
"Ini makanan kalian" Vee memberikan sekantong tulang ayam pada HoRoCi.
"Boleh kami memberi sedikit pada pak gendruwo, Vee?" tanya Ho.
"Terserah kalian, memangnya pak gendruwo juga makan itu ya?" tanya Vee yang sudah menoleh ke arah pohon sawo di halaman rumah tetangganya.
"Mereka makan apapun" kata Ho.
"Oh, yasudah. Terserah kalian saja. Aku mau masuk dulu ya" pamit Vee, dia sudah sangat merindukan kucuran air hangat agar bisa merilekskan tubuh dan pikirannya setelah seharian beraktivitas.
Masuk ke garasi, rupanya ada sebuah motor yang terparkir disana. Vee mengenali jika itu adalah motor kakaknya.
"Tumben kesini" gumam Vee yang meneruskan langkahnya ke ruang tengah.
"Kak Varo? Ngapain?" tanya Vee yang sudah mendapati sang kakak duduk dengan laptop dihadapannya.
"Waalaikumsalam" kata Varo.
"Eh iya, Assalamualaikum, hehe" Vee lupa menguluk salam pada kakaknya.
"Waalaikumsalam" jawab Varo.
"Bunda masak banyak, terus nyuruh kakak ngasih ke kamu" kata Varo yang masih fokus pada laptopnya.
Vee tak pernah mengerti dengan kegiatan kakaknya dengan laptop yang selalu menampilkan layar hitam dengan grafik beraneka warna.
"Sudah kakak taruh di dapur, kamu solat dulu sebelum makan. Kakak tunggu disini" perintah kakaknya.
Dan herannya, Vee selalu menurut pada pria tampan yang jarang sekali tersenyum itu. Vee sampai heran juga kenapa banyak wanita yang antri untuk mendapatkan perhatian darinya.
Satu lagi, hanya Kenzo satu-satunya teman Varo yang betah dengan kelakuannya sejak sama-sama duduk di bangku SD.
Beberapa lama menunggu, akhirnya Vee turun dari lantai dua untuk menyambangi kakaknya yang sudah daritadi menunggu.
"Uwah, bunda masak makanan kesukaan Vee ya" kata Vee dengan bahagia saat melihat rantang pemberian bundanya.
"Kamu itu hampir semua makanan doyan Vee. Bunda saja nggak tahu apa makanan kesukaanmu" ejek Varo.
"Aku jadi nggak butuh sambal, kak. Omongamnu melebihi pedasnya bon cabe level 50" kata Vee sambil mendudukkan diri di samping kakaknya.
Varo hanya meliriknya singkat.
"Kamu tadi ngomong sama siapa diluar?" tanya Varo, menyelidiki perubahan mimik wajah Vee.
"Nggak ada, aku lagi telepon kok" sanggah Vee.
__ADS_1
"Tukang bohong" ejek Hideo.
"Kakak sudah melihat Video dari kamu secara penuh. Dan kakak rasa, ada sesuatu yang aneh, Vee" kata Varo yang sudah mengakhiri kegiatan dengan laptopnya saat Vee duduk didekatnya.
"Oh ya? Apa kak?" tanya Vee seolah penasaran.
Dia hanya ingin menghargai kerja keras kakaknya.
Varo mulai membuka sebuah folder dalam laptopnya, dengan satu kali klik, sudah ada tampilan video amatir yang terpampang dilayarnya.
"Seperti ada sesosok wanita menancapkan kepalanya yang membuat ada sedikit pendaran cahaya selama beberapa detik, Vee. Lihatlah!" kata Varo yang sudah memotong video itu dalam beberapa menit saja.
"Dan setelahnya, sosok itu masuk ke dalam tubuh kamu, Vee" kini Varo sudah menatap penuh pada mata adiknya.
Vee tidak jadi memasukkan makanan ke dalam mulutnya saat mendengar ucapan Varo.
"Mana mungkin, kak. Aku masih tetap Vee, adikmu. Kakak nggak percaya sama aku?" tanya Vee dengan sangat serius.
"Kakak sampai mencari tahu tentang hal-hal mistis setelah melihat video ini, Vee" kata Varo.
"Dan menurut pemahaman yang kakak dapatkan, sosok seperti itu bisa bersembunyi di satu tempat yang tidak kamu sadari di dalam tubuh kamu dengan berkamuflase menjadi sesuatu yang sangat mirip denganmu, Vee" pandangan Varo sangat membunuh saat ini.
Varo beranggapan jika ada sosok lain dalam tubuh Vee.
Apa mungkin itu benar?
