Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
jantungku berdegub


__ADS_3

"Turun kak, kamu itu norak sekali. Kalau nggak mau turun aku tinggalin nih. Males banget nungguin sesuatu yang nggak kelihatan sama orang lain lagi bernostalgia sama iklan. Nggak jelas banget" Vee terus saja membujuk Hideo agar mau urun dari layar papan iklan yang sangat besar itu.


Mendengar ucapan Vee, Hideo menundukkan kepalanya. Dan benar saja jika Vee sudah berjalan mendekati motornya dengan helm yang masih melekat di kepalanya.


"Jangan tinggalkan saya, Vee" teriak Hideo yang sudah menghentikan aksi konyolnya memeluk papan iklan.


Vee bersungut-sungut, memendam amarahnya. Terlihat dari nafasnya yang terdengar memburu dan panjang-panjang.


"Maafkan saya, Vee. Kamu jangan marah dong" kata Hideo.


Vee menoleh ke arah Hideo, memastikan wajah menyebalkan itu tak lagi berkeinginan untuk melayang ke papan itu lagi.


"Kamu itu dari tadi siang sangat menyebalkan tahu nggak sih, kak" kata Vee sambil membuang mukanya, tak mau lagi menatap wajah Hideo.


Tanpa Vee sadari, perbuatannya masih saja diamati oleh Senopati. Artis terkenal itu masih menyunggingkan senyumnya dengan mata fokus ke arah Vee yang dalam pandangannya terlihat, menarik!


"Siapa sih cewek itu, kayaknya masih SMA ya?" gumam Seno yang menilik pakaian yang sedang Vee kenakan.


Seragam putih abu-abu, bersepatu hitam, rambut curly yang terurai dan memakai jas almamater berwarna merah maron.


"Lucu banget sih. Lagian juga, ngapain dia ngoceh sendiri. Apa baru saja putus dari pacarnya, jadi dia ngomel-ngomel gitu?" gumam Seno, masih mengawasi Vee dari jarak yang aman.


Sementara Vee disana masih belum menyadari jika tengah diperhatikan oleh artis setenar Senopati.


Alih-alih merajuk, Vee malah mengeluarkan kameranya dan mulai membidik apapun di suasana senja ini.


Dengan langit yang sudah berwarna orange, Vee selalu bisa tersenyum saat ada kamera dalam genggamannya.


"Kamu nggak mau pulang, Vee? Sudah mau maghrib ini. Lihat saja, sudah banyak sesuatu yang beterbangan mencari mangsanya" kata Hideo yang sedang mengamati langit sore.


Memang sudah banyak makhluk halus berkeliaran untuk menempel di berbagai tempat.


Ada yang memasuki bangunan kosong, ada yang singgah di pohon, dan kebanyakan dari mereka malah menempel di beberapa pengendara yang sedang berseliweran di jalanan.


Sedangkan Vee masih tak mengindahkan ucapan Hideo.


Jika sudah bersangkutan dengan kamera, seolah Vee punya dunianya sendiri.


"Hei, barusan dia mengambil gambar gue kan?" tanya Seno lirih, saat meyakini kamera Vee tengah membidik ke arahnya.


Vee melihat hasil bidikannya, dan sepertinya dia tertarik pada salah satu mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Gila sih, tumben banget ada mobil mewah yang nangkring di daerah sini?" gumam Vee yang sudah celingukan mencari keberadaan mobil itu.

__ADS_1


Dan ketemu, mobil beserta tuannya sedang berhenti di seberang jalan. Kini Vee dan orang di dalam mobil itu saling bertukar pandang.


"Kayak nggak asing, siapa ya?" tanya Vee lirih, tapi terdengar oleh Hideo.


Sosok arwah itu ikut penasaran, kini dia juga tengah menatap pada pria yang sedang duduk di dalam mobil mewah itu.


"Dia ngelihatin gue" gumam Seno yang sudah menyembunyikan senyumnya.


Beralih menggunakan mode wajah datar untuk menjaga image nya.


Perlahan Seno membuka kacamata hitamnya, dan bersiap untuk saling pandang dengan gadis cantik yang menurut Seno terlihat lucu.


"Kayak pernah ngelihat wajahnya, dimana ya kak?" tanya Vee pada makhluk di sebelahnya yang sama-sama fokus pada si pria dalam mobil.


