Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu

Vee, Kekasihku Dari Masa Lalu
bertemu Papa Yudha


__ADS_3

Vee sedikit celingukan sambil berjalan santai memasuki lebih dalam kawasan kampus tempatnya dan Aish janjian.


Masih jam delapan kurang sepuluh menit, masih ada waktu untuk mencari keberadaan Aish di depan kantor urusan administrasi seperti yang telah mereka janjikan.


Dengan langkah riang, Vee berjalan sambil bersiul dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Vee, benar lo itu Veronica kan?" sebuah suara membuat langkah riang Vee terhenti.


Gadis itu menoleh ke sumber suara, dan mendapati seorang pria dengan senyum lebarnya datang mendekat.


"Gue nggak nyangka kita ketemu disini, Vee" ucap pria itu lagi dengan tangan yang sudah terulur.


Vee menerima uluran tangannya dan tersenyum manis, "Uwah, kebetulan banget bisa ketemu disini James. Bagaimana bisa kamu disini?" tanya Vee yang sudah melepas tautan tangannya.


"Gue rencananya mau kuliah disini. Lo sendiri kenapa bisa disini? Jadi benar gosip yang beredar kalau lo pacarnya Senopati? Sampai lo bisa ada di Jakarta? Kok bisa sih, Vee?" heran James karena selama ini yang dia tahu Vee sangat sulit untuk di dekati.


"Bahasa kamu sudah kayak orang sini asli, ya" Vee sedikit terkekeh dengan logat James yang sangat berbeda.


"Iya dong, gue sebenarnya asli Jakarta. Waktu ortu gue pisah, gue terpaksa ikut mama di Malang. Sekarang sudah lulus SMA, gue pinginnya lanjutin di Jakarta saja. Ternyata kita ketemu disini, siapa tahu kita jodoh, Vee" kata James sambil mengerlingkan mata.


"Ih, apaan sih. Geli aku" kata Vee.


"Jadi gimana nih, benar lo pacaran sama Senopati?" tanya James lagi.


"Aku, ehm... Aku sebenarnya janjian sama kakakku disini. Aku duluan ya James" kata Vee yang tak ingin berbohong sepagi ini.


James masih tak mau ditinggal, segera dia menarik pergelangan tangan Vee agar gadis itu tak semakin menjauh.


"Kamu ngapain sih James, lepasin dong. Nggak enak dilihat sama orang, malu" kata Vee yang menghempas tangan James dengan kasar.


"Makanya kalau gue tanya itu, seharusnya lo jawabnya yang benar" kata James yang masih menginginkan kejujuran Vee.


"Aku rasa urusan pribadiku bukan urusan kamu. Jadi, tolong lepasin tangan aku" kata Vee mulai ketus saat James kembali memegang tangannya.


James masih tak mau melepas tangan Vee, pria itu malah berencana untuk menariknya ke sudut kampus yang terlihat sepi.


"James, kamu ngapain sih. Malu dilihat orang" keluh Vee yang masih memberontak.


Tapi James tak memperdulikan rengekan Vee, dia tetap saja menarik tangan Vee tanpa rasa malu meski sudah jadi tontonan.


Tak ada yang berniat melerai mereka, karena orang lain pikir kalau Vee dan James adalah pasangan yang bertengkar.


"James, lepasin! Kamu kerasukan jin jahat, ya" Vee masih saja berusaha melepas kencangnya tangan James yang menggenggamnya.


"Lepaskan" tiba-tiba ada suara sekaligus sebuah tangan yang berusaha melepas cengkeraman tangan James.


Vee sedikit terkejut dan melihat siapa pemilik suara yang sepertinya juga tidak asing baginya.


"Om Akbar" pekik Vee senang dengan mata berbinar.


"Siapa lo ikut campur urusan gue?" tanya James sok jagoan.


Vee hanya terdiam melihat kesombongan James kali ini. Biar saja anak nakal ini dapat bogem dari Akbar.


