Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
makhluk aneh


__ADS_3

"Pancaran sinar serupa lengkungnya pelangi, dan yang paling utama adalah pertolongan dari sang maha kuasa" Vee mengartikan barisan kalimat berbahasa Jawa dari buku diary Sri.


"Ambillah air suci yang biasa kau sapukan ke bagian tubuhmu saat hendak menghadapnya. Dan berdoalah sepenuh hati. Jika hatimu suci, kilauan cahaya akan memusnahkan segala angkara murka. Seperti cintanya utusan Tuhan saat menunjukkan jalan yang benar" sedikit menggaruk kepalanya, Vee merasa teka-teki itu tidaklah rumit.


"Kamu kesulitan mengartikannya, Vee?" tanya Hideo yang melihat wajah muram Veeronica.


"Bukannya sulit, hanya saja. Dimana bisa mendapatkan air suci di sekitar sini?" tanya Vee sambil mengamati daerah sekelilingnya.


"Bodoh, itu namanya kamu tidak mengerti. Biasanya apa yang kamu lakukan saat akan memohon pada Tuhanmu?" tanya Hideo, sedikit mengetes isi kepala Vee.


"Maksudnya kalau mau berdoa? Wudhu kah?" tanya Vee. Asal saja sebenarnya, siapa tahu benar.


"Jika kau yakin, lakukan saja" kata Hideo.


Sementara makhluk itu masih saja berusaha melolong lagi. Mempengaruhi pikiran Vee agar lebih mudah untuk mencari tujuannya disini.


"Jangan pernah dengarkan lolongannya, Vee. Atau kau tidak akan bisa lagi keluar dari perasaan sedihmu" kata Hideo memperingatkan Vee yang sepertinya sedikit terpengaruh lagi oleh lolongan makhluk ini.


"Astaghfirullahal adzim" berkali-kali Vee melafadzkan dzikir dari mulutnya.


Segera dia beranjak ke kran air di dekat garasi untuk mengambil wudhu. Dan bersimpuh untuk berdoa meminta pada sang maha kuasa agar diberikan jalan untuk memusnahkan makhluk jahat penyebab hancurnya hati manusia.


Vee menengadahkan tangan, memejamkan mata dan berdoa. Sedangkan makhluk iyu juga tak mau kalah.


Suara lolongan dari mulutnya semakin terdengar nyaring dan merasuk ke dalam relung hati.


Bertabrakan dengan barisan doa yang juga dikumandangkan dari mulut Vee.


"Ayo kita bantu Vee" ajak Ho pada kedua saudaranya.


Ketiganya mengangguk, dan mengambil tempat yang dekat dengan Vee yang sedang bersimpuh.


HoRoCi ikut menengadahkan tangannya, menutup satu-satunya mata mereka dan mulai mengucapkan kata amin dalam setiap doa yang Vee sebutkan.


Lama kelamaan, memang kekuatan doa lebih utama.


Pendaran sinar warna-warni keluar dari kalung kristal yang berasal dari air mata HoRoCi.


Sinar itu serupa cahaya yang melengkung seperti pelangi, dan bersumber dari leher Vee. Sedangkan ujungnya mengenai tepat pada kepala makhluk seram yang masih melolong panjang.


"Selamatkanlah hamba Ya Allah" gumam Vee di akhir doanya.


Saat dia membuka mata, tentu rasa terkejutnya semakin menjadi karena seolah dia tengah akan dipersatukan dengan makhluk itu melalui perantara pendaran warna yang menyerupai pelangi yang berasal dari lehernya dan berakhir di kepala makhluk itu yang dominan berwarna hitam dan abu-abu.


Makhluk itu melolong panjang dan tak putus-putusnya. Terdengar seperti saat seekor anjing atau kucing yang terjepit dan berteriak.

__ADS_1


"Ya Tuhan, suaranya membuat telingaku sangat sakit" keluh Vee sambil menutup kedua daun telinganya.


Ho dan Ro bahkan ikut membantu menutupi telinga Vee agar bisa sedikit meredam suara yang memang terlalu keras untuk manusia biasa seperti Vee.


Perlahan-lahan, makhluk itu berubah menjadi semakin hitam dan gelap. Bahkan lolongannya yang seolah tak butuh nafas untuk memperbarui jiga semakin lama semakin kecil volumenya.


"Apakah sudah mau selesai, Ho? Kenapa aku terasa sangat lemas ya?" ternyata Vee juga nampak lemas.


Energinya juga terkuras oleh kalung HoRoCi untuk melawan makhluk itu.


"Bentuk formasi, kita bantu Vee" perintah Ho yang diikuti kedua saudaranya.


