
Kidung berlirik bahasa Jawa yang dinyanyikan dengan sangat merdu oleh beberapa gadis yang sedang asyik berendam di kolam yang jernih.
Setiap baitnya mengandung pujian terhadap sang raja yang rupanya juga sedang memperhatikan mereka dari bangku yang sudah disediakan.
"Lagu yang sangat indah" gumam Vee yang masih saja mengintip mereka tanpa berani memperlihatkan diri.
"Mereka juga sangat cantik, kulit kuning langsat dan rambut panjang yang lebat" puji Vee yang melihat kecantikan alami dari para gadis yang berendam dengan balutan jarit untuk menutupi bagian tubuh sensitifnya.
Perhatian Vee tertuju pada raja yang tengah duduk di singgasananya. Dengan payung yang meneduhkan dan dayang yang setia mengipasi.
"Perasaan rajanya biasa-biasa saja, gantengan juga kak Seno, hihihi. Tapi selirnya banyak banget. Kak Seno saja yang ganteng cuma maunya sama aku saja. Duh, jadi teringat kak Seno" Vee sedikit terkikik saat menilai sang raja.
Tapi sesaat kemudian dia jadi tersadar kalau ini sudah waktunya dia pulang. Dan sekarang dia jadi kebingungan, mendapati dirinya sudah berada di alam yang asing dan tak dikenalinya.
"Haduh, bisa marah nih kak Seno kalau aku pulang terlambat. Terus juga, bagaimana caranya aku pulang?" keluh Vee yang masih menelisik sekitarnya.
"Haduh, jalan pulang dimana ya?" gumamnya.
Sedangkan pria yang sejak tadi juga tengah mencari keberadaan Vee juga sedang dibuat pusing. Karena sudah cukup lama pria itu berkeliling di reruntuhan itu, tapi tak juga bertemu.
Segala umpatan keluar dari mulutnya, tentu ditujukan untuk Vee yang dikiranya sedang bersembunyi.
"Cewek sialan, sembunyi dimana dia. Sudah selama ini gue cari tapi nggak ketemu juga. Mana sudah malam lagi" keluhnya yang sudah cukup lelah.
Sudah lewat jam tujuh malam, Seno yang baru tiba dirumahnya tentu tujuan utamanya adalah mencari keberadaan Vee.
"Bu, apa ibu tahu dimana Vee? Saya sudah mencarinya di kamar tapi tidak ada" tanya Seno pada Mommy nya yang sedang bersama sang ayah di ruang tengah.
"Kayaknya belum pulang deh, sayang. Bibik bilang juga belum lihat supirnya" jawab mommy Seno santai, jam segini memang terhitung masih sore untuk pemuda di kota besar.
"Nggak biasanya sih bu dia nggak ngasih kabar. Yasudah, biar saya coba hubungi dia dulu" ucap Seno sambil mengutak-atik layar ponselnya.
"Gimana nak?" tanya Mommy nya yang juga mulai gelisah.
"Tidak diangkat, bu. Apa ibu punya nomor ponsel pak supirnya?" tanya Seno.
"Bibik sih yang punya, sebentar Mommy tanyain ya" kata mommy Seno yang kemudian berteriak mencari keberadaan bibik.
"Iya nya" jawab bibik yang datang sedikit tergopoh.
"Nomor telepon supir yang jemput Vee ke kampus tadi berapa bik?" tanya Mommy Seno.
"Oh, ini nya" ucap bibik sambil menunjukkan layar ponselnya.
Segera Seno mengambil ponsel bibik, dan menekan beberapa digit nomor yang tertera disana.
Namun panggilannya tak juga diangkat meski terhubung. Hingga Seno melakukan beberapa kali panggilan, baru terdengar suara serak dari seberang sana.
"Ha, halo..." jawab supir seperti orang yang baru bangun tidur.
"Pak, kamu ketiduran?" tanya Seno sedikit geram.
"Eng, enggak den. Bapak tadi dipukul orang sampai pingsan" jawab supir yang masih setengah sadar.
"Hah? Bagaimana bisa? Sekarang bapak ada dimana? Lalu bagaimana dengan Vee?" tanya Seno sedikit panik.
__ADS_1
"Bapak nggak tahu den. Non Vee masih didalam sana sepertinya" kata supir yang masih sedikit linglung.
"Yasudah, sekarang bapak ada dimana? Biar saya susul" kata Seno yang tidak jadi marah, dia tahu jika Vee sedang tidak baik-baik saja.
"Biar saya serlok ya den, bapak nggak tahu alamat lengkapnya" kata si supir.
"Iya, tolong cepat ya pak" kata Seno sedikit panik.
"Bagaimana Seno?" tanya Mommy.
"Tadi ada orang yang berusaha mencelakai supir Vee, bu. Sekarang saya akan menyusulnya, doakan Vee tidak apa-apa ya, Bu" ucap Seno sambil mencium punggung tangan Mommy dan Papi nya.
"Pasti, kamu hati-hati ya nak" ucap Mommy Seno sedikit gelisah, anak semata wayangnya sedang ingin menolong istrinya. Kalau tidak ingat mereka sudah menikah, tentu mommy akan mencegah Seno pergi daripada harus terluka.
Dan segera Seno pergi ke titik yang sudah dikirim oleh supir Vee.
