
"Apa telinga saya sedang bermasalah?" gumam dokter yang tengah memeriksa keadaan Seno.
"Suster, bisa minta tolong?" tanya Dokter sambil mengisyaratkan agar susternya mendekat.
"Ada apa dok?" tanya suster itu.
"Sudah beberapa kali saya periksa denyut jantungnya, tapi seperti ada dua getaran dalam dada mas Seno ini. Ehm, tolong yang suster mencoba mendengarnya, mungkin telinga saya sedang bermasalah" kata dokter itu sambil menyerahkan stetoskopnya dan membiarkan susternya mendengar deguban jantung di dada Seno.
"Sulit dipercaya" gerutu sang suster tak kalah heran.
"Bagaimana sus?" tanya dokter.
"Sulit dipercaya, dok. Bagaimana bisa terjadi seperti ini?" tanya suster itu lirih tanpa mai melihat ke arah keluarga Seno yang tengah menunggu hasilnya.
"Memangnya kenapa sama dada teman saya, dok? Boleh saya pinjam stetoskop dokter untuk memastikan sendiri?" tanya Aish yang tiba-tiba mengambil stetoskop dari genggaman suster yang masih merasa syok.
Berpengalaman sebagai anggota PMR yang pernah melakukan tugas di rumah sakit ternama membuat Aish sedikit mengerti dengan masalah kesehatan dasar.
"Degubannya memang terdengar aneh, mom" kata Aish yang membuat Mommy Seno mendekat ke arahnya.
"Aneh bagaimana princess?" tanya Mommy Seno.
"Terdengar seperti ada dua deguban di dalam dadanya. Dan keduanya terdengar sama, artinya keduanya sama-sama kuat dan hal itu tidak mungkin terjadi di dalam tubuh manusia normal" kata Aish berusaha mengerti.
"Ya, aku juga sepemikiran dengan kak Aish" tiba-tiba Vee berceletuk dari tempatnya.
"Memang keduanya masih ada di dalam tubuh itu. Dan entah apa yang sedang mereka lakukan hingga salah satu dari mereka belum ada yang berhasil keluar dari tubuh itu" kata Vee dengan pandangan penuh pada Seno kali ini.
"Ya Tuhan, jika masih ada kesempatan bagi Seno untuk melanjutkan hidupnya, maka biarkan anak hamba itu menemani kami disini" kata Mommy sambil memeluk putra tersayangnya.
Pelukan penuh kasih dan penuh doa yang dilantunkan oleh seorang ibu terhadap anaknya.
Dan seperti yang kita ketahui jika doa seorang ibu adalah doa yang paling utama dan tak kan terhalang untuk sampai pada Tuhan.
Ditambah dengan air mata yang tak sengaja terjatuh di pipi Seno yang masih saja memejamkan matanya membuat tubuh Seno yang tadi terdiam kini terasa adanya sedikit getaran yang membuat Mommy mengurai pelukannya untuk kembali melihat kondisi sang anak.
__ADS_1
"Seno, kamu dengar mommy, nak?" tanya mommy Seno lirih, sambil mengguncang tubuh Seno yang seperti orang yang sedang menggigil.
Tiba-tiba netra Seno terbuka lagi. Dengan tampang yang menunjukkan seperti orang yang tak bertenaga, Seno berusaha membuka mulutnya.
"Biarkan saja gue (saya) yang pergi dari raga ini" perkataan yang keluar dari mulut Seno seolah terdengar dari dua orang yang berbeda tapi berasal dari satu tubuh.
Hal itu membuat semua orang saling lirik tapi tak berani berkomentar. Mereka hanya bisa melihat kelanjutannya.
"Tidak, kamu lebih berhak untuk menempati raga ini. Jadi, biarkan saya yang pergi" dari suara yang keluar, bisa dipastikan jika itu adalah Hideo. Karena netra yang setengah terbuka itu berwarna hitam pekat.
Tak lama berselang, netra itu berubah coklat terang dengan sunggingan senyum ceria dari bibir Seno.
"Waktu gue nggak banyak, jika gue kukuh untuk tetap tinggal maka kita berdua akan mati sia-sia. Karena racun itu selalu ikut saat gue berusaha menempati tubuh ini lagi" perkataan Seno kali ini membuat semua orang semakin merasa cemas.
