
Ckiiitt
Sebuah mobil van mengerem mendadak karena harus menghindari Vee yang sedang duduk di bangku cor di pojokan jalan.
"Astaga! Woi, nyetir pakai mata. Sim kamu nembak ya?" teriak Vee yang belum bisa menghilangkan rasa kaget dalam dadanya.
Seorang pria bermasker keluar dari dalam mobil Van itu. Tubuh tingginya dibalut dengan setelan jas formal berwarna biru navy.
Pandangan matanya lekat mengamati Vee yang juga nampak melotot padanya. Sepasang mata berwarna hazel tengah menatap lekat pada Vee yang juga nampak tak gentar.
"Yang salah siapa, yang nyolot siapa" gumam Vee sambil terus membalas tatapan si pria yang masih berjalan gontai ke arah Vee yang sudah berdiri di dekat bangku cor.
Dari gerak-geriknya, sepertinya orang ini ingin memarahi Vee.
Belum juga pria itu sampai ke tempatnya, seorang wanita terlihat buru-buru keluar dari dalam mobil untuk menenangkan si pria.
Vee melihat semua pemandangan aneh di depannya dengan penuh selidik.
Kedua orang itu nampak asing, si pria yang berpakaian formal dan si wanita yang berpakaian seksi.
Wanita itu berbicara sambil terus mengelus lengan pria itu agar emosinya mereda.
"Kayak nggak asing sama wanita itu" gumam Vee yang masih saja mengamati interaksi antara dua orang yang berdiri sekitar dua meter dari tempatnya.
Wanitanya cantik dengan mimik wajah yang seperti ketakutan, sedang membujuk seorang pria yang nampak sangat emosi.
Tangannya tergerak untuk memotret pemandangan di depannya, beruntung kedua orang di depannya ini berbincang dengan tidak memunggungi Vee.
Tanpa kata, kedua orang itu segera masuk kembali ke dalam mobil Van itu dan segera tancap gas. Tapi Vee masih berkesempatan untuk memotret nomor plat mobil Van itu sebelum pergi.
"Aneh banget, mereka itu siapa ya kak?" tanya Vee yang masih mengamati foto plat mobil Van itu.
"Mereka punya niat yang jahat, Vee. Tapi bukan padamu, entahlah mereka akan menjahati siapa. Yang jelas, kedua orang itu sedang berencana jahat" kata Hideo.
Vee menoleh pada Hideo, melihat asap itu dengan pandangan serius.
"Maksudnya, rencana kriminal gitu?" selidik Vee.
Hideo hanya mengangguk, "Sudahlah, biarkan saja. Bukan urusan kamu juga" kata Hideo.
Vee hanya mengangguk singkat, dan sekarang dia berencana untuk pergi dari tempat itu. Berjalan lagi untuk mencari tempat lain dengan pemandangan yang lebih cantik.
"Kemana perginya para bocil?" Vee heran karena HoRoCi yang sudah tak ada di sekitarnya.
"Mereka menemukan mainan baru, biarkan saja nanti juga kembali. Sekarang kamu mau kemana?" tanya Hideo, karena sudah sejauh ini tapi Vee masih belum berniat untuk kembali pulang.
"Aku mau jalan sampai ke puncak bukit ini kak. Pasti indah banget pemandangan dari atas sana" kata Vee sambil menunjuk arah puncak.
__ADS_1
Hideo hanya mengangguk, sambil tetap mengawal sang putri yang ingin mencapai tujuannya.
Ternyata perjalanan sampai ke puncak bukit ini cukup jauh. Saat matahari sudah tergelincir hampir ke ufuk barat, baru saja Vee bisa sampai di tempat tujuannya.
Perjalanan yang ditempuhnya memang lama, karena gadis itu tentu sibuk mengabadikan banyak foto dan diapun harus berjalan sedikit memutar karena ingin melewati hutan lindung yang sangat jarang sekali dilewati orang lain, selain petugas dari pemerintahan yang harus meneliti keseimbangan isi di dalam hutan itu.
"Huft, akhirnya sampai di puncaknya juga ya kak" senyuman cantik terbit di wajah riang Vee yang telah berhasil menapakkan kakinya di puncak bukit.
"Pakai ini" gumam Vee sambil menempelkan teropong di wajahnya.
Hideo juga terlihat asyik mengamati pemandangan di depan matanya.
"Jika seandainya ini adalah waktu terakhir untuk saya melihat indahnya dunia ini, saya tidak pernah menyesal. Karena di waktu terakhir saya di dunia ini, saya dimanjakan oleh pemandangan seindah ini dan juga bisa ditemani oleh gadis secantik kamu, Vee" kata hati Hideo dengan mata yang sepenuhnya menatap senyum Veronica yang sedang sibuk dengan teropongnya.