Karena setelah bertemu Sri waktu itu, beberapa kali Vee bermimpi seolah bertemu dengan Sri dengan keadaan yang sangat nyata.
Bahkan saat Sri menyentuhnya, itu juga terasa sangat nyata.
"Apa kamu berfikir jika ucapan kakak ini benar, Vee?" tanya Varo yang melihat Vee tercengang saja dari tadi.
"Tapi nggak mungkin lah kak. Aku yakin kalau aku tidak kemasukan apapun. Aku masih bisa mengontrol diriku sendiri, kak. Nggak ada yang bersembunyi didalam tubuhku" Vee masih saja menyanggah meski dalam hatinya jadi merasa sedikit khawatir juga.
"Apa kamu merasa saat akan beribadah jadi malas? Atau saat kamu solat, ada bagian tubuhmu yang merasa panas, Vee?" tanya Varo.
Vee hanya menggeleng sambil berusaha mengingat terkahir kali saat dia solat Maghrib barusan, memang tidak merasakan apapun.
"Kak, tolong jangan katakan apapun sama bunda ya. Aku nggak mau kalau sampai bunda khawatir, kak" kata Vee yang sudah kembali memakan makanan kiriman bunda untuknya.
"Oh iya, Alina apa kabar kak? Dia baik-baik saja kan?" tanya Vee yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak bertemu dengan adik perempuannya.
"Dia baik. Sekarang dia bahkan sedang fokus mengaji di pondok dekat rumah. Dia memang sangat soleha. Beda sekali denganmu" kata Varo sambil menelisik penampilan Vee yang sangat berbeda dengan adiknya.
"Kak, jangan suka membandingkan adik-adikmu dong" kata Vee.
__ADS_1
Varo tersenyum meski sangat samar, dia selalu bisa merasa nyaman saat bersama adiknya yang satu ini.
Meski slengek an, Vee sangat apa adanya. Tingkah polosnya selalu bisa membuat orang lain betah untuk mengobrol dengannya.
"Tapi kalau kamu merasakan ada satu hal yang aneh dalam diri kamu, segeralah beritahu kakak agar kita bisa mencari solusinya bersama-sama" kata Varo yang masih mengkhawatirkan adiknya.
"Iya kak, pasti. Makasih sudah khawatir sama aku" kata Vee yang kini bergelayut manja di lengan kakaknya.
Dan setiap Vee melakukan itu, maka Varo akan mengelus sayang pada puncak kepala adiknya.
"Manja sekali" ejek Hideo yang melihat Vee memeluk sayang pada kakaknya.
Varo selalu merasa jika Vee adalah adik kecilnya yang dulu selalu dijemput olehnya saat pulang sekolah.
Gadis kecil yang selalu menatap senang saat dia memanggil namanya yang menunggu di pos satpam.
Dan mereka akan pulang bersama dengan Kenzo yang juga sering singgah untuk makan siang dirumah mereka.
"Apa sebaiknya kakak menginap saja dirumah kamu selama beberapa waktu ke depan, Vee?".
Pertanyaan Varo langsung membuat Vee mendongakkan kepalanya dan menggeleng.
"Tidak perlu, kak. Disini sudah banyak yang melindungi Vee. Kakak jangan terlalu khawatir sama aku ya" kata Vee yang tidak ingin kakaknya tahu kalau dirumahnya sudah penuh dengan makhluk halus.
Varo memicingkan matanya, dia tahu ada yang sedang disembunyikan oleh adiknya.
"Kalung kamu bagus, kapan kamu beli?" tanya Varo mengalihkan pembicaraan mereka.
"Waktu ke Banyuwangi kemarin, kakak mau?" tanya Vee yang sudah kembali sibuk dengan sendoknya.
"Enggak, kakak cuma tanya saja. Tapi malam ini saja, izinkan kakak menginap ya. Malas sekali kakak kalau dirumah, si Shanum setiap hari datang ke rumah, Vee" keluh Varo.
"Dia sudah berani datang sendirian ke rumah dengan alasan minta dibantuin ngerjain tugasnya. Dan kamu tahu sendiri bunda itu orangnya baik, pasti selalu mengizinkan anak itu masuk dan menyuruh kakak untuk mengajarinya" kata Varo yang terlihat sangat tertekan saat bercerita.
Vee menertawakan cerita kakaknya, dia juga tagu seperti apa kelakuan Shanum yang mengejar simpati dari seorang Varo.
"Bolehlah, malam ini saja ya kak" kata Vee yang akhirnya mengizinkan kakaknya menginap.
.
.
.
.
__ADS_1