Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
Mahkota Raja


__ADS_3

Posisi raja ular terpojok kali ini, apalagi di dalam ruangan sesajen Hendra telah berhasil melumpuhkan si pria berkupluk hitam dan membawanya ke ruangan dimana Daren dan Helen ditawan.


Pria berkupluk hitam yang kelelahan karena sudah sejak beberapa hari yang lalu berusaha mencelakai keluarga Senopati tentu memudahkan Hendra untuk mengalahkannya jika harus adu fisik.


Apalagi dari segi usia, Hendra yang masih muda dan enerjik akan lebih mudah mengalahkan pria berkupluk hitam yang memang lebih tua darinya.


Menggunakan sepatu semi boot yang kuat, Hendra menendang tangan pria itu dan membuat keris dalam genggamannya terjatuh dan pria itu tak sempat mengambilnya lagi saat Hendra berlari ke arahnya dan kembali menyerangnya dengan membabi buta.


"Cukup, cukup anak muda. Saya mengaku kalah" ucap pria itu sambil mengangkat tangannya.


Hendra yang juga mengerti sedikit tentang ilmu mistis paham jika salah satu tangan dari pria itu sedang berusaha membuat senjata dengan mulutnya yang merapal mantra.


Kilatan cahaya keluar dari kain kafan yang sengaja dilempar ke arah Hendra. Beruntung Hendra bisa menghindar dan segera berlari je arah pria itu dan mengamankan kedua tangannya.


Merasakan getaran kuat dari dada si pria, Hendra yakin jika kalung yang dipakainya adalah sebuah jimat.


Sambil tetap memegang kedua tangan pria itu, Hendra menarik dengan kuat jimat yang mengisi dada si pria berkupluk hitam.


"Aahhh" teriak pria itu kesakitan saat Hendra melepas jimatnya dengan paksa.


"Sekarang sumber kekuatanmu sudah hilang. Lebih baik kau diam dan berkumpul dengan atasanmu saja" ujar Hendra sambil memaksa pria itu untuk berjalan menuju ke ruangan dimana Helen dan Daren diikat.


"Lepasin gue. Awas ya lo Hendra kurang ajar. Kalau sampai gue bertemu dengan Richard, pasti dia bakalan nolongin gue. Dan lo harus siap-siap mati di tangannya" teriak Helen saat Hendra memasuki ruangan itu.


"Lo sudah sakit jiwa" komentar pedas Hendra semakin membuat Helen emosi.


"Lo juga, dasar dukun goblok. Gara-gara lo semuanya jadi berantakan. Sialan lo, awas lo" umpat Helen semakin tak karuan, sepertinya psikologis wanita itu sudah sedikit terguncang dengan gagalnya semua rencana yang sudah tersusun dengan sangat rapi.


Pria berkupluk tak bisa berbuat apapun, dengan hilangnya jimat dari tubuhnya membuat tubuh rentanya semakin tak bertenaga.


Dia hanya diam saat Hendra mengikatnya dan membiarkan mereka bertiga berada di ruangan yang sama.


Daren yang masih pingsan, Helen yang terus berteriak dan pria berkupluk hitam yang duduk dengan pandangan mata kosong.


Setelah selesai dengan urusannya, Hendra segera keluar dan melihat kekacauan di tuang tengah.


Nampak raja ular sedang menembakkan kekuatan tak kasat mata terhadap Seno yang sedikit tak fokus karena sedang mencari keberadaan Vee dan Aish.


Dan sayangnya, tembakannya jitu mengenai perut Seno hingga membuatnya jatuh terpental dan menabrak dinding di belakangnya.


Ada darah segar keluar dari mulut Seno yang kesakitan memegangi perutnya. Sementara raja ular kini sedang menghadapi HoRoCi yang tadi juga sedikit tak fokus hingga Seno bisa terkena serangan.

__ADS_1


"Gue harus bantu Princess, sepertinya dia kelelahan" gumam Hendra sambil berlari mendekati Aish yang nampak sedikit pucat meski kemampuan bela dirinya tak diragukan lagi.


"Gimana keadaannya Hen? Apa lebih baik atau tambah runyam?" tanya Aish yang sudah berdiri bersisian dengan Hendra.


"Dukun utamanya sudah gue amankan, Siluman ularnya lagi ditangani sama Seno dan tiga bocah itu. Sekarang tugas kita harus bisa bertahan sampai bantuan dari Richard datang" jawab Hendra.


"Lo hubungi Richard?" tanya Aish di sela pergulatannya.


"Terpaksa Princess, lagipula posisinya lagi nggak jauh dari sini. Sekalian tadi gue bilang kalau dia harus bawa polisi juga" jawab Hendra.


"Ish, urusannya bisa tambah panjang nih" gerutu Aish yang merasa jika kekuatannya bertambah saat mendengar jika Richard tahu tentang keadaannya.


Tinggal beberapa orang lagi dari anak buah Helen yang harus Aish dan Hendra tangani. Dan jika tidak berurusan dengan dunia gaib, kemampuan kedua sahabat itu bisa diandalkan.


