Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Ada apa dengan Mommy?


__ADS_3

Aish segera memasuki kamar Mommy Seno setelah terlebih dahulu mengetuknya meski tak mendapat jawaban.


"Mommy kenapa?" tanya Aish setelah mendengar teriakan tadi.


"Hehehe, saya nggak apa-apa" jawab Mommy dengan senyum merekah.


"Benar nggak apa-apa? Tapi kenapa tadi teriak sih, Mom? Bikin khawatir saja" masih belum percaya, Aish bertanya lagi.


"He em. Saya tidak apa-apa. Sudah, kamu pergi sana. Saya mau tidur, ngantuk" kata Mommy Seno mengusir Aish pergi.


Sementara setelah mengatakan itu, Mommy Seno semakin merapatkan selimut dan berbalik badan. Tak mau menatap Aish yang masih kebingungan melihat sikap Mommy yang sedikit aneh.


"Yasudah kalau Mommy mau tidur. Aish keluar dulu ya Mom. Kalau ada apa-apa panggil Aish ya" kata Aish sambil merapatkan selimut Mommy dan keluar dari kamarnya meski dengan perasaan sedikit aneh.


Di dalam kamarnya yang berdempetan dengan kamar Mommy, Aish yang masih belum bisa tidur memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan membaca Al Qur'an melalui aplikasi di ponselnya.


Entah mengapa, dia merasa malam ini terasa berbeda. Terasa hening dan sunyi, perasaannya juga seperti sedang diperhatikan oleh sesuatu yang diapun tak tahu apa itu.


Daripada pikiran buruknya menghantui, maka Aish lebih memilih untuk meminta perlindungan dari Tuhannya.


Namun, belum lama dia membaca lembaran ayat suci itu, mungkin masih selembar saja dia selesaikan, audah terdengar ketukan keras dari pintunya. Dengan teriakan dari Mommy yang biasanya tak pernah terdengar membentak siapapun meski bawel.


Duk... Duk... Duk...


"Aish... Aishyah... buka pintunya!" teriak Mommy sambil menggedor pintu kamar Aish.


"Ada apa Mom?" tanya Aish yang masih mengenakan mukenanya.


"Hentikan tingkahmu itu. Saya tidak suka kalau kamu terus-terusan membaca itu. Diam! Jangan banyak tingkah dirumah ini, atau kamu pergi saja kalau masih meneruskan bacaan kamu!" bentak Mommy dengan mata menyala, melotot sambil berkacak pinggang.


Aish tentu merasa heran dengan perubahan sikap Mommy yang tiba-tiba begini. Padahal Aish membaca Al Qur'an dengan suara lirih, tentu tak akan mengganggu siapapun di sekitarnya.


"Memangnya Aish baca apa sampai Mommy merasa terganggu?" tanya Aish, siapa tahu Mommy punya alasan lain.


"Baca kitab kamu itu dong, memangnya apa lagi. Sudah ya, kamu diam saja. Atau tidur saja daripada mengganggu orang" kata Mommy yang masih terlihat emosi.


Setelah berkata begitu, Mommy berbalik dan meninggalkan Aish yang masih mematung keheranan.


"Ugh! Bau banget" keluh Aish.


"Masak sih baunya dari arah Mommy?" gumam Aish yang malah membuntuti Mommy yang berjalan pelan menuju ke kamarnya.


"Iya, benar deh baunya dari arah Mommy" gumamnya yang sudah dekat dari wanita cantik yang tengah melenggang aneh saat berjalan.


"Mom... Mommy habis ngapain sih? Kok tumben bau banget? Mommy nggak mandi ya?" kata Aish sambil terkekeh pelan, berusaha menegur Mommy agar tak tersinggung.


"Hei, tutup mulut kamu ya. Kurang ajar sekali kamu berani-beraninya berkata begitu sama saya" bentak Mommy dengan mata menyala.


Tentu Aish merasa aneh dengan perubahan sikap Mommy yang seperti itu. Tak biasanya wanita itu sangat mudah terpancing emosi.


"Oh, maafin Aish ya Mom. Tumben sekali Mommy mudah marah. Lagi PMS ya?" tanya Aish lagi.


"Diam kamu. Lancang" bentak Mommy lagi.