"Saya orang yang sangat berpengaruh di universitas ini. Kalau kamu tidak segera pergi dari hadapan saya, maka bisa saya pastikan kalau kamu tidak akan pernah bisa lagi menginjakkan kaki kamu di kampus ini anak muda" kata Akbar dengan sangat tegas.


"Sial sekali nasib anak itu kalau sampai berurusan sama Pak Akbar" lamat-lamat James mendengar gumaman mahasiswa yang menonton aksinya.

__ADS_1


Kini James memandangi pria di depannya ini, pria dengan setelan jas mahal dan tampilannya yang rapi memang terkesan menggambarkan sosok pria yang berpengaruh.


"Urusan kita belum selesai, Vee" kata James yang cerdas karena memilih pergi.


"Bubar semuanya" perintah Akbar pada yang lain. Para mahasiswa itupun pergi satu persatu.


"Om Akbar, kenapa bisa disini?" tanya Vee senang setelah suasana di sekitarnya sepi.


Akbar adalah sekretaris pribadi sekaligus orang kepercayaan Yudha yang selama ini selalu ditugaskan untuk menemui Vee.


"Kamu pasti akan sangat senang kalau tahu saya sedang bersama dengan siapa pagi ini" kata Akbar.


"Sama siapa om?" tanya Vee datar, meniru tampilan wajah datar Akbar.


Tanpa kata, Akbar hanya menunjuk menggunakan dagunya pada seseorang di belakang Vee.


"Papa Yudha" teriak Vee seperti anak kecil saat melihat pria dibelakangnya.


Vee berlari menghampiri pria itu, dan memeluknya singkat lalu bergelayut manja di lengannya.


"Kamu masih ingat Papa, Vee?" tanya Yudha yang membiarkan saja gadis belia ini menggelayutinya.


"Ingat dong, pa. Vee rindu sekali sama papa. Sudah sangat lama kita nggak pernah ketemu kan, pa. Cuma sesekali saja video call" kata Vee yang melupakan janjinya dengan Aish, malah melepas rindu pada orang yang biasa disebutnya sebagai Papa.


"Papa juga kangen sama kamu. Bagaimana kabar bunda dan keluarga kamu?" tanya Yudha yang berbincang sambil melangkah kan kaki.


"Kami semua baik, pa. Ehm, papa ngapain disini?" tanya Vee.


"Ada keperluan sedikit mengenai mahasiswa magang. Pihak kampus mengundang semua owner dari relasi yang menerima mahasiswa magang di tempatnya. Dan salah satu hotel milik papa adalah relasi kampus ini untuk para mahasiswa magangnya" kata Yudha.


"Untung saja papa datang, kalau enggak, kita mana bisa bertemu kan pa" ucap Vee yang masih betah bergelayut di lengan Yudha.


Manjanya masih sama seperti Vee kecil yang suka sekali minta gendong padanya.


"Kamu sudah sangat besar sekarang, Vee. Tapi rambutmu tetap saja kriwil" ucap Yudha sambil mengacak rambut Vee.


"Biarin, justru kriwil ini yang bikin Vee kelihatan cantik pa" sombongnya.


Yudha tertawa mendengar pujian Vee untuk dirinya sendiri.


"Vee, lo lagi ngapain?" tanya Aish yang tiba-tiba muncul dan sedikit kesal karena keterlambatan Vee.


"Ya ampun kak Aish, aku lupa kalau ada janji sama kakak" sesal Vee yang tiba-tiba melepas pegangannya di lengan Yudha.


Aish melihat tingkah laku Vee dengan sedikit tidak suka. Dia kira Vee sedang berbuat aneh-aneh dengan pria yang lebih dewasa.


"Lupa apa pura-pura lupa?" tanya Aish.


"Oh, kenalin kak. Ini Papa Yudha, papa angkatnya aku" Vee memperkenalkan Yudha pada Aish karena melihat raut tak suka di wajah wanita berhijab ini.