"Dan gue rela kalau lo menempati raga ini selama lo bisa menjaganya dan yang paling utama adalah lo harus menjaga keluarga gue, sahabat gue dan juga gadis aneh itu. Jaga mereka demi gue" kata Seno lebih kepada dirinya sendiri, tapi semua itu juga terdengar oleh orang yang ada di ruangan itu.
"Aarghh.... Sudah, cukup! Semakin lama gue mencoba bertahan, semakin banyak racun itu akan kembali menyebar. Dan nggak akan ada gunanya lo memperbaiki raga ini sejak pertama kali lo ada di dalamnya" kata Seno yang seolah sangat kesakitan dan memegang perutnya dengan kencang.
"Seno, nak. Kamu kenapa nak? Apanya yang sakit?" tanya Mommy.
Tapi tak ada respon lain selain getaran hebat dari tubuh Seno yang terus saja terlihat kesakitan dan meremas perutnya sendiri dan berteriak tak karuan.
"Tolong sayangi raga ini apa adanya" ucap Seno lirih dan tak lama setelah itu, tubuh Seno kembali limbung dan diapun pingsan.
"Lakukan sesuatu, dok. Jangan hanya diam" bentak Richard yang tak melihat adanya pergerakan dari sang dokter karena rasa keterkejutannya.
Mungkin ini adalah hal pertama baginya untuk melihat secara langsung adanya dua jiwa dalam satu raga.
"Ah, iya" jawab dokter yang tersentak kaget.
Segera dia meminta bantuan suster untuk membaringkan tubuh Seno diatas sofa ruangan.
Dengan cekatan dokter itu melakukan teknik dasar bantuan pernafasan. Semoga langkah awal yang dia berikan bisa membuat lelaki itu tersadar.
Berkali-kali dokter berusaha menyelamatkan Seno. Hingga memberikannya oksigen pun masih belum membuat mata Seno terbuka meski sudah tak lagi terdengar adanya dua deguban dalam dada Seno.
__ADS_1
"Bagaimana, dok?" tanya Aish mewakili keluarga.
"Kondisinya sudah sangat baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi entah mengapa dia masih belum mau membuka matanya" kata dokter.
"Baiklah dokter. Terimakasih sudah memeriksa keadaan Seno. Saya yakin sebentar lagi pasti dia akan sadar" kata Aish.
"Sekarang dokter boleh memeriksa keadaan pasien yang sebenarnya, yaitu Vee" kata Aish yang membuat dokter itu teringat dengan tujuan utamanya ke ruangan ini.
"Oh iya, saya sampai melupakan pasien yang sebenarnya" gumam sang dokter yang kini mendekat ke arah Vee dan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kondisinya.
Dan setelah semua sudah dirasa lebih baik, dokter itu undur diri karena merasa kedua pasien di dalam ruangan itu sudah baik-baik saja.
"Bapak dan ibu bisa kembali menghubungi saya jika ada hal buruk yang terjadi terhadap Seno" ujar dokter itu dengan sopan lalu segera undur diri.
Dan benar saja, tak lebih dari lima menit setelah dokter itu pergi, terlihat secara perlahan Seno yang membuka matanya pelan. Dengan lenguhan pendek seperti sedang kesakitan.
"Ugh! Ternyata saya yang ada di dalam sini" kata Seno sambil memegangi perut dan kepalanya yang terasa berputar.
Setelah merasa cukup kuat, dengan perlahan dan penuh perjuangan Seno berusaha duduk tanpa meminta bantuan.
Seperti saat pertama kali memasuki raga itu, pergerakan Seno seperti robot saja. Mirip manusia yang sendi-sendinya terasa berat.
"Aargh! Sakit sekali" gumam Seno sambil berusaha melihat ke sekelilingnya, dan masih nampak orang-orang yang tadi sempat ditinggalkan olehnya masih berada di sana.
"Siapa kamu?" tanya Mommy Seno dengan pandangan sinis.
Mungkinkah wanita itu tidak bisa merelakan jika raga dari anaknya terisi oleh jiwa lain yang sebenarnya mempunyai rasa sayang yang sama terhadapnya?
Mungkinkah jika di dalam raga Seno benar-benar terisi oleh jiwa dari seorang Hideo Akihiro maka akan membuat semua orang akan membencinya?
Lalu, apa yang akan Seno lakukan saat semua orang menjauhinya?
.
.
__ADS_1
.
.