Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
makhluk itu musnah?


__ADS_3

"Kenapa? Apa yang salah sama saya? Kenapa kamu melihat saya seperti itu?" tanya Hideo yang mendapat lirikan tajam dari Vee yang sedang berjongkok di samping ranjang.


"Tadi aku lagi mengintrogasi makhluk aneh itu sebelum kamu musnahkan dia, om" kata Vee sebal.


Dia sudah keluar dari persembunyian dan duduk diatas ranjang, masih dengan buku Sri di genggamannya.


"Mereka itu pembual, Vee. Jangan mempercayai ucapan mereka" kata Hideo, melirik buku di tangan Vee.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Vee tidak suka saat pandangan Hideo seperti sedang mengulitinya.


"Saya butuh buku itu, tapi hanya kamu yang bisa membuat tulisan didalamnya bisa terbaca, Vee" kata Hideo menunjuk buku dalam genggaman tangan Vee.


"Masak sih?" gumam Vee sambil membuka buku itu.


"Ya. Dan itu terjadi karena Sri merasa kamulah orang yang tepat untuk diwarisi buku itu. Asal kamu tahu Vee, Sri telah menunggu kedatangan kamu selama lebih dari seratus tahun dengan melakukan ujian pada beberapa orang yang dikiranya adalah kamu" kata Hideo.


"Ini apa lagi sih? Aku makin nggak ngerti. Kamu masih mendengar kalau diluar sana masih banyak terjadi bunyi ledakan. Apa kamu nggak mau mengurus itu dulu, om?" tanya Vee, memang diluar masih terlihat kilatan cahaya serupa petir dan bunyi ledakan bersahutan.


"Serasa tinggal di negara konflik om, bunyi ledakannya seperti bunyi senjata" kata Vee yang memberanikan diri mengintip ke jendelanya.


Seketika bola matanya membulat, Vee bahkan menutupi mulutnya yang menganga akibat terlalu kaget dengan penampakan banyaknya makhluk yang sama dengan yang masuk ke kamarnya tadi.


"Mereka banyak sekali, om. Bagaimana cara mengalahkannya?" tanya Vee.


"Carilah di dalam buku itu. Cepat Vee, mereka sudah semakin tak terkendali" kata Hideo.


Dengan terburu-buru, Vee membaca isi dalam buku yang bertuliskan Aksara Jawa milik Sri.


Memang banyak sekali masalah dan cara penanganannya di dalam buku itu. Vee jadi heran sendiri, padahal buku itu tipis, tapi seolah halamannya tak pernah habis saat dia membukanya.


"Ketemu, om" teriak Vee senang, matanya sudah letih karena hampir satu jam membaca buku tipis itu untuk mencari cara mengalahkan koloni makhluk aneh yang menyerang rumahnya.


"Jika makhluk kiriman datang berusaha merusak tempat tinggalmu, mereka pasti mengira ada sesuatu yang menarik yang sedang kamu sembunyikan".


"Jalan terbaik untuk mengalihkan perhatian mereka adalah dengan, sebisa mungkin menekan aura makhluk incaran mereka dengan jalan menutup aura dari makhluk yang mereka incar".


"Baca mantra ini untuk menekan aura makhluk yang kamu sembunyikan, agar setelahnya mereka meyakini jika makhluk incaran mereka sudah pergi" kira-kira begitulah isi dalam buku itu setelah Vee menterjemahkan ke bahasa yang dimengerti.


"Jadi, kamu yang membacakan mantranya untuk saya?" tanya Hideo.


"Dalam tulisannya sih begitu, semoga saja benar" kata Vee.

__ADS_1


"Cepat lakukan apa yang diperintahkan di buku itu, Vee. Sepertinya pertahanan kita semakin menipis" kata Hideo yang melihat HoRoCi dan gerombolan gendruwo itu sudah nampak kelelahan.


"Sebentar, aku baca dulu cara-caranya" kembali Vee berkutat dengan buku aneh itu.


"Bacakan mantra ini sembari meniupkan pada segelas air dan minumkan pada makhluk yang ingin kau tekan auranya. Dan inilah bacaan mantranya" Vee memandang bingung pada Hideo.


"Bagaimana caranya supaya kamu bisa meminum airnya, om?" tanya Vee heran.


