Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
duel macam apa


__ADS_3

"Hah? Si artis mau nikah sama adikku? Lawakan macam apa ini?" tanya Varo sambil terkekeh geli.


Tak sangka saja adiknya yang pemalas dan ceroboh ini bisa diminati oleh artis setenar Senopati.


"Saya tidak sedang bercanda kak" kata Seno mantap.


"Kak katamu? Kita seumuran, nggak usah panggil kak. Jadi merasa tua banget" kata Varo.


Tumben sekali abangnya Vee ini jadi banyak bicara.


"Varo, jaga bicara kamu. Yang sopan" tegur ayah Jovan.


"Oke, kalau memang kamu serius ingin menikahi adikku, ada syaratnya" kata Varo dengan senyum smirknya.


"Apapun itu" tantang Seno.


"Kita duel, adu satu lawan satu. Kalau kamu menang, aku restui kalian. Tapi kalau kalah, perlu pertimbangan khusus untuk terus maju" kata Varo menantang Seno duel.


"Nggak usah aneh-aneh, Varo" bunda Vani tentu melarang anaknya untuk duel karena tahu jika Varo adalah pemegang sabuk hitam karate.


"Saya setuju, saya terima tantangan kamu Varo" kata Seno menerima tantangan itu, sekaligus dia ingin berlatih untuk mengingat semua jurus yang sudah dia kuasai dulu di zamannya.


"Seno, jangan aneh-aneh ya nak. Kamu digigit serangga saja nangis, ini malah menerima tantangan duel. Sudah ya nak, kalau memang kamu tidak direstui oleh keluarga mereka, lebih baik kamu mundur saja, nggak usah ngeyel" kata mommy Seno khawatir.


"Nanti mommy cariin gadis yang lebih segalanya daripada dia. Mommy nggak mau kalau sampai anak kesayangan mommy ini lecet. Jangan ya nak" cegah mommy Seno sambil menggelayuti lengan anaknya.


Ucapan mommy Seno tentu membuat Varo terkikik geli, anak mommy rupanya. Begitulah kata yang ada di benak Varo.


"Ibu tidak perlu takut. Saya pasti menang" ucap Seno tak mau kalah.


Vee hanya bisa pasrah, apapun yang akan terjadi akan dia hadapi kali ini.


Tapi untuk pernikahan, jika memang nantinya sudah digariskan baginya untuk menikah di usia semuda ini, maka sudah ada banyak rencana yang telah disusunnya dengan rapi agar dia bisa leluasa untuk tetap menghabiskan masa mudanya tanpa harus tertekan dengan statusnya sebagai seorang istri.


"Mari kita keluar, Varo. Kita buktikan sebagai seorang lelaki" tantang Seno.


"Silahkan" kata Varo menerima tantangan itu.


"Asyik, tontonan gratis" seru Kenzo bahagia, memang dia itu sahabat yang sangat somplak.


Varo dan Seno sudah bersiap di halaman kecil rumah ayah Jovan kali ini. Setelah dua mobil yang sebelumnya parkir telah dipindahkan oleh body guard Seno.


Orang tua mereka yang sejak tadi mencegah adanya duel itu nyatanya tak di gubris oleh keduanya.


Darah muda dalam diri mereka sedang mendidih untuk membuktikan kemampuan masing-masing.


"Bersiaplah untuk terluka Senopati" kata Varo memantik api dalam diri Seno.


"Jangan salahkan saya jika kamu yang nantinya akan terluka" kata Seno.


Ciaattt.


Bugh!! Bugh!! Bugh!!


Keduanya telah memulai duelnya, dengan keluarga sebagai penonton.

__ADS_1


Kemampuan Varo sudah tak diragukan lagi, sedangkan Seno, kedua orang tuanya dibuat sangat terkejut karena ternyata diapun memiliki ilmu bela diri yang bisa mengimbangi permainan Varo.


"Pi, Mommy nggak sedang bermimpi kan? Bagaimana bisa Seno jadi sejago itu, pi? Mommy jadi sangat bangga padanya" kata mommy Seno dengan bangganya.


"Papi juga baru tahu, my. Ini baru namanya anak papi, jagoan" papi Seno tak kalah senang.


"Awas Varo, jangan bikin anak orang cidera" kata bunda Vani sedikit takut jika sampai Varo melukai Senopati.


Tak dipungkiri jika bunda Vani pun sebenarnya adalah salah satu fans dari Seno.


"Uwah, kakak berdua keren" kata Alin sambil terus mengabadikan momen duel antara Seno dan Varo.


"Terus bro, jangan kasih kendor" teriak Kenzo sambil sesekali tangannya usil merangkul pundak Vee yang berdiri di sampingnya meski Vee selalu berusaha membuat tangan jahil Kenzo turun.


Fokus Seno terpecah gara-gara melihat tangan Kenzo yang nakal di pundak Vee.


Sedikit tendangannya membuat tangan Kenzo dipaksanya untuk turun dari bahu Vee.


"Aahh" teriak Vee takut saat tendangan Seno mengarah padanya, padahal tangan Kenzo lah yang diincar.


"Sakit bego" teriak Kenzo saat tangannya sudah tak bertengger lagi di pundak Vee.


"Rasain" ejek Vee sambil menjulurkan lidahnya pada Kenzo yang sedang mengibaskan tangannya untuk mengurangi rasa sakit.


Cukup lama duel berlangsung. Keduanya masih seri dan tenaga mereka masih full.