Sedikit Seno mengalihkan pandangannya, beberapa centi dari netra Vee yang sudah dikuncinya dari tadi.


Seno kini tengah bertatapan dengan mata Hideo, singkat saja. Hanya sepersekian detik Seno bisa melihat jika ada sosok pria yang bersebelahan dengan Vee.


Deg!


Deg! Deg!


Jantung Seno memompa dengan sangat keras, tapi hanya beberapa detik saja saat dia meyakini ada sesuatu yang tertangkap oleh pandangannya.


"Argh!"


Seno meringis, menahan rasa aneh saat netranya seolah bertabrakan dengan netra dari sesuatu yang hanya terlihat beberapa detik saja tadi olehnya.


Satu sosok yang entah seperti apa dia bisa menjabarkannya.


Sosok itu hanya terlihat sepersekian detik saja, tapi sudah bisa membuat deguban jantungnya terasa sangat keras.


Hingga Seno harus memegangi dadanya, rasanya seperti jantungnya akan jatuh kalau tidak diamankan.


Sementara disanapun sama, Hideo seolah bisa merasakan ada deguban dalam rongga dadanya.


"Argh!"


teriaknya sambil memegang dada, membuat Vee merasa aneh dan khawatir melihat wajah Hideo yang seperti sedang kesakitan.


"Kenapa kak?" tanya Vee, terkejut karena Hideo terlihat meringis dan memegangi dadanya.


"Saya merasakan jika jantung saya berdegub sangat kencang, Vee. Tapi hanya beberapa kali deguban saja" kata Hideo yang masih belum bisa menghilangkan sensasi rasa dalam dadanya.

__ADS_1


"Dan rasanya seperti nyata, Vee. Rasanya seperti benar-benar ada sebuah jantung di dalam sini" kata Hideo sambil mengusap dadanya.


Vee memandangi pria di dalam mobil, dan dalam penglihatannya, pria itu juga tengah memegangi dadanya sambil meringis.


Persis seperti apa yang sedang Hideo lakukan.


"Mungkinkah?" tanya Vee lirih, dan diapun segera menutup mulutnya yang menganga.


"Kenapa Vee?" tanya Hideo yang masih belum bisa menghilangkan sensasi rasa dalam dadanya.


"Kamu itu jangan mengada-ada, kak. Kamu itu kan nggak punya jantung, nggak punya hati. Buktinya, kamu selalu melakukan sesuatu sesukamu tanpa memikirkan apakah orang lain akan sakit hati. Karena kamu nggak bisa merasakan suatu perasaan menggunakan hati" kata Vee panjang lebar, sebenarnya dia hanya ingin melupakan sesuatu yang sebelumnya singgah di pikirannya.


Sedangkan di mobilnya, Seno juga masih belum bisa menghilangkan sensasi deguban keras di jantungnya beberapa saat yang lalu.


"Tuan, apakah anda perlu ke rumah sakit?" tanya supirnya yang tentu merasa khawatir pada sang tuan muda yang sedang kesakitan.


Seno meliriknya singkat, dan menggeleng.


"Kita kembali ke hotel saja, pak. Gue mau istirahat" kata Seno.


Tentu supirnya menurut, membawa sang tuan muda menuju hotel terbaik di kota ini untuk beristirahat.


Vee melihat mobil mewah itu melintasi jalanan dan pergi meninggalkannya.


"Kamu masih bisa melayang, kak? Atau kamu mau aku bonceng saja?" tanya Vee, dia sudah ingin pulang.


"Aku tidak mau duduk dibelakangmu, Vee" kata Hideo angkuh.


"Terserah padamu sajalah, kak. Tahu begitu aku tidak akan mengkhawatirkanmu" Vee menggerutu sambil menstater motornya.


Bersiap pergi dengan Hideo yang masih setia melayang disampingnya.


"Assalamualaikum" sapa Vee pada para bocil penghuni rumahnya.


"Waalaikumsalam.. Yee, Vee datang" HoRoCi terlihat senang melihat kedatangan Vee.


Vee tersenyum, dia sekarang sudah bisa menerima kedatangan ketiga bocil itu dalam hidupnya.


Selama mereka bertiga tidak mengganggu, dengan senang hati Vee selalu memberi tempat bagi mereka.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2