siap mendapatkan serangan dadakan dari Sri yang mendorongnya ke dalam sungai.


Vee terkejut, bagaimana bisa sungai yang tadinya dangkal bisa berubah dalam saat dia tercebur. Dia adalah perenang tangguh, tapi kenapa kali ini dia merasa sangat kesulitan untuk mengatasi arus dari sungai ini?

__ADS_1


Vee gelagapan, bingung bagaimana cara untuk menyelamatkan dirinya. Hingga membuat Vee merasa jika sekelilingnya menjadi gelap.


Sedangkan di dunia nyata, Hideo yang senantiasa mengamati Vee yang sedang tidur merasa khawatir karena melihat tidurnya yang tidak tenang.


Peluh membanjiri kening Vee dengan bibir yang berujar tidak jelas.


Sepertinya Vee sedang ngelindur, tapi ucapan yang keluar dari mulutnya tidak jelas.


Hideo berusaha membangunkan Vee, tapi dia kesulitan karena sosoknya yang melemah masih belum bisa untuk memegang tubuh Vee.


Jadilah HoRoCi yang disuruhnya untuk membantu membangunkan Vee yang semakin meracau tak jelas dalam tidurnya.


"Vee, bangun" ucap HoRoCi bersamaan sambil menepuk-nepuk pipi Vee.


Ketiga makhluk itu sudah duduk bersila mengitari Vee yang terbaring diatas ranjangnya.


Cukup lama bagi mereka untuk membangunkan Vee yang semakin bergerak tak karuan dalam tidurnya.


Bahkan baju yang dipakainya sudah terlalu basah karena peluh.


"Aahh" teriak Vee singkat dan tiba-tiba duduk.


Kedua tangannya menutup wajah dengan nafas yang memburu. Pundaknya sampai naik turun karena terlalu keras saat bernafas.


"Vee, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Hideo yang sudah berjongkok di hadapan gadis itu.


Tubuh Vee menegang mendengar suara lembut Hideo.


Perlahan dia menurunkan telapak tangannya, dan mulai mengamati wajah Hideo dengan senyum samar.


Mata Vee memerah, dan air mata turun dari sana.


"Ada apa?" tanya Hideo.


"Tidak apa-apa, Jepun" jawab Vee.


Hideo melotot tajam mendengar penuturan Vee barusan.


Apa yang dia dengar tadi? Vee memanggilnya Jepun?


Seingatnya, hanya ada satu orang selama ini yang memanggilnya dengan sebutan itu.


"Kamu bukan Vee, kemana Vee?" tanya Hideo dengan nada rendah, menilik tajam pada wajah sumringah Vee.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2