"Sudahlah, nanti setelah kamu selesai dengan mantranya, saya akan pikirkan cara untuk meminumnya" kata Hideo yang juga nampak heran.


"Baiklah", kata Vee yang menyiapkan segelas air untuk dibacakan mantra.


Vee meletakkan segelas air diatas meja dan mulai berkomat-kamit membaca sesuatu dari dalam buku kecil itu.


Dia bahkan mengulang beberapa kali karena terlalu tegang membuat mantra yang dia baca menjadi sesekali salah.


Setelah meyakini kebenaran mantranya, Vee segera meniupkan ke dalam segelas air. Saat mendongak, Vee menampakkan cengir kudanya pada Hideo.


"Sudah, om" kata Vee.


Menyerahkan segelas air itu dan menyuruh Hideo meminumnya.


Vee hanya menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan apa yang harus dilakukan.


"Ah! Saya tahu" kata Hideo, segera dia terbang ke atas gelas itu dan merubah wujudnya menjadi lebih kecil.


Segera Hideo menceburkan dirinya ke dalam gelas yang berisi air mantra itu.


Bagaikan ikan di dalam akuarium, Hideo berenang di dalam gelas.


"Uwah, kau lucu sekali om" kata Vee sambil mengamati gelas berisi Hideo.


Tak lama, bahkan Hideo masih betah berada di dalam gelas itu. Tapi suasana di luar terasa semakin hening.


Suara gemuruh dari banyaknya makhluk itu sudah tak begitu terdengar.


"Sudah semakin sepi" gumam Vee, beranjak dari tempatnya dan mengintip ke luar rumah.


Makhluk itu masih banyak berkeliaran, tapi mereka mematung. Mengamati keadaan sekitarnya sambil saling pandang antara satu dengan yang lainnya.


Makhluk serupa kucing itu satu per satu menghilang. Suara hilangnya para makhluk itu seperti saat kau memijit bubble wrap. Hanya meninggalkan kepulan asap yang semakin lama semakin banyak seperti bau lilin yang telah ditiup. Baunya sangat menyengat dan tidak enak.

__ADS_1


"Baunya nggak enak banget om" komentar Vee sambil mengibaskan tangannya ke hidung, menghalau kepulan asap yang masuk melalui ventilasi udara di kamarnya.


Tapi Hideo tak mendengarkan gerutuan Vee, dia masih asyik berenang di dalam gelas.


Sedangkan di luar rumah, Ho Ro dan Ci sudah berpecah lagi. Berubah menjadi makhluk kerdil serupa anak kecil dengan satu mata.


"Ugh! Baunya sangat tidak enak" Ho bahkan sudah menutupi hidungnya saat Ci mengeluhkan hal yang sama.


"Tapi bau ini sangat lezat" komentar para gendruwo.


"Oh iya, kalian kenapa bisa kadi banyak juga?" tanya Ho, seingatnya tadi sore hanya ada sekitar dua gendruwo saja di depan rumah Vee.


Tapi sekarang, bisa ada lebih dari sepuluh gendruwo yang sedang mengendus-endus bau asap dari hancurnya para makhluk aneh itu.


"Tapi, kenapa mereka jadi menghilang ya?" tanya Ro bingung.


Salah satu gendruwo terlihat sedang mengamati sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Ro.


"Apa kalian tidak bisa merasakan jika aura pangeran sudah tidak terasa di sekitar sini?" gendruwo itu menjawab pertanyaan Ro dengan sebuah pertanyaan.


Mereka semua jadi sama-sama mengendus dan merasakan aura Hideo yang memang tak ada lagi.


"Apa itu artinya, salah satu dari mereka sudah bisa membawa pangeran?" tanya Ho panik, dia takut Hideo berhasil dibawa kabur oleh salah satu dari mereka.


"Aaa.... pangeran... pangeran..." teriak Ho Ro dan Ci sambil berlari memasuki rumah Vee.


Meninggalkan para gendruwo yang juga terlihat sudah menghilang untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.


Sampai di depan kamar Vee, langkah ketiga makhluk kerdil itu terhenti sebab mereka ingat akan pesan Vee yang melarang mereka untuk memasuki kamar Vee tanpa adanya izin dari si empunya.


Tok... Tok... Tok...


Dengan heboh, ketiganya mengetuk pintu kamar Vee sambil berteriak-teriak "pangeran, pangeran, kamu dimana?".


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2