Sedangkan HoRoCi yang sudah berada di tengah mereka berdua, rupanya tengah sibuk bermain dengan yuyu (serupa kepiting air tawar) yang biasanya dipercaya menjadi mainan tuyul.
"Disana ada keramaian, kak" ujar Vee sambil menunjuk ke arah kota.
"Iya" jawab Hideo singkat.
"Kira-kira ada apa ya kak?" tanya Vee yang sudah menolehkan wajahnya pada Hideo.
"Saya tidak tahu, Vee. Tapi kalau kamu mau, saya bisa dengan sekejap mata membawamu ke sana" Hideo memberi penawaran pada Vee.
"Oh ya? Emangnya situ sakti? Mengada-ada" olok Vee sambil mencebikkan bibirnya.
"Terserah kalau kamu tidak percaya. Saya ini sebenarnya memang sakti. Hanya saja, terkurung dalam waktu yang sangat lama membuat saya harus belajar lagi untuk mengingat cara menggunakan kesaktian saya" kata Hideo.
"Tentu. Bagaimana? Kamu mau menerima tawaran saya?" tanya Hideo.
Vee mengangguk antusias, dengan tawa riang yang sudah tidak sabar untuk berteleportasi.
"Tutup mata kamu sekarang dan pegang tangan saya" kata Hideo.
"Mana bisa aku pegang tanganmu, kak" keluh Vee yang menghempaskan nafasnya kasar karena merasa dibohongi.
"Coba saja, jangan mengeluh dulu" kata Hideo sambil mengulurkan tangannya.
Sedikit meragu, tapi apa salahnya mencoba.
Vee pun juga mengulurkan tangannya, sedikit demi sedikit kedua telapak tangan itupun menyatu. Dan Vee hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar saat tangannya bisa memegang tangan Hideo.
"Uwah, beneran bisa dipegang" kata Vee takjub.
"Kenapa biasanya aku hanya seperti memegang angin saat bertabrakan denganmu, kak?" tanya Vee bingung.
"Sudah saya katakan tadi padamu, kalau saya masih harus belajar untuk mengingat semua kesaktian yang saya miliki" kata Hideo.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya?" tanya Hideo, ada gelenyar aneh dalam dirinya saat tangan Vee menyentuh tangannya.
"Ehm, rasanya dingin. Seperti sedang memegang es batu" jawab Vee dengan polosnya.
Hideo hanya tersenyum. Meski tak punya hati, rasanya senang saja tiap kali melihat bibir Vee terangkat untuk menyunggingkan senyuman, apalagi saat tangan mereka menyatu seperti ini.
"Sekarang pejamkam matamu, fokuslah pada tujuanmu. Nanti saya temani kamu ke tempat yang kamu inginkan" kata Hideo yang dituruti oleh Vee.
Segera saja gadis itu memejamkan matanya. Memikirkan tempat yang ingin dipijaknya dengan pikiran penuh.
"Jangan buka mata kamu sebelum saya yang meminta kamu untuk membukanya. Apa kamu paham, Vee?" tanya Hideo yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Vee.
Entah apa yang sedang Hideo lakukan, yang jelas Vee belum merasakan apapun sejak beberapa menit berpegangan tangan.
"Aahh"
Vee sedikit berteriak saat tiba-tiba terasa tubuhnya seolah sedang terjatuh dari ketinggian.
Atau rasanya seperti saat kita bermimpi terjatuh saat tidur, hingga membuat tidur kita harus terjaga.
Tapi meski Vee merasa tubuhnya sedang dalam keadaan tidak baik, tentu tak membuatnya serta merta harus membuka kedua matanya tanpa perintah dari Hideo terlebih dahulu.
Vee hanya bisa menegangkan tubuhnya sambil terus memegang telapak tangan Hideo dengan sangat kencang untuk mengurangi rasa tegang dalam dirinya.
Terasa juga hembusan angin yang cukup kencang, sepertinya itu membuat helaian rambut belakangnya tergerak tak beraturan.
Bugh!
Akhirnya Vee jatuh terduduk, pantatnya terasa sedikit sakit.
"Kamu sudah boleh membuka matamu sekarang, Vee" kata Hideo sambil berdiri di hadapan Vee dengan berjongkok.
Menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Vee.
"Aahhh"
lagi-lagi Vee berteriak saat pandangan pertamanya adalah wajah Hideo.
Melihat ekspresi Vee yang berteriak, membuat Hideo tergelak kecil. Sambil mengubah posisinya berdiri di samping Vee yang masih duduk sambil memegangi dadanya yang bergemuruh.
"Bisa nggak kalau nggak ngagetin?" kesal Vee sambil berusaha berdiri dan mengamati keadaan sekitarnya.
"Dimana ini?" gumamnya saat melihat ada banyak sekali orang yang berkumpul di tempat ini.
Dan Vee tidak suka keadaan yang terlalu ramai seperti ini.
.
__ADS_1
.
.