__ADS_1


Bahkan dia sudah berpaling sambil mengibaskan rambut panjangnya yang terurai. Berjalan melenggok memasuki kamar tanpa mau lagi mendengar penuturan Aish.


"Kok mommy jadi aneh banget sih. Ada apa ya" gumam Aish.


Diapun memutuskan untuk kembali saja ke kamarnya, dan akan meminta maaf esok pagi saat mereka bertemu.


Pukul sembilan malam, merasa masih belum mengantuk maka Aish lebih memilih untuk berselancar di dunia Maya. Tapi terdengar lagi suara ketukan pintu kamarnya.


"Non Aish, ada den Hendra datang non" rupanya bibik kali ini yang mengetuk.


"Oh, iya bik. Terimakasih ya" ujar Aish sembari membuka pintu kamarnya dan segera ke ruang tamu untuk menemui sahabatnya di ruang tamu.


"Hei, Hen. Tumben kesini" sapa Aish.


"Lo bilang tadi lagi laper, kebetulan tadi gue lagi dijalan. Yasudah sekalian gue beliin lo burger" ucap Hendra santai.


"Hehehe, padahal gue cuma bercanda lho. Tapi makasih kalau lo bersedia nganterin makanan buat gue" kata Aish dengan tawa khasnya.


"Gue kasihan aja sama lo, nginep di rumah orang pas suami lo lagi pergi, malah kelaparan lagi" kata Hendra lagi.


"Uwah ... Ada makanan" ujar Mommy Seno yang tiba-tiba saja sudah ada diruang tamu.


Tanpa banyak kata, beliau langsung saja melahap makanan yang Hendra bawakan untuk Aish.


"Hemm.... Enak... Hemmm... nyam, nyam, nyam" Mommy sampai bersuara keras saat menghabiskan makanan yang tersaji diatas meja.


Hendra dan Aish hanya bisa melongo melihat perubahan tingkah laku mommy yang Aish rasakan sejak tadi.


"Buuhhh!!!" Mommy menyemburkan makanan di dalam mulutnya hingga tercecer memenuhi meja.


"Ih... Mommy jorok banget sih" keluh Aish.


"Kurang ajar kamu. Beraninya kamu menggangguku yang sedang makan?" teriak mommy pada Hendra.


"Kok Mommy marah sih Hen?" tanya Aish yang baru pertama kalinya melihat Mommy Seno se emosi saat ini.


"Kamu bukan Mommy, kenapa kamu mengganggunya?" tanya Hendra santai, mengacuhkan pertanyaan Aish terhadapnya.


"Hahahaha... Anak kecil sok tahu. Memangnya kamu pikir siapa saya? Kamu jangan sok tahu, bodoh!" kata Mommy.


"Gue bisa tahu wujud asli lo meski bersembunyi di tubuh Mommy. Memangnya apa salah mommy sampai lo gangguin dia?" tanya Hendra, lebih ke sosok makhluk aneh yang dia lihat tengah memanfaatkan tubuh Mommy yang sedang dirasukinya.


"Hah? Maksud lo, mommy kesurupan gitu Hen?" tanya Aish tak percaya.


Hendra hanya mengangguk pelan. Kemampuannya untuk melihat makhluk astral belum memberinya kesempatan untuk mengusirnya juga. Jadi, dia hanya bisa bersikap santai agar makhluk itu tak menyadari kelemahannya.


"Kamu pikir siapa saya? Tentu saja saya ini ibunya Senopati, makhluk setengah manusia tapi juga setengah setan. Hahahaha" kata mommy yang selalu tertawa saat mengatakan sesuatu.


"Mommy kenapa sih Hen? Siapa yang dia bilang makhluk setengah manusia?" tanya Aish yang sudah mulai khawatir.


"Kalian ini bodoh sekali. Kenapa tidak menyadari sejak dulu, hah? Teman kalian itu, si Seno itu sudah mati. Dan makhluk yang kalian anggap teman kalian itu adalah orang lain yang memanfaatkan tubuh Seno. Bodoh sekali kalian ini" gerutu Mommy sedikit tak jelas.