Dengan kecepatan yang cukup aman, Seno menelusuri jalan kota yang masih saja ramai meski sudah malam.
"Perasaan saya sedikit tidak enak" sesekali Seno memejamkan matanya, tapi tak bisa mencium bau Vee di sekitaran tempat yang ditunjukkan oleh pak supir.
"Saya yakin jika Vee tidak jauh dari lokasi itu, hanya saja dia sedikit tersembunyi" gumamnya sambil menajamkan panca inderanya.
"Gawat, dia tersesat di alam lain" kata Seno yang sudah mendekati titik lokasi.
Mobil berwarna hitam itu memang cukup samar dari pandangan di suasana gelap seperti sekarang ini.
Sampai didekat sang supir, Seno segera turun setelah mematikan mesin mobilnya.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Seni begitu melihat si supir yang masih memegangi tengkuknya.
"Sudah lebih baik, den. Maafkan bapak yang tidak bisa menjaga non Vee dengan baik" kata pak supir yang merasa sangat bersalah.
"Sudah, bapak tenang saja. Sekarang bapak boleh pulang, jangan lupa mampir ke klinik dulu jika bapak masih merasa tidak enak badan" ucap Seno yang masih sempat memperdulikan supirnya.
"Baik den, terimakasih" ucap supir itu semakin merasa bersalah karena Seno yang tidak marah padanya.
Selepas kepergian pak supir, perlahan Seno memasuki reruntuhan bangunan batu yang tak nampak bentuknya jika dilihat di malam seperti ini.
Dalam diam, dia sekaligus mencari siapa orang yang berniat buruk terhadap Vee. Hingga berani mencelakai supirnya.
Seseorang yang daritadi membuntuti Vee menemukan keberadaan Seno saat pria itu sedang fokus untuk menemukan kekasihnya. Hingga Seno tidak menyadari jika dia sudah diperhatikan oleh pria misterius itu.
"Aroma tubuhmu hilang disini, Vee. Berarti dari sekitaran ini kamu tersesat di alam itu" gumam Seno.
Lantas pria itu memejamkan matanya, merapalkan beberapa mantra untuk memasuki dimensi lain dimana Vee berada.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Seno sudah berhasil masuk ke dalamnya. Kini, dia sedang berusaha mencari Vee di tempat yang sama tapi dalam rupa yang berbeda.
"Sialan, Seno yang sekarang bukan lagi orang sembarangan. Jadi, dia sekarang punya kekuatan gaib? Sangat menarik" gumam si pria yang kebetulan melihat proses hilangnya Seno yang sebetulnya sedang berpindah dimensi.
"Dasar anak nakal" gerutu Seno saat mendapati Vee malah asyik mengintip sesuatu yang ada dibalik dinding batu.
"Apa dia tidak tahu kalau saya sangat mengkhawatirkannya? Kenapa dia malah jadi tukang intip begitu" gumamnya sambil tetap melangkah mendekati Vee yang tak juga menyadari kedatangan Seno.
Sebenarnya Vee juga sedang kebingungan, dia sedang berfikir bagaimana caranya agar bisa pulang sambil tetap melihat keadaan didepannya. Sampai dia tak menyadari kedatangan Seno didekatnya.
"Apa yang sedang kamu lihat anak nakal?" tanya Seno yang sudah menghadiahi cubitan kecil di telinga Vee.
"Aahh, sakit. Siapa sih ganggu saja" gerutu Vee yang kesakitan, sambil memegangi telinganya yang sedang dijewer oleh Seno.
"Aahh... Kak Seno" Vee setengah berteriak saat melihat jika dihadapannya telah berdiri Senopati.
"Aku nggak lagi bermimpi, kan?" gumam Vee sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Sakit kok, berarti ini nyata. Aahh... senangnya, akhirnya kak Seno datang juga" ucap Vee kegirangan, reaksi spontannya langsung memeluk tubuh Seno.
Mendapat perlakuan seperti itu, awalnya Seno cukup terkejut. Tapi setelah tersadar, Senopun cukup bahagia karena itu artinya Vee juga membutuhkannya. Jadi, Seno membalas pelukan istrinya dengan bahagia.
Sedang asyik-asyiknya berpelukan, tiba-tiba segerombolan orang yang tadinya sedang diintip oleh Vee rupanya tersadar jika ada penyusup di lingkungannya.
Keduanya tidak sadar jika sudah dikepung oleh raja dan para pengawalnya.
"Rupanya ada penyusup yang datang" kata sang Raja memecah aksi romantis perdana antara Vee dan Seno.
Segera Vee melepas pelukannya, cukup terkejut gadis itu saat melihat sekelilingnya sudah dipenuhi beberapa orang berpakaian aneh.
Dan Seno sangat menyayangkan hal itu, seharusnya dia masih bisa sedikit lebih lama saling mendekap penuh kehangatan seperti tadi.
"Tuan Senopati" sapa salah seorang dari mereka.
Membuat semuanya menjadi lebih berkonsentrasi untuk melihat wajah Seno.
"Mereka mengenali kakak. Apa kakak mengenali mereka?" tanya Vee yang keheranan, mungkinkah mereka berasal dari zaman yang sama dengan Seno?
Seno masih bergeming, berusaha mengumpulkan memori di otaknya.
"Ah, sepertinya saya mengingat sesuatu, Vee" ucap Seno.
.
.
.
__ADS_1
.