Seperti anak kecil yang main kereta api, Ci memegang pundak Ro, begitupun Ro yang memegang pundak Ho. Dan terakhir, Ho meletakkan telapak tangannya di punggung Vee.


Dari telapak tangan mereka tersalur serupa sinar putih uang diteruskan ke punggung Vee.


"Bertahanlah Vee, sedikit lagi kita berhasil" kata para bocil setan itu.


Dan akhirnya.


Byar!


Makhluk itupun meledak dan mengeluarkan pendaran warna hita. dan abu-abu pekat yang hilang bersama terpaan angin.


Dia terlalu banyak mengeluarkan energi melalui kalung HoRoCi untuk melawan makhluk tadi.


"Mana yang terakhir, pangeran?" tanya Ho yang juga nampak lelah.


Makhluk kedua ini sangat merepotkan, menguras banyak energi meski tak terlihat benyak melakukan perlawanan.


"Yang terakhir sudah pergi" jawab Hideo yang tengah menelisik keadaan sekitarnya.


"Tapi kita tidak boleh lengah. Pasti dia sedang melapor pada pimpinannya. Dan mereka pasti akan kembali di lain waktu saat mereka sudah merasa cukup kuat" kata Hideo yang sudah melayang rendah ke arah Vee untuk melihat kondisinya.


"Kasihan anak ini, tidak tahu apa-apa malah disibukkan dengan perlawanan yang diapun tak tahu apa tujuan dari perlawanannya" kata Hideo.


"Biar kami angkat dia sampai ke kamarnya, pangeran" kata Ho.


"Tidak perlu, biar saya saja yang membawanya" kata Hideo yang sudah menjentikkan jarinya.


Dan dalam sekejap mata, dia dan Vee sudah ada di dalam kamar Vee dengan posisi Vee yang audah tertidur diatas ranjang.


"Tidurlah Vee. Terimakasih sudah mempunyai hati yang tulus untuk membantu semua makhluk Tuhan" gumam Hideo yang masih betah melayang disamping ranjang Vee dan mengamati Vee yang sedang tertidur karena kelelahan.


...*****...

__ADS_1


Hampir dini hari.


Gerakan tidur Vee sudah tak beraturan sejak beberapa jam sejak Hideo membawanya ke kamar.


Baju atasan yang Vee kenakan selalu saja diangkat hingga sebatas perutnya. Memperlihatkan pusar dan sebagian perutnya.


Berkali-kali Hideo memperbaiki letak bajunya, berkali-kali pula Vee mengangkat lagi bajunya.


"Kebiasaan tidurmu sangat aneh Vee. Bisakah tanganmu diam dan tenang agar bajumu tidak lagi terangkat begitu?" kata Hideo yang lagi-lagi harus memperbaiki letak baju Vee.


Hideo pasrah, biarkan saja Vee tidur dengan posisi seperti itu. Mungkin dengan posisi begitu memang Vee merasa sangat nyaman.


"Hemm.... tidaakkk.... Jangan, jangan dekati aku. Pergi, aku takut om" Hideo masih memperhatikan Vee yang tengah ngelindur. Dia bahkan bicara sambil tidur.


"Apa yang sedang kamu mimpikan, Vee?" Hideo mendekat, mengamati dengan seksama wajah Vee yang terlihat sangat ketakutan.


Merasa tak tega, Hideo pun memutuskan untuk memasuki alam mimpi Vee.


Berkonsentrasi sebentar, dan plash!


Asap berupa Hideo menghilang, berpindah dimensi ke alam mimpi Vee.


"Sri? Benar itu kamu, Sri?" Hideo membulatkan bola matanya saat melihat penampakan Sri yang menakutkan di hadapan Vee yang duduk sambil memeluk lututnya dan menangis.


Sri yang belum memasang dengan sempurna kepalanya menoleh pada Hideo.


"Hideo, hiks... hiks..." Sri menangis darah saat berhadapan dengan Hideo.


"Kenapa kamu jadi begini, Sri? Kenapa kamu menakuti Vee?" Hideo bertanya dengan lirih lada Sri yang juga masih menangis berair mata darah.


Sri melotot, menoleh pada Vee yang masih duduk memeluk lututnya di hadapan Sri.


"Dia masih tidak mau menerimamu, Hideo" kata Sri sambil menunjuk Vee dengan telunjuknya yang kotor karena tetesan darah.


"Dia tak menginginkanmu dari banyaknya wanita yang berusaha untuk bisa dekat denganmu" kata Sri yang juga melayang rendah di hadapan Vee yang terlihat sangat ketakutan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2