Aish hanya menangkupkan kedua tangannya di dada saat Yudha mengulurkan tangan. Yudha menghargai perilaku Aish yang mengingatkannya pada Vani, bunda dari Vee.


"Lo kebangetan deh Vee. Gue nungguin lo sampek jamuran di depan ruang administrasi" kata Aish sedikit sebal.


"Maafkan aku kakak Aish yang cantik. Tadi sempat ada sedikit insiden, makanya fokusku untuk mencarimu jadi teralihkan" kata Vee sambil cengengesan.


"Papa tinggal dulu ya, Vee. Lain kali kita bertemu lagi. Secepatnya kamu hubungi Akbar karena papa nggak punya nomor ponselmu" kata Yudha berpamitan.

__ADS_1


"Iya pa, siap" kata Vee sambil mencium punggung tangan Yudha.


"Sampai berjumpa lagi, nak" kata Yudha yang sebenarnya masih rindu pada anak gadisnya yang sudah mulai dewasa ini.


"Dah papa. Sampai ketemu lagi" senyum Vee masih terukir meski Yudha sudah cukup jauh.


"Orangnya sudah pergi, Vee" Aish berkata sambil menarik tangan Vee menuju ke ruang administrasi agar bisa segera mendapatkan formulir pendaftaran.


"Ih, kak Aish. Sabar dong" kata Vee yang mulai mengimbangi langkah Aish.


"Makanya buruan Vee. Gue harus segera ke kantor" keluh Aish yang harus sedikit mendongak saat berbicara dengan Vee karena tubuhnya yang bongsor.


"Iya kak Aish yang imut. Senyum dong" hibur Vee saat melihat wajah Aish yang tertekuk.


"Gue cuma izin sampai jam sepuluh, Vee" kata Aish yang melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjuk angka sembilan.


"Iya kak, nggak lama kok. Habis ngambil formulir, kakak tinggalin saja aku disini. Nanti aku bisa pulang sendiri" kata Vee yakin.


"Memangnya lo sudah hafal jalanan di Jakarta? Disini banyak jalan searahnya Vee. Nanti kalau lo kesasar, gue yang kena marah sama Seno" kata Aish yang sudah sampai di depan ruang administrasi.


"Bu, minta formulir pendaftaran mahasiswa baru ya" kata Aish.


"Boleh, tes penerimaan mahasiswa baru diadakan mulai Senin depan" kata petugas TU sambil menyerahkan map pendaftaran.


"Iya bu, terimakasih" kata Aish yang sudah mendapatkan formulir di tangannya.


"Nih Vee. Lo segera isi saja, terus kembaliin lagi. Senin depan tesnya" kata Aish.


"Baru kelar UAN, sekarang ujian lagi. Males banget aku sama yang namanya ujian" keluh Vee.


"Makanya belajar" kata Aish yang melihat wajah malas Vee.


"Itu yang aku sesali kak. Kenapa bisa aku malas banget belajar, hehe" kata Vee terkekeh.


Aish hanya menanggapi ucapan Vee dengan gelengan kepala. Untung saja kekasihnya Seno, sahabat baiknya. Kalau tidak, sudah Aish cubit tangan Vee yang mengaku malas belajar.


"Kalau kak Aish buru-buru, boleh kok ninggalin aku sendiri. Nanti aku bisa naik taksi kalau mau pulang" Vee merasa tidak enak hati kalau terus merepotkan orang lain.


"Beneran lo bisa?" sebenarnya Aish sedikit khawatir untuk meninggalkan Vee sendiri.


"Bisa kak, sudah gede gini. Kak Aish tenang saja" kata Vee.


"Oke deh. Gue memang harus segera nyampek kantor, Vee. Yasudah, gue tinggal dulu ya. Kabari gue kalau lo sudah pulang" kata Aish sambil cipika-cipiki dengan Vee.


"Iya kak".


Aish meninggalkan Vee di kampusnya. Dia yakin kalau Vee cukup besar untuk bertanya pada orang lain saat tak tahu arah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2