Sementara di tempat Seno, raja ular yang sedikit kewalahan karena harus berhadapan dengan empat lawan sekaligus yaitu Seno dan ketiga bocil setan, apalagi sumber kekuatannya, yaitu si dukun berkupluk hitam sudah tak bisa diandalkan membuatnya terpojok.


"Sepertinya saya tahu pusat kekuatan siluman ini, pangeran" kata Ho sambil berjaga di samping Seno sementara kedua saudaranya sedang berduel dengan ular siluman itu.


"Apa?" tanya Seno singkat, sebenarnya diapun sudah cukup kelelahan.


"Mahkotanya. Jika kita bisa melepaskan mahkota itu dari kepalanya, maka dia tak akan bisa merubah dirinya menjadi separuh manusia lagi, dan akan menjadi ular gaib saja. Kecuali saat dia kembali ke asalnya" kata Ho, entah darimana dia mengetahui hal itu.


"Tapi bagaimana cara untuk mengambilnya?" tanya Seno sambil berfikir, mencari cara yang tepat untuk mencoba apapun langkah yang bisa membuatnya segera mengakhiri perkelahian ini.


"Dan jika gagal, maka kau tidak akan selamat Ho. Dan saya tidak bisa untuk kembali mengorbankanmu" kata Seno.


"Saya akan berusaha sebaik mungkin, pangeran. Semua ini demi Vee, demi teman-teman pangeran" ujar Ho meyakinkan Seno.


"Baiklah, tapi saya akan membuatmu sedikit berbeda saat saya melemparkanmu ke arah Siluman itu" kata Seno.


"Terserah pangeran saja" jawab Ho pasrah.


Seno merapalkan mantranya dengan baik, setelahnya, segera dia meniupkan ke arah ubun-ubun Ho hingga membuat bocah itu menjadi lebih transparan dan ringan.


Tapi tentu tak membuat kekuatannya menghilang karena harus mengambil sesuatu yang sangat penting di kepala raja ular.


"Apa kau siap Ho?" tanya Seno.


"Segera lakukan, pangeran" jawab Ho.


"Ingatlah untuk merapalkan mantra yang tadi aku bisikkan padamu saat mengambil mahkota itu. Dan segera kembali setelah kau mendapatkannya" kata Seno mengingatkan Ho, dengan tangan yang terangkat untuk mengangkat tubuh ringan Ho setelah dimantrai olehnya.

__ADS_1


Seperti sedang mengarahkan sebuah tombak, dengan fokus dan keyakinan yang penuh Seno berusaha melempar Ho ke arah raja ular, tepatnya bagian kepalanya.


Ho sangat fokus, rapalan mantra sudah dia tuturkan dengan fasih saat posisinya sudah dekat dengan raja ular.


Sementara kedua saudaranya yang melihat tubuh Ho tengah melayang tentu memberikan ruang agar Ho bisa lebih mendekat pada sang raja.


Raja yang tak begitu fokus pada Ho karena sedang berhadapan dengan Ro dan Ci todak tahu jika Ho tengah menjadi peluru.


Keterkejutannya tak bisa membuatnya mengelak lagi, Ho berhasil mengambil mahkota sang raja dan berputar arah saat mendekati dinding.


Kedua kakinya menendang dinding dengan kekuatan penuh hingga dia bisa kembali ke arah Seno yang menatapnya tanpa berkedip.


"Kau hebat, Ho" ucap Seno saat kedua tangannya bisa menangkap tubuh ringan Ho. Dan kembali dia merapalkan mantra agar bisa mengembalikan tubuh Ho seperti semula.


"Ini mahkotanya, pangeran" kata Ho sambil mengulurkan tangannya yang berisi sebuah mahkota kecil.


"Kau bawa saja" jawab Seno.


"Tidak pangeran, karena mahkota ini bukanlah benda mati yang akan diam saat saya membiarkannya" kata Ho.


"Mahkota ini akan terus mencari tubuh yang sesuai agar bisa dijadikan wadah untuknya tetap merajai dan membuat si pemilik tubuh akan kehilangan kewarasannya" lanjut Ho menjelaskan apa yang dia ketahui.


Mendengar hal itu membuat Seno penasaran, dan menerima mahkota pemberian Ho dengan salah satu tangannya.


Dan benar saja, awal saat jemari Seno memegang mahkota itu memang terasa adanya getaran yang cukup kuat.


Seno memandangi mahkota itu dengan penuh. Dan terlintas dalam benaknya untuk mencoba mahkota itu di kepalanya.


Tapi pandangan masa depan membuatnya segera mengurungkan niat. Sekelebat bayangan terlihat olehnya dalam kericuhan perkelahian.


Dimana dia tengah berdiri dengan mengenakan mahkota itu dan telah berganti baju.


Baju khas para raja di zaman dahulu yang berupa kepingan emas yang dibentuk sedemikian rupa guna menjadi tameng.


"Ada dimana saya kali ini?" gumam Seno yang perhatiannya pada sekelilingnya semakin membuatnya penasaran.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2