"Kami tidak akan percaya dengan bualan makhluk jahat sepertimu. Apa gunanya Seno harus membohongi keluarganya sendiri? Dia bukan makhluk jahat sepertimu" kata Hendra yang sebenarnya hanya ingin memancing informasi dari makhluk yang sedang merasuki tubuh Mommy.

__ADS_1


"Kau tidak percaya pada saya? Hahaha.. Saya tidak perduli. Padahal saya berkata benar tahu!" kata Mommy dengan santainya, dan kembali melahap makanan yang masih tersisa di atas meja.


"Apa kita harus percaya padanya, Hen?" tanya Aish yang mulai meragu.


"Mereka itu makhluk pembohong, princess. Tak seharusnya kita mempercayai bualan mereka. Dia saja memanfaatkan tubuh Mommy untuk tujuan yang kita pun tak tahu" kata Hendra yang masih mengamati Mommy dengan seksama.


Dalam pandangan Aish, mommy adalah wanita yang biasa dia temui saat berkunjung ke tempat ini. Hanya saja beliau tengah bersikap aneh dengan sedikit rakus saat makan, tidak seperti biasanya yang anggun dan tak menyukai junk food.


Tapi dalam pandangan Hendra, wanita di depannya ini bukanlah seorang wanita. Tapi dia serupa makhluk besar dan hitam dengan mata berpendar cahaya keunguan.


Sifat rakusnya cocok dengan postur tubuh makhluk ini. Besar dengan perut buncit dan mata bulat. Bau daru tubuhnya menyengat seperti kentang rebus atau ubi bakar, Hendra tak dapat mendefinisikan dengan baik mengenai bau anehnya.


Aish sedikit terjingkat saat ponselnya berdering, padahal dia tengah memperhatikan Mommy yang sedang asyik makan.


"Assalamualaikum, Seno. Lo dimana?" sapa Aish yang sedikit lega saat ponselnya menampakkan nama Seno.


"Waalaikumsalam, bisa saya bicara dengan ibu?" tanya Seno.


Aish tak tahu harus bagaimana, diapun lebih memilih untuk mengganti panggilan teleponnya ke panggilan Video agar Seno bisa melihat sendiri bagaimana kondisi mommynya.


"Sikap mommy daritadi aneh, Sen. Gue nggak berani gangguin mommy yang lagi asyik makan" komentar Aish sambil mengaktifkan kamera belakang ponselnya agar Seno bisa melihat mommynya secara langsung.


"Sial, saya kecolongan. Apakah Vee sudah dirumah, Aish?" tanya Seno.


"Belum, Vee daritadi belum pulang, Sen" kata Aish.


"Dasar anak nakal. Pasti dia ikut camping bersama teman kampusnya" sesal Seno yang larangannya tak digubris oleh Vee.


"Baiklah, saya minta tolong untuk menjagakan ibu saya ya Aish. Saya sudah dijalan, mungkin satu jam dari sekarang saya sudah sampai dirumah" kata Seno yang berusaha tenang, meski dari nada suaranya terdengar jika pria itu sedikit tegang.


"Tentu, kami akan menjaga mommy dengan baik" kata Aish.


"Kau sedang bersama seseorang?" tanya Seno.


"Ya, ada Hendra disini" jawab Aish sambil memperlihatkan Hendra yang tengah memandangi Mommy dengan seksama.


"Bagus. Saya yakin kamu tahu apa yang tengah terjadi dengan ibu saya kan, Hendra. Saya hanya minta tolong padamu untuk mencegah mommy keluar rumah, apapun alasannya. Saya akan berusaha untuk secepatnya pulang" ujar Seno.


Hendra hanya mengangguk tanpa bersuara. Entahlah, dia jadi tak mempercayai Seno kali ini. Tapi dia terlihat khawatir atas sikap mommynya.


"Yasudah, lo cepetan ya Sen. Gue takut terjadi apa-apa sama mommy" ujar Aish.


"Iya" jawab Seno yang langsung mematikan ponselnya.


"Sebenarnya ini ada apa sih, Hen? Kenapa semuanya jadi aneh begini?" keluh Aish.


"Gue juga belum bisa mastiin, Princess. Kita tunggu saja sampai Seno kembali" ujar Hendra yang sangat menyayangkan dirinya yang tak bisa melawan makhluk seperti mereka, hanya bisa melihatnya saja.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2