Varo baru saja melihat titik lemah Seno, yaitu lengan kirinya yang terluka. Sekarang serangannya tertuju pada satu titik itu, lengan kiri Seno.


"Dia tahu kelemahan saya" batin Seno sambil terus menghindari serangan Varo.


Tepat sesaat sebelum tendangan Varo yang ke sekian kalinya sampai di lengan kiri Seno, dengan cepat Seno menjentikkan jarinya untuk menghentikan waktu sekejap saja.


"Ternyata kekuatan saya sudah pulih. Saya sudah bisa menggunakan semua ilmu yang saya punya" gumam Seno sambil tersenyum.


Sekarang dia bergeser sedikit agar bisa terlepas dari tendangan Varo.


"Ah, sial. Meleset lagi" keluh Varo bingung, seingatnya tadi dia sudah membidik dengan sangat tepat, tapi kenapa bisa meleset lagi.


Seno tersenyum senang, tak ada yang menyadari jika dia punya ilmu lainnya. Seno telah menggunakan ilmu untuk menghentikan waktu.


Meski efeknya adalah energinya harus terkuras cukup banyak.


"Sudah Varo, sudah cukup" teriak bunda Vani yang sudah tak tahan melihat duel itu, diapun melihat kondisi Seno yang sudah kelelahan.


"Varo cukuuppp" teriakan bunda Vani yang kedua kalinya berhasil menghentikan duel dan membuat semua orang menutup telinga masing-masing.


"Berhenti, bunda bilang cukup. Sudah, kalian sama hebatnya. Bunda yakin Seno bisa menjaga Vee dengan baik. Bunda capek kalau harus berdiri terlalu lama. Dan ini sudah lebih dari tiga puluh menit. Bunda sudah sangat bosan" keluh bunda Vani yang kini terlihat menggandeng lengan mommy Seno untuk masuk ke ruang tamu lagi.


"Anak kita hebat ya, bu" kata bunda Vani.


"Iya, saya sendiri tidak menyangka sama sekali jika anak saya bisa ilmu bela diri sejago itu" balas mommy Seno.


Sedangkan para suami mereka mengekor untuk masuk lagi ke ruang tamu diikuti semua orang.


"Sudah ya, kalian berdua sama hebatnya. Kami bangga pada kalian. Sekarang kalian bukan lagi rival, tapi akan menjadi saudara. Jadi, lebih baik kalian berdua berjabat tangan dan saling menerima satu sama lainnya" kata ayah Jovan.

__ADS_1


Varo yang memang anak penurut langsung mengulurkan tangannya, tapi belum ada tanda maaf dari Seno.


"Seno, bagaimanapun untuk ke depannya Varo akan menjadi kakak kamu juga. Jadi, selain mencintai dan menyayangi Vee, kamu juga diwajibkan untuk menyayangi semua keluarganya juga" kata papi Seno menasehati anaknya.


Sifat manja Seno sedikit keluar kali ini, Hideo sendiri bingung menyikapinya.


Diapun menerima uluran tangan Varo dan dengan lapang dada menerimanya sebagai kakak ipar meski mereka seumuran.


Mereka juga sempat saling berpelukan singkat setelah berjabat tangan.


"Kamu harus menjaga adikku dengan sangat baik, jangan membuatnya menangis" kata Varo.


"Tentu, akan saya lalukan sebaik mungkin" kata Seno, hatinya sudah sangat yakin untuk meminang Vee kali ini.


"Sebelum melakukan kesepakatan apapun, tolong izinkan saya untuk bicara penting berdua saja dengan kak Hideo" kata Vee memecah suasana.


Seketika semua menoleh padanya, "Siapa itu Hideo?" tanya Mommy Seno.


"Ehm, maksud saya kak Seno" ralat Vee sedikit canggung.


"Kamu sudah tidak sabar ya, Vee" ejek Kenzo.


Vee hanya melotot untuk menyikapi perkataan Kenzo saat yang lain malah terkekeh pelan.


"Mau bicara apa?" tanya Hideo yang melihat adanya raut tidak suka di wajah Vee.


"Pokoknya penting, dan cuma kita berdua" kata Vee.


"Boleh ya, ayah" kata Vee merengek meminta izin.


"Boleh, jika kalian ingin bicara di luar, bawalah Alin sebagai saksi agar kalian tidak berbuat yang tidak-tidak" kata ayah Jovan yang selalu tidak tahan dengan rengekan gadis kecilnya.


"Yang tidak-tidak bagaimana sih, yah" keluh Vee.


"Terserah, kalau kamu tidak mau ya nggak usah bicara empat mata, Vee. Bahaya" tegas ayah Jovan.


"Oke, baiklah. Alin, tolong ikut kakak sebentar ya" kata Vee yang tak lagi punya pilihan.


"Iya kak" kata Alin senang, akhirnya bisa bertemu dengan idolanya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.


"Biar diantar supir mommy saja" kata mommy Seno.


"Iya bu" jawab Hideo yang masih saja tak bisa membuat lidahnya berucap kata mommy.


Ketiganya pergi setelah berpamitan pada semua, dengan sebuah mobil mewah plus sopir. Pengalaman pertama bagi Vee menikmati fasilitas seperti ini.


Vee memilih untuk bicara di sebuah taman yang tak jauh dari rumah bundanya. Dan Alin yang duduk tak jauh dari mereka dalam jarak aman tapi tetap tak bisa mendengar percakapan serius keduanya. Ditambah lagi dia sedang duduk sambil mendengarkan musik dari ponselnya dengan menggunakan head set.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2